
Mungkin memang tak semua orang tahu bahkan menyadari akan gemuruhnya pada semesta hati Asiyah. Asiyah pun tak kunjung menyadari akan hal ini hingga Allah mempertemukannya kembali dengan Ashar.
Siapa yang menyangka seorang perempuan cerdas, cantik nan sholeha, hingga sukses karir dunianya, adalah seorang Asiyah yang tampak sangat sempurna, justru memendam luka akan masa lalunya yang pernah gagal dalam menuju pernikahan.
Pernikahan yang dirancang demi menjaga dirinya dari banyaknya pria beristri yang mencari kesempatan dalam kehidupan perekonomiannya yang sulit di masa lalu. Pernikahan yang diharapkan untuk segera mengakhiri banyaknya ancaman fitnah dunia akan godaan dirinya yang tak terbantahkan.
Masa lalu yang membawanya pada titik ini. Titik yang menjadikannya tak asing dalam kegagalan merajut hati. Termasuk titik, di mana hatinya telah menjadi hati yang tak bersih lagi dari goresan ujung pena yang tajam namun tanpa tinta. Hanya meninggalkan bekas ukiran yang memberikan robekan, namun tak sudi memberikan halusnya tinta yang menggambarkan keindahan. Hanya meninggalkan cerita yang menyakitkan.
Mungkin karena sebuah perpisahan yang tak jelas permasalahannya. Mungkin juga karena semua berakhir hanya karena sebuah hal yang bukan berasal dari kebencian di antara mereka. Hingga pertemuan kembali terjadi dalam keadaan luka yang menganga namun dengan ketersediaan rasa yang lama.
Moodnya sedikit terganggu hari ini. Asiyah tampak lesu sepulangnya dari shooting.
Malam ini Asiyah menghampiri Umi. Seperti biasa, Umi adalah tempatnya bercerita tentang segala hal. Ada hal yang tak tertahankan yang harus Asiyah bagi pada Umi malam ini, agar sedikit lega perasaannya.
"Umi, tadi Asiyah bertemu Ashar, saat Asiyah bertukaran koper dengan pemilik koper kabin itu," lirih. Tiba-tiba Asiyah menceritakan tentang hal ini pada Umi dalam tenangnya malam yang sepi. Di dalam kamar Umi. Di atas kasurnya. Disaat Umi sedang merebahkan tubuhnya. Mengistirahatkan badannya yang lelah setelah seharian beraktifitas.
"Maa syaa Allah, gimana ceritanya bisa bertemu Ashar Nak?" Umi terkejut. Melihat wajah Asiyah. Menatapnya serius. Duduk dari pembaringannya. Umi seperti merasakan sesuatu. Ada yang berbeda dari Asiyah malam ini. Asiyah tampak sedang memendam kekecewaan.
"Ternyata Ashar adalah saudara iparnya Dhirgham Umi, pria pemilik koper itu," jawab Asiyah, lirih. Menundukkan kepalanya. Mencubit-cubit sprei kasur Umi.
"Terus bagaimana Nak? Apa Ashar melihat Asiyah? Bagaimana kabar Dia sekarang? Apa sudah menikah?" tanya Umi dengan rentetan rasa penasarannya. Menggebu. Mencari di mana tatapan mata anaknya itu tertuju.
"Iya Umi, Asiyah dan Ashar saling menatap dari jarak yang dekat, tapiiiiii.." Asiyah diam. Memutuskan ucapannya.
__ADS_1
"Tapi apa Nak? Saudara ipar maksud Asiyah bagaimana? Apa Ashar sudah menikah?" tanya Umi cepat.
"Ashar terlihat baik-baik saja kok Umi," jawab Asiyah.
"Teruusss.." Umi menatap wajah Asiyah.
"Iya, Ashar sudah menikah dan memiliki seorang putri bernama Maryam Umi," jawab Asiyah, pelan.
"Hhmmm," Umi menghela nafasnya. Akhirnya Umi menemukan jawaban atas kekecewaan yang terpancar dari wajah Asiyah. Anak sulungnya itu tengah berada dalam kehancuran hatinya untuk kedua kalinya terhadap Ashar.
"Yaa berarti Ashar memang bukan jodohnya Asiyah, jodohnya Asiyah sedang dipersiapkan oleh Allah, dalam versi yang jauh lebih baik ya Nak, Asiyah sabar saja, tetap berdo'a ya Nak," Umi berusaha menenangkannya. Mendekap Asiyah.
Asiyah diam. Lalu..
"Istri Ashar baru saja meninggal Umi," sambung Asiyah lagi.
Asiyah menatap mata Umi. Seperti berusaha menjelaskan sesuatu. Seperti ingin menanyakan sesuatu pada Umi. Mungkinkah Ashar adalah jodohnya? Namun sungguh gengsi mengungkapkannya. Asiyah tak ingin siapa pun tahu, bahwa Ia tengah memendam rasa pada seorang lelaki selama ini.
Tetapi Umi pun seakan menerka jawaban atas pertanyaan yang diajukan oleh tatapan mata Asiyah melalui tatapan matanya pada anak sulungnya itu. Mungkin kah Ashar adalah jodoh Kamu Nak? Namun Umi pun tak tega mengungkapkannya pada Asiyah. Umi tak mau, jika ternyata ucapannya salah, maka akan mematahkan hati Asiyah untuk kesekian kalinya.
Malam semakin larut. Detakan detik jam dinding terus berjalan menandakan berlalunya waktu yang tak akan pernah kembali. Tikkk.. tiikkk.. tiikkk.. suaranya memecahkan hening malam ini. Sayup terdengar.
Asiyah diam dalam lamunannya. Memiringkan tubuhnya di atas ranjang tempat tidurnya. Menghadap jendela kamar yg berukuran besar nan menjulang tinggi. Raksasa kaca yang menjadi bagian sudut kamarnya. Bening. Dengan tirai mewah berwarna coklat yang menjuntai.
__ADS_1
Tatapan itu kosong. Menatap ke arah bintang, bulan dan benda-benda langit lainnya dari tempat tidur itu. Mereka tampak memancarkan cahayanya. Berkelap kelip seperti memanggil Asiyah.
Malam ini Asiyah memang sengaja membuka tirai jendelanya agar Ia bisa bebas menatap langit sembari beristirahat.
Menghela nafasnya. Asiyah duduk. Kedua tangannya menggenggam pinggiran kasur.
Perlahan Asiyah berdiri, berjalan menuju jendela. Diam. Asiyah tegak tepat di depan kaca bening itu. Ditatapnya langit malam. Mengedipkan matanya. Menghela nafasnya lagi.
Seperti tidak puas. Asiyah berjalan lagi perlahan. Membuka pintu menuju balkon kamarnya. Kini Asiyah benar-benar tengah menghirup udara malam dengan bebas. Sejuk terasa mengalir ke dalam tubuhnya. Hhhmmm.. hhhhhh.. suara ******* napas itu menggambarkan sedikit kelegaan hatinya. Asiyah memejamkan matanya sejenak. Kembali ditatapnya bentangan langit malam itu.
Rasa syukur di dalam hatinya memuncak seketika. Merasakan kehidupan yang diberikan oleh Allah pada dirinya. Napas ini sungguh terasa nikmat. Pandangan matanya yang dapat menatap terang keindahan alam malam ini sungguh sangat menyenangkan hatinya. Anugerah yang teramat sangat luas dibandingkan dengan setitik ujian yang sedang dihadapinya.
Hatinya tersentak. Ya Allah, mengapa Aku bisa segelisah ini? Padahal Aku tahu ujian dari-Mu hanyalah remahan yang tak seharusnya mengalihkan duniaku dari rasa syukur atas rahmat-Mu yang teramat luas. Mengapa Aku seakan lemah? Padahal Engkau telah menjanjikan jalan keluar dari setiap ujian yang Engkau berikan. Astaghfirullah..
Waktu menunjukkan pukul 01.00 malam. Matanya mulai berat. Tetapi hatinya sedikit tenang setelah sadar akan kesalahan pada dirinya. Asiyah telah salah karena sempat menjadikan perasaannya sebagai pemimpin pada pikirannya.
Yaa.. iman telah menyelamatkan dirinya dari kegelisahan. Logika pikirannya kembali atas izin Allah dalam waktu yang amat singkat.
Asiyah kembali masuk ke dalam kamarnya. Merebahkan tubuhnya.
In syaa Allah nanti Asiyah akan menunaikan sholat tahajud. Seperti biasa, Asiyah akan berkeluh kesah kepada Allah tentang apa yang dialaminya. Lalu memohon petunjuk pada Allah akan langkahnya ke depan.
Memang, rasa ini tak dapat dipungkiri, walau berkurang, namun kegelisahan itu masih tetap menjadi ganjalan di dalam pikirannya.
__ADS_1
Entahlah..
Semua yang terjadi adalah rahasia Allah. Tentang masa lalu yang sudah terjadi dan tentang masa depan yang belum terlewati, Allah lah yang telah mengatur semua jalan ceritanya dengan sangat sempurna.