
Stevani terus memikirkan ucapan Zionel, untuk melindungi adiknya ia memang harus mengikuti cara pria itu. Tapi jika Zaline tahu, ia takut terjadi sesuatu pada adiknya. Bagai buah simalakama, Stevani masih kebingungan harus berbuat apa saat ini.
Namun keputusannya untuk menikah kontrak dengan Zionel sudah ia pikirkan matang matang. Ia harus meninggalkan kota kelahirannya sendiri dan mengikuti pria itu pindah ke kota D.
Stevani melepaskan infus di tangannya, ia memaksakan diri turun dari tempat tidur itu lalu keluar dari ruangan. Ia segera mencari ruang perawatan Zaline dengan langkah yang masih lemas. Perlahan lahan Stevani melangkahkan kakinya dan bertanya pada perawat yang berlalu lalang dimana ruangan perawatan intensif.
Walaupun ia mendapatkan jawaban, namun perawat itu mengatakan ia tak bisa masuk ke dalam ruangan. Stevani tidak perduli, ia tetap melanjutkan langkahnya menuju ruangan itu.
Sesampainya di depan ruangan, ia menatap pintu yang terkunci dan jelas ada tulisan besar "DILARANG MASUK DAN MENGGANGGU PASIEN".
"Ya Tuhan... aku merindukan Zaline. Bagaimana keadaan adikku saat ini Tuhan?" gumam Stevani lalu duduk di sebuah kursi di depan ruangan itu.
Ia menundukkan kepalanya. "Zaline... maafkan kakak sayang, kakak harus mengambil jalan ini untukmu. Kau akan menjalani perawatan yang lebih baik. Ketika kau sadar nanti, tolong jangan salahkan kakak karena kita berada di kota yang berbeda dan kemungkinan kakak adalah istri pria yang belum kau temui." pikir Stevani sedih.
Terdengar suara langkah kaki mendekatinya, Stevani mendongakkan kepalanya dan mendapati Zionel menatapnya tajam penuh kemarahan.
"Apa kau sudah gila? Mengapa kau melepaskan infusmu sendiri dan berada disini?" bentak Zionel.
"Aku sudah baik baik saja, aku hanya merindukan adikku."
Zionel menghela nafas panjang. "Apa kau tahu seberapa khawatirnya aku saat aku melihat ruangan sudah kosong, aku pikir kau lari dariku. Aku tak tahu mengapa aku terus berpikir seperti itu." pikirnya.
Zionel duduk di samping Stevani. "Kau sudah tahu jika adikmu tak bisa dijenguk, bersabarlah sampai keadaannya stabil. Aku sudah berbicara pada dokter yang menanganinya, sayang sekali kita tak bisa memindahkannya sampai adikmu benar benar stabil. Jadi sampai ia lebih baik, kita baru bisa memindahkannya ke kota D."
Stevani hanya menganggukkan kepalanya, ia tak tahu harus menanggapi ucapan Zionel seperti apa.
"Tapi kau tetap harus ikut denganku ke kota D." imbuh Zionel.
Kali ini Stevani terbelalak. "Mana mungkin aku meninggalkan adikku disini sendirian."
"Kau disini juga percuma karena memang tak bisa melihatnya, aku sudah membayar dokter terbaik disini untuk merawatnya dengan baik. Aku secepatnya harus membawamu di depan orang tuaku. Mereka akan memindahkan adikmu secepatnya ke rumah sakit terbaik di kota D. Kita hanya bisa menunggunya disana. Dokter akan terus memberi kabar tentang keadaannya."
"Tidak..." tolak Stevani. "Aku akan ikut denganmu ke kota D bersama adikku." imbuhnya.
"Kau tidak bisa menolaknya. Apa kau ingin membuat adikmu keluar dari ruangan ini karena kurangnya biaya?" ancam Zionel.
__ADS_1
"Kau sedang mengancamku?"
"Ya... itulah yang sedang aku lakukan. Pilihannya ada padamu. Sebentar lagi asistenku akan membawa kontrak perjanjian nikah. Kau bacalah dengan teliti, lalu segera tanda tangani. Aku sudah memasukkan syarat yang kau inginkan disana. Aku hanya akan menunggumu sampai malam ini berakhir untuk memikirkan semuanya." ujat Zionel.
"Ya Tuhan... mengapa aku harus terjerat dengan pria seperti ini. Ia sangat arogan dan tak bisa dibantah. Aku merasa terintimidasi dengan semua ucapannya tanpa bisa berkata apa apa lagi. Jika aku menolaknya, bagaimana aku mencari biaya perawatan Zaline lagi dan mengembalikan uangnya, semua tabunganku sudah habis untuk membayar perawatan Zaline sebelumnya." pikir Stevani.
Zionel menyipitkan matanya. "Jika kau terus diam, aku anggap kau menyetujuinya."
"Beri aku waktu untuk menyelesaikan semuanya di kota ini sebelum kita pergi." pinta Stevani.
Zionel tersenyum. "Apa yang ingin kau selesaikan nona? Aku sudah membuatmu keluar dari pekerjaanmu. Dan jika kau pulang ke kontrakanmu, mungkin bu Yoyoh sudah mengepak semua barangmu. Jadi apalagi yang ingin kau lakukan?"
Stevani kembali terkejut, benar seperti pikirannya, pria yang ada disampingnya mampu melakukan semuanya hanya dalam hitungan jam. Tapi ia tak ingin dikendalikan pria itu, ia mempunyai hak untuk melakukan semuanya sesuai keinginannya sendiri.
"Kau sudah mencampuri urusan pribadiku tuan Zionel. Kau melanggar syarat yang aku inginkan, apalagi kita belum resmi menandatangani perjanjiannya. Apa aku tak boleh mengurus semuanya sendiri, mengapa kau terlalu mengaturku. Aku sama sekali tak ingin kau kendalikan." bentak Stevani.
"Aku mengendalikanmu? Bukankah kau seharusnya mengucapkan terima kasih karena aku telah membantumu menyelesaikan masalahmu disini." kata Zionel.
Stevani tertawa. "Membantuku? Tidak... Kau hanya melakukan apa yang kau inginkan sendiri dengan arogan tanpa memikirkan perasaanku."
Ucapan Zionel terhenti saat ponselnya berdering. Pria itu menghela nafasnya lalu beranjak dari tempat duduknya lalu menjauhi Stevani untuk mengangkat ponselnya. Falera Cruise lah yang menghubunginya.
Zionel mengangkat ponselnya dengan kesal. "Ada apa mom?"
"Ada apa? Bukankah harusnya mommy yang bertanya Zio, mengapa kau membatalkan penerbanganmu? bukankah kau sudah berjanji pada mommy akan pulang?"
"Mommy pasti mendapat kabar dari Alex. Ada urusan yang harus aku selesaikan disini mom, aku akan pulang jika sudah selesai."
"Mommy akan tahu walaupun tidak bertanya pada Alex. Bukan itu yang penting sekarang. Masalah apalagi Zio, bukankah pekerjaanmu disana sudah selesai. Sudah tak ada lagi yang harus kau tangani sendiri. Kau buat mommy malu berkali kali karena harus membatalkan kencanmu dengan Varisa."
"Mommy seharusnya menungguku pulang terlebih dahulu baru mengaturnya lagi. Dan sepertinya aku tidak akan bersama Varisa mom. Aku akan membawa pulang kekasihku."
"Apa... kekasih??? Jangan bercanda Zio, mana mungkin kau membawa kekasih setelah pembicaraan terakhir kita. Kau tidak bermaksud membayar seorang wanita untuk menghentikan mommy kan?"
"Mana mungkin... aku serius kali ini mom. Aku akan menikahinya setelah sampai di kota D. Aku mencintainya, yah... bisa dibilang aku jatuh cinta pada pandangan pertama." jawab Zionel.
__ADS_1
"Entahlah mom, ini termasuk membayar seorang wanita untuk menghentikan mommy atau bukan. Hampir sama namun ada alasan lain di balik semua ini." pikir Zionel seraya menatap Stevani dari kejauhan.
"Jatuh cinta? Kau tak bisa menipu mommy." ujar Falera tak mempercayai putranya.
"Ayolah mom, ini pilihanku sendiri. Bukankah mommy ingin aku memiliki seorang kekasih."
"Kau dua hari yang lalu menyetujui akan berkencan dengan Varisa. Lalu hari ini kau bilang memiliki kekasih bahkan ingin menikahinya. Apa kau pikir mommy ini bodoh Zio?"
Zionel tertawa. "Mungkin ini sedikit gila, tapi itulah yang terjadi mom. Jika mommy tidak percaya, mommy lihatlah sendiri saat aku membawanya ke rumah."
"Siapa orang tuanya? Bagaimana pendidikannya? Apa pekerjaannya?"
"Hentikan mom, kita akan bicarakan ini setelah bertemu nanti."
"Ya Tuhan Zio, kau membuat mommy penasaran. Apakah kau memiliki fotonya? Setidaknya mommy harus melihat wajahnya."
"Ini akan menjadi kejutan, yang jelas aku tidak akan mengecewakan mommy dan daddy. Seleraku tentu saja tinggi. Jika masalah disini sudah selesai, aku akan segera pulang ke kota D. Sampai saat itu, tak bisakah mommy berhenti menghubungiku karena masalah perjodohan lagi?"
"Oke baiklah, untuk saat ini mommy akan berhenti. Tapi setelah kau membawanya ke rumah dan ternyata mommy dan daddy tidak setuju, maka kau harus bersama Varisa."
"Aku sangat percaya diri dengan pilihanku mom. Aku yakin kalian juga pasti akan menyetujuinya."
"Ckckck... sepertinya kau benar benar menyukainya. Mommy semakin tidak sabar ingin bertemu wanita yang mampu meluluhkan hatimu. Sekarang mommy lebih tenang, jangan mengecewakan mommy, Zio."
"Tentu mom... Bye...!!!"
"Jaga kesehatanmu nak, bye...!!!" jawab Falera seraya menutup teleponnya.
Zionel kembali menghela nafas panjang, ia menatap Stevani lagi. Wanita itu masih saja melamun di tempat duduknya.
"Aku berharap mommy dan daddy bisa menyukaimu, aku akan membuat mereka menyetujui pernikahan ini. Setelah satu tahun, aku akan memutuskan bagaimana kita harus melanjutkan hidup kita." pikir Zionel.
Zionel kembali mendekati Stevani.
*****
__ADS_1
Happy Reading All...