Asiyah Akhir Zaman

Asiyah Akhir Zaman
Deg-degan


__ADS_3

Menunggu sebuah kepastian tanpa ikhtiar bagaikan berharap kenyang tanpa makan. Mengerjakan sesuatu yang berujung kesia-siaan.


Asiyah bisa saja berlari dari problema yang sedang dihadapinya, tetapi tidak dari kenyataan.


Begitu pula Pak Sendi. Pelarian yang mana yang dapat membawanya tenggelam beserta seluruh masalah yang diciptakannya sendiri? Tak ada.


Mereka saling menunggu. Bertahan dengan pendirian masing-masing.


Tapi tidak mungkin jika harus memelihara keadaan seperti ini dalam jangka waktu yang lama. Ibarat menanam bom waktu, yang lama kelamaan akan meledak juga.


Lingkaran kompromi harus segera dilaksanakan. Agar sebuah penyelesaian dapat segera dipertemukan dengan pengakhiran.


Pak Sendi mengirimkan lokasi pertemuan mereka nanti pada Caca. Untuk melakukan sebuah kompromi yang telah lama tertunda.


Blumm.. bluumm.. WA Caca berbunyi.


"Assalamu'alaykum Ca, nanti pertemuan kita di sini saja yaa, malam saja, ba'da isya, biar bisa lebih enak ngobrolnya," begitu isi pesan dari Pak Sendi.


"Wa'alaykumussalam, baik Pak, hari apa?" Caca membalas.


"Sabtu malam," jawab Pak Sendi.


"Oke yaa, Saya tunggu besok yaa Ca, assalamu'alaykum," sambung Pak Sendi, mengakhiri percakapan singkat malam ini.


"Wa'alaykumussalam, baik Pak, nanti akan Saya atur semuanya," balas Caca.


Tampaknya pertemuan ini benar akan terjadi. Baru dua malam mereka sampai di rumah, dan ternyata kabar dari Pak Sendi hadir untuk meyakinkan pikiran mereka.


Caca menghampiri Asiyah untuk memberitahukan perihal percakapannya dengan Pak Sendi barusan melalui WA.


Tookk.. tookk.. tookk.. "Mbak.." panggil Caca dari depan pintu kamar Asiyah.


Ceklekk.. ceklekk.. suara kunci pintu kamar itu, terbuka. Asiyah membuka pintu kamarnya. Asiyah baru selesai mengaji ba'da isya tadi, dilanjutkan sholat sunnah dua rakaatnya beserta witirnya. Mukena pun masih terpasang di tubuhnya.

__ADS_1


"Ada apa Ca?" tanya Asiyah seketika membuka pintunya dan melihat wajah Caca


"Pak Sendi mengirimkan lokasi pertemuan kita untuk Sabtu malam besok Mbak," jelas Caca.


"Alhamdulillah, Kamu atur saja semuanya yaa, mudah-mudahan ada titik temu pada pertemuan besok," harap Asiyah.


"Iya Mbak, aamiin, ya sudah Saya balik ke kamar lagi yaa Mbak," ucap Caca.


"Aamiin.. aamiin ya robbal'alamin, ya sudah, istirahat lagi yaa, Saya juga mau lanjut tidur," jelas Asiyah.


Asiyah kembali ke kamarnya.


"Hhhhhh.. mudah-mudahan besok Pak Sendi memberikan solusi terbaik untukku, tolong hamba ya Allah, aamiin," Asiyah bergumam sendiri di kamarnya sembari membereskan mukena dan sajadahnya.


Merebahkan tubuhnya di kasur empuk nan mewah itu. Asiyah membaringkan tubuhnya ke kanan. Membaca doa sebelum tidur. Menghela nafasnya ringan. Perlahan kedua kelopak mata Asiyah menutupi kedua bola mata indahnya. Asiyah terlelap dalam tidurnya.


Beberapa jam berlalu.


Didepan cermin pancuran kran, Asiyah membasuh wajahnya, untuk beberapa detik menatap pantulan bayangan wajahnya di cermin. Asiyah menghela nafasnya. Asiyah tampak gugup menyambut hari esok. Hari keputusan antara dirinya dan Pak Sendi.


Asiyah mendirikan sholat taubat, yang dilanjutkan dengan sholat tahajud.


Di sepertiga malam ini kembali do'a dipanjatkan olehnya.


"...Ya Allah, ya Rahman, ya Rahim, hanya kepada-Mu lah tempat hamba memohon, hanya kepada-Mu lah tempat hamba meminta pertolongan, ya Allah, hamba berserah diri kepada-Mu, tentang kegelisahan yang ada di hati hamba, berilah hamba jalan keluar terbaik atas permasalahan yang tengah hamba hadapi, tolong ya Allah ini adalah batas kemampuan hamba dalam menghadapi semuanya, besok pagi in syaa Allah hamba akan bertemu dengan Pak Sendi, hamba mohon ya Allah, berikanlah jalan keluar atas pertemuan kami esok hari, mudahkan lah semua jalannya ya Allah, ya Allah, jika pun memang bukan rezeki hamba di film yang sedang digarap ini, maka berilah hamba jalan yang mudah untuk melepasnya ya Allah, jadikan lah hati hamba ikhlas dan ridho dalam menerima segala ketentuan-Mu dan berilah hamba penggantinya dengan hal yang jauh lebih baik, rabbana atina fiddunya hasanah wa fil akhiroti hasanah waqina 'adzabannar, allahumma sholli ‘ala Muhammad wa ‘ala ali Muhammad, aamiin ya robbal'alamin..."


Begitulah penggalan do'a yang dipanjatkan oleh Asiyah malam ini kepada Allah. Mengadahkan kedua tangannya. Meminta serta memohon kepada Allah dengan sepenuh hati akan hajatnya.


Asiyah meneteskan air mata ketidakmampuannya dalam menghadapi masalah ini. Tak terbendung lagi hempasan ombak yang bergelombang di dalam dadanya. Air mata yang selama ini terpendam, akhirnya tumpah juga, di waktu dan tempat yang terbaik. Mengadu kepada Allah subhanahu wa ta'ala di sepertiga malam.


Menunggu waktu subuh tiba. Asiyah menghabiskan waktunya dengan sibuk mengucapkan kalimat tahlil, tahmid, takbir, istighfar dan tasbih secara bergantian.


Allahu akbar.. Allahu akbar.. terdengar suara adzan yang menembus dinding kamarnya. Asiyah berhenti sejenak dari segala aktivitasnya.

__ADS_1


Tak lama. Sholat sunnah fajar kembali didirikan oleh Asiyah, yang dilanjutkan dengan sholat wajib subuhnya.


Matahari mulai terbit.


Asiyah tampak sedikit lega setelah bermunajat kepada Allah di sepertiga malam tadi.


Kesiapan mulai muncul dari dalam dirinya dengan energi penuh untuk menghadapi dunia hari ini. Apalagi kalau hanya untuk menghadapi Pak Sendi, adalah sesuatu yang amat sangat sepele.


Asiyah berjalan ke balkon kamarnya yang berada di lantai atas rumahnya.


Yaa rumah Asiyah memang didesain berlantai dua. Terkhusus kamar Asiyah memang dibuatkan ruangan yang luas, nah di sebelah kamarnya adalah ruangan khusus kamar para asistennya dan juga ruangan-ruangan lainnya tempat Asiyah beraktivitas.


Jadi memang lantai dua itu dibuatkan khusus untuk kegiatan yang bersangkutan dengan Asiyah. Kecuali untuk ruangan para staf lelakinya, seperti Pak Nomo, mereka semua ditempatkan di ruangan lantai bawah. Biar bisa sekalian siaga berjaga-jaga di dalam maupun luar rumah, hitung-hitung membantu kerja CCTV di rumahnya.


Dengan piyama panjang dan kerudung yang membalut tubuhnya, sudah menjadi kebiasaan bagi Asiyah untuk melakukan hal seperti ini setiap paginya.


Sebagai wujud rasa syukurnya kepada Allah karena masih diberikan kesehatan dan kesempurnaan dalam berkesempatan menghirup nafas setiap harinya. Adalah anugerah tak terhingga yang diberikan Allah secara cuma-cuma tanpa biaya kepada setiap hamba-Nya.


"Hhhmmmm.. maa syaa Allah, Alhamdulillah," ucap Asiyah seraya menghirup udara sejuk yang mengitari dirinya pagi ini dengan senyuman keanggunannya.


Dilantai bawah rumahnya, aktivitas sudah dimulai dari subuh tadi. Di ruangan sakral tempat terciptanya zat yang dapat mengenyangkan perut seisi rumah mewah ini. Yaitu dapur.


Umi sudah siap membuatkan sarapan pagi untuk mereka, dibantu beberapa asisten rumah tangga. Pagi ini spesial Umi juga yang langsung turun tangan karena ingin membuatkan nasi goreng spesial kesukaan Asiyah.


Asiyah yang mencium bau masakan Umi, mengikuti arah datangnya aroma sedap yang menjemputnya ke kamar itu.


Asiyah berjalan.


Menuruni tangga rumahnya yang mewah dan besar itu.


Sampailah Asiyah pada meja makan yang sudah tertata di atasnya berbagai sarapan pagi. Namun matanya hanya fokus tertuju pada satu masakan saja. Nasi goreng asin sederhana buatan Umi. Dengan telor dan tumisan bawang merah saja. Nikmat sekali.


Pagi ini penuh berkah sekali bagi Asiyah, hatinya menemukan ketenangan dan lidahnya akan segera dimanjakan dengan nasi gorang kesukaannya, maa syaa Allah.. alhamdulillah..

__ADS_1


__ADS_2