Asiyah Akhir Zaman

Asiyah Akhir Zaman
Dia Telah Kembali kepada Allah


__ADS_3

Sepeda motor milik Ustad Hamdal terparkir di depan rumahnya. Motor bebek sederhana yang tampaknya memang ini adalah motor pengeluaran tahun lama.


"Assalamu'alaykum.." ucap Asiyah beserta tiga rekannya, juga Ustadz Zulfikar.


Terdengar sayup ucapan salam itu. Yang semakin lama semakin mendekat ke dalam rumah.


Dari depan pintu ruang tamu, Asiyah dan yang lainnya menunggu jawaban salam itu. Tampak Ustadz Hamdal yang segera berdiri ketika bertemu dengan Asiyah dan yang lainnya.


"Wa'alaykumussalam warahmatullahi wabarakatuh.." jawab Ustadz Hamdal beserta istrinya, Ustadzah Hani.


"Silahkan masuk, silahkan duduk," ucap Ustadz Hamdal lagi, seraya memberikan tanda pada telapak tangan kanannya ke arah kursi ruang tamunya.


Wajah Ustadz Hamdal tampak sangat tegang. Kelelahan sepertinya. Juga raut wajah itu memancarkan kesedihan yang begitu mendalam. Muram kesannya. Tapi tetap mencoba memaksakan senyuman untuk para tamunya yang datang dari jauh ini, Asiyah dan tiga rekannya.


Ustadz Hamdal dan juga istrinya duduk berhadapan dengan Asiyah, Caca dan Cita. Sementara Ustadz Zulfikar dan Pak Nomo, duduk di sisi kiri dan kanan mereka.


"Sudah lama menunggu ya? Maaf yaa Ustadz ada sedikit urusan mendadak tadi, qadarullah salah satu murid Ustadz terkena musibah," jelas Ustadz Hamdal.


"Nggak apa-apa Ustadz, sambil menunggu Ustadz tadi, kami ditemani oleh Ustadz Zulfikar mengelilingi pondok pesantren ini," jelas Asiyah.


"Sudah sampai ke taman sungai? Kami di sini menyebutnya 'Pintu Surga'," tanya Ustadz Hamdal lagi.


"Alhamdulillah sudah Ustadz, maa syaa Allah itu adalah taman yang sangat indah Ustadz, setelah sebelumnya kami melihat pemandangan yang juga sangat menyentuh hati kami, yaitu seorang santri yang sedang mengulang-ngulangi hafalan Al-Qur'annya di pojokan teras kamarnya, suara itu maa syaa Allah juga terdengar merdu sekali Ustadz," jelas Asiyah.


"Iya, Bapak tahu, santri itu bernama Yusuf, Dia memang tidak pernah pulang selama liburan, tahun depan Yusuf akan lulus dari pesantren ini, Yusuf memang termasuk anak yang berprestasi di pondok ini," jelas Ustadz Hamdal.


"Memang begitu lah Yusuf, Dia selalu mengulang-ngulang hafalan Al-Qur'annya ketika ada waktu luang," sambungnya lagi.


"Kalau boleh tahu Ustadz, kenapa yaa Yusuf tidak pernah pulang selama liburan?" tanya Asiyah, penasaran.


"Di pondok pesantren ini, tidak semuanya mempunyai tingkat perekonomian yang cukup, ada beberapa memang yang mendapatkan bantuan dari pihak pesantren agar bisa mondok di sini, termasuk Yusuf ini, apalagi tempat tinggal orang tua Yusuf cukup jauh, bisa dua kali naik pesawat untuk sampai ke sana, yaa begitulah Nak, namanya juga hidup," jelas Ustadz Hamdal, singkat.


"Iya Ustadz," Asiyah mengangguk.


Suasana menjadi hening sejenak. Asiyah hendak bertanya perihal kedatangannya pada Ustadz Hamdal namun rasanya sungguh tak enak. Apa dan bagaimana selanjutnya tentang niat baik Asiyah yang ingin menikah, dan minta dicarikan oleh Ustadz Hamdal calon jodohnya.

__ADS_1


Asiyah melihat ke arah Ustadz Hamdal. Ustadz Hamdal menatap ke arah meja, melamun. Sepertinya Ustadz sedang memikirkan sesuatu. Makin tak enak rasanya untuk bertanya perihal ta'aruf ini. Kemudian Asiyah melihat ke arah Cita. Cita menengok balik dan menganggukkan kepalanya kepada Asiyah, seakan mengerti maksud Asiyah.


"Hhmmm.. maaf sebelumnya Ustadz, mengenai kedatangan kami kemari........ apa Ustadz?" tanya Cita pada Ustadz Hamdal, yang kemudian terhenti.


"Oohh iyaa, maaf Nak, Bapak sampai lupa," jawab Ustadz Hamdal tersentak dari lamunan pikirannya.


"Ada salah seorang alumni santri di pondok ini, Bapak ahu Dia anak yang baik, in syaa Allah sholeh, Bapak juga sudah menjelaskan tentang proses ta'aruf ini, in syaa Allah Dia sekufu dengan Asiyah, jika sudah ada pertemuan nanti dan kalian merasa sudah sama-sama cocok, kita akan langsungkan segera akad nikahnya," jelas Ustadz Hamdal.


"Bagaimana, apakah Asiyah siap?" tanya Ustadzah Hani. Tersenyum pada Asiyah.


"In syaa Allah Asiyah siap Ustadzah," jawab Asiyah. Tampak gugup dengan jawabannya.


"Alhamdulillah.." ucap seisi ruangan itu bersama-sama. Ikut tersenyum senang.


"In syaa Allah Mbak Asiyah akan segera bertemu dengan jodohnya yaa Mbak, aamiin," ucap Cita dengan bahagia yang sangat jelas terpancar dari wajahnya.


"Aamiin.." ucap Caca dan Pak Nomo, juga yang lainnya.


Semuanya kembali terdiam. Hening. Wajah Ustadz Hamdal kembali murung.


"Maaf Nak sebelumnya, supaya kamu tidak terkejut nantinya," ucap Ustadz Hamdal.


Kemudian Ustad Hamdal diam sejenak. Seisi ruangan menyimak fokus. Menunggu penjelasan dari Ustadz Hamdal.


"Lelaki yang akan Bapak jodohkan kepadamu itu, adalah seorang alumni santri pondok ini yang tadi pagi Bapak lihat itu, Dia lah yang sedang terkena musibah, Dia tertabrak mobil saat menyeberangi jalan raya saat hendak membeli buah tangan untuk Bapak, saat perjalanan menuju ke sini untuk menemui Nak Asiyah," jelas Ustadz Hamdal.


"Innalillahi wa inna ilaihi roji'un," ucap Ustadzah Hani dengan wajah prihatinnya.


Asiyah terdiam. "Lalu bagaimana dengan keadaannya sekarang Ustadz?" tanya nya, gugup.


"Tadi sudah sadar, hanya pinsan sebentar, kepalanya terhempas ke aspal, in syaa Allah, kita do'akan saja, semoga tidak apa-apa," jelas Ustadz Hamdal, berusaha tenang.


"Alhamdulillah," ucapan itu terdengar lembut keluar dari mulut Asiyah, pelan sekali suaranya. Seakan harapan itu mulai goyah dari pikiran Asiyah. Entah kenapa wajah Ustadz Hamdal sangat meragukannya. Seakan harapan itu sangat lah tipis.


"Hhmmm Ibu sudah menyiapkan makan siang untuk kita, mari kita makan bersama dulu yaa, nanti pembicaraannya kita lanjutkan lagi," ucap Ustadzah Hani.

__ADS_1


"Sebentar lagi juga mau adzan dzuhur Ustadzah, apa kita tunggu saja dulu, setelah sholat baru lah kita makan bersama?" jelas Asiyah dengan tanyanya.


"Oohh iya iya, boleh boleh," jawab Ustadzah Hani, tersenyum dengan senang dan sigapnya.


"Mungkin Asiyah bisa membantu Ibu ke belakang sebentar, ada beberapa yang mesti disiapkan lagi," ucap Ustadzah Hani pada Asiyah.


"Iya Ustadzah, boleh," jawab Asiyah.


Asiyah dan Ustadzah Hani menuju ke dapur berdua saja. Sementara yang lainnya menunggu di ruang tamu.


Ternyata Ustadzah Hani ingin mengemas sedikit kue buatannya untuk Asiyah bawa pulang nanti sebagai oleh-oleh.


Dduuggg.. dduuggg.. dduuggg.. bedug di masjid pesantren telah berbunyi. Pintu gerbang pesantren telah di buka bebas untuk para jamaah yang hendak sholat di dalam masjid milik pondok ini. Para warga yang tinggal di sekitaran pondok yang saling berpencar arahnya dan berjauhan jaraknya, mulai berdatangan menggunakan kendaraan mereka masing-masing. Juga yang berada di dalam kebun sekitar pondok tengah turun ke jalan menuju masjid.


"Allahu akbar.. allahu akbarr.." suara adzan telah di kumandangkan.


Tiba-tiba, di saat bersamaan, krriiiinnggg... kkrriiinnggg.. krriinnggg..


Ustadz Hamdal melihat ponselnya, panggilan dari siapa saat adzan berkumandang begini? Setika melihat panggilan itu, segera Ustadz Hamdal mengangkat ponselnya yang berdering.


"Innalillahi wa inna ilaihi roji'un," seketika ucapan itu keluar dari mulut Ustadz Hamdal.


Wajah itu terdiam. Kaku. Muram merah padam warnanya. Matanya mulai berkaca-kaca.


"Dia sudah kembali kepada Allah," ucap Ustadz Hamdal dengan getaran suaranya. Menengok ke arah Ustadz Zulfikar.


"Innalillahi wa inna ilaihi roji'un," ucap seisi ruangan bergantian.


Asiyah datang ke ruang tamu, berjalan dengan senyumannya bersama Ustadzah Hani. Membawa sekantong oleh-oleh yang berada di dalam genggamannya.


Ustadz Hamdal memberi kode pada istrinya, "Dia sudah meninggal Bu," ucapnya.


"Innalillahi wa inna ilaihi roji'un," ucap ustadzah Hani.


Di sambung oleh Asiyah. Yang juga memahami akan isyarat yang baru saja di terimanya dari tatapan wajah seisi ruangan. Kantongan buah tangan yang akan di bawa Asiyah pulang ke rumah, seketika jatuh dari genggamannya, bersamaan dengan jatuhnya tetesan air mata kekecewaannya. Ternyata ikhtiarnya kali ini gagal lagi, pikirnya.

__ADS_1


__ADS_2