
Nicholas kembali dari perusahaan tepat di saat ia mendengar keluarganya sedang bercanda ria. Kedatangannya sama sekali tidak disadari oleh mereka karena terus asyik bersenda gurau di ruang santai.
"Wah wah... seru sekali... ada apa ini?" tanya Nicholas sambil melangkahkan kakinya bergabung dengan mereka.
"Daddy sudah pulang? Ini loh dad, putrimu ini selalu saja berulah. Keusilannya semakin menjadi. Setelah ia memisahkan Zionel dengan Stevani, kali ini ia memberi nama cucu kita Zeze." jawab Falera sambil terkekeh geli.
"Zeze? kalau tidak salah menebak itu inisial Zionel dan Zaline... itu ide bagus." jawab Nicholas.
"Daddy lebih mengerti aku dari kalian." kata Zaline seraya berpindah ke ayahnya lalu bergelayut dengan manja.
"Ckckck... Jika aku menolaknya, pasti ia akan cemberut sepanjang hari. Tapi baiklah, Zeze adalah nama yang lucu." jawab Stevani.
"Yeeee..." teriak Zaline kegirangan.
"Tapi dengan syarat... Kau harus membatalkan hukumanmu pada abangmu sayang. Para staf perusahaan dibuat kesusahan olehnya, semua staf terus membicarakannya." kata Nicholas.
"Mengapa daddy yang harus mengajukan syarat?" tanya Zaline.
"Karena daddy juga tidak tahan mendengar gosip di perusahaan."
"Jadi apa yang mereka katakan di perusahaan?" tanya Falera.
Nicholas menghela nafas panjang. "CEO kita mungkin sedang bertengkar dengan istrinya, CEO kita mungkin diberi hukuman oleh istrinya tidur di sofa, dan lain sebagainya."
Mereka semua melepaskan tawanya.
"Ya Tuhan... bukan hanya Zio yang menjadi bahan gosip. Aku pun menjadi tersangkanya, Zaline... kau sangat jahat pada kakak." ujar Stevani.
"Bukankah sangat seru kak. Jika bang Zi mendengar mereka bergosip, ia akan semakin murka."
"Ya Tuhan sayang, apa tujuanmu?" tanya Falera.
"Tentu saja membuat bang Zio marah." jawab Zaline sambil tertawa. "Biarkan bang Zi bersabar sebentar lagi, oke..." imbuhnya.
"Kalau begitu nama Zeze batal." jawab Nicholas.
"Kenapa daddy yang memutuskan? Kak Vani saja sudah setuju, ya kan kak."
Nicholas mengedipkan matanya pada Stevani, pria itu ingin putrinya menghentikan keusilannya agar Zionel bisa kembali bekerja dengan baik di perusahaan tanpa harus meluapkan emosinya terus menerus.
"Sayangnya kakak setuju dengan daddy. Jika kau ingin memberi nama bayi kakak, maka cabut hukumanmu pada abangmu."
"Ya Tuhan... kalian bekerja sama untuk menghentikan aku."
Mereka kembali tertawa.
"Akibat dari keusilanmu ini banyak sayang. Jadi kau harus berhenti sekarang. Biarkan abangmu menemui istrinya, bukankah kau sudah melihat mereka saling mencintai." kata Falera.
"Aku masih kesal pada abang. Abang membuat kak Vani kehilangan kesu..."
Zaline menghentikan ucapannya karena mendapat gelengan dari orang tuanya.
"Ya ampun... baiklah... tiga lawan satu, aku kalah. Satu hari lagi hukumannya, jadi abang boleh menemui kak Vani lusa." jawab Zaline.
"Zaline... biarkan abangmu bertemu kak Vani hari ini." pinta Nicholas.
__ADS_1
"Tidak ditawar lagi, aku ingin abang bersabar sehari lagi."
"Baiklah sepakat." jawab Stevani sebelum adiknya berubah pikiran.
Ponsel Stevani berdering, wanita itu tersenyum saat suaminya menghubunginya.
"Dad... mom... Zaline... aku angkat telepon sebentar." ujar Stevani.
Mereka menganggukkan kepalanya. Stevani langsung beranjak dari sana ke tempat yang lebih nyaman untuk mengangkat telepon dari Zionel.
*****
Stevani duduk di kursi santai dekat kolam renang, ia langsung mengangkat teleponnya.
"Kau darimana sih, lama sekali mengangkat telepon dariku?" hardik Zionel.
"Kau terdengar kesal sekali, apa ada masalah?" tanya Stevani berpura-pura tak tahu.
"Aku bisa gila, aku benar benar gila sayang. Baru dua hari saja aku menggila seperti ini. Ayolah Vani, kau bisa membujuk Zaline. Aku tak bisa menahan rasa rinduku padamu. Atau kau bilang saja ingin bertemu denganku karena permintaan dari bayi kita, oke..."
Stevani terkekeh. "Aku tidak mau mengajari anak kita untuk berbohong. Jadi bersabarlah suamiku."
"Apa kau tidak merindukan aku?"
"Tentu saja aku merindukanmu."
"Lalu?"
"Zio, Zaline baru saja sembuh dari penyakitnya. Aku hanya ingin membuatnya bahagia."
"Apa yang kau katakan sayang? Kalian sama pentingnya dalam hidupku."
"Sayang... aku ingin memelukmu. Aku tak ingin seperti ini, please bicaralah pada Zaline. Aku memang salah, aku berbuat salah padamu sebelumnya. Tapi aku sudah menebus kesalahanku dengan perasaanku ini. Bagaimana bisa aku berpisah denganmu seperti ini?"
Stevani kembali terkekeh. "Sebenarnya tadi kami sudah membicarakannya dan akhirnya mencapai kesepakatan."
"Hah... jadi aku bisa ke rumah besar sekarang untuk menjemputmu pulang?"
"Dengarkan aku dulu, aku belum selesai bicara."
"Aku tidak sabar, aku akan segera kesana."
"Zio... dengarkan aku. Zaline tidak menghukummu 5 hari lagi, tapi ia mengubah kesepakatan menjadi 1 hari lagi. Kau bisa menemuiku lusa. Tapi dengan syarat... kita harus memberi nama bayi kita Zeze." ujar Stevani.
"Zeze...? Kenapa?"
"Ia bilang Zeze adalah inisial nama kalian." jawab Stevani sambil tertawa.
"Zeze... maksudmu Zionel Zaline?"
"Kau benar."
Terdengar suara tawa Zionel, pria itu yang sejak tadi terdengar kesal kini terkekeh geli.
"Ya Tuhan adikku itu benar benar keterlaluan. Kau mengajarinya seperti apa sayang hingga ia menjadi gadis yang cerdas dan banyak akal seperti itu?"
__ADS_1
"Tentu saja aku mendidiknya dengan baik selama ini. Jangan alihkan pembicaraan, apakah kau setuju dengan nama itu?"
"Lalu bagaimana denganmu?"
"Tentu saja aku setuju, Zeze adalah nama yang lucu. Jika itu inisial nama kalian, bukankah artinya bayiku ini mendapatkan cinta dari dua orang yang sangat aku sayangi."
Zionel kembali terkekeh. "Aku juga setuju jika kau pun tidak keberatan. Zeze, anak laki laki ataupun perempuan tidak ada masalah dengan nama itu. Tapi aku ingin mengambil kesempatan ini dengan melakukan kesepakatan dengannya. Dimana Zaline? Aku ingin berbicara dengannya."
"Jika kau berniat untuk bertemu denganku hari ini dengan menyetujui nama itu, aku rasa kau akan gagal sayang. Ia bersikeras untuk tetap menambah satu hari lagi." jawab Stevani.
"Katakan saja aku ingin bicara dengannya." pinta Zionel.
"Baiklah, tunggu sebentar."
Stevani memanggil adiknya, setelah Zaline mendekatinya. Stevani langsung memberikan ponselnya pada Zaline. Baru beberapa kata, gadis kecil tiba tiba menjauhi Stevani saat berbicara dengan Zionel.
Cukup lama mereka berbicara, Stevani hanya bisa melihat gerak gerik adiknya yang berkali-kali menghentakkan kakinya ke lantai tepi kolam renang.
"Apa yang mereka bicarakan? Sepertinya Zaline terlihat sangat kesal. Semoga Zio tidak membuat gadis itu marah, aku takut Zaline berubah pikiran. Bukan hanya kau yang ingin bertemu Zio, aku pun sangat merindukanmu. Tapi aku juga tidak bisa membuat Zaline bersedih. Ayolah sayang, jangan membuat Zaline terus kesal." pikir Stevani sambil terus melihat Zaline.
Setelah beberapa menit, Zaline pun kembali pada Stevani, ia menyerahkan ponselnya dalam keadaan sudah mati.
"Ada apa? Abangmu bilang apa?" tanya Stevani penasaran.
Zaline menggelengkan kepalanya. "Kakak masuklah, berbahaya disini. Nanti kakak terpeleset."
"Zaline... abangmu tidak membuatmu marah kan?"
Zaline justru tertawa. "Kapan abang tidak membuatku marah? Ia sudah mengambil kakakku saja sampai sekarang masih membuatku marah."
"Berhentilah bercanda."
"Aku tidak sedang bercanda. Ayo kak masuk." ajak Zaline.
Stevani menghela nafas panjang. "Sejak kau kembali pada keluargamu yang sebenarnya, kau mulai merahasiakan sesuatu dariku."
Zaline terbelalak. "Keluargaku yang sebenarnya? Daddy, mommy, bang Zio juga kak Vani... kalian keluargaku yang sebenarnya. Apa kakak pikir, aku berubah?"
"Hanya saja..."
"Aku lapar... aku ingin kakak yang memasak hari ini. Aku merindukan masakan kak Vani, telur urak arik, tempe bacem, capcay... Membayangkannya saja aku semakin lapar."
Stevani terkekeh, ia tak ingin bertanya lagi karena sepertinya Zaline tidak ingin ia tahu apa yang dikatakan Zionel padanya.
"Baiklah, aku akan memasak hari ini untukmu. Tunggu saja nona kecil."
"Aku sangat menyayangi kakak." ujar Zaline seraya bergelayut di tangan Stevani.
"Dasar gadis manja."
Keduanya pun kembali masuk ke dalam rumah. Karena hari semakin sore, Stevani akhirnya mulai masuk ke dalam dapur. Atas permintaan adiknya, ia yang akan memasak makan malam. Untung saja, kandungannya setelah memasuki tri semester kedua tidak lagi membuatnya mual saat mencium bumbu atau masakan di dapur.
*****
Happy Reading All...
__ADS_1