
"Mmmmm.. Ccccuuiihh!! Makanan apa ini??!!" Kamu ikhlas nggak sih masakin makanan ini untuk Aku Asiyah??!!" Pak Sendi membentak lagi. Meledak lagi amarahnya. Hanya karena masalah sepele.
Asiyah terkejut. Rasa mau copot jantungnya Selera makannya pun seketika hilang.
Mungkin karena kelelahan mengurusi segala hal di rumah, hingga Asiyah tak sempurna lagi melezatkan rasa masakan yang Ia buat.
Meja makan itu terasa sangat jauh dan meluas. Jarak di antara Asiyah dan suami arogannya itu pun juga terasa sangat jauh. Bukan jarak tubuh mereka, tapi jarak hati mereka. Ini adalah akibat dari bentakan yang baru saja di lontarkan Pak Sendi. Bentakan yang berulang kali terjadi selama pernikahan mereka.
Kenyamanan makan malam ini, hilang dalam sekejap.
"Cukup Abang!! Bisakah Abang bersyukur dengan apa yang ada padaku? Dengan semua hal yang Aku lakukan? Tidakkah ada rasa kasih sayang bagi Abang untukku? Lisan Abang tak menunjukkan rasa cinta sama sekali pada Asiyah," ucap Asiyah, dengan tekanan suaranya yang semakin berat.
"Atau paling tidak rasa terima kasih yang keluar dari lisan Abang?? Karena Asiyah sudah bersusah payah melayani Abang, melakukan semua yang Abang minta??!!" sambungnya dengan penuh amarah.
"Semuanya sudah Asiyah lakukan untuk Abang, masihkah Abang tidak merasa cukup dengan kepayahan Asiyah??!!" terus saja luapan itu keluar dari mulut Asiyah.
Pak Sendi terdiam. Melihat amarah Asiyah yang meluap tanpa jeda.
Asiyah diam. Sejenak. Kemudian pergi meninggalkan suaminya sendirian di meja makan.
Sepuluh menit berlalu.
Pak Sendi masih duduk di ruang makan itu. Sambil memakan masakan Asiyah yang katanya tadi asin. Perlahan mengunyahnya.
Asiyah turun dari kamarnya di lantai atas. Kembali menghampiri Pak Sendi di meja makan.
Asiyah diam, duduk di sebelah suaminya.
Pak Sendi melirik Asiyah. Sambil menyelesaikan makannya.
"Apakah Abang sudah selesai makan?" tanya Asiyah. Pelan. Kembali lembut nada bicaranya.
"Hhmmm.. iya sudah," jawab Pak Sendi. Kaku.
__ADS_1
"Ada yang ingin Asiyah tanyakan pada Abang," ucap Asiyah. Lembut. Tegas.
"Iya, tanyakan saja," jawab Pak Sendi seraya memandang wajah Asiyah yang tak menoleh sedikitpun padanya.
"Apa yang Abang cari pada diri Asiyah sekarang??" tanya Asiyah. Pelan. Ketus.
"Karirku sudah redup, hartaku tidak ada lagi, dan sekarang, begitu sulitnya Asiyah untuk memberikan Abang seorang anak.." sambungnya. Perlahan.
"Tidakkah Abang merasa rugi dengan menikahiku? Atau sekarang Abang malah merasa, bahwa Asiyah adalah beban bagi hidup Abang? Ataukah Asiyah kini hanyalah seorang perempuan tak berguna di mata Abang, yang hanya bisa menyusahkan Abang saja??" tanya Asiyah kini dengan nada suara yang mulai meninggi.
Pak Sendi diam menatap wajah Asiyah, yang masih saja enggan menatap wajahnya.
"Jawab Abang??!!" Asiyah mulai tak sabar.
Pak Sendi masih diam.
"Atauu.. ini semua ada hubungannya dengan Mama?? Apakah sebenarnya Mama lah yang menjadi penyebab hilangnya akal Abang?? Mama dan saudara-saudara Abang itu yang selalu saja menuntut pada Abang, tanpa memikirkan keadaan susahnya Abang, yang ada cuma harta, harta, harta Abang saja yang dipikirkan oleh mereka??!!" tanya Asiyah. Kali ini mulai memancing dengan kata-kata agak kasar. Menyinggung perihal orang tua dan saudaranya.
"Diam kau Asiyah!!" Pak Sendi membentak dengan cepat.
Diam sejenak. Masih berdiri di sekitaran meja makan. Setelah tadi berjalan berputar-putar mengitari meja makan seraya melontarkan segala racun dari mulutnya kepada Asiyah.
"Dan Aku sangat kecewa dengan dirimu, Aku marah Asiyah!! Aku marah!!" nada suara itu merendah.
Hhhhh.. hhhhhh.. hhhhhh.. nafas Pak Sendi tersengal hebat. Pak Sendi kembali duduk di kursi itu.
"Apakah kau puas dengan ucapanku ini Asiyah??!! Apa itu yang kau tunggu-tunggu untuk keluar dari mulutku??!!" sambungnya lagi. Kali ini kepayahan itu terasa sangat berat.
Tangan Pak Sendi tiba-tiba menekan perutnya. Seakan merasakan nyeri yang juga tiba-tiba saja muncul saat itu.
Warna wajah Pak Sendi tiba-tiba memudar. Pucat muka yang tadinya sangar itu. Tubuhnya tiba-tiba melemah. Merintih. Pak Sendi terkulai di atas kursinya.
Asiyah diam seribu bahasa mendengar jawaban dari Pak Sendi. Asiyah berdiri terpaku di hadapan Pak Sendi. Menatap suaminya itu. Dengan wajah kekecewaan. Sesekali mengusap air matanya yang jatuh dengan cepat.
__ADS_1
"Asiyah tolong Abang, tolong ambilkan obat Abang.." ucap Pak Sendi dengan rintihannya kepada Asiyah.
Asiyah masih berdiri diam.
"Asiyah.. toloonngg, sakit sekali Asiyah.." Pak Sendi memohon. Hilang sudah kekuatannya yang meluap tadi.
"Apa Abang membutuhkanku?" tatapan mata Asiyah seakan kosong. Nada suaranya terdengar melemah.
"Bukankah Aku hanyalah perempuan yang tak berguna di mata Abang?" sambungnya. Kecewa itu terasa sangat berat pada Pak Sendi.
Pak Sendi masih berusaha menahan sakitnya. Merintih kesakitan.
"Tolonggg Abangg, maafkan Abang Asiyah, obaattt.. obaatt.." ucap Pak Sendi pelan. Perlahan.
"Sudah berapa lama Abang sakit seperti ini?? Tidak ada kah seorang pun dari keluarga Abang yang mengetahui tentang penyakit Abang?? Tidak ada kah yang peduli di antara mereka??" jejal Asiyah dengan tanyanya yang lemah.
Diam sejenak.
Asiyah tak tega melihat suaminya itu. Ia segera mengambilkan obat untuk Pak Sendi. Dengan pergerakan yang pelan. Tak terburu-buru.
Menyiapkan obat-obatan itu satu per satu. Menyuapkannya pada Pak Sendi. Membantu Pak Sendi agar dapat duduk tegap saat meminum obat-obatannya. Asiyah merangkulnya.
Rasa kasihan itu tiba-tiba saja muncul. Menurunkan emosinya yang tadi meluap-luap. Walau bagaimanapun, pria ini adalah suamiku, begitu pikir Asiyah.
Obat-obatan itu telah diminum oleh Pak Sendi. Nafasnya mulai stabil. Nyeri pada perutnya berangsur hilang. Asiyah membopong Pak Sendi di sisi bahunya menuju kamar mereka. Pak Sendi berjalan tertatih.
"Terima kasih sayangg, maafkan Aku atas ucapanku tadi," ucap Pak Sendi pada Asiyah. Berubah seketika keangkuhannya. Yaa agaknya karena Asiyah telah menolongnya dari ketidakberdayaannya barusan.
Asiyah menyelimuti Pak Sendi di atas kasur tempat tidur mereka.
"Tidak apa-apa, istirahatlah, ucapanmu tadi tidak terlalu penting bagiku," padahal kata-kata Asiyah barusan jelas menyiratkan kekecewaan serta kesedihan yang teramat sangat besar, hingga hilang hasratnya untuk menunjukkan amarah dengan lisannya.
Setelah selesai merawat Pak Sendi, Asiyah keluar dari kamar itu. Diam seribu bahasa.
__ADS_1
Pak Sendi menatap Asiyah yang berlalu dari pandangannya. Menutup pintu kamar itu.