Asiyah Akhir Zaman

Asiyah Akhir Zaman
Menelusuri Kenangan


__ADS_3

Tak butuh waktu lama, Ashar seketika mengalihkan pandangannya.


Asiyah tersentak dengan sikap Ashar yang seakan aneh. Yaa, aneh. Seperti seseorang yang sedang mencoba menghindar dari dirinya. Ia pun turut mengalihkan pandangannya.


Sebenarnya tidak ada permasalahan di antara mereka. Pembatalan pernikahan antara Ashar dan Asiyah di masa lalu dilakukan secara baik-baik. Sungguh tidak ada hal yang dapat membuat satu sama lain di antara mereka merasa terzalimi. Seharusnya begitu. Kecuali, jika memang yang menjadi ganjalan adalah perihal perasaan. Ini adalah hal yang memang tidak bisa dicampur adukkan dengan logika.


Mengapa? Asiyah bertanya di dalam hatinya. Mengapa Ashar bersikap seperti itu setelah bertahun-tahun? Apa sebenarnya Ashar diam-diam memendam rasa sakit yang dalam di dalam hatinya pada dirinya?


Asiyah kembali terdiam kosong.


Tidak. Tidak mungkin saat proses ta'aruf dulu Ashar juga memiliki perasaan yang sama dengan Asiyah. Tidak mungkin yang terjadi pada saat itu ternyata mereka adalah pasangan ta'aruf yang saling mencintai.


Mobil milik Asiyah dan Dhirgham telah diserahkan pada orang-orang yang datang bersama Ashar tadi.


Sementara Dhirgham, Asiyah, Caca dan Cita, pulang menggunakan mobil milik Ashar.


Tidak terbayangkan sebelumnya oleh Asiyah. Malam ini Ia akan berada dalam satu mobil bersama Ashar. Lelaki yang hampir menjadi suaminya. Iya, hampir.


Tetapi semua telah berlalu. Cerita mereka sudah berbeda. Kini Ashar adalah seorang Ayah dari seorang putri cantik bernama Maryam. Sementara Asiyah adalah seorang gadis populer yang semakin cantik paras dan pembawaannya.


Sepanjang perjalanan pulang Ashar dan Asiyah hanya bersikap seakan mereka tak saling mengenal satu sama lain.


Caca dan Cita tertidur pulas. Mereka duduk di sebelah Asiyah di barisan kursi tengah mobil. Asiyah berada tepat di kursi belakang sopir, di sebelah kaca jendela mobil.


Asiyah tak dapat tidur sepertinya. Memandangi jalanan yang Ia lalui. Terus diam, pandangannya tak beralih dari samping tubuhnya itu. Pepohonan seakan berlari cepat dalam ketertinggalannya mengejar mobil yang dikemudikan oleh Ashar ini. Sementara Dhirgham juga tampak lelah dengan pulasnya dalam mimpi tidurnya.


Ssssshhhhhtttt.. bunyi suara rem mobil. Ashar mendadak menginjakkan kakinya pada pedal rem mobil. Ada kucing terlihat melintas di depan mobil mereka. Seluruh penghuni mobil tersentak. Mereka terbangun, kaget bukan main.


"Astaghfirullah.." ucap mereka seketika dengan spontanitas mereka masing-masing.


"Ada apa?" tanya Caca.


"Maaf-maaf, ada kucing mendadak melintas," jawab Ashar.

__ADS_1


"Ohh.. kucing," ucap Cita.


Asiyah menengok ke arah jam tangannya. Sepertinya sebentar lagi akan datang waktu sholat subuh.


Tak terkecuali dengan Dhirgham. Juga mengecek jam tangannya.


"Hhhmmm.. di depan sana ada masjid, tidak terlalu jauh, nanti kita mampir di sana saja untuk menunaikan sholat subuh," ucap Ashar yang memahami kebutuhan rohani mereka semua. Sholat subuh.


"Oke," jawab Dhirgham.


Asiyah dan dua asistennya juga merasa lega mendengar ucapan Ashar barusan. Terutama Asiyah, Ia jadi tak perlu bersusah payah mengumpulkan keberanian untuk berbicara pada Ashar mengenai hal ini.


Sepuluh menit perjalanan.


Masjid terlihat. Mereka tiba dengan penuh suka cita. Tak buang waktu. Ternyata azan subuh oleh imam masjidnya telah selesai. Para makmumnya pun juga telah bubar. Perhitungan mereka akan waktu sholat tadi ternyata meleset.


Satu per satu kaki kaki basah mereka melangkah masuk ke dalam masjid. Wajah-wajah lelah nan lembab itu juga terpapar cahaya lampu masjid dengan segera. Menetes air wudhu dari tubuh-tubuh mereka. Sesegera mungkin sesampainya di masjid tadi, mereka langsung bersuci di tempat yang telah disediakan.


Asiyah, Caca dan Cita mengambil mukena yang tergantung rapi pada hanger-hanger di dalam lemari penyimpanannya, kemudian mengenakannya.


Cahaya lampu masjid begitu kentara menyinari wajah-wajah mereka yang sedang menunaikan sholat, hingga tampak bercahaya.


Pantulan sinar-sinar lampu membiasi muka-muka basah nan sendu mereka, karena siraman air wudhu.


Maa syaa Allah, pemandangan yang sangat indah di subuh hari yang dramatis ini.


Mereka lelah. Sangat lelah lebih tepatnya. Namun lelah itu tak menyurutkan langkah mereka untuk tetap mencari keridhoan Allah di masjid ini.


Tak lama.


Mereka telah selesai dalam sholatnya.


Keluar dari masjid.

__ADS_1


Asiyah berjalan fokus menunduk melihat langkah kakinya ke arah lantai keramik masjid itu. Tiba di dekat pintu masjid yang tak besar itu. "Astaghfirullah, maaf-maaf," ucap Asiyah seketika menyenggol bahu seorang pria yang juga hendak keluar dari masjid kecil itu. Asiyah seketika memberikan jarak pada tubuh mereka yang begitu dekat.


Entah kenapa Asiyah begitu ceroboh. Tak melihat jalan di sekelilingnya. Pria itu pun tampak heran pada Asiyah. Asiyah belum menegakkan kepalanya. Asiyah belum melihat siapa pria yang ditabraknya.


"Iya tidak apa-apa.. Asiyah.." ucap pria itu. Pelan. Lembut.


Asiyah menengok. Mengadahkan wajahnya pada pria yang lebih tinggi tubuhnya dari dirinya. Asharr.....


Astaghfirullah.. ucap Asiyah dalam hati. Asiyah seakan tak percaya dengan ucapan yang Ia dengan barusan. Yang seketika menyebut namanya. Ucapan seorang pria yang tadinya seperti tak mengenaljnya. Lalu kini, pria itu berada di hadapannya, dengan senyuman manisnya yang tak pernah berubah dari dulu hingga detik ini kepadanya.


Asiyah tak kuasa membendung perasaannya. Bukan senyuman balasan yang Ia berikan. Asiyah justru memalingkan wajahnya segera. Matanya berkaca-kaca.


Apa yang sebenarnya terjadi padaku? Mengapa Aku seperti ini? Ingin menangis rasanya melihat wajah itu. Ingin Ku membalas ucapannya, namun lidah ini mendadak kaku seperti besi. Ingin Ku seakan biasa saja. Tetapi mengapa? Mengapa Aku seperti seorang yang patah dan hancur ketika menatapnya dari jarak yang dekat seperti tadi? Asiyah terus bertanya-tanya dan bergumam cepat di dalam hatinya.


Asiyah berlalu pergi. Tanpa sepatah kata. Yaa walau pada akhirnya mereka akan berada pada satu mobil lagi.


Ashar menghela nafasnya. Ia melihat Asiyah seakan telah menyerah dengan keadaan. Mungkin juga karena rasa lelah yang dirasakannya saat ini hingga membuat helaan nafasnya terdengar begitu berangin.


Perjalanan pun dimulai kembali.


Empat roda mobil itu berputar dengan kompaknya.


Mereka semua tertidur. Kecuali Ashar yang mengemudikan mobilnya.


Asiyah juga terlelap dalam cantiknya wajah anggun itu. Lelah sekali nampaknya.


Sssttt.. lirikan mata Ashar seketika tak sengaja melihat wajah Asiyah yang duduk di kursi belakang. Dilihatnya lagi. Kemudian diulanginya hingga yang ke tiga kalinya.


Astaghfirullah. Ashar berucap pelan terhadap dirinya. Ditamparnya lembut pipi kanannya. Lalu mengusap wajahnya cepat. Ashar mencoba menyadarkan dirinya dari candu pandangan terhadap seorang wanita ini. Benar-benar fitnah dunia bagi dirinya.


Asiyah belum berubah kesholehahannya. Walaupun Asiyah bukan lah gadis biasa seperti dulu. Tak membuat seorang Asiyah lupa pada Sang Pemberi Nikmat itu. Hanya saja di mata Ashar, jelas terlihat Asiyah semakin cantik dan menawan.


Tetapi, apa mungkin Ashar tak salah lihat tadi. Saat melewati terangnya cahaya lampu jalan, seperti ada bulir-bulir air mata yang mengalir di pipi Asiyah. Tapi yaa sudah lah. Mungkin saja Asiyah hanya mengalami mimpi, pikir Ashar sekelebat.

__ADS_1


Yaa.. perjalanan ini bagaikan menelusuri kenangannya saat bersama Asiyah dulu bagi Ashar. Sepanjang perjalanan tanpa disadarinya, Ashar telah terfitnah kembali oleh Asiyah yang dulu pernah mengisi hari-harinya, walau sesaat.


__ADS_2