
Qadarullah wa maa syaa a fa'ala. Jodoh, rezeki dan maut seseorang hanya Allah lah yang tahu. Hanya Allah lah yang berhak atas segala ketetapan.
Manusia hanya bisa merencanakan setiap ikhtiarnya. Manusia hanya bisa berusaha untuk mewujudkan setiap impiannya. Baik dan buruknya sesuatu yang masih tersembunyi, hanya Allah lah yang Maha Mengetahuinya.
Takdir dari Allah tak dapat di tolak. Waktu tak bisa dimundurkan. Daun yang berguguran tak dapat kembali lagi ke dahannya. Semuanya adalah atas kehendak Allah Azza Wa Jalla.
Tidak ada satu pun zat yang bisa menyamai-Nya. Kekuasaan Allah atas takdir setiap umat manusia telah ditetapkan oleh-Nya lima puluh ribu tahun sebelum langit dan bumi diciptakan.
Tidak terkecuali dengan takdir sang gadis shalihah. Asiyah.
Tidak ada yang menyangka perjalanan hidup Asiyah bisa menjadi serumit ini. Semuanya di mulai ketika Asiyah ditinggal wafat oleh abinya. Seketika itu hidupnya seakan terbalik. Asiyah kehilangan kemewahan yang berubah menjadi sebuah kesederhanaan yang cukup memprihatinkan.
Tetapi Asiyah harus tetap berusaha tegar dan berdiri dengan kakinya sendiri dalam menjalani segala macam ujian hidup ini. Bersama Allah yang selalu mengiringi langkah kakinya. Ini semua Ia lakukan demi Umi dan adik-adiknya. Asiyah sangat menyayangi mereka.
Belum sampai di sini. Pencarian pasangan hidupnya pun tak berjalan mulus. Ada saja gangguan yang tak diinginkannya terjadi. Bahkan lebih dari itu, rasa kecewa dan patah hati dengan keadaan telah berulang kali dialaminya.
Asiyah kembali ke rumah dengan tangan hampa.
Harapannya untuk dapat segera menikah dengan jodoh pilihan Ustadz Hamdal, pupus sudah.
Tetapi semua ini tak menyurutkan niatnya untuk segera menikah. Asiyah tetap terus berusaha dan tetap terus berhusnudzon kepada Allah akan segala hikmah yang akan Ia dapatkan dari segala hal yang telah terjadi di dalam hidupnya.
Perjalanan pulang ini sungguh terasa sangat melelahkan. Lesu sekali pembawaan mereka. Asiyah dan ketiga rekannya seperti hilang semangatnya saja. Yang pada awalnya menggebu-gebu, kini seperti kehilangan nyawa saja mereka.
"Assalamu'alaykum Umi," Asiyah tiba di rumahnya. Umi telah menunggu mereka di depan pintu ruang tamu, duduk bersama Aisyah dan Ali di kursi teras depan rumah. Seketika Asiyah berlari menuju Umi. Menatap wajah Umi dari dekat, dengan murungnya. Memeluk Umi dengan eratnya. Tak kuasa menahan tangisnya.
"Umi... Asiyah gagal lagi untuk segera menikah," ucapan lembut penuh kekecewaan itu keluar dari mulut Asiyah. Asiyah melepaskan pelukannya. Menetes air mata itu dengan dramatis.
"Tidak apa-apa Nak, itu tandanya jodohnya Asiyah bukan lah lelaki pilihan Ustadz Hamdal itu, Allah lebih mencintai Dia Nak, Asiyah ikhlas yaa," ucap Umi, berusaha menenangkan anak gadisnya itu. Memegang wajah Asiyah, mengusap air matanya.
Caca, Cita dan Pak Nomo hanya bisa berdiri di belakang Asiyah dengan wajah murungnya.
Aisyah dan Ali menatap Kak Asiyah dengan sedihnya. Terlihat Aisyah yang mengusap sedikit air matanya.
"Ayoo Nak kita masuk, ada yang sudah lama menunggu Asiyah di dalam," ucap Umi.
__ADS_1
Asiyah heran. "Siapa Mi?" tanya Asiyah.
"Umi juga tidak tahu, katanya ingin berbicara dengan Umi tentang sesuatu yang penting, tetapi Ia ingin menunggu Asiyah dulu katanya," jelas Umi.
"Oohh.. kenapa ya Mi?" Asiyah kembali bertanya-tanya.
Mereka semua masuk ke dalam rumah.
Tampak seorang pria yang seketika berdiri ketika melihat kedatangan Asiyah.
Betapa terkejutnya Asiyah ketika melihat seorang pria berpakaian rapi tengah berdiri di hadapannya.
Siapa yaa? Asiyah tidak mengenalnya.
"Kak Asiyah? Umi? Ali baru ingat deh, kayaknya ini Oom yang ngajak Ali makan ice cream pas pulang sekolah waktu itu deh, yang ke mall itu Kak," cetus Ali.
Seisi rumah terdiam. Menatap Ali, lalu menatap lelaki itu.
Lelaki itu membuka kaca mata bacanya. Sedikit menata rambutnya hingga tampak sedikitkusut. Ternyataaa.. Lelaki itu?
Caca berseloroh, " Sungguh tak disangka."
"Apa mungkin yang mengirimkan boneka dan juga mawar berdarah itu juga Pak Sendi?" tanya Cita dalam bisiknya kepada Caca.
"Bisa jadi Cit, soalnya Pak Sendi akhir-akhir ini memang kelihatan aneh," balas Caca.
"Tuhh kaann, Aisyah sudah bilang kan sebelumnya, Aisyah seperti pernah melihat Oom yang menjemput Ali di sekolah waktu itu Kak, ternyata benar kan, temannya Kak Asiyah," ucap Aisyah, dengan kesalnya yang tak terbendung.
Pak Sendi tersenyum menatap wajah Asiyah. "Apa kabar Asiyah, lama sudah kita tak berjumpa," ucapnya dengan senyuman sinis namun manis.
"Pak Sendi? Sejak kapan jadi begini?" Asiyah memberi isyarat dengan tangannya akan penampilan Pak Sendi yang berubah drastis.
"Sejak.... Saya sadar, bahwa Saya sudah seharusnya memantaskan diri untuk menjadi pasangan hidupmu Asiyah," jelas Pak Sendi.
"Tidak mungkin Pak Sendi, bukankah Bapak sudah memiliki seorang istri dan juga anak?" tanya Asiyah segera dengan kagetnya.
__ADS_1
Mereka semua masih tetap berdiri di dalam ruangan itu. Tegang sekali situasi saat ini.
"Anak itu bukan lah anakku Asiyah, perempuan laknat itu telah menjebakku agar mau menikahi Dia, karena Dia tengah hamil dengan lelaki lain waktu pernikahan kami terjadi, tetapi Dia tidak tahu siapa Ayah dari anak itu," jelas Pak Sendi, dramatis.
"Dan Saya telah menceraikannya Asiyah," sambung Pak Sendi, pelan.
Hhhhmmm.. Pak Sendi tersenyum. Mengalihkan rasa sakit akan cerita masa lalu nya.
Seisi ruangan kembali tercengang dengan pernyataan itu.
"Mari kita duduk dulu, kita bicarakan dengan kepala dingin, dengan hati yang tenang yaa," ajak Umi. Berusaha mencairkan suasana sedingin es kutub utara ini.
Mereka semua menurut akan ajakan Umi.
Asiyah duduk bersama Umi, juga Aisyah dan Ali. Caca dan Cita duduk berdua, sementara Pak Nomo berada di sebelah Pak Sendi. Mereka duduk melingkari meja ruang tamu itu.
"Nah silahkan Pak Sendi, apa yang ingin dibicarakan tadi," tanya Umi dengan Pak Sendi.
"Langsung saja pada akar permasalahannya yaa Umi, Sayaa.. bermaksud ingin melamar Asiyah untuk menjadi istri Saya," ucap Pak Sendi, singkat.
Seisi ruangan terdiam. Terkejut.
"Kalau Saya, terus terang, bagaimana Asiyah nya saja Pak Sendi, jika Asiyah setuju, maka kita harus segera melangsungkan akad nikahnya, agar tidak ada syetan nantinya yang memanfaatkan celah waktu luang bagi kalian berdua," jelas Umi.
"Bukan begitu Nak?" Umi bertanya pada Asiyah. Menatap matanya.
"Iya Umi," jawab Asiyah.
Pak Sendi masih menatap wajah Asiyah, penuh harap.
Umi memahami tatapan Pak Sendi itu. "Jadi bagaimana Nak, apakah Asiyah menerima lamaran Pak Sendi?" tanya Umi. Menatap wajah Asiyah. Memegang tangan Asiyah yang duduk di sebelahnya. Menggenggam erat tangan anak sulungnya itu.
"Saya minta waktu dulu, satu bulan, untuk sedikit mengenal Pak Sendi, juga untuk lebih meyakinkan diri Saya agar bisa menerima Pak Sendi sebagai suami Saya," jelas Asiyah. Pelan. Lembut sekali suaranya. Tatapannya menunduk saja sedari tadi.
Umi tersenyum mendengar jawaban itu keluar dari mulut Asiyah. Artinya, masih ada harapan bagi anaknya untuk segera menikah. Mungkinkah jodoh Asiyah adalah Pak Sendi? Seorang duda yang telah menceraikan istrinya? Seorang lelaki yang rela memantaskan dirinya demi putri shalihahnya?
__ADS_1
Umi sudah pasrah. Siapa pun jodoh Asiyah nantinya. Mudah-mudahan ini lah yang terbaik yang diberikan oleh Allah. Asalkan Asiyah dapat bahagia, Umi sudah ikhlas melepaskannya.