
Hari-hari berlalu, semua cerita tentang Ashar kembali hilang bak ditelan bumi.
Musim berganti. Begitu pula dengan cerita perjalanan penantian Asiyah untuk merubah statusnya dari gadis menjadi seorang istri. Hilang satu, berganti lagi, namun tetap saja pelabuhan hati itu belum ditemukan.
Tepian harapan yang dinantikan baru sebatas mimpi. Rencana demi rencana masih belum menemukan titik realisasi. Asiyah masih terombang ambing dalam gelombang penantian yang datang silih berganti.
Malam ini Asiyah selesai shooting agak cepat karena lokasi shootingnya juga lumayan jauh. Asiyah tidak mau menginap di lokasi shooting, jika memang masih memungkinkan baginya untuk pulang ke rumah setelah selesai bekerja.
Sementara Pak Nomo tak masuk kerja hari ini, Ia izin kerja satu hari pada Asiyah karena istrinya sedang sakit. Katanya, di rumah tidak ada yang membantu istrinya untuk menjaga anak-anaknya. Dari tadi siang Pak Nomo tak masuk kerja, paginya Pak Nomo mengantarkan istrinya dulu berobat ke rumah sakit.
Yaa.. Asiyah harus menyetir mobilnya sendiri malam ini. Tentunya ditemani oleh kedua asistennya, Caca dan Cita. Caca belum memiliki SIM (Surat Izin Mengemudi), sementara Cita baru saja kehilangan SIMnya. Sehingga Asiyah tak mempercayakan kemudi mobil pada mereka berdua malam ini.
Mata itu tampak layu. Tubuhnya pun seakan lemah. Shooting hari ini terasa sangat melelahkan. Konsenterasi Asiyah pun sedikit terganggu karena personil yang biasa menemaninya bekerja, kali ini tak lengkap.
Yaa.. Pak Nomo sudah menjadi bagian dari kesehariannya, jika Ia tak ada, tentu rasanya ada yang kurang dirasakan Asiyah. Aktivitasnya pun dirasa tak sempurna saat dijalani.
"Ca, tolong Kamu hubungi Pak Nomo, tanyakan bagaimana kabar istri dan anaknya," suruh Asiyah pada Caca.
"Baik Mbak," jawab Caca.
"Mmm.. Cita, Kamu kirimkan bingkisan buah dan makanan ke rumah Pak Nomo yaa, transferkan juga sejumlah uang untuknya."
"Baik Mbak," jawab Cita.
Perintah Asiyah pada kedua asistennya. Sambil menyetir. Mengambil alih kemudi mobil yang biasa dilakukan Pak Nomo.
"Astaghfirullah, ngantuk sekali mata Saya," ucap Asiyah.
Sshhhppp.. matanya tak sengaja tertutup sejenak. Kepalanya hampir tumbang.
Tiba-tiba..
Sskkkeeekkk.. eeekkksss.. suara rem mobil yang dikemudikan oleh Asiyah. Diinjaknya mendadak pedal rem mobil itu.
Gddubbraakk.. suara benturan itu terdengar kuat. Mobil itu menabrak pohon besar yang berjejer di pinggir jalan aspal itu. Beruntungnya tak ada orang disekitarnya, sehingga tak ada korban jiwa yang berjatuhan.
__ADS_1
"Astaghfirullah.." Caca dan Cita berucap serentak. Terkejut. Tubuh mereka terbawa dorongan gravitasi karena Asiyah mengerem mendadak barusan. Mereka terhentak karena tabrakan keras body depan mobil ke pohon besar itu.
"Astaghfirullah, maaf-maaf, ngantuk sekali mata Saya," ucap Asiyah spontan.
"Kalian tidak apa-apa?" tanya Asiyah lagi pada Caca yang duduk di sebelahnya dan juga Cita yang duduk di kursi belakang.
"Tidak apa-apa Mbak," jawab mereka berdua. Beruntung Asiyah dan Caca menggunakan seat belt. Sementara Cita hanya terkena benturan lembut jok mobil di dahinya.
Mobil itu berhenti. Ssshhhh.. suara asap yang mengepul keluar dari mesin depan mobil.
Asiyah dan kedua asistennya segera keluar dari mobil. Mengecek keadaan mobil di luar.
Uuhhuukk.. uuhukk.. suara batuk yang tak tertahankan. Sambil berlari kecil mereka bertiga bergerak cepat saat keluar dari mobil itu. Segera menjauh sejenak, memberi jarak antara diri mereka dan mobil yang berasap itu, sampai asap-asap pada mesin mobil itu menipis.
Asiyah berdiri di pinggir jalan. Mondar mandir. Melihat sekelilingnya.
Begitu pula dengan Caca dan Cita. Mereka berdua duduk di sepanjang trotoar jalan. Masih terdiam. Berusaha meredam batuk mereka tadi.
Jalanan terlihat sangat sepi. Tidak ada satu pun pengendara yang melewati mereka. Memang, tempat mereka berhenti ini, bukanlah jalan yang ramai dilewati warga pada siang hari, apalagi di jam-jam segini, mana mungkin ada pengendara yang melintas. Pepohonan lebat di sekeliling mereka menjadi saksi akan tragedi malam yang tengah mereka hadapi saat ini. Mereka berhenti tepat di depan hutan lindung.
Subhanallah.. ini namanya musibah. Pikir Asiyah dalam hati. Tak pernah terpikir olehnya, di sepanjang hidupnya, Ia akan mengalami hal seperti ini. Berhenti di tengah jalanan sepi, dikelilingi hutan dan di jam selarut ini, jam tiga pagi.
Krriikkk.. krriikkkkk.. bunyi jangkrik menemani kebingungan mereka.
Sementara mereka bertiga masih berdiam diri.
Mereka bertiga tidak ada yang mengerti soal mesin.
Tuutttt.. ttuuttt.. ttuuttt.. bunyi ponsel Caca. Caca mencoba menghubungi beberapa temannya. Namun tak satu pun yang mengangkat.
Cita juga mencoba mencari bantuan.
Kklinnggg.. klliinngg.. nada ponsel Cita berbunyi. Ponsel itu kehabisan baterai. "Astaghfirullah, kenapa di saat seperti ini ponselku mati sihh? mana power bank juga lupa di charge," Cita menggerutu, menyesali keteledorannya.
"Gimana Mbak? Apa kita kabari Umi dulu, biar tidak khawatir?" tanya Caca.
__ADS_1
"Tidak usah Ca, nanti dulu, nanti Umi khawatir, lokasi kita masih jauh dari rumah, nanti Umi bisa panik, in syaa Allah sebentar lagi pertolongan Allah akan datang, kita berdo'a saja dulu, Saya juga sudah mencoba menghubungi beberapa nomor untuk dimintai bantuan tapi belum ada respon dari mereka," jelas Asiyah.
"Baik Mbak," jawab Caca.
"Lagian ini memang waktunya orang-orang beristirahat, tidak salah jika mereka tidak merespon kita sama sekali, kita lah yang seharusnya memaklumi mereka," jelas Asiyah.
Caca dan Cita mengangguk. Menyetujui perkataan Asiyah barusan.
Tteeettt.. tteett.. bunyi klakson mobil bus dari kejauhan terdengar. Semakin lama semakin jelas. Sorot lampu tembak bus itu juga semakin lama semakin terang. Menusuk mata siapa pun yang menantangnya.
Zzuuiinngg.. suara angin dari laju mobil bus itu menggoyangkan daun-daun pohon di pinggir jalan. Tampak mobil itu melaju dengan kecepatan tinggi di tikungan dekat mobil Asiyah mogok. Sehingga Caca dan Cita yang segera berdiri dan berusaha melambaikan tangan di pinggir jalan ke arah pak sopir bus itu pun, tak dapat terlihat.
"Astaghfirullah, kok nggak berhenti sih mobilnya? ya Allah.." keluh Cita.
"Aahh.. gagal!" sambung Caca. Menyesali apa yang terjadi. Dari tadi menunggu bantuan di tempat sepi seperti ini, sekalinya kesempatan itu datang, malah mereka tak terlihat.
Subhanallah..
Allah sedang menguji kesabaran mereka malam ini. Yaa.. wajah mereka sudah tak santai lagi, raut muka itu menampakkan kekecewaan. Juga kelelahan, setelah seharian bekerja.
Sssrrrkkk..ssrrrkkk.. suara gesekan dedaunan dan rumput-rumput kering tiba-tiba terdengar di tengah malam yang sepi.
"Astaghfirullah," Caca berucap spontan. Terperanjat. Melompat kecil. Melihat sekelilingnya. Lirikannya begitu tajam di sudut kelopak mata itu. Seketika sikap waspada diambilnya. Dilihatnya pohon di ujung jalan sana bergoyang dahannya.
"Hahhh! apa itu?" Caca bertanya sendiri. Rasa takutnya memuncak, seketika melihat sekelebat bayangan kecil lewat di kakinya. Matanya melotot, lalu dipejamkannya, kuat.
"Aaakkkkk.. aaakkkkk.. Citaaaaa.. toloonggg.. ada tuyullll lewatt di kakiku Citaaa, Mbakkk..!" teriak Caca. Berdiam diri di tempatnya. Gemetar kakinya.
Asiyah dan Cita seketika menoleh ke arah Caca.
"Tuyul apa sih Ca? Itu tikus tahuuu..! lihat tu..! nggak usah berlebihan dehh, tuyul tuyul, hhhuuhh.. Kamu tu yaa, bikin kaget saja!" marah Cita, sambil mengelus-eluskan dadanya. Wajahnya tampak kesal karena ulah Caca.
"Tapi pohon yang di sana goyang loh tadi," ucap Caca lagi.
"Ya, bisa saja itu tupai, ini kan hutan lindung, wajar saja kalau ada banyak hewan di dalamnya!" balas Cita lagi. Masih kesal wajahnya.
__ADS_1
Asiyah tertawa melihat mereka berdua dari jarak yang lumayan jauh dari mereka.
Caca mencoba mengintip. Satu mata dibukanya. "Ooh iya ya, tikus, hehee," jawab Caca seraya membuka mata satunya lagi. Hhhhhh.. hela nafasnya. Lega sekali rasanya. Getaran di tubuhnya yang tadi tiba-tiba datang, seketika menghilang seiring dengan hilangnya rasa takut akan tuyul tadi.