
Malam ini saat makan malam bersama. Asiyah merasakan ada yang tak biasa dengan suaminya. Didapatinya Pak Sendi sesekali termenung dalam kunyahannya.
"Ada apa dengan Abang? Mengapa Abang makan dengan cara seperti ini?" tanya Asiyah. Lembut.
"Tidak ada apa-apa, Abang baik-baik saja," jawab Pak Sendi, seraya melanjutkan makannya.
Asiyah heran.
Sampai selesai makan. Dan malam pun semakin larut. Sepertinya ini adalah saat yang ditunggu oleh Pak Sendi untuk berbicara dengan Asiyah.
Diatas kasur mereka. "Sayang, hhmmm.. rumah kita kan tidak terlalu besar seperti istana, juga rumah ini hanya dihuni oleh kita berdua,
"Iya Abang, terus kenapa?" tanya Asiyah.
"Hhmmm, biar Kamu ada kerjaan juga di rumah dan nggak bosan, mulai bulan depan kita nggak usah memakai asisten rumah tangga lagi ya? Kan Kamu bisa masak sendiri, nyuci sendiri, membersihkan rumah sendiri, kayak Mama, semua dilakuinnya sendiri, tanpa ART," jelas Pak Sendi.
Asiyah hanya diam. Menatap wajah suaminya, lalu menundukkan pandangannya.
Air mata itu menetes lagi. Setelah uang bulanannya tak pernah Ia terima lagi. Lalu Ia harus menanggalkan semuanya. Ini sungguh menyakitkan.
"Tapi Bang? Kalau harus mengerjakan semuanya sendirian tentu Asiyah tak sanggup. Bagaimana dengan program hamil kita? Lalu, bagaimana dengan uang bulanan yang tidak pernah Asiyah terima lagi dari Abang? Apakah uang belanja kebutuhan sehari-hari nantinya akan Abang serahkan semuanya kepada Asiyah, jika nanti Asiyah mengurus rumah ini sendirian?" tanya Asiyah. Dengan keluh kesahnya. Dengan keheranannya. Dengan rasa penasarannya. Juga sedihnya yang tak bisa dipungkiri.
"Abang akan berikan jatah kebutuhan rumah ini kepada Asiyah secukupnya," jelas Pak Sendi, singkat.
"Sebenarnya apa yang terjadi Abang? Kalau memang kita sudah dalam kondisi keuangan yang jatuh, mengapa tidak Abang biarkan saja Asiyah bekerja kembali?" tanya Asiyah lagi. Setidaknya mencoba memberikan solusi atas masalah yang sedang dihadapi suaminya.
"Hhhmmm.. tidak Asiyah, tidak mungkin, bisa hancur reputasi Abang sebagai pemilik sebuah perusahaan besar, apalagi wartawan sudah pernah menyebarluaskan akan program kehamilan Kamu yang mengharuskan Kamu untuk istirahat dari karir Kamu. Tidak mungkin kan, masyarakat tiba-tiba melihat Kamu kembali ke dunia entertaint ini, terus Abang harus jawab apa? Karena kita jatuh miskin? Begitu Asiyah?" jelas Pak Sendi, dengan sedikit amarahnya. Nada suaranya seakan meninggi. Wajahnya terus memberikan ekspresi ketus.
"Hanya itu yang Abang pikirkan? Diri Abang? Reputasi Abang? Bagaimana dengan Asiyah Bang?" Asiyah mengeluarkan sedikit amarahnya. Nada bicaranya juga sedikit meninggi. Jawaban itu membuatnya merasa semakin tertekan.
Pak Sendi diam.
__ADS_1
Asiyah pun juga diam.
Amarah mereka membuat mereka merasa lelah.
"Mamaaa.." Pak Sendi tiba-tiba berucap. Pelan. Menurunkan nada suaranya.
"Mamaaa minta dibelikan mobil baru. Tapi tenang Sayangg, Abang punya ide, Mobil Kamu kan masih bagus, dan jarang dipakai di rumah, bagaimana kalau mobil Kamu untuk Mama saja?" Pak Sendi berbicara cepat. Mencoba secepat kilat.
Asiyah menatap suaminya lebih dalam. Semakin menyakitkan saja.
"Nggak bukan begitu Sayangg, bisa juga mobil Kamu kita jual, terus uangnya di bagi dua sama Mama, terus kalian beli mobil masing-masing, gmn?" sambung Pak Sendi, dengan cepat lagi. Seakan tak memberi celah untuk Asiyah berbicara.
Asiyah masih saja diam.
Beberapa menit berlalu.
Pak Sendi pun diam. Tak tahu lagi mau berkata apa pada istrinya itu. Hanya berharap dirinya mendapatkan jawaban 'iya' dari bibir Asiyah.
Pak Sendi berpikir Asiyah adalah perempuan yang baik. Tentu tidak sulit baginya jika hanya sekedar memberikan separuh dari harga mobilnya yang begitu mahal kepada Mama, mertuanya Asiyah.
Dan dugaan Pak Sendi pun benar. Asiyah tak serta merta menolak keinginan Mama, dari permintaan suaminya. Yang sebelumnya Asiyah memang sudah mendengar pembicaraan mereka siang tadi. Tentu Asiyah sudah berpikir keras sejak saat itu.
Malam semakin larut. Asiyah tidur dengan air mata yang jatuh dari sudut matanya. Membelakangi Pak Sendi.
Krriiinngg.. kkrriinngg.. Ponsel Pak Sendi berbunyi. Ada telepon dari Mama. Pak Sendi segera mengangkatnya.
"Assalamu'alaykum, iya Ma, ada apa?" jawab Sendi.
"Nggak kok Nak, gimana? Sudah tanya Asiyah tentang mobilnya? Mama butuh cepat yaa Nak?" suara Mama terdengar lembut, namun menekan nada suaranya.
"Iya Ma sabar, Asiyah bilang, besok jawabannya," jawab Sendi dengan penuh kelembutan. Agar Mama tidak tersinggung atau pun bersedih.
__ADS_1
"Aahhh sok sok menunda jawaban saja Dia!! apa salahnya sih memberikan mobil itu sama Mama!! Kan hidup dia juga sudah enak di rumah saja, nggak kerja, semuanya tinggal numpang hidup saja sama Kamu!! Ingatkan sama Asiyah ya, Mama lah yang telah melahirkan Kamu, membesarkan Kamu sampai Kamu menjadi seperti saat ini, apa Dia tidak merasa berhutang budi sama Mama??!! Tinggal dapat enaknya saja kok, sombong benar Dia!!" jelas Mama. Nyerocos dengan penuh amarah. Ketus. Mendesak. Menekan tinggi nada suaranya. Tak terbendung emosinya. Mama benar-benar menginginkan mobil milik Asiyah itu.
"Maa, bukan begitu Maa, mobil itu kan harta pembawannya Asiyah semasa gadis, bukan saat menikah dengan Sendi, mobil itu hak penuh bagi Asiyah Ma," jelas Sendi, lembut.
"Lagian Asiyah sudah tidak punya apa-apa lagi, Asiyah pun berhenti bekerja demi memberikan anak untuk Sendi, cucu untuk Mama, bukan untuk berleha-leha di rumah," sambung Sendi lagi. Membela Asiyah.
"Haallaahh.. alasan saja itu, pokoknya Kamu itu Mama yang melahirkan, ingat yaa, bertaruh nyawa Mama demi Kamu!!" jelas Mama lagi. Menegaskan. Masih dengan luapan amarahnya.
"Mama sabar yaa Maa, pokoknya mobil untuk Mama, Sendi pastikan ada, Mama tenangkan pikiran Mama yaa," lembutnya Pak Sendi menjawab amarah Mama.
Telepon itu pun berakhir.
Ternyata Asiyah mendengar semua pembicaraan antara Mama dan Pak Sendi. Ketika ponsel itu berdering tadi, seketika itu pula Asiyah terjaga. Namun Asiyah berpura-pura tidur. Lagi-lagi untuk mendengar pembicaraan mereka.
Bak sebuah peribahasa 'pucuk dicinta ulam pun tiba'. Suara telepon dari Mama di atur oleh Pak Sendi menggunakan mode loudspeaker. Hingga terdengar lah dengan jelas suara percakapan Mama dan Pak Sendi.
Bagaimana amarah Mama pada Asiyah. Bagaimana seakan Mama mendesak suaminya untuk segera memberinya mobil. Dan bagaimana seorang Mama dari suaminya mengungkit-ngungkit kodratnya sebagai seorang perempuan dan juga seorang ibu kepada Pak Sendi. Asiyah telah mendengar semuanya.
Seakan tak mengerti, bahwa apa yang dilakukan oleh Mama adalah fitrahnya sebagai seorang perempuan dan juga kewajibannya sebagai seorang ibu pada Pak Sendi.
Malam yang pilu pun berlalu.
Pagi ini saat sarapan.
Asiyah tak mau menunggu lama. Asiyah tak mau amarah Mama kembali memuncak padanya. Lebih baik mengalah saja dulu.
"Bang, Asiyah setuju jika mobil Asiyah dijual, dan uangnya nanti dibagi dua sama Mama untuk dibelikan lagi dua buah mobil, nanti Asiyah serahkan surat-suratnya pada Abang, segeralah Abang urus semuanya," ucap Asiyah.
Dengan penjelasan yang singkat dan jelas. Asiyah juga segera menyudahi sarapannya. Meninggalkan suaminya sendirian. Dengan tangan yang secepat kilat mengusap pipi yang telah ditetesi air mata kesakitan itu.
Pak Sendi yang mendengar pernyataan Asiyah tersebut hanya diam. Menatap wajah Asiyah sejenak. Sampai melihat istrinya yang berlalu pergi dengan cepat meninggalkannya.
__ADS_1