
Asiyah tidak bosan-bosannya memberikan pengertian pada adik-adiknya. Menasihatinya dengan penuh kelembutan.
"Aisyah, Ali.. ayok Dek kita berangkat ke sekolah," panggil Asiyah.
Sambil berjalan kaki beriringan, mereka berbincang.
"Ali dan Aisyah harus rajin sekolahnya, yang pintar yaa.. kan biar bisa menggapai cita-cita yaa kan?" ucap Asiyah pada kedua adiknya. Lembut.
Aisyah dan Ali memegang tangan Asiyah di sisi kiri dan kanan, mereka tersenyum menengok ke atas, ke wajah Kak Asiyah.
"Ali katanya mau jadi pilot, nah Aisyah mau jadi dokter kan? Harus rajin sekolahnya ya, sekolah di mana saja sama saja kok Dek, yang penting tergantung bagaimana kitanya, mau belajar atau nggak?" Asiyah tersenyum, menasehati adik kembarnya.
Asiyah kasihan dengan adik-adiknya. Aisyah dan Ali belum mampu benar mencerna apa yang Ia sampaikan, apalagi jika harus memaksanya untuk tetap bertahan dengan segala kesabaran dan keikhlasan. Ahh terlalu dewasa sikap itu untuk anak kelas tiga SD seperti mereka. Tidak mungkin lah.
Satu pekan sudah Ali dan Aisyah bersekolah di sekolah barunya.
Seperti rencana sebelumnya, Asiyah sudah harus melanjutkan kuliah di perguruan tingginya yang baru dan Asiyah juga sudah bisa melepaskan kedua adiknya untuk pulang pergi sekolah berdua saja.
Kali ini memang semua berjalan sesuai rencana. Ali dan Aisyah tampaknya sudah agak tenang. Sudah mulai bisa beradaptasi dengan keadaan. Walaupun sesekali tetap saja, dua kembar itu mengeluh tentang sekolahnya.
Dengan tarikan nafas yang panjang, kini giliran Asiyah yang menghadapi kehidupan barunya. Asiyah memasuki perguruan tinggi barunya. “Hhhuuhh, Alhamdulillah.”
Walau bagi Asiyah keadaan ini juga berat baginya, tetapi Asiyah sangat-sangat menyadari bahwa ini adalah pemberian Allah. Tidak ada yang tidak bisa untuk disyukuri. Alhamdulillah Asiyah masih diberi kesehatan oleh Allah, masih diberi kesempatan untuk beribadah kepada Allah.
Benar-benar berbeda. Keadaannya sudah tidak sama lagi.
Tempat perkuliahan Asiyah yang sekarang tidak semewah kampusnya yang dulu.
Yang sekarang gedungnya agak lusuh. Cat temboknya banyak yang sudah mengelupas. Kursi kuliahnya juga hanya kursi kayu. Tidak ada AC nya di ruang kelas. Toiletnya hanya ada satu yang berfungsi dari empat pintu toilet, mana air di dalam baknya kadang ada, kadang kosong.
Duhh Asiyah harus menahan pipisnya kalau air baknya lagi kosong atau Asiyah akan berlari ke masjid sebelah kampus untuk numpang ke toilet.
__ADS_1
Ahh repot sekali.
Kalau kampusnya yang dulu sangat bagus, sesuailah dengan biayanya yang mahal. Kalau yang dulu, cat temboknya bagus, rapi. Toiletnya banyak, untuk mahasiswa dan mahasiswi beda ruangannya, masing-masing memiliki lima pintu toilet, sedangkan untuk toilet staf kampus beda lagi, toilet umum juga beda lagi.
Aahhh pokoknya tertata lah, bersih pula.
Halaman kampusnya juga luas. Fasilitasnya lengkap.
Parkirannya dipenuhi dengan motor dan mobil mewah. Wajar saja, karena yang berkuliah di sana adalah orang-orang yang kehidupan ekonominya di atas rata-rata.
Kalau kampus yang sekarang, parkirannya sepi.
Yaa syukur-syukurlah masih ada yang berkuliah di sini, jalan kaki atau naik kendaraan umum juga sudah biasa bagi mereka.
Biayanya juga murah sekali. Yang kuliah di sini rata-rata kerja part time untuk membiayai hidupnya sendiri. Memang bukan kampus orang-orang kaya. Bisa meraih gelar sarjana saja sudah sangat bersyukurlah bagi mereka.
Hari pertama Asiyah mulai menginjakkan kakinya di kampus kemarin, Asiyah sungguh merasakan ketidaknyamanan di sana.
Semua mata menatap ke arahnya.
"Assalamu'alaykum," sapa Asiyah pada salah satu mahasiswi yang berdiri tepat di depan kelasnya.
"Wa'alaykumussalam," jawabnya.
"Maaf yaa, mau tanya ini memang belum ada dosennya ya?" tanya Asiyah pada mahasiswi itu. Asiyah heran dengan suasana kelasnya yang tampak sepi.
"Iya, memang belum datang dosennya, paling sebentar lagi, eehh.. Kamu mahasiswi baru itu yaa? Asiyah kan?"
"Iya benar, Aku Asiyah, Kamu?" Asiyah mengulurkan tangannya, tanda perkenalan.
"Aku Intan," menyambut jabatan tangan Asiyah dengan senyuman ramah.
__ADS_1
Intan adalah teman pertama bagi Asiyah di kampus barunya ini. Intan memang termasuk anak yang rajin, Ia selalu datang lebih awal dibandingkan teman-teman yang lainnya.
Makanya waktu pertama kali Asiyah hendak berkuliah di kampus ini, hanya ada Intan seorang yang menunggu di kursi tunggu depan kelas.
Intan menatap Asiyah dari ujung kaki sampai ujung kepala. Asiyah tampak begitu cantik dan sederhana dalam pandangannya. Muslimah anggun yang menawan masuk ke kampus jelek ini, kampus yang isinya orang-orang yang sederhana. Kalangan menengah kebawah. Sepi sebenarnya kalau dilihat dari kuantitasnya, mahasiswa dan mahasiswinya berjumlah sedikit.
Kata teman sekelas Asiyah, waktu pertamakali Asiyah masuk kekampus, Asiyah tidak mungkin menjadi mahasiswi di sini. Malahan Asiyah sempat dikira akan menjadi dosen terbang yang baru yang akan menjadi pengajar di kampus ini.
Soalnya Asiyah begitu cantik. Tampak cerdas dan berwibawa dengan penampilannya. Begitu sopan dan anggun pembawaannya. Pasti orang kaya.
Malah sempat mereka mengira ketika tahu bahwa Asiyah adalah mahasiswi di sini, mana mungkin Asiyah mau berteman dengan orang-orang di kampus ini, mereka yang sederhana ini. Tapi makin ke sini, makin mengenal Asiyah, mereka sadar Asiyah adalah perempuan yang baik dan mau berteman dengan siapapun.
Asiyah juga bukanlah anak orang kaya lagi saat ini. Asiyah sama seperti mereka. Malahan mereka bangga kampus ini kedatangan orang seperti Asiyah.
Asiyah adalah perempuan yang cerdas. Asiyah langsung mendapat perhatian dari anak-anak Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) kampus.
Asiyah diajak bergabung.
Okee.. Asiyah menyetujui.
Asiyah memberikan banyak ide dalam perkembangan organisasi kampus.
Tidak salah mereka memilih Asiyah.
Mulai dari menghidupkan acara peringatan hari-hari Nasional di kampus, Asiyah lah yang mengambil langkah cepat. Asiyah mulai membuat acara keakraban di kampus agar warga kampus bisa saling mengenal lebih dekat. Sampai menata parkiran kampus, Asiyah juga ikut memberikan ide.
Memang butuh waktu yang cukup lama untuk mengembangkan semuanya. Karena memang mahasiswa dan mahasiswi di sini tergolong orang yang sibuk, jadi agak sulit untuk diajak berkompromi mengenai hal-hal semacam ini. Pikiran dan tenaga mereka sudah banyak habis terkuras di kantor dan pekerjaan mereka masing-masing.
Perlahan-lahan kebersihan toilet di kampus ini juga mulai diperhitungkan. Ketersediaan airnya mulai diperhatikan. Mereka mulai membangun sedikit demi sedikit penataan kebersihan di kampus ini. Dana dari pihak kampus sendiri memang tidak ada, jadi mereka melakukan sumbangan rutin untuk perawatan dan ketersediaan air di toilet.
Ide yang cukup cemerlang. Dan membutuhkan kerja keras dan kemauan yang kuat untuk merubah semuanya.
__ADS_1
Cerdas sekali Asiyah. Tidak heranlah, sebelumnyakan Asiyah berkuliah di kampus elite yang berbiaya mahal yang fasilitasnya memang sudah mumpuni, mahasiswanyapun juga terbilang aktif dalam kegiatan kampus.
Dari situ pulalah dengan mudahnya Asiyah bisa mengambil keputusan untuk membuat berbagai macam kegiatan kreatifitas mahasiswa di kampusnya yang sekarang, berbekal pengalaman yang didapatnya dari kampusnya yang dulu.