
Malam ini hujan gerimis. Lumayan dingin udara di luar rumah.
Asiyah membaca Al-Qur'an di dalam kamarnya, duduk relaks di atas tempat tidurnya, menselonjorkan kedua kakinya. Dengan punggung yang bersandar pada dipan kasur.
Pak Sendi pulang lebih awal.
Tiba-Tiba Pak Sendi datang. Memanggil Asiyah.
"Sayang.. sayangg.." seraya berjalan melangkah masuk ke dalam kamar.
Asiyah yang terkejut dengan panggilan itu, segera berdiri menghampiri suaminya yang baru saja masuk melewati pintu kamar mereka. Meletakkan Al-Qur'annya terlebih dahulu pada meja kecil di sebelah kasurnya. Asiyah kini berdiri di depan Pak Sendi. Tepat di depan tubuhnya.
Sendi menatap Asiyah dari ujung kaki, hingga ujung kepalanya. "Sayang, semakin hari Aku lihat, Kamu semakin jelek saja, coba deh nih lihat, teman-teman Abang yang baru saja Abang temui tadi, cantik sekali, rajin sekali merawar diri mereka," ucap Pak Sendi pada Asiyah. Nyerocos saja. Tanpa beban di hatinya berbicara seperti itu pada istrinya. Membandingkannya dengan perempuan lain.
Seketika Asiyah mengangkat lengannya kiri dan kanan. Dilihatnya. "Iya kusam sekali kulitku, sudah lama tidak perawatan ke salon," bisik kecil Asiyah.
"Coba sini deh, lihat di depan cermin itu," Pak Sendi menarik salah satu tangan Asiyah. Menyeretnya hingga berada di depan cermin rias kamar mereka.
"Jelek sekali sih muka kamu, beda sekali dengan wajah teman-temanku tadi, kamu mau lihat fotonya? nihh sini lihat, tadi Abang habis foto-foto sama mereka di cafe," Sambung Pak Sendi dengan omelannya. Seraya menunjukkan foto-foto dia bersama teman-teman perempuannya tadi di cafe.
Asiyah hanya diam. Ingin menangis rasanya. Tidakkah sadar Pak Sendi bahwa Asiyah tidak pernah diberikan uang bulanan lagi oleh dirinya?
"Abangg, perempuan mana yang tidak mau merawar diri? Terlebih agar terlihat menyenangkan bagi pandangan suaminya. Tapi apa Abang lupa, Abang tidak pernah memberikan uang bulanan lagi padaku?" ucap Asiyah dengan lembutnya.
Masih menahan tangis. Asiyah merasa sangat sedih dengan keadaannya. Sikap suaminya benar-benar menyakiti hatinya. Asiyah segera memalingkan wajahnya dari hadapan Pak Sendi. Diam-diam Asiyah mengusap kedua pipinya dengan tangan kananya. Air mata itu tak dapat dibendungnya.
Asiyah melepaskan mukenah yang masih menempel di tubuhnya. Kemudian kembali ke kasurnya.
Pak Sendi menuju kamar mandi. Membersihkan badannya setelah pulang dari banyaknya pekerjaan di luar rumah tadi. Perkataan Asiyah tadi agaknya sedikit berpengaruh pada otaknya. Pak Sendi seketika terdiam mendengar ucapan itu.
Asiyah pura-pura tertidur. Berbaring menghadap arah yang berlawanan dari tempat tidur suaminya. Agar tangis diamnya tidak ketahuan nanti oleh Pak Sendi.
Mentari esok hari telah bersinar.
Peristiwa malam tadi pun kembali berlalu.
__ADS_1
Hari ini, Pak Sendi mengajak Asiyah pergi menemui Mama. Jalan-jalan saja.
Perjalanan yang singkat. Karena rumah Mama tidak jauh dari kediaman mereka.
"Assalamu'alaykum," ucap Asiyah ketika berada di depan pintu rumah Mama.
Berkali-kali salam itu terucap. Hingga akhirnya sosok wanita berusia sekitar 50 tahunan keluar dari rumah itu. Yaa tampak gaul. Sepertinya rajin ke salon merawat diri. Juga seperti ibu-ibu sosialita yang menolak tua. Rambutnya berwarna kemerahan. Modis gayanya. Seperti anak muda. Sungguh jauh berbeda dengan Asiyah.
Asiyah membawakan brownies untuk Mama dan juga adik iparnya.
Yaa biasa lah, jalan-jalan santai sore ini. Main ke rumah mertua.
Duduk santai di taman belakang rumah mereka. Sambil menyantap kue brownies yang dibawa Asiyah tadi. Asiyah dan Mama menghadap kolam renang.
"Gimana? Sudah ada tanda-tanda?" tanya Mama pada Asiyah yang duduk di hadapannya. Raut wajah itu tampak sedikit tegas.
"Hhmmm.. belum Ma," jawab Asiyah pelan. Segan.
"Harus getol dong yaa," tekan Mama.
"Kamu dong yang harus lebih keras usahanya, kalau Sendi kan kerja, sibuk dia, yaa?" perjelas Mama.
"Iyaa Ma," jawab Asiyah lembut tapi menekan.
"Ini kenapa lagi, wajah Kamu, penampilan Kamu, jadi begini? Jangan malas ke salon yaa, jangan mau kalah sama Mama, kasihan Sendi, punya istri kok pemalas begini, eeehh di luar sana godaannya banyak loh, mana Kamu belum punya anak, nanti suamimu diambil orang loh," Mama terlihat sedikit marah.
Asiyah hanya diam. Sakit rasa hatinya. Semua kesalahan seolah Asiyah lah sumbernya. Seakan tak berguna.
Sendi yang baru saja menghampiri Asiyah dan Mama, berkata, "Hhaayy, ada apa ini Ma? Serius sekali kelihatannya," seraya tangannya mengambil sepotong kue di atas meja itu lalu memakannya. Duduk di sebelah Mama.
"Sendi, tolong dong dikasih tahu sama istri kamu nih. Jangan begini-begini amat lah jadi ibu rumah tangga, kok pemalas sekali nampaknya," Mama terlihat jutek.
"Terus ini gimana? Mama sudah nggak sabar kepingin gendong cucu dari Kamu," Mama tampak kesal, dan juga sedih. Melirik tajam beberapa detik ke arah Asiyah.
Asiyah hanya tertunduk diam melihat tatapan Mama.
__ADS_1
Kedatangannya kali ini terasa sangat berbeda. Asiyah merasa seperti orang Asing di tengah-tengah mereka.
Keadaan terasa sangat berubah ketika Asiyah memutuskan untuk berhenti bekerja dan fokus pada program hamilnya.
Ternyata ada benarnya kata orang, bahwa uang bisa merubah segalanya. Merubah seseorang yang dulunya tampak amat sangat baik, kini menjadi seseorang yang tak dapat menghargai orang lain.
Mau bagaimana lagi. Asiyah sudah terlanjur membuat kesepakatan dengan suaminya untuk menghentikan karirnya sementara waktu demi mendapatkan buah hati. Tapi Asiyah sungguh tak menyangka dampaknya akan sangat kuat pengaruhnya pada hubungan sosialnya.
Tidakkah Mama tahu tentang keadaan kami saat ini? Apakah adiknya juga tak tahu? Perekonomian kami jauh sekali merosot, hingga Aku pun tak diberikan jatah bulanan lagi oleh suamiku?
Asiyah dan Pak Sendi pulang ke rumah mereka dalam keadaan dingin. Asiyah semakin merasa asing akan suaminya setelah bentakan itu terjadi berulang-ulang pada dirinya. Kini mertuanya, juga sama, memperlakukan Asiyah tak selayaknya seorang menantu. Sikapnya begitu menyakitkan.
Malam ini di tempat tidur. Asiyah ingin mencoba membicarakan ini semua pada suaminya. Tentang ganjalnya sikap Pak Sendi pada dirinya.
"Bang?"
"Hhhmmm.."
"Bolehkah Asiyah bertanya sesuatu pada Abang?"
"Hhhmmm.. ya langsung saja."
"Soal karir Asiyah Bang."
"Kenapa?"
"Sepertinya Asiyah harus bekerja kembali Bang, biarkan lah persoalan kehamilan ini berjalan saja seiring waktu," jelas Asiyah. Pelan. Perlahan.
Pak Sendi membalikkan badannya menghadap Asiyah. Yang tadinya mereka berbicara di balik punggung masing-masing, kini telah saling berhadapan.
"Asiyah membutuhkan uang Bang, untuk Asiyah bisa merawat diri lagi, bukankah Asiyah sudah terlihat sangat jelek di mata Abang dan juga Mama?" sambung Asiyah.
"Jika memang jatah bulanan untuk Asiyah tak ada lagi dari Abang, maka biarlah Asiyah mencarinya sendiri dengan berikhtiar di luar sana Bang," Asiyah memohon. Sejenak menatap wajah suaminya, kemudian menundukkan pandangannya lagi.
Asiyah sudah pasrah dengan keadaan. Tak ingin bertanya pada suaminya tentang nafkah pribadi itu, meski Ia berhak. Tak ingin bertanya tentang keuangan rumah tangga mereka meski transparansi keuangan itu dibutuhkan untuk menumbuhkan kepercayaan.
__ADS_1
Meski Asiyah tahu. Mama dan adik iparnya masih saja berfoya-foya menggunakan harta suaminya. Sementara Asiyah jauh lebih berhak atas harta itu untuk memenuhi kebutuhannya. Asiyah sangat memahami akan hal ini.