
Cerita tentang awal mula diterimanya dua asisten pribadi Asiyah belumlah berhenti sampai di situ.
Para juri telah sepakat dalam menggenggam dua nama di tangan mereka. Dua orang perempuan yang namanya sama-sama berawalan huruf C.
Yaaa.. mereka berdua bernama Cita dan Caca.
Asiyah berdiskusi dengan Umi mengenai dua calon asistennya ini. Dua orang asisten Asiyah yang nantinya juga akan tinggal bersama mereka di rumah mewah milik Asiyah. Telah disediakan satu kamar yang cukup besar untuk mengumpulkan mereka berdua.
Maka pendapat Umi juga sangat diperlukan di sini. Demi kenyamanan bersama tentunya. Karena nanti mereka juga akan banyak berinteraksi dengan Umi. Bahkan Umi pun akan memperlakukan dua asisten pribadi Asiyah layaknya Asiyah, yaitu seperti anak kandungnya sendiri.
"Mi, bagaimana menurut Umi?" tanya Asiyah pada Umi, saat santai di sore hari ini, seraya memperlihatkan kedua foto calon asisten pribadinya itu kepada Umi.
"Kalau dilihat dari penampilannya cukup rapi yaa Nak, bersih juga orangnya, terawat, dari gestur wajah juga mereka tampak sangat baik yaa Nak, berhati lembut," jawab Umi, sambil menyantap pisang goreng andalan buatannya dengan santai, sesekali menyeruput teh hangat.
Dua pasang foto full body dan foto close up wajah Caca dan Cita secara bergantian diteliti oleh Umi. Pasat-pasat.
Seperti ada yang mengganjal di dalam hatinya dari apa yang tampak oleh penglihatannya. Kepalanya sejenak berpikir. Apa yaa? Secara keseluruhan mereka berdua tampak rapi, bersih dan dua-duanya terlihat cantik, sangat pas jika menjadi pendamping Asiyah ke mana-mana, dalam berbagai macam acara. Namun Umi masih merasa ada sesuatu yang kurang dari diri mereka berdua.
Tersentak hatinya seketika, Umi menyadari bahwa mereka begitu terbuka sehingga Ia dengan mudah menilai kebersihan tubuhnya. Ternyata Caca dan Cita adalah seorang perempuan tanpa berbalutkan hijab.
"Tapi Nak, mengapa foto mereka tidak menggunakan hijab? Apa memang mereka dalam kesehariannya memang tidak berhijab?" tanya Umi, setelah menyadari kekurangan dari setiap poin yang telah diperhitungkannya satu persatu pada foto itu.
"Iya Mi, mereka memang tidak berhijab, rencananya nanti jika memang Umi telah turut sepakat dengan pilihan Asiyah dan teman-teman Asiyah yang lainnya, barulah akan Asiyah beritahu pada mereka berdua akan peraturan menjadi asisten Asiyah."
"Umi tenang saja Mi, pada formulir pendaftaran untuk menjadi asisten pribadi Asiyah waktu itu, telah tertulis catatan 'Bersedia mengikuti segala peraturan yang ditentukan oleh atasan yaitu Asiyah selaku atasan mereka nantinya, jika lulus dalam tahap wawancara' gitu Mi," jelas Asiyah pada Umi.
Asiyah tentu sangat mengerti akan kekhawatiran yang sedang dialami oleh Umi. Mana mungkin Asiyah mengabaikan hal yang menyangkut agama seperti ini. Kewajiban sebagai seorang muslimah yang mengharuskan mereka untuk menutupi secara keseluruhan auratnya. Apalagi kedua asistennya akan terus bersama dirinya, sungguh mengundang pandangan mata jahat jikalau mereka selalu membuka auratnya.
"Yaa kalau memang sudah begitu Nak, Umi setuju saja sama pilihanmu dan juga teman-temanmu, Caca dan Cita juga tampak pas untuk menjadi asisten pribadi Kamu," jelas Umi.
"Alhamdulillah kalau begitu Umi, Asiyah akan segera menghubungi Caca dan Cita untuk memberitahukan kabar ini pada mereka,"
"Tidak melalui teman-temanmu lagi Nak? Biar terasa lebih formal?" tanya Umi, masih dengan teh hangat di tangannya, santai.
"Nggak usah Umi, nanti biar Asiyah saja yang langsung berbicara pada mereka, justru Asiyah mau menghilangkan gaya formal itu Umi, Asiyah mau menciptakan suasana kekeluargaan nanti pada mereka, biar lebih santai," jelas Asiyah.
"Ohh ya sudah Nak, Kamu atur saja bagaimana baiknya," Umi tersenyum, seraya meletakkan gelas teh yang sudah kosong ke meja di hadapannya.
Pembicaraan siang menjelang sore ini pun berlalu dengan nyamannya kesepakatan di antara Umi dan anak sulungnya, Asiyah.
Matahari telah berganti menjadi bulan. Cahaya terang telah berganti menjadi redup. Langit yang cerah telah berganti menjadi warna angkasa yang gelap. Bulan pun telah menghilang hingga kembali lah sang raksasa cahaya terang yang mulai meninggi, matahari.
Hari ini rencananya Asiyah akan menghubungi Caca dan Asiyah untuk memberitahukan hasil dari seleksi mereka kemarin.
Waktu telah menunjukkan pukul 09.45 pagi.
Asiyah bersiap di kamarnya.
Berwudhu terlebih dahulu, berdo'a, agar segar jalan pikirannya dan dibaguskan ucapannya nanti saat menghubungi Caca dan Cita nantinya.
"Bismillahirrahmanirrahiim. Semoga mereka berdua benar-benar adalah jodohku dalam melangkah bersama selama karirku nantinya, yaa mudah-mudahan Allah senantiasa menjadikan karirku di dunia entertaint ini sebagai jalan rezekiku dan orang-orang yang berada di sekelilingku, semoga senantiasa berkah, aamiin," ucap Asiyah, berbicara pada dirinya sendiri dengan penuh khidmat.
Duduk di atas kasur ternyamannya.
Teett.. teett.. teett.. Bunyi tombol ponsel Asiyah. Menghubungi Cita terlebih dahulu.
__ADS_1
Tuutt.. tuutt.. ttuuutt.. tuutt..
Sepuluh detik sudah berlalu. Telepon Asiyah juga belum diangkat oleh Cita.
"Hallo.. assalamu'alaykum," ucap Asiyah, seketika teleponnya tersambung.
"Iyaa, wa'alaykumussalam," jawab Cita dengan lembut.
"Benar ini dengan saudari Cita?" tanya Asiyah.
"Benar, ada apa yaa?" tanya Cita lagi.
"Jadi begini Cita, Saya Asiyah.." ucapan Asiyah seketika terhenti.
"Kak Asiyah?!" Cita seketika memotong ucapan Asiyah. Sedikit berteriak. Menekan suaranya, mencoba memastikan kenyataan yang terjadi saat ini? Terlalu antusias. Melompat kecil di kamarnya. Cita mengepalkan ponselnya erat. Tertawa dan tersenyum secara sembunyi-sembunyi, menutup mulutnya dengan telapak tangannya.
"Iya benar Cita, jadi begini Cita, berhubung tim saya dalam mencari asisten pribadi untuk Saya tempo hari telah memutuskan siapa yang terpilih, maka Saya yang akan mengabarinya langsung kepada peserta yang terpilih," jelas Asiyah. Perlahan dan lembut kepada Cita.
"Terus Kak, jadi maksudnya bagaimana?" Cita tak kuasa menahan sabarnya.
"Jadi, kami telah memutuskan untuk memilih Cita sebagai salah satu asisten pribadi Saya," jawab Asiyah.
"Alhamdulillah Kak, Saya sangat senang sekali mendengarnya Kak, orang tua saya pasti juga sangat bahagia mendengar kabar ini," meledak juga akhirnya rasa bahagia yang sempat tertahan di hatinya.
"Iya Alhamdulillah kalau begitu yaa Cita, kalau begitu Kamu harus segera memberitahukan kepada kedua orang tua mu yaa, sampaikan juga salam dari Saya yaa," jelas Asiyah pada Cita.
" Iya Kak, pasti, in syaa Allah akan Saya sampaikan," jawab Cita dengan segera.
"Ohh yaa Cita, sebelumnya Saya mau memberitahukan tentang salah satu peraturan menjadi asisten pribadi Saya," Asiyah diam sejenak.
"Iya Kak, apa itu? In syaa Allah Saya siap melaksanakannya Kak," tanpa syarat Cita menyanggupi semua aturan dari Asiyah, tanpa tanya.
"In syaa Allah Saya siap Kak," jawab Cita tegas. Sesegera mungkin tanpa waktu tunggu.
"Alhamdulillah, satu lagi, panggil Saya Mbak saja yaa Cita," pinta Asiyah, masih dengan suara lembutnya.
"Iya Kak, ssiiiaapp, eehh maksud Saya Mbak Asiyah," Cita menyeringai dibalik telepon. Terdengar suara cekikikan kecilnya.
"Oke Cita, untuk kabar selanjutnya, akan Saya kabarkan lagi nanti yaa, kalau begitu Saya tutup teleponnya yaa, assalamu'alaykum," ucap Asiyah.
"Baik Mbak, terima kasih banyak sekali lagi Mbak, wa'alaykumussalam," jawab Cita.
Menghubungi Cita sudah selesai. Satu asisten pribadinya telah didapatkan. Berkurang satu bebannya. Tinggal menghubungi Caca lagi, calon asistennya yang ceroboh itu.
Melupakan sejenak kisah Caca.
Setelah menerima kabar diterimanya Ia menjadi asisten seorang selebriti ternama langsung dari selebriti itu sendiri, Cita tak membuang waktunya lagi. Emak dan bapaknya yang saat itu berada di kampung halaman, yaitu sebuah desa, segera dihubunginya.
Emak dan bapaknya Cita bekerja sebagai seorang petani teh disebuah perkebunan milik orang lain. Memang bukan anak orang kaya, Cita dilahirkan dari keluarga yang bisa dibilang sangat sederhana. Rumahnya di desa berdindingkan papan, berukuran sempit.
Cita adalah anak pertama dari tiga bersaudara. Tak dapat dipungkiri, bahwa Cita juga berperan sebagai tulang punggung keluarganya. Emak dan Bapak hanya sanggup menyekolahkan Cita hingga bangku Sekolah Menengah Pertama saja. Kemudian Cita melanjutkan sekolahnya ke tingkat SMA dengan hasil jerih payahnya sendiri.
Cita bekerja sebagai buruh di sebuah pabrik pembuatan opak ketan selepas pulang sekolah. Tentunya dengan kebaikan hati sang pemilik kebun teh, yang juga memiliki usaha lain yaitu produksi kerupuk. Ia memberikan peluang pada Cita untuk mengais rezeki di tempatnya demi melanjutkan pendidikannya dan juga membantu Emak dan Bapak dalam menyekolahkan adik-adiknya.
"Bagaimana Pak, apa anak saya bisa bekerja di pabrik opak milik Bapak?" tanya Bapak saat menghadap pemilik kebun teh sekaligus pemilik pabrik opak ketan didesanya. Bersama Emak dan juga Cita, mereka bertiga secara khusus datang bertamu ke rumah Pak Emil untuk menawarkan Cita agar bisa bekerja di pabriknya.
__ADS_1
Rumah Pak Emil cukup luas. Wajarlah, Ia memiliki cukup banyak usaha. Yang semuanya terbilang sukses. Semua warga yang mengenalnya tak pernah mendengar berita buruk tentangnya. Termasuk para pekerja di kebun teh dan pabrik opaknya. Mereka semua diberikan hak yang begitu memuaskan oleh Pak Emil. Tak ada yang merasa terzalimi, justru Pak Emil sebagai orang yang terbilang kaya di desanya tak sedikit pun menunjukkan sikap yang sombong.
"Memangnya, Cita tidak melanjutkan sekolahnya Pak?" tanya Pak Emil yang duduk di hadapan mereka.
"Justru itu Pak, kami sangat berharap kemurahan hati Pak Emil untuk memperkerjakan Cita di pabrik milik Bapak, agar Cita bisa membiayai sekolahnya sendiri, karena jujur Pak, kami tidak mampu kalau untuk membiayai sekolah Cita lagi, adik-adiknya cita masih kecil-kecil Pak, dan juga masih membutuhkan biaya untuk sekolahnya," jelas bapaknya cita.
"Untuk biaya sehari-hari saja kami sudah pas-pasan Pak," sambung Emak.
Cita hanya diam menunduk. Berharap kemurahan hati Pak Emil untuk membolehkan dirinya bekerja di pabriknya.
Pak Emil melihat Cita.
"Cita, Nak, betul Kamu benar-benar ingin melanjutkan sekolah?" tanya Pak Emil pada Cita dengan tatapan penuh empati.
"Iya Pak," jawab Cita, lirih. Masih menundukkan kepalanya.
"Benar Cita mau bekerja di pabrik?" tanya Pak Emil lagi. Ada rasa kasihan pada diri Pak Emil saat melihat Cita yang tampak sangat bersungguh-sungguh dengan keinginannya.
"Benar Pak," jawab Cita lagi, singkat. Masih menunduk.
"Ya sudah, ya sudah, nggak apa-apa, mulai besok Cita sudah boleh bekerja di pabrik yaa Nak, Cita boleh datang kapan pun saat jam sekolah Cita kosong yaa, Cita bebas mau bekerja kapan saja," ucap Pak Emil pada Cita. Tersentuh hatinya ketika melihat keseriusan Cita. Tanpa syarat apa-apa, Pak Emil begitu memberikan kemudahan pada Cita dalam mengejar pendidikannya.
Bapak, Emak dan juga Cita seketika terkejut. Pak Emil memang benar-benar orang yang sangat baik. Tidak salah dan tak sia-sia usaha mereka datang menghadap Pak Emil untuk meminta pekerjaan. Semua berjalan dengan sangat mulus.
"Terima kasih banyak Pak, kami sungguh berhutang budi pada Bapak," Bapak menjabat tangan Pak Emil seketika mendengar ucapan yang keluar dari hati baiknya.
"Iya iya Pak, nggak apa-apa, ya sudah, maaf sebelumnya Pak, Bu, Cita, Saya mau permisi keluar dulu, ada urusan sedikit di rumah keluarga Saya," jelas Pak Emil. Seraya tersenyum.
"Oh begitu, iya Pak, kalau begitu kami pamit pulang dulu yaa, terima kasih banyak yaa Pak, assalamu'alaykum," ucap bapaknya cita seraya menggenggam erat tangan Pak Emil, menjabat kedua tangannya.
Disusul Emak dan Cita, memberikan salam pada Pak Emil.
Mereka bertiga pulang dengan harapan yang besar. Dengan keberkahan malam. Dan dengan rasa syukur yang tak terhingga. Penuh kebahagiaan malam ini karena Cita akan melanjutkan pendidikannya.
Perjuangan Cita sejalan juga dengan perhatian pihak sekolahnya. Cita yang memang termasuk murid berprestasi di sekolahnya selalu mendapatkan apresiasi lebih. Santunan dari pihak sekolah tak pernah tutup mata ketika menyebut namanya. Pakaian sekolah secara gratis juga sudah menjadi jatah rutin untuk Cita hingga Ia selesai mengenyam pendidikan di sana.
"Emaakk.. Cita dikasih paket hadiah dari sekolah Maakk," teriak Cita kala itu, sambil berlari kegirangan mendekati Emak. Menunjukkan sekantong plastik yang berisikan, alat tulis, seragam sekolah yang baru, tas dan juga sepatu baru. Mengangkatnya tinggi sekali hingga di atas kepalanya.
Memang, Cita pulang pergi sekolah dengan berjalan kaki. Jarak sekolah dan rumah hanya 2 KM. Rasa capai tak pernah terasa pada dirinya, semuanya telah tertutupi dengan semangatnya yang membara untuk bersekolah.
"Iya Naaakk, jangan lari-lari, nanti jatuh, terpeleset, paket apa itu Naakk?" tanya Emak, juga dengan teriakannya.
Cita sampai di hadapan Emak dengan nafas yang tersengal, "Ini loh Mak, Cita dapat perlengkapan sekolah dari bapak kepala sekolah, banyak sekali Mak, lihat nih, ada baju, sepatu, tas dan alat tulis, jadi uang Cita yang didapat dari upah bekerja dipabrik kerupuk bisa Cita tabung untuk keperluan kita yang lain Mak, bisa untuk bantu Emak dan Bapak," jelas Cita.
"Alhamdulillah kalau begitu Nakk, beruntungnya Emak punya anak sebaik Cita," Emak memeluk Cita dan mencium pipi anak gadisnya itu di kiri dan kanan.
"Aahh Emak, biasa aja deh, kan Cita anaknya Emak," Cita terharu dengan ucapan Emak.
"Sudah jam 12 lewat ini Nak, ayoo kita pulang," ajak Emak yang mulai membereskan segala macam perlengkapannya memetik teh.
"Ayookk Mak, Cita juga mau ke pabrik kerupuk," jawab Cita atas perkataan Emak tadi. Kemudian mereka beranjak pergi.
"Iya iya, Emak sudah masakin Cita tumis kangkung tadi," lauk sederhana yang membuat mereka bahagia dengan hidup ditengah-tengah kehangatan kebersamaan keluarga.
Sejalan dengan jasa-jasa Cita dalam membangun nama baik sekolahnya, dengan berbagai prestasi perlombaan antar sekolah yang diraihnya, pada akhirnya pihak sekolah memberikan kebijakan khusus untuk Cita, yaitu menyediakan beasiswa untuk Cita melanjutkan pendidikannya ke perguruan tinggi jika memang Cita mau melanjutkan pendidikannya, tak tanggung-tanggung, beasiswa itu disediakan sampai Cita menyelesaikan pendidikannya tersebut. Secara keseluruhan biaya ditanggung oleh pihak sekolah.
__ADS_1
Cita yang memang termasuk murid yang cerdas dan terbilang sangat teliti tak sedikit pun menunjukkan sikap penolakan pada penawaran tersebut.
Kabar beasiswa itu pun diterima dengan rasa haru oleh kedua orang tua Cita beserta adik-adiknya.