Aku Bukan Wanita Murahan

Aku Bukan Wanita Murahan
Zionel Kembali Mimpi Buruk


__ADS_3

Zionel beranjak dari tempat duduknya, ia menuangkan air putih yang ada di meja lalu meminumnya untuk membasahi tenggorokannya yang kering.


Seketika Stevani menatap leher pria itu yang putih, jakunnya yang menonjol terlihat dengan jelas saat pria itu menelan air minumnya.


"Ya Tuhan... apa yang sedang aku lakukan?" pikir Stevani seraya memalingkan wajahnya.


Zionel kembali duduk di sofa lalu menatap Stevani kembali. Pria itupun mulai kembali menceritakan tentang Haena.


"Aku sangat sibuk di perusahaan hingga tak bisa menjemputnya di sekolah. Hanya supir yang datang menjemputnya. Tapi kabar buruk menimpa keluarga kami, supir menunggu hingga berjam jam namun Haena tetap tidak keluar dari sekolah, tidak ada satupun orang yang melihat adikku itu. Setelah aku mendapatkan kabar itu, aku menghentikan pekerjaanku dan segera bergegas ke sekolah. Dan hasilnya tetap sama, bahkan guru pembimbingnya mengatakan Haena tidak masuk ke kelas sama sekali." ujar Zionel.


"Ya Tuhan... lalu...?"


"Tentu saja keluarga Cruise segera bertindak, mengerahkan semua kekuatan dengan menggunakan uang." Zionel menggelengkan kepalanya. "Nihil... semua sia sia hingga sudah 5 tahun lamanya kami kehilangan Haena, bahkan detektif yang terbaik pun tidak menemukannya." imbuhnya.


"Tak ada jejak sama sekali?" tanya Stevani.


Zionel menggelengkan kepalanya. "Aku bahkan sudah mengirimkan detektif hingga ke luar negeri dan hasilnya tetap sama. Aku bahkan tak bisa berpikir jernih bagaimana bisa adikku menghilang tanpa jejak, jika ia tak bernyawa pun tak ada yang bisa menemukan jasadnya."


"Aku turut prihatin Zio. Tapi aku yakin Haena akan kembali pada kalian lagi."


Zionel menarik sudut bibirnya. "Aku harap seperti itu Van, walaupun harapan itu hanya seujung kuku. Aku tak bisa melupakannya hingga akhirnya aku keluar dari rumah besar Cruise dan tinggal sendirian di apartemen ini. Tapi akhir akhir ini mommy terus saja mengatur kencan buta untukku. Menyebalkan sekali...!"


"Untuk itulah kau mencari seorang wanita untuk berpura pura menikah denganmu?"


Zionel kembali menatap Stevani. "Hanya suatu kebetulan karena aku sudah tidur denganmu." pikir Zionel.


Alih alih mengatakan hal itu Zionel justru bicara lain. "Pernikahan kita bukan pura pura."


"Apa bedanya, kita hanya terikat satu tahun. Aku membutuhkan uangmu untuk pengobatan Zaline, dan kau membutuhkanku untuk lepas dari perjodohan. Pernikahan kita hanya sebuah bisnis." jawab Stevani.


"Terserahlah." bentak Zionel. "Ingat... besok kita akan ke butik baju pengantin. Walaupun kau menganggap pernikahan ini hanya mainan, aku tetap ingin kau terlihat seperti pengantin Zionel Cruise yang layak." imbuhnya seraya beranjak dari tempat duduknya menuju kamar.

__ADS_1


"Aku akan tidur di sofa, jadi ambil saja tempat tidurnya." ujar Stevani membuat langkah Zionel seketika terhenti.


Pria itu membalikkan tubuhnya lalu menatap tajam Stevani. Tapi ia tidak ingin berdebat lagi, malam semakin larut. Jika ia berbicara pasti wanita yang ada di depannya justru semakin membantahnya. Zionel kembali melanjutkan langkahnya.


Beberapa menit kemudian...


Pria itu kembali keluar dari kamar sambil membawa bantal dan selimutnya mendekati Stevani. Wanita itu hanya bisa menatap Zionel penuh tanya.


"Pergilah tidur di kamar, biarkan aku disini." ujar Zionel.


"Ukuran tubuhku lebih pas dan aku lebih tahan dingin daripada kau. Jadi aku saja yang disini." jawab Stevani.


"Sialan..." umpat Zionel dalam hati. "Mengapa wanita ini sangat keras kepala. Haruskah aku setiap hari berdebat soal tempat tidur." pikir Zionel kesal.


Zionel melemparkan bantal dan selimutnya ke sofa dengan kasar. Pria itu langsung meninggalkan Stevani tanpa bicara apapun lagi.


Stevani memang keras kepala nyaris sama dengan sikap Zionel. Wanita itu mengangkat kakinya ke atas sofa dan mulai merebahkan tubuhnya disana. Sambil menatap langit langit ruangan, ia terus memikirkan soal adik Zionel yang menghilang tanpa jejak.


Tak ada suara apapun yang terdengar dari dalam kamar. Stevani mulai mengenyahkan pikirannya dan lama kelamaan wanita itupun tertidur dengan lelap.


*****


Beberapa jam kemudian...


Teriakan Zionel membuat Stevani terbangun. Wanita itu mengerjapkan matanya sambil mempertajam pendengarannya. Ia mencari asal suara yang membuatnya sangat terkejut.


Kembali terdengar suara teriakan dari dalam kamar, Stevani menatap jam dinding sebelum mendekati asal suara.


"Ya Tuhan... ini masih jam 3 pagi. Sebenarnya apa yang terjadi pada pria itu?" gumam Stevani seraya beranjak dari sana menuju kamar.


Stevani terbelalak saat melihat Zionel masih dalam keadaan tidur, namun pria itu terus mengigau dan berteriak. Peluh sudah membasahi wajah pria itu. Stevani segera mendekati Zionel lalu mengguncang lengan pria itu pelan.

__ADS_1


"Zio... bangunlah... Kau tidak apa apa kan? Zio..."


Zionel tiba tiba menarik tubuh Stevani ke dalam pelukannya tanpa membuka matanya. "Jangan tinggalkan abang Hae. Jangan tinggalkan abang..."


Stevani berusaha melepaskan diri namun Zionel justru memeluknya semakin erat. Wanita itu hanya bisa menghela nafas dan membiarkan Zionel memeluknya lagi.


"Maaf Hae... maafkan abang tidak bisa menjagamu. Jangan pergi lagi, abang mohon." gumam Zionel.


"Ini pertama kalinya aku mendengar kata maaf yang keluar dari mulut pria ini." pikir Stevani.


"Hae... Haena..."


Pelukan itu semakin erat membuat Stevani hampir tidak bisa bernafas. "A...aku tidak akan meninggalkan abang, a...aku disini bang." ujar Stevani dengan susah payah karena terus dipeluk.


Perlahan lahan pelukan itu pun mulai mengendur membuat Stevani bisa kembali bernafas. Zionel mulai tenang saat ini. Kesempatan Stevani melepaskan pelukan itu. Tapi ia sangat tidak tega meninggalkan Zionel begitu saja. Wanita itu duduk di samping ranjang sambil menatap wajah Zionel yang berpeluh.


"Sepertinya kau sangat menyayangi adikmu hingga terbawa sampai ke dalam mimpi. Apakah setiap malam kau mengalami mimpi buruk seperti ini? Lalu apa yang harus aku lakukan sekarang?" gumam Stevani.


"Jangan tinggalkan abang..." igau Zionel lagi.


Stevani meraih tangannya dan menepuknya dengan lembut. "Aku tidak kemana mana bang, aku masih disini."


Zionel akhirnya kembali tenang. Rasa kantuk Stevani mulai melanda, wanita itu berkali kali menguap dan tertidur sambil duduk disana. Ia benar benar tak tega melepaskan genggaman tangan Zionel. Tanpa wanita itu sadari, ia pun akhirnya tertidur dan menjatuhkan kepalanya tepat di dada pria itu.


Zionel pun memeluk tubuh wanita itu tanpa ia sadari, keduanya kembali tertidur bersama di atas satu ranjang.


*****


Happy Reading All...


Next...

__ADS_1


__ADS_2