
Umi sedang mengelap-ngelap debu di lemari.
“Cepat sekali kamu pulang Asiyah,” Umi mengernyitkan dahinya.
Masih jam sepuluh pagi Asiyah sudah pulang dari kantor.
Asiyah diam. Duduk di kursi ruang tamu.
“Umi..” panggil Asiyah pelan.
“Ada apa?” tanya Umi sedikit ketus. Umi berubah sikap pada Asiyah sejak Pak Tomi datang ke rumah malam itu.
Asiyah benar-benar bingung apa yang sebenarnya dibicarakan Pak Tomi pada Umi. Apa Pak Tomi sudah menyampaikan ancamannya waktu di kantor itu pada Umi?
“Umi.. Asiyah mau bicara.”
“Iya apa? Bicara apa?”
“Asiyah mengundurkan diri dari kantor Umi, maafkan Asiyah Umi, Asiyah akan langsung mencari pekerjaan yang baru, Asiyah yakin akan mendapatkannya segera, Umi jangan khawatir,” Asiyah berusaha meyakinkan Umi. Nada suaranya semakin meninggi.
Asiyah benar-benar tidak tahu lagi bagaimana cara menjelaskan semua keadaannya pada Umi. Apalagi Asiyah tahu betul saat ini Umi sedang dalam kondisi hati dan pikiran yang tidak baik, seperti awal kebangkrutan Abi dulu, Umi masih syok hingga nampak sangat rapuh, menangis saja di hadapan Abi.
Kini keadaannya berbeda, Abi sudah tiada, dan Asiyah menggoreskan luka lagi di hati Umi. Asiyah mengerti perasaan Umi. Asiyah paham. Tapi apa yang bisa Asiyah lakukan untuk saat ini. Asiyah terpaksa mengundurkan diri dari kantor. Asiyah tidak mungkin bekerja di kantor yang menakutkan itu lagi.
“Hhhhhhh.. ya sudah kalau itu sudah menjadi keputusan Kamu,” ucap Umi ketus. Menghempas kain lap di atas meja. Umi masuk ke kamarnya.
Asiyah tahu, Umi pasti mau menangis lagi. Asiyah diam. Dilihatnya Umi hingga pergi dari hadapannya.
Sudah tiga hari Asiyah keluar dari pekerjaannya. Asiyah sibuk menyiapkan berkas untuk melamar pekerjaan lagi. Pokoknya Asiyah harus segera mendapatkan pekerjaan yang baru, kalau tidak siapa yang akan membayar cicilan rumah? Siapa yang akan membiayai kuliahnya? Dulu memang awal-awal pindah kampus Umi yang membiayai kuliah Asiyah, tapi setelah Asiyah bekerja, Asiyah sendirilah yang membiayainya, sekarang bagaimana? Tidak mungkin rasanya mau minta dibiayai lagi sama Umi.
Asiyah harus semangat, karena sebentar lagi Asiyah akan lulus kuliah, beberapa semester lagi, in syaa Allah. Asiyah juga tidak mau terus menerus membebani Umi dengan banyaknya pikiran tentang semua kesulitan ini.
Ba’da maghrib tadi Umi pergi sendirian. Entah ke mana. Pamit pun tidak pada Asiyah. Umi hanya diam saja saat pergi.
Ini sudah hampir jam delapan malam. Ponsel Umi tidak dapat dihubungi.
Asiyah mulai cemas. Asiyah mencoba mencari Umi di luar rumah. Menggunakan motornya dengan kecepatan pelan saja. Melihat ke kiri dan ke kanan.
Motor Asiyah terhenti di pinggir jalan, depan cafe dekat rumahnya. Dinding cafe itu terbuat dari kaca bening, jadi bisa nampak dari luar siapa saja pengunjung yang ada di dalamnya.
Ternyata di tepi dinding cafe itu ada Umi. Jelas sekali. Umi tampak serius sekali menyimak pembicaraan lawan bicaranya. Seorang laki-laki. Dari jauh sepertinya Asiyah kenal.
Pak Tomi? Lagi-lagi laki-laki itu. Mau apa lagi dia menemui Umi? Setelah waktu itu mereka berbicara hingga membuat Umi berubah sikap pada Asiyah. Apa lagi yang sedang mereka bicarakan? Asiyah terus menunggu Umi di luar cafe. Mengintip saja. Asiyah bersembunyi di balik mobil yang terparkir di pinggir jalan depan cafe. Diam-diam supaya tidak ketahuan Umi.
20.00. Umi melihat ke arah jam dinding yang berada tepat di hadapannya. Pak Tomi menatap Umi.
“Jadi bagaimana Bu?” tanya Pak Tomi pada Umi. Diam sejenak.
__ADS_1
“Saya kasih waktu pada Ibu untuk berpikir selama satu pekan ke depan, pikirkan baik-baik penawaran Saya.” Diam sejenak lagi.
“Okee Saya rasa pembicaraan kita kali ini sudah selesai, Saya masih ada urusan lain, Saya tunggu kabar baiknya, Assalamu’alaykum.. selamat malam..” Pak Tomi senyum halus pada Umi. Meninggalkan mejanya.
“Wa’alaykumussalam,” jawab Umi pelan. Menundukkan kepalanya. Menghela nafas, dalam. Hhhhhhh.. Umi segera pulang. Keluar dari cafe itu.
Asiyah yang melihat Umi keluar dari cafe, mengikuti Umi dari belakang. Umi tampak naik ojek pulang ke rumah.
Umi tiba lebih dulu di rumah. Asiyah menyusul masuk ke dalam rumah setelah beberapa saat menunggu Umi masuk ke rumah, agar Umi tidak curiga kalau Asiyah telah membuntutinya dari tadi.
Ali dan Aisyah sudah tidur di dalam kamar, sepertinya mereka kelelahan karena terlalu banyak bermain siang tadi.
“Asiyaahh..” panggil Umi. Lembut.
“Iya Umi,” Asiyah datang menghadap Umi yang duduk di kursi depan ruang tamu mereka.
“Dari mana Kamu tadi?”
Dari toko depan Umi, tadi Asiyah habis membeli obat nyamuk,” jawab Asiyah. Berbohong. Mudah-mudahan Umi tidak curiga.
Asiyah duduk di kursi sebelah Umi. Mereka saling menghadap.
“Ada yang mau Umi bicarakan sama Kamu,” ucap Umi.
“Iya Umi, ada apa?” tanya Asiyah. Sedikit curiga. Cemas. Mungkin ini ada kaitannya dengan Pak Tomi.
Dua detik, lima detik. Umi diam.
“Menikahlah dengan Pak Tomi Asiyah,” ucap Umi lirih menatap Asiyah.
“Umi mohon pada Kamu kali ini Asiyah,” sambung Umi. Menggenggam kedua tangan Asiyah. Erat sekali.
Asiyah diam. Menatap Umi yang tampak sangat lesu dalam ucapannya.
__ADS_1
Asiyah terkejut dengan ucapan Umi. Walau sebenarnya Asiyah sudah mempersiapkan dirinya untuk kemungkinan terburuknya menyangkut permasalahannya dengan Pak Tomi.
“Kenapa Asiyah harus menikah dengan Pak Tomi Umi? Asiyah tidak mau menjadi istri ke dua.”
Asiyah meneteskan air matanya di hadapan Umi untuk pertama kalinya sejak kebangkrutan Abi waktu itu.
“Kita tidak punya pilihan lain Asiyah, kerugian yang ditanggung Pak Tomi mencapai satu milyar karena ulah Kamu, kalau tidak Kamu akan masuk penjara,” Umi menekan suaranya.
“Kesalahan yang mana Umi? Ini semua hanya akal-akalan Pak Tomi agar Asiyah mau menikah dengannya. Bukti kerugiannya tidak ada, dan tidak ada satu pun yang bisa memastikan semuanya karena kesalahan Asiyah,” Asiyah tampak marah.
“Tapi kita bisa apa Asiyah? Abi baru saja pergi meninggalkan kita dan sekarang kita harus menanggung semua ini lagi, Umi tidak sanggup jika Kamu harus masuk penjara Asiyah, adik-adikmu butuh biaya, cicilan rumah dan semuanya, Pak Tomi sudah berjanji pada Umi, Dia akan memberimu kemewahan jika kamu mau menjadi istri ke duanya, Pak Tomi juga sudah berjanji akan membiayai kehidupan Umi dan adik-adikmu, kehidupan kita akan kembali seperti dulu Asiyah, kita akan kembali hidup mewah,” Umi menatap Asiyah. Memelas.
Asiyah menangis. Wajahnya merah. Pipinya basah. Asiyah berlari meninggalkan Umi. Masuk ke kamarnya. Asiyah sungguh tidak menyangka Umi serapuh ini. Selemah ini. Asiyah yakin, saat ini Umi hanya tergoda dengan kemewahan yang ditawarkan Pak Tomi, bukan karena Umi percaya pada Pak Tomi akan kesalahan yang Asiyah lakukan, tapi karena memang lagi-lagi Umi tengah berada dalam kerapuhannya. Tapi kali ini Umi keterlaluan, Umi tega menukarnya dengan kemewahan. Asiyah kecewa.
“Asiyaahh... dengarkan Umi dulu..! Umi hanya diberikan waktu satu pekan oleh Pak Tomi untuk menjawab semua penawarannya tadi..!” teriak Umi.
Asiyah tidak perduli.
Empat hari dari satu pekan waktu yang diberikan Pak Tomi telah berlalu.
Setiap hari tidak bosan-bosannya Umi bertanya tentang keputusan Asiyah untuk menikahi Pak Tomi.
Asiyah tetap tidak memberikan jawabannya. Asiyah hanya diam. Seharusnya Umi paham betul kalau Asiyah pasti menolak tawaran itu. Mau semewah apa pun pemberian Pak Tomi nantinya. Asiyah tidak suka. Asiyah tidak sanggup dipoligami. Asiyah tidak mau menjadi istri ke dua. Apalagi di mata Asiyah, Pak Tomi bukanlah lelaki baik. Asiyah sering memergokinya teleponan mesra dengan perempuan lain, bukan Bu Wela. Dan kemarin.. terakhir kali pertemuannya di kantor waktu itu, Pak Tomi berani-beraninya mencoba melakukan hal yang tidak pantas pada dirinya.
Ini yang dikatakan lelaki baik? Tidak! Bahkan istri pertamanya pun belum mampu dibimbingnya. Bu Wela seringkali bersikap kasar pada anak-anaknya dan acuh tak acuh pada keluarganya. Satu saja Pak Tomi belum mampu mengaturnya, apalagi dua.
Ini sudah hari ke tujuh dari waktu yang ditentukan oleh Pak Tomi.
Umi belum melihat Asiyah keluar kamar dari kemarin. Kemana Asiyah pagi ini? Apa pergi melamar pekerjaan lagi seperti biasanya. Umi masuk ke kamar Asiyah. Mengecek keadaan.
Terkejutnya Umi melihat Asiyah tergeletak di lantai.
Asiyah pingsan.
__ADS_1