Aku Bukan Wanita Murahan

Aku Bukan Wanita Murahan
Alex Gerak Cepat


__ADS_3

Alex langsung menyerahkan berkas berkas yang mencurigakan yang ia temukan hari ini pada Zionel. Zionel langsung melihatnya lalu menyerahkannya pada Nicholas.


"Ada beberapa pengeluaran yang tidak tercatat dalam pembukaan perusahaan. Itu dilakukan oleh pak Andreaz selama beberapa tahun terakhir. Tapi setelah diselidiki dengan baik, itu tercatat di pembukuan yang berbeda namun tetap dilaporkan ke bagian keuangan perusahaan. Semua itu penambahan dana amal untuk sebuah yayasan yang berbeda. Yang mencurigakan adalah pemilik yayasan tersebut, diketahui pemiliknya adalah mantan kekasih pak Andreaz saat masih sekolah menengah." ujar Alex.


Mereka semua terkejut lalu menatap Alex.


"Apakah wanita itu bernama Arletty Lojaya?" tanya Nicholas.


"Anda benar pak Presdir. Pemilik yayasan itu bernama Arletty Lojaya." jawab Alex.


Nicholas justru melepaskan tawanya. "Anak nakal itu tak bisa melepaskan cinta pertamanya. Tapi karena ini tetap untuk amal, maka tidak perlu mengusutnya. Tapi aku rasa tetap rahasiakan ini dari istri Andreaz, aku akan menasehati Andreaz secara pribadi."


"Baik pak Presdir." jawab Alex.


"Lalu apakah ada hal lain Lex?" tanya Zionel.


Alex mengangguk. "Pak Gilbran seringkali melakukan pertemuan rahasia dengan beberapa pemegang saham. Menurut sekertarisnya itu hanya pertemuan persahabatan, namun sepertinya pertemuan ini tidak biasa. Nyonya Nile ikut andil, ia seringkali mengirimkan hadiah mahal pada keluarga mereka."


"Dad, sepertinya ini..." ujar Zionel menghentikan ucapannya.


Kecurigaan Nicholas dan Falera memang sangat besar pada Nile dan suaminya, namun mereka tidak berharap semua ini nyata.


"Lex... apakah kau sudah menemukan bukti lain soal pertemuan mereka? Maksudku mungkin saja kak Nile memang dekat dengan mereka, selama ini kak Nile selalu melakukan pertemuan untuk arisan." ujar Falera.


"Sementara hanya ini yang bisa aku laporkan bu Presdir. Aku akan menyelidikinya lebih dalam lagi dan mencari bukti buktinya." jawab Alex.


"Kau fokus saja pada Gilbran, aku akan mengatasi Andreaz." kata Nicholas.


"Baik pak."


"Sepertinya aku harus ikut turun tangan. Lex... cari tahu pertemuan mereka selanjutnya. Mom... bisakah masalah om Ram mommy saja yang mengatasinya?" tanya Zionel.


"Mommy akan sering mengunjungi mereka. Tapi Zio, mommy mohon jangan bertindak gegabah. Tetaplah tenang nak, masalah ini harus kita atasi dengan baik. Bagaimanapun ini masih menyangkut keluarga besar Cruise."


"Mommy tenang saja, aku tidak akan ceroboh dan mengotori tanganku sendiri. Aku juga harus memikirkan Stevani dan anak kami juga Haena." jawab Zionel.


"Daddy percaya padamu Zio." sahut Nicholas.


Zionel menganggukkan kepalanya. "Lex... kau sudah bekerja keras hari ini. Besok aku akan ke perusahaan."


"Kalau begitu aku pamit dulu pak Presdir, bu Presdir. Pak Zio sampai bertemu besok." jawab Alex.


"Karena ini semakin larut, bukankah lebih baik kita makan malam bersama Lex." ujar Falera.


"Istriku benar Lex, lebih baik kita makan malam terlebih dahulu. Kau bisa membersihkan diri di kamar tamu, ada beberapa pakaian juga disana, kau bisa memakainya." sahut Nicholas.


"Ikuti ucapan mereka Lex, aku juga akan membersihkan diri dan membangunkan Stevani. Ia harus ikut makan bersama kita." ucap Zionel.


Satu lawan tiga, Alex tak bisa menolaknya. Pria itupun menyetujuinya. Mereka semua keluar dari ruang kerja. Alex langsung berpamitan menuju kamar tamu, Zionel juga berpamitan menuju kamarnya, sedangkan Falera menyuruh pelayan untuk menyiapkan beberapa menu tambahan untuk makan malam mereka.


*****

__ADS_1


Zionel masuk ke dalam kamarnya, ia terkejut saat tidak lagi melihat istrinya di atas ranjang. Suara percikan air kamar mandi terdengar. Seketika Zionel mendekati pintu kamar mandi lalu mengetuknya pelan.


"Sayang... apakah kau di dalam?" tanya Zionel.


Zionel memutar gagang pintu ternyata pintu kamar mandi terkunci membuat pria itu tersenyum.


"Sayang... seharusnya kau mengajakku mandi." ujar Zionel lagi.


Pintu kamar mandi itupun akhirnya terbuka, Stevani menatapnya tajam. Wanita itu sudah selesai membersihkan diri, rambutnya yang basah membuat Zionel menginginkan wanita itu.


"Jangan berpikir macam macam tuan me sum. Mandilah..." ucap Stevani.


Zionel menarik tubuh Stevani ke dalam pelukannya, ia mengendus aroma rambut istrinya.


"Zio..."


"Biarkan aku memelukmu sebentar, kau sangat harum sayang." jawab Zionel.


Stevani membalas pelukan suaminya. "Kau darimana?"


"Apa kau sempat mencariku ke bawah?"


Stevani menggelengkan kepalanya. "Aku terbangun, karena kau tidak ada, aku langsung mandi saja. Maaf aku membuatmu menggendongku yang semakin berat ini."


"Omong kosong. Tubuhmu sama sekali tidak berat. Sayang... mulai saat ini berhati hatilah saat berada di kamar mandi. Karena kamar kita ada di lantai atas, kau juga tidak boleh sering turun naik tangga kecuali bersamaku." pinta Zionel.


"Aku hamil Zio, bukan sakit parah. Aku bisa menjaga anak kita. Kau takut sekali aku menyakitinya, kau ingin mengurungku di dalam kamar ya?"


"Kau akan sibuk nanti, jika aku harus turun naik tangga saja menunggumu ada, bukankah sama saja kau melarangku kemana mana."


Zionel terkekeh, ia menggesekkan hidungnya dengan hidung Stevani dengan lembut. "Aku kalah, baiklah kau bebas melakukan apapun asal tetap berhati-hati. Bukan karena bayi ini saja, tapi karena aku mengkhawatirkanmu."


Stevani tersenyum senang. "Mandilah, kau bisa kena reumatik jika sering mandi malam."


"Bantu aku mandi." jawab Zionel.


"Apa kau ingin membuat anak kita masuk angin karena harus mandi lagi?" tanya Stevani sambil tersenyum.


Zionel menghela nafas panjang. "Lain kali tunggu aku jika ingin mandi, melakukannya dengan cara berdiri akan lebih aman buat anak kita."


"Zio... berhentilah berpikiran kotor. Dapat darimana lagi pemikiran seperti itu. Sudah sana mandi..." ujar Stevani seraya mendorong tubuh suaminya pelan.


Zionel kembali tertawa. "Bersiaplah untuk makan malam sayang, Alex akan bergabung bersama kita. Jangan berpenampilan terlalu cantik, aku tidak suka melihat Alex menatapmu terus."


Stevani tergelak. "Baik tuan posesif, aku akan menyembunyikan wajahku sebaik mungkin di depan pria lain."


Zionel mengecup pipi Stevani. "Jawaban yang menyenangkan istriku." ucapnya seraya masuk ke dalam kamar mandinya.


Stevani menghela nafas panjang, ia tersenyum bahagia karena sikap suaminya semakin hari semakin menggelikan untuknya. Stevani mulai mengeringkan rambutnya, ia memilih gaun biasa dan membiarkan wajahnya tanpa riasan. Wanita itu tak sadar jika wajahnya akan terlihat lebih cantik saat tanpa riasan.


Setengah jam kemudian...

__ADS_1


Zionel keluar dari kamar mandinya, pria itu masih memakai handuk kecil yang menutupi pinggang ke bawah. Stevani tersenyum pada suaminya, namun Zionel menatapnya tanpa bisa berkata kata.


Zionel mengumpat dalam hati, ponakan kecil miliknya terbangun dari tidurnya saat melihat istrinya yang berwajah polos seperti itu. Ia benar benar menginginkan Stevani saat ini juga.


"Zio... ada apa?" tanya Stevani karena melihat suaminya terus terpaku.


"Jika saja mereka tidak sedang menunggu, aku benar benar menginginkanmu sayang." jawab Zionel.


"Oh astaga... sepertinya aku harus segera keluar dari sini."


Zionel mendekati Stevani.


"Zio jangan macam macam, aku akan berteriak." ancam Stevani.


"Berteriak saja jika kau tidak malu." jawab Zionel.


"Zio... mereka menunggu kita."


"Aku tahu."


Zionel terus mendekati Stevani, sedangkan wanita itu terus mundur.


"Zio... stop..."


Zionel justru melepaskan handuknya, ia menunjukkan seberapa kerasnya rudal miliknya pada Stevani. Wanita itu langsung memejamkan matanya, walaupun mereka sudah suami istri namun dalam keadaan sadar, Stevani tetap sangat malu. Hanya Zionel lah yang kehilangan rasa malunya di depan wanita itu.


"Aku tidak sengaja melepaskan handuknya sayang." goda Zionel.


"Zio... hentikan... kau sudah gila..."


"Aku menginginkanmu."


"Tidak sekarang, mereka sedang menunggu."


"Aku ingin sekarang." ujar Zionel tak disadari Stevani pria itu sudah berada tepat di depannya.


Stevani masih memejamkan matanya saat Zionel melahap bibirnya. Wanita itu sontak membuka matanya.


Tok... tok... tok...


"Tuan muda, nona... makan malam sudah siap." ujar seorang pelayan dari balik pintu kamar.


Zionel langsung mengumpat membuat Stevani tertawa.


"Aku tunggu di luar tuan me sum." ejek Stevani seraya meninggalkan suaminya keluar kamar.


Zionel menggertakkan giginya, ia gagal melampiaskan hasratnya. Tapi ia akan menghukum Stevani saat sudah malam nanti.


*****


Ngakak guys... Gimana rasanya punya suami macam Zionel... 🤣🤣🤣

__ADS_1


Happy Reading All...


__ADS_2