
Nile Cruise kembali ke rumah dengan amarah yang luar biasa. Setelah menjenguk Falera, ia justru mendapat kabar yang tidak ia inginkan. Cecil turun dari kamarnya dan melihat ibunya yang sedang dalam mood yang buruk.
"Mama sudah kembali, bagaimana keadaan tante Fal?" tanya Cecil.
"Ia baik baik saja, akulah yang ingin mati." jawab Nile kesal.
Cecil menyipitkan matanya. "Terjadi sesuatu?"
"Masalah besar, kita harus segera mencari cara agar pernikahan Zio dan wanita itu batal."
"Apa yang sebenarnya terjadi ma?"
Nile menghela nafasnya. "Menjengkelkan sekali, mengapa tiba tiba mereka memberi restu pernikahan Zio? Ini akan semakin sulit untuk kita menghancurkan pernikahan itu."
"Hah... bukankah mama bilang tante dan om Cruise tidak merestui pernikahan mereka. Sejak kapan keputusan itu berubah?"
"Mereka memang sudah gila. Kita masih bisa mempengaruhi Varisa jika wanita itu yang menjadi istri Zionel. Tapi wanita yang dibawa Zio ini akan sulit kita hadapi. Sudah terbukti saat wanita itu membalikkan masalah yang kau buat Cecil. Kita akan semakin sulit mengambil alih perusahaan Cruise."
"Lalu bagaimana sekarang ma? Gaun itu juga sudah dibuat, aku tak mau memakainya." kata Cecil kesal.
"Mama harus menghubungi papa sekarang. Tenanglah... kita tak mungkin gagal setelah apa yang sudah kita lakukan sebelumnya, jangan sampai perbuatan kita sia sia." jawab Nile sambil mengambil ponselnya.
"Apa kita harus membicarakan soal ini pada om Jonathan?" tanya Cecil.
"Apa kau sudah gila? Walaupun Jonathan menginginkan Cruise Grup juga, tapi soal Haena tidak ada yang tahu Cecil. Jika masalah seperti ini kita katakan padanya, sama saja kita membuka rahasia 5 tahun yang lalu. Diamlah..." bentak Nile.
Seketika Cecil mengerucutkan bibirnya lalu terdiam. Nile terus menghubungi suaminya sampai akhirnya terdengar suara bariton dari balik ponsel tersebut.
"Kau mengganggu pekerjaanku ma, ada apa? bukankah kau sedang menjenguk kakak iparmu?" ujar Gilbran.
"Aku baru saja kembali dari sana, tapi aku sedang kesal sekali pa."
"Ada apa sayang?"
"Kak Nicho dan Fal akhirnya menyetujui pernikahan Zio dan wanita itu."
"Apa??? Bukankah sebelumnya..."
"Itu yang membuatku kesal, keduanya tiba tiba mengambil keputusan menjengkelkan."
"Kau tenanglah..."
"Bagaimana aku bisa tenang pa, jika sampai Zio berhasil menikahi wanita yang tidak bisa kita intimidasi itu, semua usaha kita hancur."
"Kau tahu, aku juga sedang kesal di perusahaan. Zio mengambil keputusan soal pembangunan hotel tanpa para pemegang saham. Ia perlakukan kami hanya seperti hiasan saja disini."
"Pembangunan hotel? Kontruksi bagian barat?"
"Benar ma, yang tertunda sebulan yang lalu. Ia menyerahkan proyek justru kepada kepala kontruktor."
"Ya Tuhan... semakin semena-mena saja. Aku akan membicarakan hal ini dengan kak Nicho."
__ADS_1
"Dan mempermalukan diri sendiri, begitu?"
"Apa maksud papa?"
"Semua berkas sudah disetujui oleh pak Presdir. Ayah dan anak sama saja, tidak menganggap kami ada."
"Oh ya Tuhan..."
"Aku akan segera mencari cara untuk menghancurkan pernikahan ini. Sudahi dulu, aku masih banyak pekerjaan." ujar Gilbran.
"Iya pa..." jawab Nile seraya menutup teleponnya.
"Bagaimana ma?" tanya Cecil.
"Bagaimana apanya? Papa mu sedang kesal dengan pekerjaannya, ini semua karena Zionel." jawab Nile. "Oh ya ampun, kepalaku semakin sakit." imbuhnya.
"Mama istirahat saja. Aku akan keluar sebentar."
"Berhentilah menemui teman berandalanmu itu Cecil."
"Ck... Bill pria baik baik ma."
"Aku akan memberi pelajaran padanya jika masih terus mendekatimu. Ingat itu...!!!" ancam Nile.
"Tapi ma..." rengek Cecil.
"Jangan membantah ucapanku, jangan membuatku semakin pusing." bentak Nile seraya meninggalkan putrinya masuk ke dalam kamarnya.
*****
Varisa terus mengurung diri di dalam kamarnya, wanita itu sangat kecewa setelah mendengar langsung jika Zionel akan menikah dengan wanita yang sedang mengandung anaknya. Dan wanita yang ia lihat di apartemen Zionel memang cantik walaupun penampilannya tidak berkelas.
Tok... Tok... Tok...
"Sayang... sudah waktunya makan siang, mengapa hari ini kau bermalas-malasan di dalam kamar. Bukankah kemarin kau pergi dengan nyonya Falera Cruise, apa akhirnya kau sudah bertemu putra tampannya?" ujar Rumi ibu Varisa.
Varisa turun dari ranjangnya lalu membuka pintu kamarnya, ia menunjukkan wajah sedih dan muram di depan ibunya. Tentu saja Rumi terkejut saat melihat kesedihan yang terlihat di wajah putri kesayangannya.
"Ada apa sayang? Apa yang terjadi? Apa kau sakit?" tanya Rumi panik.
Seketika Varisa memeluk ibunya lalu menangis.
"Nak... siapa yang menyakitimu? Katakan pada mama, jangan membuatku kebingungan seperti ini sayang." ujar Rumi lagi.
"Zio ma... Pria itu... Ia akan segera menikah." jawab Varisa sambil terisak.
Rumi melepaskan pelukan putrinya. "Tunggu... apa maksud ucapanmu ini Ris. Siapa Zio yang kau maksud ini?"
"Zionel Cruise, pria yang aku kagumi lewat majalah, putra pemilik perusahaan terbesar di kota ini. Putra dari tante Falera ma, ia akan segera menikah." jawab Varisa masih menangis.
Rumi membawa putrinya masuk ke dalam kamarnya lagi, keduanya duduk di tepi ranjang.
__ADS_1
"Mama masih tidak mengerti sayang. Kau dan Zio sudah dijodohkan, kita akan segera mengatur waktu yang tepat untuk menikahkan kalian. Kau juga kemarin pergi dengan nyonya Falera Cruise untuk menemui Zio kan, ini pernikahan siapa yang kau maksudkan?"
"Zio ternyata pria brengsek ma, ia menghamili wanita lain dan akan segera menikahinya."
"Itu tidak mungkin. Keluarga Cruise terkenal dengan martabatnya yang tinggi. Bagaimana bisa putra mereka melakukan hal kotor seperti itu?"
"Jika aku tidak mendengar dari mulutnya sendiri, mungkin aku tidak akan percaya. Bahkan wanita itu tinggal bersama di apartemennya. Aku hancur ma, aku hancur..."
Varisa kembali menangis membuat Rumi semakin geram.
"Kau tidak boleh dipermalukan seperti ini, aku akan menghubungi nyonya Falera Cruise. Ia harus menjelaskan semua ini pada keluarga kita. Keluarga kita tidak bisa dipermainkan Ris, ini sudah keterlaluan." ujar Rumi dengan penuh amarah.
Seketika Varisa menggelengkan kepalanya dan melarang ibunya. "Ini bukan kesalahan tante Falera ma, ia bahkan jatuh pingsan dan dilarikan ke rumah sakit setelah mendengar pengakuan dari Zio."
"Hah? Bagaimana keadaan nyonya Falera sekarang?"
"Jika ia baik baik saja, kemungkinan sekarang sudah pulang ke rumahnya."
"Jadi perbuatan Zio baru diketahui ibunya?" tanya Rumi.
Varisa menganggukkan kepalanya.
"Ya Tuhan... ini adalah aib besar untuk keluarga Cruise. Nyonya Falera pasti sangat syok mengetahui perbuatan putranya. Nak, sekarang kau harus melupakan pria seperti itu. Kau tidak pantas untuknya sayang."
Alih alih setuju, Varisa justru semakin melepaskan tangisannya. Wanita itu meraung lalu memeluk ibunya kembali.
"Aku tidak bisa, aku menyukainya sejak dulu. Saat papa berencana menjodohkanku dengannya, aku merasa seperti dipetikkan bulan. Aku nyaris melompat ke langit karena terlalu bahagia, aku tak mau melepaskan Zio. Aku ingin bersamanya ma, aku tak mau melupakan pria itu."
"Varisa dengarkan mama... kau cantik, bahkan sangat cantik. Keluarga kita juga bukan keluarga sembarangan. Kau bisa mendapatkan pria sekelas Zionel Cruise."
"Tidak...! Aku hanya menginginkan pria itu."
"Ya Tuhan... Apa yang harus aku lakukan sekarang?" pikir Rumi.
"Tenangkan dirimu, sekarang lebih baik kita makan siang." pinta Rumi.
Varisa menggelengkan kepalanya. "Aku tak ingin makan, aku tak memiliki selera."
"Jika kau sakit, papa akan murka Ris. Papa bukannya mendukung pernikahan kalian, ia justru akan membunuh Zio. Apa kau ingin seperti itu?" tanya Rumi.
Varisa terkejut. "Tidak ma, jangan sakiti Zio."
"Mama akan berbicara masalah ini dengan papa, tapi dengan syarat kau harus makan sekarang, kau tidak boleh bersedih dan mengurung diri di dalam kamar. Kita akan mencari cara agar kau dan Zio bersama."
Varisa menghapus air matanya. "Mama janji akan membantuku?"
Rumi menganggukkan kepalanya, seketika Varisa memeluk ibunya lagi. Kali ini ia tersenyum karena mendapat dukungan dari ibunya. Rumi hanya bisa menenangkan putrinya seperti itu, walaupun sebenarnya ia masih belum menemukan cara dalam masalah ini.
*****
Happy Reading All...
__ADS_1
Bersambung...