Asiyah Akhir Zaman

Asiyah Akhir Zaman
Aku Tidak Sanggup di Poligami


__ADS_3

Tak terasa sudah dua tahun Asiyah bekerja di kantor Pak Tomi. Satu per satu godaan demi godaan datang, seakan benar-benar ingin menyingkirkan semua permasalahan ekonomi yang sedang dilanda keluarganya.


Walau benar adanya, rasa lelah yang dilalui Asiyah telah menguras dirinya secara fisik maupun psikologisnya.


Asiyah hanyalah manusia biasa yang juga memiliki titik terendah dalam hidupnya. Yang kadang bersedih, capek, lelah, menangis, Asiyah juga bisa merasakn amarah, bahkan merasakan bosan dengan keadaannya, terlebih dengan keadaannya saat ini, yang harus berjuang demi keluarganya, berkorban, menahan semua rasa lelahnya. Asiyah hanya memendam semuanya sendirian, hanya Allah lah tempat Asiyah bersandar.


 


Awalnya Asiyah mengira, bahwa akan cepat berlalu setiap godaan yang hadir, termasuk dari Pak Tomi. Tetapi dugaan Asiyah ternyata salah, Pak Tomi masih saja merayu dirinya, walau jelas sekali Pak Tomi mengetahui bahwa Asiyah tidak menyukai semua hal ini.


 


Pak Tomi tiba-tiba berkata pada Asiyah dan Maya waktu itu.


“Nih lihat, ada ustadz yang harmonis sekali dalam kehidupan poligaminya.”


Seketika Ia memperlihatkan sebuah video romantis kehidupan seorang ustadz terkenal pada mereka berdua.


 


Asiyah dan Maya hanya diam. Mereka saling menatap satu sama lain. Jelas sekali kebingungan tersurat pada wajah-wajah mereka.


Mengapa Pak Tomi tiba-tiba berbicara seperti itu? Tiba-tiba saja masuk ke ruangan mereka, hanya untuk menyampaikan hal ini. Sungguh hal yang sangat tidak penting bagi mereka.


 


“Di mana yaa mencari perempuan seperti itu? Sholeha. Yang mau dimadu? Ada nggak Asiyah? Kalau ada in syaa Allah Saya siap kapan saja,” tanya Pak Tomi, menatap tajam mata Asiyah, seperti memperjelas maksud dari sikapnya tadi.


 


Asiyah masih diam. Lebih tepatnya terdiam karena tatapan mata yang ditembakkan oleh Pak Tomi barusan. Melihat wajah Pak Tomi itu, Asiyah seperti menangkap betul makna dari sikap ini, yang benar-benar tampak serius sekali dengan perkataannya.

__ADS_1


Pak Tomi segera keluar dari ruangan Asiyah. Sekejap. Cukup hanya dengan memberikan kode itu saja pada Asiyah.


Maya juga tidak memberikan komentar apapun. Sama-sama diam seperti halnya dengan Asiyah.


Pak Tomi aneh sekali pagi ini. Tiba-tiba minta dicarikan istri ke dua. Yaa.. Walau pikiran seperti ini tetap saja muncul, keraguan atas dugaan yang sebelumnya telah terbersit dari dalam diri Asiyah.


Asiyah memang masih mengingat tawaran Pak Tomi waktu itu padanya, untuk menjadikannya istri kedua. Ahh.. apa mungkin Pak Tomi masih menginginkan dirinya?


 


Siang ini Asiyah dan Maya makan siang bersama di kantin depan kantor, lebih tepatnya di seberang jalan kantor. Yaa di tempat biasa lah. Ada Acen juga.


Kata Acen bercerita, Pak Tomi itu memang dari dulu berniat untuk mempunyai dua istri. Mencari istri yang sholeha. Karena istri pertamanya ini sulit sekali diatur katanya. Bicaranya kasar, mengurus anak pun memakai jasa orang lain, padahal kerjaannya di rumah hanya tidur-tiduran saja. Pak Tomi sudah tidak tahu lagi bagaimana cara merubah sikap istrinya, hanya sibuk ke salon saja kerjaannya.


 


“Bagaimana dengan Asiyah? Apa Asiyah mau menjadi istri ke dua Pak Tomi?” tanya Acen tiba-tiba, pada Asiyah yang duduk di hadapannya. Setelah panjang lebar bercerita tentang rumah tangga Pak Tomi dan Bu Wela.


 


"Sudahlah Asiyah, tidak semua perempuan mempunyai kesempatan yang baik seperti ini, menjadi istri dari seorang lelaki tampan dan sholeh dan juga kaya," sambung Agen.


"Tidak semudah itu Bang," jawab Asiyah singkat.


"Bukan karena tampan, bukan karena kaya, bahkan bukan karena sholehnya saja seorang lelaki dapat diterima pinangannya," Asiyah menekan suaranya.


"Lalu kalau bukan itu, apalagi yang harus dicari?" debat Acen.


"Ada yang namanya sebuah prinsip dalam kehidupan seseorang Bang, dan benarlah Pak Tomi itu seperti apa yang Abang katakan, tidak ada kurangnya, tetapi menikah dengannya telah melanggar prinsip hidup yang sudah Saya tanamkan," Asiyah diam.


 

__ADS_1


Kemudian Acen mulai menceritakan semuanya. Awal bagaimana mulanya Asiyah dapat diterima dengan mudah bekerja di kantor ini.


Jadi waktu pertama kali Asiyah mengantarkan surat lamaran  pekerjaan ke kantor ini, Pak Tomi sudah melihat sosok Asiyah dari cctv kantor. Saat membaca CV Asiyah, Pak Tomi benar-benar yakin bahwa Asiyah adalah perempuan yang tepat untuk menjadi istri ke duanya.


Riwayat pendidikan Asiyah ternyata dari sekolah yang berbiaya mahal, tentu pendidikannya sangat bagus di sana. Orang tuanya juga seorang yang berpendidikan terlihat dari riwayat pendidikan orang tuanya di fotokopi KK yang dilampirkannya.


Untuk menjadi staf kantornya pun Pak Tomi tidak meragukannya, dari segi penampilan Asiyah begitu rapi, dengan hijabnya yang anggun, serta sikapnya yang beradab, Asiyah tampak sopan sekali pada pertemuan pertama kali dengan Pak Tomi waktu itu.


 


Begitulah cerita Acen pada Asiyah di kantin siang ini.


 


Ohh ternyata ini alasannya mengapa Asiyah waktu itu langsung diterima bekerja tanpa wawancara dan tes kerja lagi.


Ternyata Pak Tomi ada maksud pribadi padanya. Ada tujuan lain di luar profesional kerja antara atasan dan bawahannya.


"Maaf Bang, poligami adalah prinsip hidup yang tidak akan Saya ambil, Saya bukan membenci poligaminya, tapi Saya belum mampu menanggung semua keadaan rumah tangga dalam balutan poligami. Belum lagi ridho dari keluarga Saya tidak mungkin Saya dapatkan. Setahu Saya, ustadz yang keluarganya harmonis hidup berdampingan dalam balutan poligami itu karena ada dukungan dari semua keluarga dari ketiga belah pihak pelaku poligami itu sendiri, sehingga menjalaninya lebih mudah, tidak ada kontra dari orang-orang di sekelilingnya,” Asiyah menanggapi penjelasan Bang Acen barusan. Tegas.


 


“Nggak lah, kalau Asiyah mau, pasti keluarga Asiyah juga pasti akan setuju, pasti akan merestui juga, Apalagi Pak Tomi adalah orang yang mampu dalam segi harta, jadi nanti semua keluarga Asiyah juga bisa dibiayainya,” tambah Acen.


"Lagian yaa, Kamu tidak perlu lagi merasakan lelahnya digoda oleh lelaki yang tidak jelas di luar sana, berbahaya sekali perempuan secantik dan sesholehah Kamu berkeliaran di luaran seperti ini, bukankah segera mengakhiri fitnah dirimu terhadap dunia yang keras ini akan lebih baik Asiyah?" Acen mencoba meyakinkan dengan berbagai macam cara.


Entah berapa Acen dibayar oleh Pak Tomi untuk melakukan semua ini. Seperti benar-benar menggempur Asiyah dengan senjata yang dipegangnya.


 


“Sudahlah Bang, Saya percaya ada Allah yang menjaga Saya, selagi apa yang Saya lakukan adalah hal yang benar, di jalan yang benar, Saya yakin."

__ADS_1


"Lagi pula, Saya tidak mau menyakiti Bu Wela, Bu Wela begitu baik pada Saya dan kalau memang betul alasan Pak Tomi ingin menikah lagi hanya karena akhlak Bu Wela yang tidak disukainya, seharusnya Pak Tomi bisa lebih bersabar membimbing Bu Wela, bukan malah mencari yang lain, satu saja Pak Tomi tidak mampu membimbingnya, apalagi dua,” begitu kata Asiyah.


Acen terdiam mendengar pernyataan Asiyah. Seperti kehabisan kata-kata. Mungkin Ia berpikir, ada benarnya ucapan Asiyah barusan.


__ADS_2