Aku Bukan Wanita Murahan

Aku Bukan Wanita Murahan
Ketakutan Keduanya


__ADS_3

Stevani turun dari ranjangnya setelah Zaline kembali tertidur. Dengan langkah perlahan sambil membawa infusnya ia menuju ke pintu ruangan. Tentu saja ia ingin mencari suaminya yang sangat kesal karena sikapnya yang keras kepala tadi.


Dengan perlahan ia membuka pintu itu dan melangkahkan kakinya keluar, namun ia tak menemukan suaminya disana. Ia melihat kesana kemari mencari keberadaan Zionel.


"Sepertinya kau sangat marah sampai meninggalkan aku disini." gumam Stevani sambil menghela nafas panjang.


Ia merasa sesak berada di dalam ruangan, ia berjalan jalan keluar sampai ke ruang tunggu. Wanita itu duduk di salah satu kursi tersebut sambil terus mencari cari Zionel.


"Sikapku memang keterlaluan, tapi bukankah itu karena aku sangat terkejut dan mengkhawatirkan Zaline. Lalu apa yang salah dengan itu?" gumam Stevani lagi.


Stevani menundukkan kepalanya karena sedih, ia tak ingin suaminya marah seperti tadi, ia sangat menyesal dan ingin sekali memeluk pria itu. Tak terasa air matanya kembali menetes dengan sendirinya, ia berkali-kali mengusap pipinya sendiri sambil terus menundukkan kepalanya penuh sesal.


*****


Zionel kembali ke ruangan, ia terbelalak saat melihat ranjang hanya ada Zaline yang sedang tidur sendirian. Pria itu segera menuju pintu kamar mandi dan mengetuknya perlahan.


"Sayang... apakah kau di dalam?"


Tidak ada suara sama sekali membuat Zionel segera membuka pintu kamar mandi itu. Dan benar, di dalam kamar mandi tak ada istrinya. Zionel mulai panik, ia segera keluar dari ruangan.


"Vani... jangan menakutiku sayang. Kau dimana?" teriak Zionel.


Ia segera mencari perawat dan mulai bertanya, tapi tak ada satupun yang melihat Stevani karena mereka pikir wanita itu masih di dalam ruang perawatan. Zionel sangat geram dengan pihak rumah sakit yang tak memperhatikan pasiennya, dengan kesal ia berlari kesana kemari, dan saat melihat sosok yang ia cari sedang duduk di salah satu kursi ruang tunggu. Zionel pun menghela nafas panjang.


Pria itu segera mendekati Stevani dan berdiri tepat di depan istrinya yang sedang menundukkan kepalanya.


"Apa yang kau lakukan disini? Kau hampir membuatku gila karena mencarimu." bentak Zionel.


Stevani terkesiap, ia mengangkat kepalanya seraya menatap suaminya yang sedang murka. Air matanya kembali tumpah saat melihat pria yang sangat ingin ia peluk. Zionel menarik nafasnya dalam-dalam, pria itu langsung memeluk istrinya.


"Ya Tuhan... Jangan menghilang seperti ini, jangan tinggalkan aku. Kau membuatku sangat takut Vani." kata Zionel.


Stevani melepaskan tangisannya. "Maaf... jangan marah lagi, jangan pergi seperti tadi."


Zionel berusaha menenangkan istrinya. "Kapan aku marah padamu sayang? Aku keluar karena tak ingin melihatmu bersedih seperti tadi, dan aku baru saja mengantar mommy turun. Mana mungkin aku pergi meninggalkanmu."


Zionel melepaskan pelukannya, ia segera memeriksa tangan Stevani. "Aku menyakitimu tadi, maaf... Apakah masih sakit?"


Stevani menggelengkan kepalanya. "Aku baik baik saja. Apa kau benar benar tidak marah padaku?"


Zionel berjongkok di depan Stevani, menggenggam tangan wanita itu seraya menggelengkan kepalanya. Pria itu menghapus air mata yang menetes di pipi Stevani.

__ADS_1


"Kita kembali ke ruangan, ini sudah hampir tengah malam. Kau butuh istirahat, jangan lagi keluar sendirian seperti ini tanpa izinku. Demi apapun Vani, aku benar benar ketakutan saat melihatmu tak ada di ruangan tadi. Aku takut kau masih marah padaku dan meninggalkan aku." ujar Zionel.


"Aku mencarimu tapi tidak ada, karena aku merasa pengap di dalam, jadi aku berjalan jalan sebentar dan berakhir disini. Bisakah tetap disini sebentar?"


Zionel mengangguk seraya duduk di samping istrinya. "Mungkin saat kau keluar mencariku, aku masih berada di lobi rumah sakit. Apa kau masih mengkhawatirkan Zaline?"


"Tentu saja Zio, aku sangat mengkhawatirkannya. Ia akan berhadapan langsung dengan pria yang sudah menculiknya, mungkinkah Zaline bisa berhadapan dengannya? Bagaimana jika ia terkejut dan membuat jantungnya..."


"Ssstttt... itu tidak akan pernah terjadi. Zaline dalam perlindunganku. Aku akan meminta dokter ahli untuk mendampinginya besok ke perusahaan. Vani, aku tahu bagaimana perasaanmu karena itu juga yang aku rasakan. Tapi dengan cara ini kita bisa menghentikan kejahatan mereka. Bukankah kau juga ingin Zaline mendapatkan keadilan?"


Stevani menganggukkan kepalanya. "Aku terlalu egois, aku bersalah padamu. Maaf Zio."


"Aku sama sekali tidak menyalahkanmu sayang. Akulah yang bersalah karena baru memberitahumu tentang masalah ini. Aku yang seharusnya minta maaf padamu, aku tak bisa mengendalikan kemarahanku tadi. Tapi sayang, itu bukan marah padamu, aku hanya ketakutan dan khawatir padamu."


"Aku tahu."


Zionel menarik kepala istrinya agar bersandar di pundaknya.


"Rapat pemegang saham akan dilakukan besok siang. Ini juga awal kehancuran keluarga besar Cruise. Untuk membuatku tenang, aku hanya meminta satu hal padamu."


"Aku akan melakukan apapun yang kau minta."


"Benarkah?"


Stevani menganggukkan kepalanya.


Stevani mengangkat kepalanya. "Aku tak boleh ikut?"


Zionel menggeleng. "Rapat besok akan sangat melelahkan, akan terjadi perdebatan panjang. Vani, aku akan tenang jika kau tetap berada disini. Kondisimu sangat lemah, aku mohon kali ini jangan bersikap keras kepala lagi."


"Aku hanya ingin di samping Zaline dan menyaksikan hukuman untuk orang yang menyakitinya."


"Sayang... please... kali ini kau dengarkan aku. Aku akan menghubungi Roxy untuk menjagamu disini, aku janji akan segera membawa Zaline kembali jika rapat besok sudah selesai."


Stevani menatap wajah suaminya. "Baiklah."


Zionel tersenyum lebar. "Sudah cukup kau berada di luar, kita kembali ke ruang perawatan sekarang. Ini juga sudah sangat larut."


Zionel beranjak dari tempat duduknya seraya mengangkat tubuh Stevani.


"Zio... turunkan aku..." pinta Stevani.

__ADS_1


Zionel tidak mendengarkan permintaan istrinya, ia terus melangkahkan kakinya menuju ruangan sambil menggendong Stevani.


"Kau memperlakukan aku seperti orang cacat Zionel Cruise." kata Stevani kesal.


"Aku sedang memanjakan istriku."


"Aku masih bisa berjalan."


"Diamlah, kau bisa terjatuh jika terus cerewet seperti ini."


"Ciiiih... menyebalkan..."


Zionel menyeringai sambil terus melangkahkan kakinya. Mereka pun akhirnya sampai ke ruang perawatan Zaline. Perlahan Zionel menurunkan Stevani di atas ranjang.


"Tidurlah..." pinta Zionel dengan suara pelan.


Alih-alih mengikuti permintaan Zionel, Stevani justru menatap jam dinding yang ada disana. Zionel mengikuti pandangan istrinya seraya mengerutkan keningnya.


"Sudah hampir jam 1 malam. Mengapa kau terus menatap jam dinding itu?" tanya Zionel.


Stevani menelan saliva nya, ia membayangkan sesuatu dipikirannya, namun saat melihat jam dinding, ia merasa tidak mungkin mendapatkannya.


"Vani..."


"Ah... tidak apa apa. Lebih baik aku tidur sekarang." jawab Stevani seraya merebahkan tubuhnya.


Zionel melihat kegelisahan di wajah Stevani. "Apa kau ingin sesuatu? Katakan sayang, jangan menahannya. Karena tidak baik untuk bayi kita."


Stevani menyeringai. "Sebenarnya aku sejak tadi membayangkan makan bakpao isi daging. Tapi..."


"Bakpao isi daging?" potong Zionel seraya melepaskan tawanya.


"Ssstttt... kau bisa membangunkan Zaline."


Seketika Zionel menutup mulutnya. Ia mendekati Stevani seraya mengecup keningnya dengan lembut.


"Aku akan mendapatkannya, tidurlah terlebih dahulu. Jika bakpao isi daging itu siap, aku akan membangunkanmu."


Wajah Stevani berseri-seri, ia langsung menganggukkan kepalanya seraya memejamkan matanya. Zionel tersenyum, ia menunggu istrinya sampai terlelap. Setelah yakin Stevani tertidur, ia segera keluar meninggalkan ruangan. Zionel harus mencari dimana penjual bakpao di tengah malam seperti ini.


*****

__ADS_1


Happy Reading All...


__ADS_2