Asiyah Akhir Zaman

Asiyah Akhir Zaman
Taktik Pak Kani


__ADS_3

Beberapa bulan berlalu.


Pak Kani masih saja bersikap lebih pada Asiyah.


Tetapi Asiyah tetap saja hanya membalas sikapnya itu sekedarnya saja. Asiyah tahu Pak Kani mempunyai keluarga, satu istri dan tiga orang anak.


Memang Pak Kani juga adalah pebisnis yang cukup berhasil. Di usianya yang sudah menginjak kepala empat Pak Kani masih terlihat muda dan tampan. Tentulah masih banyak perempuan yang mau bersanding dengannya.


 


Pernah waktu itu terdengar kabar, Pak Kani sedang ribut dengan pacarnya. Apa?! Pacar?! Maksudnya bukan istrinya? Astaghfirullah..


Banyak staf laki-laki yang membahas permasalahan ini.


Katanya, pacarnya itu membuntutinya saat Pak Kani mengawas pekerjaan proyek miliknya di sebuah hotel. Mereka juga sering bertengkar lewat telepon, berbagai kata-kata kasar saling dilontarkan saat percakapan.


Yaa jelas terdengarlah oleh staf di kantor, Pak Kani mengaktifkan loadspeakernya. Seperti tidak ada malunya saja.


Asiyah juga pernah satu kali melihat Pak Kani bertengkar dengan pacarnya melalui telepon.


Waktu itu Asiyah sedang berjalan melewati parkiran. Pak Kani ada diparkiran, disanalah Ia menelepon pacarnya. Kasar sekali pacarnya. Mereka saling berteriak.


Pak Tomi pernah cerita pada salah satu stafnya, yang kemudian cerita ini menyebar dari mulut ke mulut. Katanya, Pak Kani itu sudah lama memutuskan hubungannya dengan pacarnya itu, tetapi pacarnya tidak terima. Ia tidak mau diputuskan. Terus saja mengejar-ngejar Pak Kani hingga saat ini.


 


Berbeda sekali dengan Asiyah yang sulit sekali didapatkan.


Mungkin ada rasa bosan dalam diri Pak Kani dalam menghadapi Asiyah.


Asiyah tidak memberikan respon lebih padanya.


Atau mungkin juga Asiyah tidak yakin akan keseriusannya, pikir Pak Kani.


Siang ini kantor sedang sepi-sepinya.


Pak Tomi dan beberapa staf sedang bertugas keluar kota untuk satu pekan kedepan. Mengerjakan proyek di luar kota. Sementara staf yang lainnya sedang melakukan pertemuan yang diadakan oleh sebuah komunitas pengusaha di kota ini. Kegiatan makan-makan bersama untuk menjalin hubungan kekeluargaan antar pengusaha. Termasuk para stafnya juga diundang, tidak hanya bos-bosnya saja.


Jadi hanya ada Maya dan Asiyah di kantor, termasuk security lah.  


Perintah manajer kemarin, Asiyah dan Maya di kantor saja, tidak usah ikut pertemuan, jaga-jaga kalau nanti ada hal penting yang harus diselesaikan di kantor.


 


“Tiinnn..ttiiinnn”.. suara klakson dari luar gerbang. Kencang sekali. Berulang kali.


Mobil itu masuk ke dalam pekarangan kantor. Parkir di tengah halaman. Tidak sopan. Padahal kan jelas sekali memarkirkan kendaraan yaa di parkiran. Ternyata mobil Pak Kani.


Mau apa Dia ke kantor? Jelas-jelas Pak Tomi dan staf yang lainnya sedang tidak ada di kantor.


 


Pak Kani masuk ke ruangan Asiyah. Cepat sekali jalannya. Sepertinya ada sesuatu yang ingin disampaikan. Sesegera mungkin.


 


"Asiyah, nanti Kamu ikut Saya sebentar yaa, ada hal sedikit di proyek Saya, nanti tolong Kamu catat saja apa-apa yang Saya suruh catat di sana,” perintah Pak Kani. Tegas. Kali ini tampak profesional pembicaraannya.


Pak Kani keluar dari ruangan Asiyah.


 


Tugas kantor? Oke lah tidak apa-apa. Lagi pula Dia adalah kerabatnya Pak Tomi.


Lagi-lagi kata-kata ‘kerabat Pak Tomi’ menjadi penenang bagi Asiyah untuk berhusnudzon saja.


Selang beberapa menit. Pak Kani masuk lagi ke ruangan Asiyah. Ada Maya juga.

__ADS_1


“Ayo Asiyah kita berangkat sekarang. Maya, tinggal dulu yaa sebentar,” Pak Kani mengajak Asiyah berangkat. Pamit pada Maya.


Asiyah tidak bertanya apa-apa lagi. Langsung saja mengikuti perintah Pak Kani.


“May, Aku pergi sebentar yaa, Kamu jaga kantor dulu yaa, awas kantornya hilang loh,” ucap Asiyah pada Maya. Bercanda. Senyum kecil.


 


“Iya iya, sanaa, hati-hati ya nanti Kamu diapa-apain Pak Kani pppfffttt,” ucap Maya pada Asiyah. Menahan bahak tawanya.


 


Berjalan di belakang Pak Kani. Asiyah mengikutinya. Asiyah masuk ke dalam mobil Pak Kani. Mereka bertiga di dalam mobil. Ada sopirnya. Pak Kani duduk di sebelah sopir, sementara Asiyah duduk di belakang sendirian.


Asiyah sudah siap dengan perlengkapannya dengan membawa buku tulis dan pena untuk mencatat apa yang disuruh oleh Pak Kani nanti di lokasi proyek.


 


Baru sejenak duduk di dalam mobil, Pak Kani tiba-tiba bilang pada sopirnya, “Ini calon istri Saya, namanya Asiyah, cantik kan? Sholeha..” Pak Kani tersenyum menghadap Asiyah. Memalingkan pandangannya sejenak kebelakang.


Pak sopir tersenyum dari kaca spion dalam mobil pada Asiyah kemudian melirik Pak Kani, tersenyum lagi. Pak sopir tidak berkomentar apapun.


Asiyah terkejut bukan kepalang. Asiyah hanya diam. Hatinya dongkol. Berani sekali kali ini Pak Kani berbicara frontal seperti ini. Di.hadapan orang. Apa Pak Kani benar-benar serius dengan ucapannya? Atau hanya gombalan biasa untuk candaannya siang ini. Ahh sudahlah..


 


Sekitar lima belas menit perjalanan. Asiyah masih tidak tahu mau dibawa kemana oleh Pak Kani. Laju mobil berhenti di depan sebuah rumah bertingkat, mewah.


“Ayo Asiyah, kita turun sebentar,” ajak Pak Kani.


 


Asiyah langsung turun saja dari mobil, mengikuti Pak Kani dari belakang. Tanpa pertanyaan apapun.


Pak Sopir menunggu di dalam mobil.


 


 


Asiyah melihat di sisi kiri dinding rumahnya ada foto Pak Kani bersama istri dan ketiga anaknya terpajang tinggi. Plafond rumahnya memang tinggi.


Ohh ternyata ini rumah Pak Kani.


Seorang wanita yang tampak cantik wajahnya, gemuk badannya, turun dari tangga rumah, sepertinya ada kamar di atas.


Yakk tidak salah lagi ini adalah istri Pak Kani yang ada di foto itu.


“Ayok Asiyah duduk,” Pak Kani mempersilahkan Asiyah duduk di kursi ruang tamunya.


Asiyah pun duduk di sana. Menunggu apa yang akan terjadi. Menunggu apa yang akan diperintahkan oleh Pak Kani.


Pak Kani juga duduk di kursi ruang tamunya.


Istrinya datang. Duduk di kursi tepat di hadapan Asiyah. Perempuan itu menatap Asiyah lama. Melihat Asiyah saja dari ujung kaki sampai ujung kepala. Apa yang dipikirkannya tentang Asiyah?


 


“Maa, Papa mau ke lokasi proyek siang ini,” kata Pak Kani pada istrinya.


 


“Ikut dong Pa,” pinta istrinya pada Pak Kani.


 


 “Nggak usahlah, di sana rame, nanti Mama kerepotan di sana,” ucap Pak Kani.

__ADS_1


 


“Oo yaa Ma, ini Asiyah staf administrasi di kantornya Tomi.”


 


Istri Pak Kani hanya diam dan memperhatikan Asiyah. Sinis sekali pandangannya.


Asiyah pun heran dengan sikap istrinya Pak Kani. Kenapa begitu sihh? Tidak sopan sikapnya dari tadi. Asiyah juga tidak disuguhkan minuman apa pun.


 


Asiyah tersenyum saja pada istri Pak Kani. Jadi tidak enak sendiri rasanya diperlakukan seperti itu. Di rumah orang lain pula.


 


“Ya sudah yaa Ma, Papa pergi dulu,” Pak Kani pamit pergi pada istrinya.


 


“Bu, Saya pergi dulu,” Asiyah pamit juga pada istri Pak Kani. Asiyah menjabat tangan perempuan yang bersikap sinis padanya. Asiyah berusaha sebiasa mungkin menyikapinya.. Hhhhh.. ada apa ini? Sikap perempuan itu begitu aneh.


 


Kembali masuk ke dalam mobilnya.


Asiyah kemudian sedikit berpikir tentang semua ini.


Kenapa Pak Kani mengajaknya ke rumahnya? Memperkenalkan dirinya pada istrinya. Cuma itu saja. Apa namanya coba kalau bukan aneh. Ditambah sikap istrinya tadi yang sinis sekali padanya. Seperti ada dendam saja.


Semua ini membuat Asiyah benar-benar bingung.


 


Mereka sudah berada di dalam mobil Pak Kani lagi. Mereka siap berangkat.


Tiba-tiba, ponsel Pak Kani berbunyi. Ada panggilan masuk.


“Ohh okee.. okee.. siap,” Pak Kani menutup teleponnya lagi.


“Mmmm.. Pak, kita antar Asiyah ke kantor Tomi lagi,” perintah Pak Kani pada sopirnya.


 


Hanya begitu saja? Kini Asiyah diantar ke kantor lagi. Benar-benar aneh.


 


“Mmmm.. Asiyah, Kamu tidak jadi ikut dengan Saya ke lokasi proyek, ada hal lain yang harus Saya kerjakan, mungkin lain kali saja yaa,” ucap Pak Kani pada Asiyah. Menghadap ke belakang sejenak. Ke arah Asiyah. Tersenyum.


 


“Iya Pak, tidak apa-apa,” ucap Asiyah. Mengangguk.


 


Perjalanan singkat ini berlalu.


 


Sudah sampai di kantor.


 


Asiyah turun dari mobil. Pak Kani dan sopir tidak turun, mau langsung pergi saja.


 

__ADS_1


“Asiyah terima kasih banyak yaa, oo yaa, kalau Kamu butuh uang hubungi Saya saja yaa, sebutkan saja mau berapa, tidak usah malu-malu,” ucap Pak Kani pada Asiyah.


Asiyah terkejut. Bukan kebaikan lagi yang terlintas di pikiran Asiyah tentang Pak Kani, melainkan modus terselubung seorang lelaki terhadap seorang perempuan.


__ADS_2