Asiyah Akhir Zaman

Asiyah Akhir Zaman
Akhirnya Terungkap Juga


__ADS_3

Pagi ini seperti ada sesuatu yang mengganjal di pikiran Asiyah. Berulang kali melamun.


Mengingat ingat apa yang menimpa Abi, penyakit yang mendadak menyerang Abi mengharuskan mereka menggelontorkan uang yang tidak sedikit dalam pengobatannya. Abi memang menggunakan asuransi kesehatan dari perusahaan, pada awalnya. Tapi pada akhirnya asuransi kesehatan itu diputus oleh pihak yang terkait, begitupula dengan asuransi kesehatan Asiyah, Umi, Ali dan Aisyah.


Bertahun-tahun mereka menggunakan jasa asuransi kesehatan yang diperoleh dari kerjasama perusahaan Abi dan perusahaan asuransi, termasuk untuk asuransi kesehatan karyawan perusahaan Abi pada waktu itu.


Yaa, seperti ada yang kurang saja, ternyata hal ini yang mengganjal difikirannya sejak tadi.


Asuransi kesehatan dari perusahaan.


 


Maya dan staf yang lainnya memiliki asuransi kesehatan yang dibayarkan oleh perusahaan. Sementara Asiyah belum mendapatkannya, padahal sudah genap satu tahun Ia bekerja di perusahaan Pak Tomi.


Sepertinya Asiyah harus segera memberanikan diri untuk mengajukan permohonan pengajuan asuransi kesehatan yang dibiayai perusahaan pada manajernya.


Segera dibuatnya surat pengajuan itu. Mumpung Asiyah ada waktu luang untuk pengajuan ini.


Tak sampai seharian, hanya beberapa jam saja permohonan itu pun dengan cepatnya ditanggapi.


Pak Tomi lah yang turun tangan langsung selaku direktur perusahaan. Sungguh sangat mengejutkan. Seharusnya kepentingan semacam ini tidak langsung melalui Pak Tomi, karena memang ini adalah ranah lingkup pekerjaan manajernya.


Asiyah dipanggil ke ruangannya. Mereka hanya berdua di dalam ruangan.


Lagi-lagi Asiyah cemas. Kenapa harus Pak Tomi lagi yang mengurusi urusannya? Apalagi yang akan dilakukan Pak Tomi padanya. Semua ini tampak tidak beres.


 


“Jadi bagaimana Humaira?” tanya Pak Tomi. Menatap Asiyah yang duduk di hadapannya.


Walau masih dalam keadaan yang sopan, tetapi situasinyalah yang tidak sopan menurut Asiyah.


 


Humaira lagi katanya? Huuhh.. Asiyah tidak habis pikir pada panggilan Pak Tomi yang dibuatkan untuknya. Geli sekali mendengarnya.


 


“Saya ingin mengajukan permohonan untuk mendapatkan asuransi kesehatan  Pak,” Asiyah gugup. Menunduk saja kepalanya. Tidak berani melihat ke arah Pak Tomi.


“Kenapa Kamu mau membuat asuransi? Bukankah Kamu sudah memiliki asuransi kesehatan dari orang tua Mu sebelumya?” tanya Pak Tomi.

__ADS_1


 


“Karena setahu Saya, staf di sini semuanya mendapatkan asuransi kesehatan dari perusahaan, sementara Saya belum mendapatkannya, menurut Saya asuransi kesehatan cukup membantu dalam perlindungan kesehatan pesertanya dari segi pembiayaan pengobatan Pak.”


"Lagi pula, asuransi kesehatan yang diberikan oleh orang tua Saya, sudah diputus oleh pihak perusahaan saat kebangkrutan perusahaan Abi waktu itu Pak," sambung Asiyah.


 


"Hhmm.. Jadi begitu, baiklah.."


Pak Tomi berdiri dari kursinya. Mengambil sebuah kursi kecil yang ada di ruangannya. Duduk di sebelah Asiyah. Dekat sekali jarak mereka.


Asiyah membalikkan badannya. Kini mereka duduk berhadapan.


Asiyah sangat terkejut. Apa yang akan dilakukan Pak Tomi padanya. Asiyah menggeserkan kursinya, berusaha menghindar dan menjaga jarak antara mereka.


 


“Humaira, menikahlah denganku, nanti semua biaya kehidupanmu biar Aku yang menanggungnya, bukan hanya asuransi kesehatan saja, bahkan biaya kehidupan Umi serta keluargamu biar Aku yang akan menanggungnya.”


 


Walau Asiyah telah menduga tentang hal ini sebelumnya, tapi tetap saja Asiyah merasa sangat terkejut. Berani sekali Pak Tomi melontarkan kejujurannya pada akhirnya. Dan perasaan takut akan hal-hal yang lain yang tidak dapat dipungkiri dari dalam hati dan pikirannya.


Tentang segala macam kebaikan yang diberikan oleh Pak Tomi padanya, ada makna tersembunyi di baliknya. Menjadi istri ke duanya.


Kini barulah Asiyah mengerti. Kenapa berulang kali Ia mendengarkan sebuah pembahasan tentang betapa menyenangkannya menjadi istri ke dua yang dituju padanya.


Okeeee ini semua adalah sebuah skenario yang sudah diatur oleh Pak Tomi untuk membujuknya. Untuk membiasakan hati dan pikirannya dalam perkara poligami. Terlebih menjadi istri ke dua.


Memang diketahuinya bahwa Acen adalah staf kepercayaan Pak Tomi, tidak heranlah jika Acen ditugaskan untuk hal seperti ini. Dan satu pekan yang lalu Asiyah melihat Pak Tomi berbincang dengan petugas fotokopi di persimpangan kantor, sepertinya mereka akrab sekali.


Sekarang Asiyah mengerti, seorang teman yang dimaksud pria itu adalah Pak Tomi, temannya yang ganteng dan kaya, yang sedang mencari istri ke dua dan Asiyah sangat cocok dengannya.


Ternyata, hhuuuhhh.. Pantas saja pria itu ngotot sekali ingin menjodohkannya dengan suami orang, ternyata Pak Tomi lah orangnya.


 


Pak Tomi memang seorang pengusaha muda yang sukses, 35 tahun usianya. Tampan dan juga sholeh. Kelihatannya. Karena memang Asiyah hanya tahu akhlak Pak Tomi di kantor saja, tidak tahu terhadap keluarganya bagaimana dan terhadap orang-orang di luar sana. Jadi Asiyah tidak mau menilai kesholehan seseorang dengan gegabah.


Walau memang Pak Tomi tampak rajin dalam sholatnya saat di kantor. Sikapnya begitu baik pada orang-orang di sekitarnya. Istrinya pun cantik. Sikap istrinya pun juga sangat baik pada Asiyah, sama seperti sikap Pak Tomi pada Asiyah. Ia sudah memiliki dua orang anak yang juga tampan dan cantik.

__ADS_1


Tetapi entahlah. Mengapa Pak Tomi berani mengambil langkah seperti ini. Padahal secara zahir bisa di lihat, kebahagiaan Pak Tomi dan keluarganya sudah lengkap. Kesempurnaannya sudah tergambar jelas.


 


Asiyah yang terkejut mendengarkan ucapan Pak Tomi, hanya diam. Diam adalah emas bukan?


Asiyah takut salah bicara. Ini adalah bosnya. Direktur utama perusahaan tempat Ia mengais rezeki untuk Umi, Abi dan adik-adiknya. Jangan sampai Ia dipecat hanya karena urusan pribadi seperti ini. Susah sekali mendapatkan pekerjaan untuk lulusan SMA sepertinya.


 


Lima menit sudah waktu berlalu setelah Pak Tomi mengungkapkan maksudnya pada Asiyah.


Asiyah masih saja hanya mengambil sikap diam.


 


Pak Tomi tak mendapatkan jawaban apapun.


Tampak wajah Pak Tomi yang sedikit kecewa akan sikap Asiyah. Wajah yang tadinya penih percaya diri, kini seakan merasa sedikit terlecehkan.


 


“Ya sudah, nanti Saya urus asuransi kesehatan untukmu,” sambung Pak Tomi menatap Asiyah.


Pak Tomi kembali duduk di kursi kebesarannya. Bersikap santai. Berusaha menutupi rasa malunya.


 


 “Terima kasih sebelumnya Pak, Saya keluar dulu kalau tidak ada lagi yang mau dibicarakan,” ucap Asiyah. Asiyah tetap saja menundukkan kepalanya. Tidak mau sama sekali melihat wajah Pak Tomi. Gugup sekali rasanya.


“Ya silahkan..” ucap Pak Tomi. Tersenyum menggoda. Yang seakan dipaksakan.


 


Asiyah segera pergi meninggalkan ruangan yang mendebarkan itu. Secepat mungkin.


Di balik pintu ruangan Pak Tomi, tak tahan rasanya bagi Asiyah untuk segera menarik nafasnya dengan sangat panjang, setelah lama menahan sesak di dalam ruangan laknat tadi.


"Hhhhhhh.. hhhhhhh.. astaghfirullah.. dosa apa hamba ya Allah, niatnya hanya ingin disetujui asuransi kesehatan saja, malah Pak Tomi minta disetujui untuk menjadi istri ke duanya, dengan cara seperti ini pula, memaksa dan tanpa sepengetahuan Bu Wela, astaghfirullah.. astaghfirullah.."


Asiyah segera beranjak dan kembali ke ruangannya.

__ADS_1


__ADS_2