
Cecil memukul setir mobilnya berkali kali karena kesal, ia segera menyalakan starter mobil dan meninggalkan rumah sakit. Setengah perjalanan ia menghubungi seseorang yang bekerja sama dengannya.
"Apa orang suruhan kakak bodoh? Kenapa ia malah menusuk bang Zio?" bentak Cecil.
"Apa...??? Bagaimana keadaan Zio sekarang Cecil? Ya Tuhan... aku akan mati jika kehilangan Zio." jawab Varisa terkejut.
"Kau benar benar tak tahu jika orang suruhanmu itu bodoh atau pura pura tak tahu?"
"Demi Tuhan Cecil, sampai sekarang aku belum mendapat kabar dari Boy. Bagaimana keadaan Zio, ia baik baik saja kan?"
"Apa kakak juga bodoh? Sejak kapan orang tertusuk baik baik saja, tentu saja bang Zio nyaris meregang nyawa."
"Ya Tuhan... lalu apa yang harus aku lakukan Cecil? Aku ingin melihat keadaannya."
"Jangan dulu... Kakak amankan orang suruhan kakak dulu, jika sampai ia tertangkap, habislah kita."
"Tapi..."
"Tidak ada kata tapi." potong Cecil. "Aku yakin jika bang Zio sadar, ia akan menyuruh asistennya menyelidiki masalah ini. Habislah kita jika sampai ada jejak. Demi Tuhan... menyebalkan sekali wanita murahan yang jelek itu, ia masih saja selamat. Rencana kita benar benar gagal untuk menghancurkan pernikahan mereka."
"Sialan... Boy memang bodoh. Mengapa ia justru menusuk Zio? Seharusnya ia membunuh wanita jelek itu dan aku punya kesempatan untuk menikahi Zio."
"Operasi bang Zio berhasil, keadaannya sekarang lumayan baik. Tapi walaupun demikian, ia tak mungkin melangsungkan pernikahan 4 hari lagi. Setidaknya kita bisa menunda pernikahan mereka dan melakukan rencana selanjutnya."
"Kau benar, bagaimanapun caranya kita harus menyingkirkan wanita itu. Kau tenang saja Cecil, seperti yang aku janjikan padamu, jika kita bisa menyingkirkan wanita itu dan aku bisa menikahi Zio, aku akan memberikan saham perusahaan untukmu. Aku hanya butuh Zio, aku tak butuh saham itu."
Cecil tertawa. "Aku senang mendengarnya, cepatlah hubungi Boy agar pria bodoh itu pergi sejauh mungkin. Aku akan tenang jika masalah ini bisa terlupakan."
"Kau tenang saja, tapi Cecil... bisakah kau terus memberiku kabar keadaan Zio. Aku benar benar takut kehilangannya."
"Besok aku akan berkunjung lagi ke rumah sakit untuk melihat keadaannya. Kakak tenang saja, bang Zio itu orang yang paling kuat. Sudah dulu kak, aku masih di jalan. Bye..."
Cecil menutup teleponnya. Ia menarik sudut bibirnya.
"Wanita bodoh, ia mau menyerahkan saham perusahaan demi cintanya. Wanita ini benar benar bagus jika bisa menikahi bang Zio. Mama dan papa tak perlu lagi berusaha keras mendapatkan perusahaan itu jika aku juga memiliki saham." pikir Cecil licik.
Cecil pun melanjutkan perjalanan menuju rumahnya.
*****
__ADS_1
Dokter sedang memeriksa luka Zionel.
"Apa anda tahu tuan muda, luka ini bisa infeksi dan menyebabkan kematian. Mengapa anda tidak bersabar sedikit untuk tetap berada di atas tempat tidur ini." ujar dokter kesal.
"Zionel Cruise tidak akan mati secepat itu dok." jawab Zionel seraya tertawa.
"Ckckck... keras kepala anda tidak pernah berubah. Anda harus beristirahat setidaknya satu minggu disini."
"Mana bisa, 4 hari lagi aku menikah."
"Hah... menikah? Apa dengan wanita cantik yang menangis histeris saat membawamu kemari?"
"Wanita cantik itu Stevani Yunsu." jawab Zionel bangga.
"Wanita itu keras kepala sama persis seperti anda, kakinya sudah membengkak namun tetap menolak pengobatan. Dan pada akhirnya ia tumbang karena kekeraskepalaannya sendiri." ujar dokter sambil membalut luka Zionel. "Anda benar benar tak bisa keluar dari rumah sakit secepatnya tuan muda, kalian menikahlah disini. Bahkan kaki nona Stevani Yunsu sangat parah, ia tak akan bisa berjalan secepat itu." imbuhnya.
"Oh ya Tuhan... aku hanya ingin melakukan pernikahan dengan wajar. Bagaimanapun ini pernikahanku sekali seumur hidup. Bagaimana aku mengubah rumah sakit menjadi altar?"
"Anda tetap harus menunda pernikahan ini. Jika memaksakan diri, aku akan merawat dua mempelai setelah pernikahan."
Zionel melepaskan tawanya. "Aku tidak akan menunda pernikahanku dok. Luka ini besok juga sembuh, sedangkan luka Stevani aku jamin 2 hari lagi juga sembuh."
"Dokter Julius, anda tahu sejak dulu bagaimana aku. Aku tak akan pernah mengubah rencanaku apalagi jika rencana itu sangat penting."
Dokter Julius menghela nafasnya. "Bukan hanya tuan besar yang keras kepala, bahkan putranya pun sama kerasnya. Tapi ini masalah nyawa tuan muda, luka anda bisa infeksi sedangkan nona Stevani bisa kehilangan kakinya."
"Jangan berlebihan, aku tahu pengobatan saat ini semakin canggih. Anda hanya perlu memberikan obat terbaik untuk kami." ujar Zionel keras kepala.
"Pak Zio... lebih baik anda dengarkan ucapan dokter. Sangat berbahaya jika..."
"Aku baik baik saja. Tetap lakukan sesuai rencana Lex. Jika Stevani tak bisa berjalan, aku akan menggendongnya menuju altar." potong Zionel.
Dokter Julius menggelengkan kepalanya begitu juga dengan Alex. Keduanya memang tahu sifat keras kepala Zionel. Pria itu tidak akan pernah mengingkari janji atau mengubah rencana penting untuk hidupnya.
"Baiklah jika anda tetap keras kepala, aku tak bisa berbuat apa-apa lagi. Tapi dengan syarat, anda harus tetap disini selama 3 hari kedepan agar kami lebih mudah melihat kondisi anda." pinta dokter.
"Aku harus terbaring lemah disini, mana mungkin dok. Oh ayolah, izinkan aku keluar setidaknya besok pagi." pinta Zionel.
"Tolong pikirkan kondisi nona Stevani juga tuan muda. Jika ia keluar dari rumah sakit, ia yang keras kepala seperti anda akan terus menggunakan kakinya untuk berjalan. Itu menyebabkan pemulihan lebih lama. Jika anda dan nona tetap disini, setidaknya kalian bisa beristirahat dengan baik."
__ADS_1
"Ayolah pak Zio... Benar kata dokter, anda dan nona Stevani harus melakukan perawatan dengan baik agar pernikahan kalian tetap berjalan dengan lancar nanti." sahut Alex.
"Benar bang, menurutlah kali ini." ujar Roxy.
"Ck... kalian berdua sama saja. Baiklah aku menurut, tapi bolehkah aku minta sesuatu lagi dok?"
"Silahkan tuan muda, apa yang anda inginkan?" tanya dokter.
"Tolong pindahkan istriku kesini, aku ingin satu ruangan dengannya. Bukankah kalian akan lebih mudah merawat kami." jawab Zionel.
Dokter Julius tergelak. "Belum sah sudah memanggil istri saja. Tapi baiklah, aku akan memindahkannya kemari. Tapi ingat tuan muda, ini ru.mah.sa.kit..."
Dokter Julius menekankan kata rumah sakit sebagai sindiran keras untuk Zionel. Mendengar ucapan dokter tersebut, Zionel, Alex dan Roxy tertawa bersamaan.
"Aku rasa peringatan itu harus dilakukan dok, mengingat atasanku sudah tidak sabaran." ejek Alex.
"Sialan... kau mau mati Lex." ancam Zionel.
Dokter Julius beserta perawat akhirnya kembali tertawa. Dokter tersebut menepuk pundak Zionel.
"Istrimu akan segera dipindahkan kemari, bersabarlah tuan muda dan ingat berhati hatilah dengan luka anda." goda dokter Julius seraya berpamitan pada mereka.
"Berani sekali kau mengejekku Lex, gajimu bulan ini 50% disumbangkan. Dan kau Roxy... apa mau abang benar benar tarik kartumu?" ujar Zionel saat dokter dan perawat sudah meninggalkan ruangan.
Keduanya terbelalak. "Ampun tuan muda, tidak berani lagi." jawab keduanya bersamaan seolah-olah kata kata tersebut sudah dihafalkan.
"Bagus... itu jawaban yang ingin aku dengar. Jika kalian berani mengejekku lagi, aku akan melakukan sesuai keinginanku." ancam Zionel. "Ingat... kalian berdua keluarlah saat istriku datang, jangan mengganggu kesenangan kami." imbuh Zionel.
"Ckckck..." jawab keduanya sambil menggeleng lalu menganggukkan kepala mereka.
Zionel tersenyum penuh kemenangan karena Alex dan Roxy menjadi penurut setelah mendapat ancaman.
*****
Kalian bisa bayangkan kan, bagaimana ekspresi Alex dan Roxy menghadapi Zionel...
🤣🤣🤣
Happy Reading All...
__ADS_1