Asiyah Akhir Zaman

Asiyah Akhir Zaman
Istana Kecil


__ADS_3

Ahad, pukul 08.00 pagi. Asiyah pulang, baru saja belanja keperluan dapur. Tadi memang perginya pagi-pagi sekali. Sekalian belanja kerupuk mentah untuk jualan Umi.


Memarkirkan motornya di depan rumah, tiba-tiba Asiyah teringat, diperjalanan pulang tadi, disepanjang jalan Asiyah melihat ada perumahan yang baru dibangun. Perumahan kecil. Sederhana sekali memang. Jadi pasti cicilan perbulannya kecil. Dipandanginya kontrakan kecil di hadapannya. Sudah lapuk papan-papannya. Kasihan Ali dan Aisyah. Kasihan Umi dan Abi.


 


Senin pagi Asiyah kembali melewati perumahan itu. Kantor pemasaran perumahannya juga ada di sana. Asiyah mengambil selebaran brosurnya. Dibacanya. Kelebihan tanahnya juga lumayan besar tiap rumahnya. Kalau ada rezeki lebih suatu saat nanti bisa diperbesar rumahnya. Bismillah. In syaa Allah bisa. Asiyah bertekad dalam hati.


Pulang kerja, Asiyah langsung menemui Umi. Tidak sabar ingin membicarakan tentang perumahan yang sudah dilihatnya dekat sini tadi


 


Umi sedang duduk di lantai. Depan televisi. Menyeterika pakaian.


Asiyah langsung saja menceritakan maksudnya.


 


“Jadi menurut Umi bagaimana? Apa kita ambil saja?” tanya Asiyah.


 


“Kalau menurut Asiyah bagus rumahnya, kita ambil saja, Umi ngikut saja, dari pada kita tinggal di sini, akan lebih baik jika kita tinggal di rumah sendiri, jelas sekali nantinya yang kita bayar adalah cicilan rumah kita sendiri, bukan milik orang lain.”


 


“Umi nggak mau lihat dulu rumahnya?”


 


“Nggak usahlah, yang pentingkan nanti kita punya rumah sendiri, kalau soal model rumahnya kan  nanti bisa ditata belakangan kalau kita ada rezeki lebih.” Diam sejenak. Masih sibuk mondar-mandir tangannya menyetrika pakaian.


 


“Nanti uang mukanya Umi tambahin, biar Asiyah nggak terlalu berat nyicil perbulannya,” sambung Umi.


 


“Iya Umi, terima kasih ya Umi, Asiyah akan mengurus berkasnya segera, biar kita bisa cepat pindah dari sini. Biar kita nggak usah capek-capek lagi nimba air di sumur, biar Aisyah nggak ngeluh digigitin nyamuk lagi.” Asiyah memeluk Umi dari belakang.


 


“Iyaa Nak, aamiin ya robbal’alamin,” Umi membalikkan badannya, senyum pada Asiyah. Mencium kening anak gadisnya itu. Asiyah juga membalas kecupan itu di pipi Umi.


 


Keesokan harinya Asiyah kembali ke kantor pemasaran perumahan itu.


 


“Subhanallah, banyak juga berkas yang harus dilengkapi,” ucap Asiyah.


 


Ternyata mengambil perumahan itu membutuhkan waktu yang cukup lama. Menunggu disetujui oleh pihak bank dulu, karena membayar cicilannya kan ke bank, jadi pihak bank akan benar-benar menganalisa calon konsumen, apakah layak diterima berkas-berkasnya untuk mendapatkan perumahan atau kah tidak, kemudian jika pihak bank sudah menyetujui, konsumen harus menunggu waktu akadnya lagi, setelah itu barulah rumahnya bisa ditempati. Dua bulan sampai tiga bulan lamanya. Itu pun kalau konsumennya cepat dalam menyerahkan berkas-berkasnya.


 


Malam ini terasa sangat sepi.


Umi, Aisyah dan Ali menonton televisi, sementara Abi beristirahat di kamarnya.


Asiyah menghampiri Abi. Asiyah duduk di sebelah Abi. Abi tidur di atas ranjang usangnya. Dilihatnya wajah Abi. Abi sudah tua. Wajahnya keriput. Abi kini sudah tampak lemah. Dipandangnya lama. Asiyah tak kuasa menahan air matanya. Asiyah sedih melihat Abi. Asiyah sangat menyayangi Abi.


Seketika jatuh air mata Asiyah. Tetesan air mata ketulusan itu jatuh membasahi tangan Abi. Abi terbangun. Terbuka matanya perlahan. Melihat Asiyah di hadapannya. Asiyah segera menghapus air matanya.


“Ada apa Nak? tanya Abi pada Asiyah. Terbata-bata. Tidak jelas ucapannya. Tetapi Asiyah mengerti dengan ucapan samar itu.


 


“Alhamdulillah Abi, Asiyah sudah ambil cicilan rumah untuk kita, sebentar lagi kita semua akan pindah dari sini, Abi nggak usah khawatir, Asiyah sanggup membayarnya,” Asiyah berusaha menutupi kesedihannya di depan Abi dengan menjejal ucapan tanpa henti pada Abi. Asiyah berusaha mengalihkan suasana agar tidak ada kekhawatiran di hati Abi tentang keluarganya.


 

__ADS_1


Abi tersenyum menatap Asiyah. Senyuman apa itu? Apa mungkin Abi benar-benar bahagia saat ini mendengar ucapan Asiyah tadi?


 


Satu bulan berlalu.


 


Berkas pengajuan kredit perumahan atas nama Asiyah sudah disetujui oleh pihak Bank. Terbilang cepat memang. Alhamdulillah semua dipermudah oleh Allah.


 


Sore ini Asiyah mengajak Aisyah dan Ali jalan-jalan. Asiyah mengajak Ali dan Aisyah melihat calon rumah baru yang akan mereka tempati nantinya.


Kata Asiyah, Asiyah akan mengajak adik kembarnya untuk melihat istana kecil mereka nantinya.


Aisyah dan Ali terlihat sangat bahagia sekali ketika Asiyah menceritakan tentang istana kecil itu. Ekspektasi mereka sepertinya berlebihan tentang istana kecil ini, membayangkan seperti istana-istana yang ada di film-film tapi dalam ukuran yang kecil.


 


Istana kecilnya nanti tidak jauh dari sekolahan mereka.


Kalau kontrakan papan saat ini kan harus berjalan melewati dua lorong dulu baru bisa nampak wujud sekolah dasar mereka.


Nah istana kecil mereka nanti tidak sejauh itu jaraknya untuk dapat melihat sekolahan Aisyah dan Ali. Gerbang istana kecil itu berada di pinggir jalan besar dan sekolah dasar mereka juga tepat sekali berada selurusan gerbang itu.


Jadi nanti ketika Ali dan Aisyah pulang sekolah, mereka langsung saja mengambil jalan ke kiri, lurus saja, nanti sekitar seratus meter jaraknya dari sekolahan mereka sudah sampai di gerbang perumahan.


Dekat sekali memang. Yaa walaupun mereka nantinya akan tetap berjalan kaki, tetapi setidaknya nanti jarak antara rumah dan sekolah akan semakin dekat.


 


Sekitar satu bulan lagi mereka sudah bisa pindah dari kontrakan papan ini.


Dari semua anggota keluarga, Ali lah yang paling tidak sabaran ingin pindah.


Seharusnya kan Aisyah yang ingin segera pindah karena Aisyah terlalu sering mengeluh digigitin nyamuk, tetapi kenapa malah Ali yang tampak sangat antusias menyambut istana kecilnya, hampir setiap hari Ali mengajak Kak Asiyah mengunjungi calon istana kecil mereka. Kak Asiyah dengan senang hati mengabulkan keinginan Ali. Walau itu permintaan Ali tetapi tetap saja Aisyah tidak mau ketinggalan untuk ikut dengan Kak Asiyah jalan-jalan bersama Ali keliling-keliling.


 


 


Ali terus mengelilingi istana kecil, melihat-lihat. Kata Ali kalau tidak diperiksa setiap saat nanti istana kecilnya dihancurkan orang, dihancurkan musuh di dalam khayalannya.


 


“Sudah Aliiiii? Ayoo kita pulang,” teriak Kak Asiyah. Sudah lama Kak Asiyah dan Aisyah menunggu Ali di depan istana kecil itu.


 


“Sebentar Kak,” teriak Ali dari belakang istana kecil.


 


“Cepatlah Ali, istana kecil kita kan sudah ada pak satpam di gerbang sana yang menjaganya supaya tidak dimasuki musuh,” ucap Aisyah. Berteriak. Jengkel.


 


Beberapa saat kemudian Ali muncul. Berlari menuju ke arah Kak Asiyah.


 


“Sudah Kak, ayookk kita pulang, Ali sudah selesai,” ucap Ali. Ali mendalami sekali perannya dalam menjaga istana kecil itu.


 


Kak Asiyah senyum-senyum sendiri melihat tingkah Ali. Melangkah pulang. Aisyah mengikuti. Kembali memboncengi kedua adik kembarnya.


 


Waktu berlalu begitu cepat.


 

__ADS_1


Tiba saatnya mereka pindah dari kontrakan papan yang berlubang ke istana kecilnya Ali dan Aisyah. Alhamdulillah.


 


Abi dan Umi menggunakan taxi ke perumahan baru mereka.


Abi masih duduk di kursi roda soalnya, tidak mungkin kalau harus dibawa menggunakan motor.


Asiyah memboncengi Ali dan Aisyah dengan motornya. Kemarin Asiyah sudah membersihkan rumah itu bersama adik kembarnya.


Sudah tidak perduli lagi dengan nyamuk dan debu yang pastinya lumayan banyak bersarang di sana, Aisyah ingin segera pindah, kata Kak Asiyah kalau mau cepat pindah memang harus cepat dibersihkan.


Ali pun juga bersemangat sekali kemarin. Memegang sapu saja sudah seperti mengayunkan pedang sang pendekar saja.


Asiyah sengaja mengajak adik kembarnya membersihkan rumah kemarin, biar nanti saat Abi dan Umi datang, mereka hanya tinggal beristirahat saja, tidak usah capek-capek lagi membersihkan rumah, apalagi Abi, kasihan nanti Abi harus menghirup debu yang banyak.


 


Asiyah sudah terlebih dahulu sampai di istana kecil bersama Aisyah dan Ali, karena Asiyah kan yang memegang kunci rumahnya.


Mereka menyambut Abi dan Umi di dalam istana kecil mereka yang masih kosong, tanpa kursi, tanpa apa-apa, soalnya barang-barang mereka, lemari, kasur dan peralatan dapur belum datang.


Yaa sebelumnya memang Asiyah sudah membeli semua barang-barang itu untuk mengisi rumah barunya ini. Soalnya kasur dan kursi di kontrakan papan kemarin kan milik yang punya rumah, hanya dipinjamkan saja. Kalau lemari pakaian memang punya sendiri, lemari bekas yang dibelinya dengan tetangga sebelah kontrakan, ada dua lemari, satu untuk pakaian Abi dan Umi, satu lagi untuk pakaian Asiyah dan adik-adiknya.


Memang harga barang-barang yang dibeli Asiyah ini murah, tapi lumayan bagus lah dari pada tidak punya sama sekali, seadanya saja dulu. Semuanya diangkut pakai mobil pick up cataran. Tadi sih sudah jalan pick up nya, tetapi kenapa belum sampai juga ya? Asiyah sedikit heran.


 


“Lihat deh Mi, ini namanya istana kecil, bagus kan Mi? Kemarin Ali membersihkan semuanya,” ucap Ali pada Umi, sembari menarik-narik tangan Umi untuk melihat istana kecilnya. Diajaknya berkeliling di dalam rumah.


 


“Iya iya Nak, bagus yaa Nak,” Umi mengikuti langkah kaki Ali. Senyum-senyum melihat Ali gempal yang sangat lincah.


 


Abi masih menunggu di ruang tamu bersama Asiyah dan Aisyah.


 


“Tiiinnn.. ttiiinnnn..” suara klakson mobil dari depan rumah.


 


Mobil pick up pengangkut barang-barang mereka sudah datang.


Segera mereka bersama-sama menurunkan barang. Menyusun kasur, lemari dan peralatan lainnya ke dalam rumah. Dibantu oleh sopir pick up beserta kuli angkutnya.


Satu jam barang-barang sudah tertata rapi di tempatnya masing-masing. Kini waktunya beristirahat lagi.


Umi dan Asiyah duduk di ruang tengah bersama Aisyah dan Ali yang sedari tadi sudah berada tepat di depan televisi, menonton film cartoon kesukaan mereka.


Abi sudah berbaring di kamarnya. Abi tidur.


 


Bukan hanya Aisyah dan Ali yang bahagia dengan istana kecil mereka saat ini, tetapi Umi dan Asiyah pun juga.


Kata Umi, Umi senang bisa pindah ke rumah baru ini, yaa walaupun kecil, tetapi setidaknya punya sendiri, airnya tidak perlu ditimba lagi dan dindingnya sudah tidak bolong-bolong lagi. Umi juga lebih mudah berdapur membuat kue dan mengemas kerupuk-kerupuknya.


Kalau Abi memang tidak menunjukkan reaksi apapun, mungkin memang tidak bisa karena kelumpuhan Abi. Hanya saja sekarang Abi tampak lebih nyenyak tidurnya, Abi nampak lebih tenang.


 


Sudah malam. Asiyah datang menghampiri Abi. Abi berbaring di kamarnya.


 


“Abi senang dengan rumah baru kita Bi?” tanya Asiyah pelan pada Abi. Asiyah menatap wajah Abi.


Abi mengangguk menjawab pertanyaan Asiyah.


Asiyah mencium kening Abi. Dulu Abi lah yang sering sekali mencium kening dan pipi Asiyah. Sekarang Abi tidak bisa menciumi Asiyah lagi seperti dulu, Asiyah lah yang kini harus menciumi Abi setiap saat.

__ADS_1


__ADS_2