Asiyah Akhir Zaman

Asiyah Akhir Zaman
Hanya Diam


__ADS_3

Pertukaran koper telah selesai.


Asiyah dan Ashar saling menatap dalam kebisuannya. Sejenak. Hanya diam. Lalu berpura-pura tak saling mengenal. Hingga masing-masing berlalu meninggalkan tempat mereka berpijak.


Ashar masuk kembali ke dalam rumah. Wajahnya memendam kebingungan. Sementara Maryam tak lepas dalam tatapannya pada Asiyah.


Asiyah dengan perlahan berjalan menuju mobilnya. Beberapa meter perjalanan dari pintu rumah menuju mobil terasa sangat jauh bagi Asiyah. Langit siang ini seakan menjadi saksi akan hati Asiyah yang dilanda bingung.


Bak film-film drama. Mulai dari tatapan pertama mereka hingga perpisahan mereka setelah pertemuan singkat yang mengejutkan ini, diakhiri dengan adegan slow motion.


Seketika petir menyambar. Kilat pun menampakkan cahayanya membelah langit. Guyuran air langit mendadak turun menyentuh tubuh Asiyah. Tetesannya perlahan membasahi wajah teduhnya, perlahan, setetes demi setetes. Masih dalam adegan slow motion.


Asiyah memasuki mobilnya bersama Caca, Cita dan Pak Nomo.


"Kita langsung ke lokasi syuting saja yaa Pak, nanti makan siang sama sholatnya di sana saja," ucap Asiyah pada Pak Nomo seketika mereka berada di dalam mobil.


"Subhanallah, jadi basah semua kita yaa, padahal jaraknya dekat banget loh ini, cuma dari pintu rumah ke mobil saja," ucap Asiyah.


"Iya Mbak, tapi nggak apa-apa lah, kan kita semua bawa pakaian ganti yaa," sambung Caca sambil mengibaskan pakaiannya yang basah diguyur hujan.


Begitu juga dengan Cita dan Asiyah, mereka berusaha sedikit mengeringkan pakaian yang menempel ditubuh mereka dengan kibasan tangan mereka.


Hujannya semakin deras. Jalanan semakin tak jelas dari kaca mobil itu. Wiper kaca mobil terus melakukan tugasnya. Bergerak ke kiri dan ke kanan, serentak. Memberi pandangan arah untuk Pak Nomo agar jalanan tampak di matanya.


"Hati-hati Pak, lebat sekali hujannya ini," ucap Caca.


"Iya, pohon di jalanan sampai goyang begitu tertiup angin," sambung Cita.


"Siapp Mbak, kita pelan-pelan saja, ini juga masih jam berapa, in syaa Allah tidak terlambat sampai di lokasi, yang penting perjalanan kita aman," ucap Pak Nomo.


Seakan tak perduli dengan apa yang dibicarakan oleh Caca, Cita dan Pak Nomo, Asiyah lebih memilih untuk diam.


Asiyah diam-diam berpikir dalam lamunannya. Skenario macam apa yang sedang Ia perankan? Asiyah benar-benar tak habis pikir. Ia dan Ashar dipertemukan kembali oleh Allah dalam keadaan sama-sama sendiri, tanpa pasangan masing-masing. Yaa walaupun dengan status yang kini telah berbeda.


Caca dan Cita mulai merasakan ada yang aneh dengan Asiyah. Caca yang duduk di sebelah Pak Nomo, merasa sepertinya tak terdengar suara Mbak Asiyah di saat mereka mengobrol. Juga dengan Cita yang duduk di sebelahnya, menyadari hal yang sama.

__ADS_1


Sedari tadi, setelah pulang dari rumah Dhirgham, Asiyah hanya diam. Fokus matanya hanya tertuju pada satu titik saja. Menyandarkan kepalanya pada pinggiran mobil. Seakan tak bosan. Seakan tak ada kehidupan di sekitarnya. Tatapan itu seakan kosong. Matanya terbuka namun hati dan pikirannya seakan tertutup.


Cita mencolek lengan Caca dari belakang. Memberi kode dengan lirikan matanya ke arah Asiyah. Caca melirik Mbak Asiyah. Pemikiran mereka seakan sejalan, bahwa Mbak Asiyah kini sedang tidak baik-baik saja.


"Dingin banget yaa, ini pasti gara-gara pakai baju basah deh," ucap Cita.


"Iya nih, Aku juga Cita," sambung Caca.


"Mbak Asiyah nggak kedinginan?" tanya Cita.


Asiyah hanya diam. Masih diam di dalam lamunannya. Tak menghiraukan Cita sama sekali.


Kemudian Cita dan Caca kembali saling bertatapan. Apa yang sebenarnya terjadi dengan Mbak Asiyah? Pikir mereka.


Jalanan siang ini terasa gersang. Walau air langit telah mengepung tiap kendaraan bahkan siapa pun yang berdiri di atas bumi.


Cukup lama sampai di lokasi shooting. Karena perjalanan yang teramat pelan.


"Kita beli stok untuk makan di lokasi dulu yaa Pak, di tempat biasa," ucap Caca pada Pak Nomo.


"Mbak Asiyah mau makan apa?" tanya Caca.


Asiyah masih diam.


Caca melihat Cita. Saling bertatapan, lagi. "Kalau Kamu Cita?" tanya Caca cepat, mengalihkan ucapannya tadi. Seperti Mbak Asiyah masih belum sadar dari lamunannya.


"Ikan panggang saja Ca," jawab Cita.


"Pak Nomo?" sambung Caca lagi.


"Samain sama Cita saja Mbak, tapi pakai teh es manis yaa Mbak," jawab Pak Nomo.


"Waduh, dingin begini minum es Pak?" seloroh Caca.


"Iya kering tenggorokan Saya rasanya Mbak, hehee," jawab Pak Nomo.

__ADS_1


Restoran tempat mereka biasa memesan makanan sudah dekat. Namun Asiyah belum juga mengeluarkan suaranya.


"Hhmmm.. Mbak? Mbak mau makan apa?" tanya Cita pelan. Sedikit menyentuh lengan Asiyah. Mencoba menggoyangkannya.


"Eehh.. iya iya ada apa Cita?" jawab Asiyah. Terkejut.


"Hehehee," Cita tersenyum menatap mata Asiyah.


"Mbak nggak apa-apa kan? Ada yang bisa Saya bantu Mbak?" tanya Cita lagi.


"Ohh nggak, nggak, nggak apa-apa, kenapa tadi? Ada apa?" tanya Asiyah.


"Mbak mau makan apa? Soalnya kita sebentar lagi sampai di restoran biasa?" tanya Cita.


"Iya, iya, samain juga sama kalian, bebas lah, itu juga yaa Cita jangan lupa beliin juga makanan untuk kru di lokasi, terserah apa saja, seperti biasa," ucap Asiyah.


"Baik Mbak," ucap Cita.


Caca menyimak.


Beberapa menit berlalu. Restoran telah mereka hampiri. Bungkusan makanan, kotak demi kotaknya telah dibawa ke dalam mobil mereka.


Akhirnya perjalanan yang penuh lamunan ini berakhir juga. Lokasi shooting siang ini terasa sangat riuh dalam keramaiannya. Hujan yang mengguyur cukup membuat kru film kerepotan dalam mengatur kembali sudut lokasi yang telah mereka atur sebelumnya. Jadwal shooting dimundurkan beberapa jam. Juga sedikit merubah skenario dan adegan yang awalnya telah disusun rapi. Qadarullah, apalah daya manusia hanya bisa berencana, namun hujan siang ini Allah lah yang telah menurunkannya atas kehendak-Nya, termasuk pertemuan Asiyah dan Ashar yang tiba-tiba terjadi.


Dilokasi shooting pun Asiyah tak banyak bicara. Konsentrasinya sedikit terganggu.


"Cuttttt... cuutttt... aduuhhh Asiyah, kenaaapaaaa? Profesional dong, Kamu Saya lihat, banyak melamunnya dari tadi, mata Kamu kosong, tolong donggg!! Kalau ada masalah pribadi singkirkan dulu, FOKUS!! FOKUS!!" sutradara menyadari akan kondisi Asiyah saat ini. Mulai tersulut amarahnya. Meninggi nada suaranya. Sedikit membentak.


"Iya Pak, maafkan Saya," ucap Asiyah dengan pembelaannya, singkat.


"Tolong yaa Asiyah, biar cepat selesai shooting kita hari ini, waktu kita nggak banyak, belum lagi karena hujan, sekarang Kamu lagi, aduuhh.. aduuhh.. KACAU!!" sambungnya lagi dengan bentakannya.


Asiyah diam. Tertunduk dengan penuh rasa bersalah. Astaghfirullah. Asiyah menghela nafasnya.


Sebenarnya Asiyah pun tak yakin dengan apa yang dirasakannya. Mengapa setelah bertemu dengan Ashar tadi, hatinya seakan gundah?

__ADS_1


Perlahan Asiyah menyadari bahwa kekecewaan pada hatinya di masa lalu ternyata belum lah sembuh. Sekuat itu kah rasa itu? Padahal hubungan yang terjalin antara dirinya dan Ashar adalah hubungan yang sangat singkat. Tidak lebih dari sebuah hubungan yang gagal di dalam prosesnya. Tanpa drama yang panjang. Pun juga tanpa cerita penuh dengan kenangan.


__ADS_2