
Falera masih dalam perawatan, sedangkan Zionel terus berbicara dengan Stevani di ruangan yang lain. Pria itu ingin tahu semua yang terjadi selama 5 tahun terakhir dengannya. Perlahan-lahan Stevani menceritakan bagaimana ia bisa bertemu dengan Zaline pertama kali.
"Aku sebenarnya hidup sebatang kara setelah orang tuaku meninggal. Aku sama sekali tidak memiliki adik. Saat itu aku baru selesai bekerja, di dekat klub aku melihat anak kecil yang sedang menangis, kebingungan juga ketakutan. Saat itu teman temanku hanya bisa merasa iba, tapi aku justru menginginkan gadis kecil itu ikut bersamaku. Aku merasa Tuhan memberikan mukjizatNya dengan mengirimkan gadis kecil itu dalam kehidupanku. Aku membawanya pulang dan merawatnya, tapi setiap kali aku menanyakan namanya, ia menangis dan ketakutan. Sejak saat itulah aku merasa ada yang tidak beres dengannya, aku berniat untuk melindunginya dari ketakutan yang ia alami, aku memberikan nama baru untuknya, mengubah identitasnya dan merawatnya seperti adikku sendiri. Aku tidak bermaksud menyembunyikan adikmu Zio, aku mohon jangan salah paham padaku. Aku sangat menyayangi Zaline seperti adikku sendiri." ujar Stevani sedih.
"Kau yakin jika Haena itu Zaline?" tanya Zionel masih tak percaya.
Stevani menganggukkan kepalanya. "Aku masih ingat dengan jelas seperti apa wajah Zaline saat pertama kali aku temukan, ia benar benar seperti gadis yang ada di foto itu."
Zionel memejamkan matanya. "Pantas saja aku sangat sulit menemukannya, ia bersembunyi dengan identitas yang lain. Bagaimana ia bisa memiliki penyakit jantung Vani?"
"Aku pun tak mempercayai semua ini, dua tahun kemudian saat usianya beranjak 9 tahun, ia sering mengeluh sakit pada dadanya. Ia sering pingsan dan kesakitan. Saat aku membawanya ke rumah sakit, dokter memberikan hasil pemeriksaan medis Zaline. Gadis cantik yang sangat ceria itu mengidap penyakit jantung. Saat itulah aku mati matian mencari uang untuk pengobatannya, aku rela dihina, dilecehkan demi Zaline. Aku tak ingin kehilangannya, aku sangat menyayanginya Zio." jawab Stevani seraya terisak kembali.
"Oh ya Tuhan..." ucap Zionel seraya menarik istrinya ke dalam pelukannya. "Aku minta maaf tidak menemukan kalian lebih cepat, aku minta maaf karena membuatmu menderita selama ini. Aku percaya padamu, kau bukan sengaja menyembunyikan adikku sayang, kau hanya berusaha melindunginya." imbuh Zionel sambil mengelus punggung Stevani.
"Jangan pisahkan aku dengan Zaline, jangan usir aku dari kehidupan kalian. Aku tidak akan bisa hidup tanpa Zaline." isakan Stevani semakin menyesakkan.
"Siapa yang akan memisahkan kalian sayang? Aku tidak akan membiarkanmu pergi dari kehidupanku. Kau adalah ibu dari anakku saat ini, kau juga kakak dari Zaline sekaligus kakak ipar Haena. Alasan apa yang membuatku memisahkan kalian?"
"Mommy sangat terkejut hingga pingsan, mungkin ia tidak akan memaafkanku karena menyembunyikan putrinya selama ini. Zio... bantu aku agar tetap bersama kalian." pinta Stevani sedih.
Zionel melepaskan pelukannya. "Saat pertama kali aku mengetahui kau sedang kesulitan karena pengobatan adikmu, aku memiliki dorongan yang kuat untuk membantumu, aku merasa ada ikatan batin dengan kalian. Mungkin Tuhan memberikan jawaban atas usahaku selama ini. Kau adalah anugerah terbesar dalam pencarian Haena sayang. Aku tidak akan pernah membuatmu berpisah denganku, dengan adik kita. Ya Tuhan... aku bersalah padamu, aku membantu pengobatan adik kandungku sendiri dengan menjeratmu dalam pernikahan, aku mengancammu, merendahkanmu. Kaulah yang seharusnya menghukumku Vani, aku benar benar bersalah."
Stevani menggelengkan kepalanya. "Kau tidak tahu jika Zaline itu adikmu sendiri. Jadi kau tidak bersalah sama sekali Zio."
Zionel membuka lengan pakaian Stevani. "Apakah masih sakit? Aku kehilangan kendali karena terlalu terkejut. Apakah kau terluka sayang?"
__ADS_1
"Tidak... aku baik baik saja."
Zionel kembali memeluk istrinya. "Keadaanmu masih lemah, aku justru menyakiti istri yang sangat aku cintai, istri yang sedang mengandung anakku. Aku minta maaf Vani."
"Zio... aku yang bersalah karena memberitahumu secara tiba tiba. Aku tak menyalahkanmu soal ini."
"Stevani Yunsu... terima kasih telah menjaga adikku dengan baik. Aku tak tahu bagaimana caranya membalas semua ini."
"Zaline adikku..." ucap Stevani kesal.
Ia merasa Zionel mulai menjauhkan Zaline darinya.
"Oke baiklah... Zaline atau Haena sama saja. Ia adalah adik kita."
"Mom... tenanglah... kau baru saja sadar..." terdengar suara Nicholas berusaha menenangkan istrinya.
"Apa yang ingin kau lakukan mom?" tanya Zionel marah.
"Wanita ini... wanita ini yang telah menculik Haena. Ia sengaja mendekatimu karena tahu Haena adalah adikmu. Ia memiliki niat jahat sejak awal. Dasar wanita murahan... kau menggunakan putriku untuk menjerat kakaknya. Apa menyenangkan buatmu memisahkan seorang ibu dari anaknya sendiri, hah?" teriak Falera.
Seketika Stevani menangis kembali.
"Mommy salah paham, istriku tidak seperti itu. Seharusnya mommy berterima kasih padanya karena telah merawat Hae dengan baik selama ini, bukannya berteriak seperti ini mom. Mengapa mommy tidak belajar dari kesalahan sebelumnya karena salah paham pada Stevani." jawab Zionel.
"Kau berani memarahi ibumu sendiri demi wanita ini Zio. Jelas jelas ia sengaja menjeratmu dengan cinta palsunya. Ia sengaja masuk dalam kehidupan Cruise setelah tahu siapa Haena sebenarnya."
__ADS_1
Stevani terus menggelengkan kepalanya. "Demi Tuhan aku baru tahu siapa Zaline, aku tidak seperti itu mom."
"Jangan panggil aku mommy." bentak Falera. "Jangan jangan anak yang ada di kandungannya adalah anak pria lain. Wanita murahan sepertinya akan menghalalkan segala cara untuk mendapatkan harta dari keluarga Cruise." imbuhnya.
Stevani semakin terisak, sesak sekali mendapat hinaan seperti itu dari mertuanya sendiri. Zionel menggertakkan giginya menahan amarahnya.
"Dad... bawa mommy keluar dari sini jika ia masih terus salah paham pada Stevani." pinta Zionel.
"Kau berani mengusir ibumu demi wanita ini."
"Mom... tenangkan dirimu. Seharusnya kita mendengarkan penjelasan Stevani dengan tenang. Kau langsung saja menuduhnya, kau akan menyesal melakukan semua ini." ujar Nicholas. "Lebih baik kita kembali ke ruangan lagi, kau bisa bicara setelah tenang." imbuhnya.
"Daddy bilang aku harus tenang? Apa kau lupa bagaimana kita menghabiskan banyak waktu dan uang untuk mencari keberadaan Haena? Tapi ternyata wanita ini yang menyembunyikan Haena dengan identitas barunya. Aku harus tenang seperti apalagi dad?"
Zionel menghela nafasnya. "Vani sama sekali tidak berniat menyembunyikan Haena, ia justru berusaha melindungi Haena. Seharusnya kita tetap tenang saat ini, kita bisa bertemu Hae besok dan mengetahui kebenarannya. Mom... Stevani bukan wanita murahan, anak yang ia kandung adalah anakku. Tak perlu memastikan apapun dengan melalui tes, karena aku sangat yakin, akulah orang pertama yang menodai gadis suci ini, akulah orang yang mengambil kesuciannya. Dan sejak saat itu, sedetikpun aku tak pernah melepaskannya. Aku selalu berada di sampingnya, ia tak pernah bergaul dengan pria lain kecuali aku. Ya Tuhan... mengapa mommy kembali melakukan kesalahan dengan menyakiti Stevani lagi. Aku percaya pada istriku sendiri, ia bukan wanita yang sengaja mendekatiku karena uang, karena sejak awal ia selalu menolakku, akulah yang mengejarnya sampai ia setuju menikah denganku. Akulah yang memakai berbagai macam cara untuk menjeratnya dalam kehidupanku. Aku pria yang bersalah padanya, tapi mengapa mommy justru menuduhnya tanpa bertanya kebenarannya. Apa mommy sudah kehilangan akal sehat?"
"Zio... hentikan... kau tidak boleh berbicara seperti itu pada ibumu." ujar Stevani sambil memegang kepalanya yang mulai sakit lagi.
"Sayang... kau tidak apa apa kan?" tanya Zionel panik.
Stevani terus memegang kepalanya, pandangannya kembali gelap. Dengan panik Zionel menekan tombol panggilan darurat. Seketika dokter dan perawat masuk ke dalam ruangannya. Nicholas memaksa istrinya keluar dari ruangan itu. Sedangkan dokter mulai memeriksa keadaan Stevani.
*****
Jangan bilang gantung lagi...
__ADS_1
Jempol Miss sudah lelah... Besok lagi ya...
Happy Reading All...