Aku Bukan Wanita Murahan

Aku Bukan Wanita Murahan
Kebingungan


__ADS_3

Alex kembali ke rumah sakit dengan membawa makanan yang Zionel inginkan. Saat baru sampai di depan ruangan, ia menatap Roxy.


"Apa yang pak Zio lakukan sekarang?" tanya Alex pada Roxy.


Roxy mengangkat bahunya.


"Ck... ya Tuhan nasibku." keluh Alex membuat Roxy terkekeh geli.


"Ketuk saja, bukankah bang Zio yang memesan makanannya." ujar Roxy.


"Bonusku, gajiku selalu menjadi taruhan." jawab Alex seraya menghela nafas panjang.


"Itu derita anda."


"Sialan..." umpat Alex.


Roxy kembali terkekeh. "Anda tidak kemana mana lagi kan pak? Tadi abang bilang aku boleh pulang jika pak Alex sudah kembali."


"Tak bisakah kau tetap disini menemaniku, aku akan mati kebosanan jika sendirian." pinta Alex.


Roxy menggelengkan kepalanya. "Aku ada janji dengan teman teman malam ini. Selamat berjaga pak Alex." ejeknya.


Alex mengumpat. "Penjaga macam apa yang pulang seperti itu. Aku akan mengatakan pada pak Zio jika penjaga seharusnya stay 24 jam."


"Oh ayolah pak Alex, jangan menghancurkan masa mudaku."


"Ciiiih... seolah-olah aku sudah tua saja."


"Memang..." ejek Roxy.


Alex kembali mengumpat membuat Roxy melepaskan tawanya.


"Jangan lupa Roxy, yang membayar kartu kreditmu adalah aku walaupun itu uang dari pak Zio. Jadi jika aku telat membayar, bukankah kau tidak bisa menggunakannya." ancam Alex.


Roxy terbelalak. "Oh ayolah pak Alex, jangan menjadi kejam seperti bang Zio."


"Kau boleh pulang setelah mengatakan aku muda dan tampan. Ayo cepat lakukan..."


"Haaaaahhhhh..."


"Satu..."


"Aku tidak mau berbohong."


"Dua..."


"Ya ampun, maaf atas kebohonganku ini Tuhan."


"Ti..."


"Pak Alex memang muda dan tampan... oeeekk..." ujar Roxy.


Alex melepaskan tawanya lalu menendang bokong Roxy agar segera meninggalkan rumah sakit. Ia memang sangat dekat dengan sepupu Zionel tersebut. Kebiasaan keduanya memang saling berdebat dan adu mulut. Tapi itu adalah kebiasaan mereka yang menyenangkan.


Alex menarik nafasnya setelah Roxy benar benar pergi. Ia masih ragu untuk mengetuk pintu ruangan. Namun tetap harus ia lakukan karena jika ia terlambat pun akan membuat Zionel mengancam bonus dan gajinya.


Tok tok tok...

__ADS_1


"Pak Zio... Aku sudah membeli makanannya. Jadi..."


"Masuklah...!!!" jawab Zionel dari dalam.


Alex pun masuk ke dalam ruangan dan mendapati Zionel sedang berdiri di depan pintu kamar mandi. Alex menatap ranjang yang kosong, ia akhirnya mengerti apa yang dilakukan atasannya.


"Ini pak Zio makanannya." ujar Alex.


"Kalian benar benar berisik, rumah sakit kalian anggap pasar malam. Letakkan saja makanannya di meja." ujar Zionel.


"Itu... Roxy pamit pulang."


"Biarkan saja, ia tak mungkin tidur disini. Kau juga boleh pulang Lex."


"Ah... tidak pak Zio" jawab Alex seraya menggelengkan kepalanya.


"Kau harus beristirahat untuk mengurus perusahaan Lex. Aku bisa menjaga Stevani. Besok kau tak perlu datang kemari."


"Tapi pak... aku masih mengkhawatirkan anda. Kabar dari kepolisian, tersangka sudah teridentifikasi namun belum tertangkap dan masih dalam pengejaran."


"Besok sudah ada Roxy dan kau kirimkan beberapa penjaga disini. Perusahaan membutuhkanmu karena aku tak ada. Aku bisa tenang jika kau yang menanganinya. Dan penyelidikan yang aku minta juga harus segera diselesaikan Lex." jawab Zionel. "Sayang... apa belum selesai?" tanyanya sambil mengetuk pintu kamar mandi.


Pintu kamar mandi terbuka, seketika Zionel mengangkat tubuh Stevani menuju sofa membuat Alex nyeri sendiri dengan luka atasannya. Ia menggelengkan kepalanya dengan sikap Zionel pada wanita itu.


"Terlalu melindungi juga boleh tapi pikirkan keadaan anda juga pak." ujar Alex.


"Atasanmu memang menyebalkan pak Alex." sahut Stevani.


Zionel menurunkan Stevani ke sofa. "Lihatlah... aku baik baik saja. Kalian terlalu berlebihan dengan luka kecil ini."


"Pak Alex, bisakah anda meminta dokter untuk mengikatnya di tempat tidur? Aku rasa lukanya lebih parah dari lukaku, jadi..."


"Kau..."


"Jangan marah nona cantik, wajah marahmu membuatku ingin..."


Seketika Stevani membungkam mulut Zionel dengan tangannya. Namun pria itu justru mengecup telapak tangan Stevani membuat wanita itu seketika menarik tangannya kembali.


Alex menahan tawanya melihat atasannya yang terus menggoda kekasihnya. Ia tak menyangka sikap Zionel berubah drastis di depan wanita itu setelah mengetahui perasaannya sendiri.


"Sepertinya aku memang harus pulang sebelum menjadi obat nyamuk. Pak Zio, nona Stevani, makanan ini aman untuk kalian. Selamat menikmati makan malam kalian. Aku pamit sekarang." ujar Alex.


Zionel tersenyum lalu menganggukkan kepalanya. "Segera hubungi aku jika ada kabar terbaru Lex. Aku akan bertahan sehari lagi disini."


"Baik pak Zio."


"Hati hati pak Alex dan terima kasih." sahut Stevani.


"Tak perlu sungkan nona." jawab Alex lagi seraya meninggalkan mereka.


Zionel menatap Stevani setelah Alex keluar.


"Kenapa?" tanya Stevani.


"Tak bisakah kau mengurangi perhatianmu pada pria lain."


Stevani terkekeh. "Kau mulai cemburu tuan."

__ADS_1


"Inilah hukumanmu." jawab Zionel seraya mencium bibir Stevani.


*****


Kedatangan Yudistira membuat Nicholas dan Falera terkejut. Pria itu bertamu setelah sebelumnya pulang dengan penuh amarah.


"Silahkan tuan Yudis, apa yang membawa anda datang kemari?" tanya Nicholas.


"Mohon maaf sebelumnya sikapku kurang baik tuan Cruise... aku mendengar putra kalian tertusuk. Bagaimana keadaannya sekarang?" tanya Yudistira memulai pembicaraan.


"Cepat sekali gosip menyebar, tapi benar putra kami memang tertusuk. Namun puji Tuhan, ia sekarang baik baik saja, kami sebentar lagi akan ke rumah sakit untuk melihatnya." jawab Nicholas.


"Syukurlah... Lalu bagaimana dengan pelaku? Maksudku... apakah sudah tertangkap?"


"Pihak kepolisian sudah menemukan identitas pelaku penusukan, sekarang dalam pengejaran." jawab Falera. "Apa anda datang kemari karena khawatir dengan putra kami? Bukankah seharusnya anda langsung ke rumah sakit."


Nicholas menghentikan istrinya dengan memegang tangannya dan menggeleng. Keduanya terus menatap Yudistira yang sangat canggung dan terlihat ketakutan.


"Tuan Yudistira... apa yang..."


Nicholas belum selesai berbicara. Mereka semua terbelalak saat Yudistira langsung bersimpuh di hadapan mereka.


"Apa yang anda lakukan tuan?" tanya Nicholas berusaha membangunkan Yudistira.


"Tuan dan nyonya Cruise, tolong maafkan putri kami, tolong lepaskan putri kami. Ia memang salah, ia tidak bermaksud melukai putra kalian. Aku mohon lepaskan putri kami." ujar Yudistira.


Nicholas dan Falera saling bertatapan, keduanya belum mengerti apa yang dikatakan Yudistira.


"Ada apa dengan Varisa tuan? Ia baik baik saja kan?" tanya Falera.


Yudistira menganggukkan kepalanya. "Ia belum tumbuh dewasa, sejak kecil apapun yang ia minta selalu kami turuti, sehingga saat ia menginginkan Zio, ia tidak mau ditolak. Tapi kami tak menyangka karena terlalu memanjakannya, putri kami akan melakukan hal serendah ini. Tuan... nyonya Cruise, tolong maafkan putri kami. Ia tidak bersalah, ia hanya dihasut oleh keponakan kalian untuk melakukan semua ini. Aku mohon lepaskan putri kami."


"Tuan Yudistira, bisakah anda menjelaskan semua ini secara perlahan. Demi Tuhan... kami belum juga mengerti apa maksud anda. Dan tolong bangunlah, jangan seperti ini." pinta Nicholas.


Yudistira menolak untuk bangun. Ia mulai menceritakan semuanya dan nama Cecil ikut terbawa di dalam cerita pria itu. Nicholas dan Falera tidak mempercayai apa yang mereka dengar saat ini.


"Seperti itulah kejadiannya, putri kami sangat terobsesi dengan putra anda. Mohon maafkan Varisa, ia putri kami satu satunya, jika ia masuk penjara, bagaimana dengan hidup kami?"


Falera menutup mulutnya dengan tangan, ia menggeleng gelengkan kepalanya masih tak mempercayai semua ini. Nicholas seketika menenangkan istrinya.


"Ia nyaris membunuh putra kami, bagaimana kami bisa memaafkannya begitu saja tuan Yudis. Jika Stevani yang tertusuk pun, ia akan membunuh cucu kami. Bagaimana kami harus melupakan semua ini? Cecil sangat menyayangi Zio, mana mungkin ia ikut andil dalam masalah ini, bukankah ini hanya alasan putri anda saja untuk mencari kambing hitam?" ujar Nicholas sedikit mengeraskan suaranya. "Biarkan proses hukum yang menyelidiki masalah ini, aku dan istriku tidak mungkin melepaskan masalah ini begitu saja. Kami akan memanggil Cecil untuk meminta penjelasan." imbuhnya.


"Demi Tuhan tuan Cruise, jangan memperpanjang masalah ini. Kami mohon untuk melepaskan Varisa, masa depannya akan hancur jika ia sampai masuk penjara. Tolong tuan Cruise..." pinta Yudistira.


"Jika anda memang menyayangi putri anda, bukankah seharusnya anda mendidiknya dengan cara bertanggung jawab atas apa yang ia perbuat. Sikap anda seperti ini akan membuat putri anda semakin manja tuan Yudis. Mungkin kami bisa memaafkannya, tapi laporan ini sudah ke kepolisian, tentu saja akan tetap melalui proses hukum. Dan putra kami tidak akan melepaskannya begitu saja." ujar Falera. "Aku sangat menyukai Varisa, aku tak menyangka ia akan berbuat seperti ini." imbuhnya.


Yudistira menundukkan kepalanya, tiba tiba ponselnya berdering. Pria itu terus mengabaikan ponselnya.


"Bangunlah tuan Yudis dan angkatlah ponsel anda, mungkin saja itu penting." ujar Nicholas.


Yudistira terpaksa mengambil ponselnya di saku, panggilan itu dari istrinya. Pria itu mengangkat teleponnya, matanya terbelalak lebar, ia tiba-tiba memegang dadanya karena sesak. Dan terjatuhlah Yudistira ke lantai membuat Nicholas dan Falera sangat terkejut.


*****


Apa yang terjadi?


Nantikan kelanjutannya...

__ADS_1


Happy Reading All...


__ADS_2