Asiyah Akhir Zaman

Asiyah Akhir Zaman
Telepon Misterius


__ADS_3

Malam yang sangat panjang pun berlalu.


Tak terasa sudah beberapa hari mereka berpisah sejak terakhir kali Ashar mengantarkan Asiyah sampai ke rumahnya.


Alhamdulillah, Asiyah, Caca dan Cita sampai dengan selamat dan tak kekurangan satu apa pun. Pagi hari itu Asiyah langsung memeluk Umi erat seketika sampai di rumah. Umi pun juga dengan hangatnya menyambut anak gadis sulungnya itu di teras rumah mereka. Tak langsung mencerca dengan banyaknya pertanyaan.


Umi melihat lelah yang sangat hebat terpancar dari sorot mata anaknya itu. Apa yang baru saja dialami oleh Asiyah? Umi bertanya-tanya di dalam hatinya.


Turun dua orang lelaki dari dalam mobil yang mengantarkan anaknya itu. Umi kembali bertanya di dalam hatinya, siapa dua orang pria ini? Ke mana mobil Asiyah? Mengapa Asiyah pulang bersama mereka sepagi ini? Apa yang sebenarnya terjadi?


Masih berdiri di teras rumahnya. Umi menatap dua orang pria itu. Salah satunya. Iya, sepertinya Umi pernah melihatnya. Tapi di mana?


Ashar. Lelaki yang sempat dikenalkan oleh Asiyah kepada Umi di masa lalu, saat proses ta'aruf itu berlangsung. Yaa walau memang, hanya sebatas foto saja yang diperlihatkan oleh Asiyah. Keluarga Ashar belum sempat datang menemui Umi kala itu, namun Asiyah telah mundur dari masa ta'aruf itu karena restu Umi yang tidak didapatnya.


Sejenak Umi tersentak mengingat akan hal di masa lalu itu. Umi seketika mengenali Ashar. Tak ada yang berubah dari Ashar. Secara kasat mata, fisiknya masih sama dengan foto seorang lelaki muda yang ditunjukkan oleh Asiyah padanya waktu itu.


Maa syaa Allah. Asiyah dipertemukan kembali oleh-Nya pada seorang Ashar, getap hati Umi. Terkejut betul rasa hatinya. Dan pada akhirnya Umi melihat secara langsung lelaki bernama Ashar itu, lelaki yang telah membuat pikiran dan perasaan anaknya tak karuan dalam waktu yang cukup lama, yaa hingga saat ini.


"Assalamu'alaykum, Bu," ucap Ashar dan Dhirgham seraya menyatukan kedua telapak tangan mereka sebagai tanda salam pada Umi. Juga dengan senyuman ramah mereka. Dengan nada yang agak keras.


"Saya Dhirgham, juga saudara Saya, Ashar, kami langsung pamit pulang saja, nanti kalau ada butuh apa-apa, telepon saja, masih ada urusan yang harus Saya dan juga Ashar selesaikan pagi ini," Jelas Dhirgham. Ashar diam menyimak, diiringi dengan senyumannya.


"Dhirgham dan Ashar yaa? Hmm, iya tidak apa-apa, sebelumnya ini, Ibu mau tanya.." Cerca Umi.


"Umi, nanti saja, nanti Asiyah ceritakan semuanya di dalam, biarkan mereka pergi," sela Asiyah pada Umi. Pelan. Menggenggam tangan kiri Umi yang terjuntai di sebelahnya, menatap Dhirgham dan Ashar dari jarak yang lumayan jauh. Pagar rumah mereka. Umi sepertinya benar-benar tidak sabar ingin menuntaskan rasa penasarannya seketika pada dua lelaki itu.


"Iya, terima kasih yaa Nak, Dhirgham, Ashar. kapan-kapan mampir yaa," ucap Umi dengan sedikit teriakannya pada Dhirgham dan Ashar. Penuh keramahan.


Dhirgham dan Ashar pun segera berlalu dari hadapan mereka. Sementara Asiyah, Caca, cita serta Umi, juga masuk ke dalam rumah.

__ADS_1


"Umi, Caca dan Cita langsung ke kamar yaa," ucap Caca pada Umi.


"Iya Umi, kami lelah sekali rasanya karena kejadian tadi malam, hhoooaaahhh," sambung Cita. Menguap besar, ditutupnya dengan sebelah tangannya mulut itu.


"Lohh, iya Nak, nggak apa-apa, Umi siapkan makan nanti yaa," ucap Umi.


"Iya Umi," jawab Caca dan Cita.


Asiyah pun ikut berlalu. Sementara Umi masih menunggu cerita dari mereka atas apa yang terjadi pada mereka tadi malam.


Hingga tengah hari menjelang. Sepertinya satu per satu dari mereka bangun dari tidurnya. Caca dan Cita menuruni tapak tangga kamar mereka. Berjalan menuju meja makan.


"Yaa Allah, lapar sekali rasanya perutku Ca," Cita seketika berujar. Sembari mengambil piring serta mengambil lauk pauk yang telah tersedia di atas meja makan. Kemudian duduk rapi, mulai menyantap makanannya. Sesekali mengelus-elus perutnya yang terasa perih karena kelamaan kosong.


"Iya nih Cit, sama, sampai gemetaran begini tanganku nyendokin nasi ke piring, astaghfirullah," jawab Caca.


"Iyaa, eehh Mbak Asiyah sudah bangun belum yaa?" tanya Cita.


"Kayaknya belum deh, yaa sudah lah kita makan duluan saja Cit, biar cepat hilang lemas di badan kita, biar bisa ngurusin Mbak Asiyah lagi habis ini," ucap Caca.


Sementara di dalam kamarnya, Asiyah masih mengusap wajahnya yang kering itu.


"Siapa sih, dari tadi pagi handphoneku berdering terus," ucap kecil Asiyah, berbisik. Mengambil handphonenya yang terletak di atas meja kecil di sebelah kasurnya.


"Subhanallah, nomor tak dikenal, tujuh belas kali panggilan tak terjawab, siapa?" Asiyah diam sejenak.


"Apa Aku telepon balik saja yaa? Hhmmm.." Berpikir kembali.


Trriinnggg.. trriinnggg.. handphone itu berbunyi kembali. Kali ini pesan WA yang masuk. Asiyah membukanya. Membacanya. 'Asiyah..' isi pesan itu. Hanya itu. Ternyata dengan nomor yang sama dengan nomor penelepon tujuh belas kali panggilan tak terjawab tadi.

__ADS_1


"Subhanallah.. apa maksudnya?" Asiyah masih berpikir.


Kriiuukk.. kriiuukkk.. bunyi perut Asiyah terdengar di tengah rasa penasarannya.


"Astaghfirullah perih sekali perutku, lebih baik Aku makan dulu saja, urusan ini bisa dilanjutkan nanti," Ujar Asiyah dalam bisik sendirinya.


Segera menuruni tapak tangga. Asiyah bercerita akan hal yang baru saja terjadi padanya kepada Caca dan Cita yang hampir selesai dengan urusan perut mereka di meja makan itu.


"Caca, nanti tolong Kamu cek yaa, nomor telepon yang Saya kirim ke Kamu itu, ada itu Saya WA ke Kamu, itu nomornya siapa, ada kepentingan apa menelepon Saya, segera yaaa, kabarkan Saya, Saya butuh cepat," jelas Asiyah dengan seriusnya seraya menyiapkan makannya.


"Iya Mbak, nanti segera Caca siapkan semuanya," jawab Caca tegas.


Satu jam berlalu.


Tookk.. tookk.. tookk.. Cita mengetuk pintu kamar Asiyah.


"Mbak, nanti malam kita ada shooting jam 19.00, seperti malam kemarin," ucap Cita, menghampiri Asiyah di kamarnya, berdiri di pintu kamarnya saja, kebetulan pintu kamar Asiyah itu sedang terbuka.


"Oke," jawab Asiyah singkat.


Ttookkk.. tookkk.. tookk.. Caca lagi yang mengetuk pintu kamar itu. Silih berganti dengan Cita barusan.


"Maaf Mbak, mengenai nomor telepon yang Mbak kirimkan ke Caca tadi, itu sudah Caca cek, ternyata nggak ada di kontak telepon kita Mbak, terus Caca juga sudah coba menghubungi nomor tersebut, tapi malah nggak aktif Mbak," jelas Caca.


Asiyah menyimak. Diam. Berpikir.


"Ohh yaa sudah, biarlah," jawab Asiyah pada Caca. Asiyah tampak bingung. Asiyah mencoba masa bodoh dengan ini semua. Ia lelah. Ingin fokus pada pekerjaannya yang jelas-jelas saja.


Caca kembali ke kamarnya.

__ADS_1


__ADS_2