
Hingga malam larut, Asiyah tak kunjung kembali ke kamarnya.
Asiyah berada di ruang baca di sebelah kamarnya. Tak ingin bertemu dengan suaminya dulu. Sejenak, Asiyah ingin menenangkan pikirannya dulu. Mencoba merenungi permasalahan rumah tangganya dengan Pak Sendi.
"Ini semua salahku, karena kebodohanku."
"Aku kira, semua lelaki yang mencintai ibunya dengan ketulusan juga akan mencintai istrinya dengan tulus."
"Aku kira, semua lelaki yang mencintai keluarganya dengan tulus, juga akan mencintai istrinya dengan ketulusan."
"Tetapi ternyata Aku salah.."
"Ternyata.. seharusnya Aku harus memilih lelaki yang mencintai segala sesuatunya itu karena Allah, jika pun Ia mencintai keluarganya hanya karena orientasi duniawi, maka seharusnya Aku juga harus menilai kebaikan agama keluarganya, terutama ibunya."
"Yaa jika agama ibunya baik, setidaknya ibunyalah yang akan membimbing anak-anaknya untuk memperlakukan orang lain dengan baik, terutama suami ataupun istri dari anak-anaknya."
"Aku tahu suamiku adalah orang yang baik, tapi Dia adalah lelaki yang berhati lemah."
"Lalu mengapa Dia tidak melembutkan hatinya terhadapku??"
"Hhhmmm.. Pak Sendi hanya menganggap Aku sebagai orang baru yang masuk ke dalam kehidupannya, yang tidak memiliki andil tentang perjuangannya di masa lalu. Sementara ibu dan saudara-saudaranya adalah orang-orang yang mengetahui tentang semua kepahitan itu. Walaupun Pak Sendi tetaplah hanya berjuang sendiri untuk mereka, hingga kini."
"Kesalahan yang ku buat saat itu, adalah Aku terlalu terburu-buru menilai Pak Sendi. Hanya karena ku pikir Pak Sendi adalah lelaki yang bertanggung jawab terhadap ibu dan keluarganya. Dan Aku berharap Dia adalah lelaki yang juga akan bertanggung jawab penuh padaku, serta akan mencintaiku sepenuh hati. Seperti apa yang Ia lakukan pada ibu dan keluarganya."
"Kata-kata itu sering sekali Aku dengar dari para pemberi nasehat, 'Jika kamu ingin mencari seorang suami yang baik, lihatlah bagaimana caranya seorang lelaki itu memperlakukan ibunya, jika seorang lelaki meratukan ibunya dengan baik, maka Ia juga akan meratukan istrinya dengan baik, maka pilihlah Ia sebagai seorang suami'."
"Ternyata nasehat itu tidak berlaku mutlak untuk semua lelaki. Aku telah membuktikannya sendiri."
"Ternyata tidak semua lelaki yang meratukan ibunya juga akan meratukan istrinya."
__ADS_1
"Yaa bagaimana mungkin ada dua orang ratu berada di sisi seorang lelaki sekaligus. Terlebih jika lelaki itu memang tidak berilmu, maka kesanggupan dalam melayani dua orang ratu tersebut tidak akan tercapai."
"Apalagi jika posisi sebagai istri akan disamakan dengan posisi sebagai ibu, dan juga sebaliknya. Itu sungguh tidak mungkin. Bahkan kewajiban dan hak di antara keduanya pun jelas sangat berbeda, baik di dalam hukum agama juga di dalam hukum negara."
Begitulah Asiyah menyimpulkan apa yang terjadi dengan suaminya selama ini.
"Tak apa. Semuanya telah terjadi. Pak Sendi telah menjadi suamiku. Dan Aku adalah istrinya."
"Segala kekeliruanku ini terjadi atas izin Allah. Hingga saat itu yang ku nilai dan ku lihat hanyalah kebaikan-kebaikannya saja. Walau Aku telah mencoba mengenal hingga menyelidiki Pak Sendi dengan sungguh-sungguh. Toh memang tidak ada manusia yang sempurna bukan?"
"Aku yakin ada hadiah besar yang telah Allah persiapkan untukku di depan sana. Kejadian ini pasti ada hikmahnya."
Hhhhhhhhh.. hela nafas panjang Asiyah terdengar dari balik pintu yang sedikit terbuka.
Pak Sendi mengintip keberadaan istrinya.
Dilihatnya Asiyah yang sedang berada dalam lamunan panjangnya. Tidak ada tangisan dan air mata. Tapi jelas nampak kekecewaan yang teramat dalam dari sorotan kedua matanya.
"Asiyahhhh... di mana obatku??!! Sudah jam berapa ini?? Aku belum makan nasi dan minum obat, Istri macam apa kau ini Asiyah??!!"
Ucapan itu begitu keras terdengar. Mengejutkan Asiyah dan membangunkannya dari lamunan panjang.
Pak Sendi sengaja melakukan hal itu. Agar Asiyah segera kembali padanya. Berpura-pura berteriak dan marah-marah lagi. Setelah tadi Ia mengeluarkan keluh kesah dari dalam hatinya pada Asiyah.
Asiyah berlari dengan cepat menghampiri suaminya.
Didapatinya Pak Sendi yang ternyata masih berada di dalam kamar.
"Sebentar Abang, Asiyah akan bawakan makanan untuk Abang dan juga obat," lembut sekali ucapan itu keluar dari mulut Asiyah. Lalu segera pergi meninggalkan kamar itu.
__ADS_1
Pak Sendi terenyuh. Apa yang terjadi dengan Asiyah? Beberapa jam yang lalu Ia marah padaku. Kemudian saat ini Ia kembali melayaniku layaknya seorang suami yang tak pernah melontarkan kata-kata kasar, seperti yang Aku lakukan padanya tadi siang.
Begitulah Asiyah. Ia adalah seorang perempuan pemaaf dan selalu berpikir positif pada Allah. Hingga tak ada dendam di dalam hatinya. Ia hanya merasa semuanya terjadi karena kebodohannya sendiri di masa lalu. Karena kesalahannya sendiri yang keliru menilai sesuatu.
Hari ini, Asiyah benar-benar telah berhasil memancing amarah suaminya hingga suaminya mengeluarkan semua uneg-uneg di dalam dadanya, yang ternyata hal itu lah yang membuat suaminya itu jatuh sakit seperti ini karena berpikir terlalu keras.
Asiyah juga telah menemukan di mana titik permasalahan rumah tangganya selama ini.
Tidak ada solusi yang lebih tepat dalam hal ini, melainkan kesabaran menjalani rumah tangga dengan segala problematikanya.
Krriinnggg.. kkrriinngg.. ponsel Asiyah berbunyi.
Asiyah segera mengangkatnya. Tangan yang sibuk menyiapkan makanan untuk Pak Sendi itu pun berhenti sejenak. "Assalamu'alaykum Umi.."
"Wa'alaykumussalam Nak, Asiyah.. entah mengapa Umi tiba-tiba teringat kamu Nak. Apa Asiyah baik-baik saja?" tanya Umi. Dengan nada paniknya. Naluri seorang ibu tak pernah bisa berbohong.
Asiyah hanya diam. Bingung ingin menjawab apa. Di sisi lain Asiyah berharap suaminya dapat berubah jika Ia mengadukan semuanya pada Umi, agar Umi bisa membantu Asiyah. Tapi di sisi lainnya Asiyah juga tak mau membuat Umi sedih dengan mengetahui keadaannya yang sebenarnya.
"Asiyah..?? Ada apa Nak??" tanya Umi. Penuh kehati-hatian.
"Hhmmm.. tidak ada apa-apa Umi, Asiyah baik-baik saja," ucap Asiyah seakan sedang bersemangat.
"Asiyah..?? Benar tidak mau cerita sama Umi?" tanya Umi lagi. Yang terdengar tak percaya dengan ucapan Asiyah barusan.
"Iya Umi, Asiyah tidak apa-apa," tegas Asiyah. Berusaha meyakinkan Umi.
"Hhhhhh.. ya sudah lah, syukur alhamdulillah jika tidak ada apa-apa ya Nak, Umi hanya berpesan pada Asiyah, tetap lah berhati-hati dalam situasi apapun, karena satu detik saja kecerobohan yang Asiyah lakukan, dalam sekejap dapat mengubah dunia Asiyah dan jangan lupa kabarkan Umi jika Asiyah membutuhkan sesuatu dari Umi, in syaa Allah Umi akan siap membantu anak sulung Umi ini kapan saja," jelas Umi pada Asiyah. Mencoba meyakinkan anaknya itu untuk mendapatkan bantuan dari dirinya.
"Asiiyaahhh.. lama sekali kamu..??!!" terdengar Pak Sendi memanggil dirinya dari dalam kamar.
__ADS_1
Asiyah segera mengakhiri teleponnya dengan Umi. Tak ingin Umi mendengar panggilan kasar itu pada dirinya.
"Iyaaa sebentar Abang.." jawab Asiyah yang juga berteriak dari ruang makan itu.