Asiyah Akhir Zaman

Asiyah Akhir Zaman
Mungkinkah


__ADS_3

Pagi ini Asiyah datang ke kantor seperti biasa. Tepat waktu.


Asiyah langsung saja duduk di kursi kerjanya.


Asiyah mendapati sesuatu di meja kerjanya. Apa ini? Siapa yang meletakkan foto ini di sini? Asiyah melihat di sekelilingnya. Semua tampak biasa, tidak ada yang mencurigakan. Sepotong foto di meja kerjanya? Diambilnya foto itu. Dipegangnya. Diperhatikannya. Foto seorang laki-laki. Muda. Tampan. Bersih. Penampilannya rapi di foto itu. Sepertinya Asiyah pernah melihat laki-laki ini sebelumnya. Tapi di mana yaa?


 


Pak Kasrun dari tadi senyum-senyum sendiri. Sesekali melirik Asiyah. Apa mungkin ini kerjaannya Pak Kasrun?


Lagian Pak Kasrun tumben saja datang lebih awal dari Asiyah pagi ini, biasanya Pak Kasrun selalu datang belakangan.


Pak Kasrun berdiri dari kursi kerjanya. Melangkahkan kakinya berjalan ke arah Asiyah. Berdiri di hadapan Asiyah. Pak Kasrun mengambil cepat sepotong foto itu dari tangan Asiyah. Merampasnya. Sambil senyum, menyeringai. Pak Kasrun seperti sedang menggoda Asiyah dengan foto itu.


 


“Ganteng ya pria yang ada di foto ini?” Pak Kasrun tersenyum.


"Kulitnya putih, matanya manis, senyumannya manis, tubuhnya tinggi, penampilannya rapi dan berwibawa," diam sejenak.


"Kamu pasti suka kan dengan pria yang ada di foto ini?" sambung Pak Kasrun, bertanya.


 


“Biasa saja Pak,” Asiyah senyum-senyum malu. Secara tidak langsung membenarkan tudingan itu.


 


“Itu foto anak pertama Saya, namanya Ashar, sekarang Dia bekerja sebagai pegawai pemerintahan, anaknya baik, tidak merokok dan memang anak rumahan, sholatnya bagus, in syaa Allah sholeh,” jelas Pak Kasrun.


"Bagaimana menurut Kamu?" tanya Pak Kasrun. Matanya mendelik lagi pada Asiyah.

__ADS_1


 


Sambil memulai pekerjaannya. Asiyah sedikit sibuk menyusun berkas-berkas pekerjaannya yang kemarin belum sempat dibereskannya.


"Iya, Dia sepertinya lelaki baik ya Pak," ucap Asiyah lagi, dengan senyumannya yang tanpa henti, membenarkan ucapan Pak Kasrun tadi. Singkat.


 


“Dia sedang mencari calon istri, kata anak Saya biar Saya saja yang mencarikan calon istri untuknya, Ashar memang anak yang baik Asiyah, sampai hal jodoh seperti ini saja, Dia menyerahkan keputusannya pada Saya."


"Iya, jarang ada lelaki seperti Ashar yaa Pak," ucap Asiyah.


Asiyah mau menjadi menantu Saya?” sambung Pak Kasrun.


 


Asiyah terhenti dari aktivitasnya. Sedikit tersedak dengan ludahnya yang terpendam di dalam mulutnya.


 


Asiyah kemudian melihat ke arah Pak Kasrun. Diam.


Berpikir sejenak. Berputar segala macam ekspektasi di dalam pikirannya.


Pak Kasrun kembali duduk di kursi kerjanya. Sepertinya Asiyah masih mau berpikir dulu tentang tawaran ini. Pak Kasrun mengerti betul akan hal ini. Tidak mungkin terjadi secara mendadak dan terburu-buru jika sudah menyangkut soal perasaan terhadap perempuan. Pak Kasrun bersikap santai melihat reaksi Asiyah seperti ini, hanya diam.


Istirahat siang ini, Asiyah tampak tak tenang. Selera makan mendadak menghilang. Pikirannya ternyata terganggu juga oleh tawaran Pak Kasrun tadi pagi. Asiyah mencoba berpikir akan hal ini. Apa ini yang terbaik untuk dirinya? Atau ditolak saja penawaran ini?


Asiyah kembali ke ruangannya setelah sholat dzuhur dan makan siang yang tidak berselera tadi. Dilihatnya Pak Kasrun sesekali. Pak Kasrun adalah seorang ayah yang baik. Dipikirnya lagi, Ashar juga adalah anak yang baik untuk orang tuanya.


Tidak ada salahnya Asiyah mencoba tawaran ini, akan lebih baik juga jika ta'aruf saja dulu agar bisa lebih saling mengenal antara dirinya dan Ashar. Lagi pula.. seperti saran Maya waktu itu, Asiyah harus segera menikah agar ada yang menjaga dirinya dari lelaki perayu. Yaa minimal nantinya mereka akan segan untuk menggoda Asiyah jika tahu Asiyah sudah memiliki seorang suami, pikir Asiyah.

__ADS_1


Asiyah berdiri dari kursinya. Menghampiri meja kerjanya Pak Kasrun. Duduk di kursi di depan meja itu.


Pak Kasrun mengadahkan wajahnya, melihat ada Asiyah duduk di hadapannya.


"Ada apa Asiyah?" tanya Pak Kasrun.


"Maaf Pak sebelumnya, apa tawaran tadi itu, Bapak benar-benar sudah yakin ingin menjodohkan Ashar dengan Saya?"


"In syaa Allah Saya yakin Asiyah," jawab Pak Kasrun.


“Hhmm.. kalau diizinkan, apakah Saya boleh ta’aruf dulu dengan anak Bapak? Mungkin agar Kami bisa saling mengenal lebih jauh,” tanya Asiyah pada Pak Kasrun.


 


"Tentu saja boleh Asiyah, nanti biar Saya atur pertemuan pertama kalian,” jawab Pak Kasrun. Menyanggupi dengan cepat permintaan Asiyah.


Asiyah kembali ke kursi kerjanya setelah pembicaraan singkat itu.


Ternyata pikiran akan hal ini berlanjut sampai ke rumah. Lelahnya tubuh Asiyah tak sedikit pun menyurutkan perhatiannya pada Umi dan adik kembarnya. Dilihatnya Umi sedang menonton televisi, dilihatnya adik kembarnya yang sedang asik bermain menjelang tidurnya.


Asiyah kemudian merenungi kembali keputusannya untuk segera menikah. Akankah mereka semua baik-baik saja setelah Asiyah menikah? Apa yang akan terjadi pada mereka selanjutnya? Yang pasti persoalan biaya, Asiyah akan tetap menanggungnya sampai adik kembarnya bisa mandiri, sedangkan Umi juga akan tetap dalam penjagaan Asiyah.


 


Bismillah sajalah. Ada Allah yang mengatur semuanya. Mungkin Dia memang jodohku. Dan jika pernikahan ini benar-benar terjadi, tentu Allah sudah menyiapkan segala sesuatunya dengan sangat baik untukku dan keluargaku. Atau mungkin pertemuan dan perkenalan ini akan memberikan hikmah untukku yang lebih baik dari pernikahanku dengannya, jika Dia bukanlah jodohku, pikir Asiyah.


Lagi pula, sebentar lagi Asiyah akan wisuda. Kuliahnya akan segera selesai. Dan Asiyah kan juga sudah punya pekerjaan. Lagi-lagi Asiyah memikirkan tawaran Pak Kasrun untuk menjodohkannya dengan anaknya berulang kali. Berusaha meyakinkan dirinya sendiri. Berusaha ridho dengan ketetapan Allah jika memang Asiyah harus menikah dengan Ashar secepatnya, karena jauh di dalam hatinya kekhawatiran tentang rapuhnya hati Umi masih ada.


Yaaaa.. tidak ada salahnya mencoba.


Sholat istikharah pun dimulainya. Asiyah tak lupa meminta petunjuk pada Allah akan keputusannya. Agar jika memang Ashar adalah jodohnya dan waktu yang tepat untuk menikah adalah dalam waktu dekat ini, Asiyah berharap dan meminta pada Allah supaya segala persiapannya dilancarkan oleh Allah. Termasuk keridhoan hati Umi.

__ADS_1


Pagi ini Asiyah hendak berangkat bekerja, dengan terlebih dahulu mengantarkan Ali dan Aisyah ke sekolah. Semua tampak biasa. Umi yang tenang dengan rutinitasnya, memasak, mencuci, mengemas kerupuk, sementara adik kembarnya yang penuh keceriaan di wajahnya, mereka sudah sangat terbiasa tampaknya bersekolah di sekolah baru mereka saat ini, berbanding terbalik dengan sikap mereka pada awal masuk sekolah ini dulu.


Alhamdulillah.. Asiyah merasa sangat lega dengan apa yang disaksikannya pagi ini. Setidaknya rasa lapang di hatinya untuk melangkah ke pernikahan bersama Ashar telah menghampirinya.


__ADS_2