Asiyah Akhir Zaman

Asiyah Akhir Zaman
Keraguan


__ADS_3

Hari ini Umi dan Asiyah akan ke tempat Pak Sendi, sesuai dengan alamat pada kartu nama yang diberikan oleh Pak Sendi pada waktu itu.


Karena memang sudah dipersiapkan sebelumnya oleh Asiyah segala keperluannya kemarin, jadi hari ini tidak perlu repot lagi, tinggal berangkat saja.


Tadi pagi Asiyah sudah mengantar Aisyah dan Ali ke sekolah.


Sekarang saatnya Asiyah pergi bersama Umi, untuk melancarkan rencana mereka kemarin.


"Umi pakai baju apa?" tanya Asiyah, sebelum berangkat.


"Ini, Umi pakai baju biasa saja Nak, yang penting rapi."


"Oh iya, yang itu bagus juga kok bajunya Mi."


"Iya Nak, lagian kita juga nggak lama di sana nanti, cuma menyerahkan surat kontrak kerjasama ini saja sama Pak Sendi, habis itu kita langsung pulang yaa, Umi mau mengantarkan kerupuk pesanan Bu Romlah ke rumahnya di persimpangan jalan komplek," ucap Umi.


"Jam berapa janjiannya sama Bu Romlah? Nanti biar Asiyah saja yang mengantarkannya pakai motor Mi."


"Jam 3 siang nanti Nak."


"Ya sudah nanti jam 3 biar Asiyah yang antarkan ke sana."


"Iya Nak, ayok ayok Nak, kunci pintunya, sudah jam berapa ini, biar cepat pulang kita nanti, kasian Ali dan Aisyah nanti menunggu di rumah."


"Iya Mi," Asiyah mengunci pintu rumahnya, lalu meletakkan kunci rumah itu di bawah keset depan pintu rumah. Memang di sanalah biasanya Umi dan Asiyah menaruh kunci pintu rumahnya jika mereka ingin pergi, disaat di antara mereka juga sedang tidak berada di rumah, karena memang kunci serapnya hilang waktu itu dimainkan oleh Ali, dan memang Umi maupun Asiyah belum menduplikatnya kembali.


Menggunakan motor, Asiyah dan Umi menelusuri jalan menggunakan google maps saja, praktis. Mencari alamat sesuai dengan alamat yang tertera pada kartu nama yang diberikan oleh Pak Sendi tempo hari.


Seketika tatapan mata Asiyah tertuju pada sebuah gedung.


"Umi kayaknya ini deh alamatnya," ucap Asiyah, memberhentikan motornya tepat di depan sebuah gedung yang tampak elite itu.


"Iya benar Nak, itu juga ada merk kantornya 'Islamic Entertainment', ayok kita parkirkan motor kita di parkiran ujung sana, teduh di sana," ajak Umi pada Asiyah seraya menunjukkan ujung jarinya.


"Iya Mi," Asiyah membelokkan motornya, ke bawah pohon besar nan rindang di ujung sana.


Turun dari motornya, melepaskan helm, Asiyah dan Umi langsung menuju ke dalam gedung kantor. Melewati security yang setibanya mereka di sana langsung menyambut Umi dan Asiyah dengan sangat ramah dan penuh sopan santun.

__ADS_1


"Assalamu'alaykum Bu, ada yang bisa Kami bantu?" tanya security berpakaian rapi itu.


"Wa'alaykumussalam, iya Pak, Kami mau bertemu dengan Pak Sendi, Kami mau menyerahkan kontrak kerja sama pada Pak Sendi," jawab Asiyah.


"Ohh iya, tadi Pak Sendi ada titip pesan juga sama Saya, hhmm.. ini benar dengan Mbak Asiyah yaa?" tanya security itu lagi, memastikan dugaannya.


"Iya benar, Saya Asiyah dan ini Umi, ibu Saya."


"Baiklah, kalau begitu Mbak Asiyah langsung saja melapor ke resepsionis terlebih dahulu yaa, di sebelah sana tempatnya," security itu mengarahkan tangannya, memberi petunjuk pada Asiyah dan Umi.


"Oh iya terimakasih banyak Pak," ucap Asiyah dan Umi.


Langsung saja Asiyah dan Umi menuju resepsionis yang diarahkan oleh security tadi. Tak buang waktu oleh Asiyah untuk bertanya pada recepsionisnya tentang di mana keberadaan Pak Sendi.


"Maaf mbak, permisi, bisa Saya bertemu dengan Pak Sendi?"


"Iya, dengan Ibu siapa? Dan ada keperluan apa ya?" tanya balik perempuan berhijab yang menjadi recepsionis di sana.


"Saya Asiyah mbak, ini Umi Saya, Kami mendapat tawaran kontrak kerja oleh Pak Sendi, tepatnya kemarin siang Pak Sendi datang ke rumah Saya membawa kontrak kerjanya, dan hari ini rencananya Saya mau membicarakan kembali perihal penawaran tersebut," jelas Asiyah mengenai maksud kedatangannya.


"Oohh baik, tunggu sebentar ya Bu Asiyah, silahkan duduk sebentar, Saya akan sambungkan telepon terlebih dahulu kepada Bapak Sendi," ucap perempuan itu seraya mengarahkan tangannya ke kursi tunggu tidak jauh dari meja kerjanya.


Lima menit berlalu.


"Ibu Asiyah, tunggu sebentar yaa, Pak Sendi sedang keluar sebentar, setelah urusannya selesai, Pak Sendi akan langsung kembali ke kantor dan menemui Ibu," jelas perempuan itu.


"Oohh iya nggak apa-apa Mbak, Kami akan menunggu," ucap Asiyah.


Satu jam berlalu.


Asiyah melihat ke arah jam tangannya. Lama sekali Pak Sendi. Apa ini tidak salah? Terlalu lama waktu satu jam untuk menunggu.


"Umi.. sudah satu jam lohh kita menunggu di sini, apa sebaiknya kita pulang saja yaa?" tanya Asiyah pada Umi. Ragu dalam pikiran Asiyah mulai muncul lagi.


"Sabar Nak, kita tunggu sebentar lagi yaa.. ini kan baru satu jam, lagi pula Pak Sendi sudah memberi kabar kan tadi," Umi kembali menenangkan Asiyah. Tersenyum.


Tiga puluh menit berlalu lagi.

__ADS_1


Asiyah semakin gelisah, duduknya seakan tak tenang, sebentar sebentar melihat ke arah jam di tangannya. Tak tahan lagi, Asiyah kemudian berdiri dan kembali bertanya pada recepsionis itu tentang keberadaan Pak Sendi.


"Mbak, sudah ada kabar dari Pak Sendi?"


"Hhmm.. sabar yaa mbak silahkan menunggu saja dulu, Pak Sendi sedang ada keperluan di luar," jelas perempuan itu dengan senyuman pelayanan keramahannya.


Asiyah melihat ke arah jam tangannya lagi, "Mbak sudah lama yaa kerja di sini?" tanya Asiyah.


"Saya sudah lima tahun Mbak kerja di sini," senyumannya terus merekah.


"Kalau Pak Sendi, bagaimana orangnya?" tanya Asiyah lagi.


"Selama Saya mengenalnya, Pak Sendi baik, cuma memang cara berpakaiannya berbeda dengan yang lain," resepsionis itu sedikit tertawa.


Tiba-tiba, pandangan mereka berubah arah.


Sebuah mobil mewah parkir di halaman depan kantor, Pak Sopir mengantarkan seseorang sampai ke depan pintu gedung.


Pak Sendi. Tidak salah lagi. Itu Pak Sendi yang turun dari mobil. Satu-satunya laki-laki yang berpenampilan nyentrik di gedung ini.


Alhamdulillah. Asiyah dan Umi yang melihat Pak Sendi merasa sangat lega. Terlebih Asiyah. Meskipun Umi juga tampak lelah menunggui rasa sabarnya agar tak pergi.


Umi segera berdiri dari tempat duduknya.


Asiyah segera menghampiri Pak Sendi.


"Assalamu'alaykum Asiyah... Alhamdulillah, akhirnya Kamu datang juga ke kantor Saya," sapa Pak Sendi terlebih dahulu, seketika melihat Asiyah di hadapannya.


"Bagaimana kabarnya? Sehat?" ucap Pak Sendi.


"Assalamu'alaykum Umi.." sambung Pak Sendi dengan rekahan senyumannya seketika melihat Umi berada di belakang Asiyah.


"Wa'alaykumussalam Pak Sendi, Alhamdulillah Kami baik Pak," ucap Asiyah sumringah.


"Wa'alaykumussalam.." ucap Umi, membalas salam.


"Ayok-ayok langsung saja ke ruangan Saya, kita bicarakan di dalam saja," ajak Pak Sendi yang tampaknya lebih akrab dari pada pertemuan pertama kemarin. Angin segar menghampiri Pak Sendi sepertinya dengan kedatangan Asiyah dan Umi.

__ADS_1


Umi dan Asiyah segera menuju ke ruangan Pak Sendi. Mereka menaiki lift, ruangan Pak Sendi berada di tingkat gedung paling atas.


Asiyah yang awalnya ragu, kini merasa sedikit yakin. Ia telah bertemu dengan Pak Sendi. Kantornya juga jelas sekali keberadaannya. Resepsionis di sana juga mengenal Pak Sendi dengan sangat baik sepertinya dan membenarkan akan keberadaan Pak Sendi.


__ADS_2