Asiyah Akhir Zaman

Asiyah Akhir Zaman
Gedung Biru


__ADS_3

Satu pekan berlalu.


Hari ini cuaca tak begitu cerah. Langit tampak mendung. Sekelebat kilat mulai menampakkan diri. Angin kencang mulai berhembus.


"Mii.. Kami berangkat dulu yaa, assalamu'alaykum.." Asiyah sedikit berteriak memanggil Umi yang sedang berada di dalam kamar mandi.


"Ayok ayok Dek, Ali.. Aisyah.. cepat.. mau hujan kayaknya nih," ucap Asiyah pada adik kembarnya yang dari tadi belum selesai juga berbenah.


Lima belas menit. Asiyah kembali kerumahnya. Selepas mengantar adik kembarnya sekolah pagi itu Asiyah tampak lesu, suasana pagi ini entah kenapa rasanya sangat berbeda.


Kringg.. kriingg.. ponsel Asiyah berbunyi.


Diangkatnya.


Seketika wajah Asiyah berubah semakin tak bersemangat. Tak berdaya lakunya, terduduk di atas meja makan itu. Apa yang terjadi? Ternyata Asiyah mendapatkan kabar tidak mengenakkan dari kantor tempat Ia tes kerja kemarin.


Asiyah tidak diterima. Yaa kabar itu seperti serangan penyakit yang menghancurkan harapannya seketika. Menghancurkan senyumannya saat menerima panggilan tes kerja kemarin.


Asiyah kecewa. Benar-benar kecewa. Asiyah melamun di kamarnya. Diam tanpa suara. Ponsel itu masih dalam genggamannya.


Sudah lewat satu jam sejak kabar dari pihak personalia PT. Berlian Bersinar itu diterimanya tadi. Tiba-tiba ponselnya berbunyi lagi.


Kriinggg.. kriinggg..


Nomor telepon yang sama dengan yang meneleponnya satu jam yang lalu. Nomor telepon yang menghancurkan harapannya pagi ini. Ada apa ini? Mau apa lagi mereka?


 


“Selamat pagi mbak Asiyah, maaf sebelumnya yaa, kami dari PT. Berlian Bersinar mau menawarkan sebuah pekerjaan di kantor rekanan kami PT. Berlian Bercahaya, kebetulan ada satu orang staf administrasi yang baru saja meninggal dunia dan kami sedang mencari penggantinya segera, pekerjaannya sama dengan yang kami tawarkan waktu itu, kira-kira mbak Asiyah bersedia menjadi staf administrasi di perusahaan rekanan kami PT. Berlian Bercahaya?”


 


“Siap mbak, Saya mau mbak, Saya mau,” ucap Asiyah antusias. Tanpa basa-basi Asiyah langsung saja menerima tawaran kerja itu. Rezeki memang tak lari ke mana.


 


“Oke, baik lah Mbak Asiyah, nanti akan kami kirimkan lokasi dan waktunya melalui email ya, kapan mbak Asiyah bisa mulai bekerja nanti akan kami beritahukan di sana, kalau begitu kami ucapkan terima kasih ya mbak Asiyah, Kami mohon maaf sebelumnya yaa telah mengganggu, selamat pagi.”


 


“Sama-sama mbak, selamat pagi.” Wajah mendung itu seketika berubah menjadi cerah. Sejalan dengan cuaca di luar rumah, awan hitamnya mulai memberikan jalan pada langit biru untuk menampakkan dirinya. Tergantikan oleh awan putih yang menyelimutinya. Sekejap. Seakan turut berbahagia atas kebahagiaan yang Asiyah dapatkan.


 


Pliipppp.... plippp.. suara E-mail masuk.

__ADS_1


Dibuka perlahan oleh Asiyah E-mail yang masuk ke ponselnya. Dibacanya, dilihatnya profil perusahaan itu, Asiyah sangat gembira. Maa syaa Allah, ternyata rezeki Asiyah berada di kantor ini.


Asiyah berteriak lagi berlarian memanggil Umi. Mencari Umi ke setiap sudut rumah.


Ternyata Umi baru saja menunaikan sholat dhuha di kamarnya, masih duduk di atas sajadahnya.


Tiba-tiba Asiyah datang, “Umiiii.. Alhamdulillah Umi, Asiyah besok sudah mulai kerja Umiiii..”


 


“Alhamdulillah ya Nak, jadi Asiyah benar-benar diterima kerja yaa.. kalau begitu hari ini Umi mau masak enak.”


 


Asiyah memeluk Umi.


Umi tersenyum bahagia. Umi tampak sangat senang dengan berita ini. Apalagi Asiyah bilang kantor yang baru ini lebih besar. Gajinya juga lebih besar dari pada kantor Asiyah yang dulu.


Besok pagi Asiyah sudah mulai bekerja. Asiyah sudah harus mempersiapkan dirinya. Mungkin setelah ini Asiyah harus banyak istirahat dulu, biar besok tubuhnya benar-benar bugar dan gampang untuk berkonsentrasi dalam memulai pekerjaan barunya. Asiyah juga segera menyiapkan pakaian apa yang akan dikenakannya esok hari, supaya besok tidak perlu repot-repot lagi memilihnya.


Gedung Biru.


 


Tepat di hadapan Asiyah sebuah gedung berwarna biru. Sesuai dengan alamat yang dikirimkan pihak kantor kemarin.


 


Bismillahirrahmanirrahim.


 


Asiyah melangkah. Masuk ke dalam gedung biru itu.


 


Melapor pada recepcionist.


 


“Permisi mbak, Saya Asiyah, mau memenuhi panggilan kerja untuk hari ini,” ucap Asiyah.


 


“Ohh mbak Asiyah yaa.. sebentar yaa,” recepcionist itu menelepon sejenak. Melapor pada atasannya.

__ADS_1


 


“Ayoo mbak Asiyah, ikut Saya,” ajak recepcionist itu pada Asiyah.


 


Asiyah patuh. Mengikuti.


Asiyah diarahkan ke sebuah ruangan oleh perempuan tadi.


 


Hari ini Asiyah langsung bekerja. Tidak ada tes psikotes dan wawancara lagi. Masa training selama tiga bulan.


Perusahaan ini benar-benar profesional. Asiyah


sangat senang karena diperlakukan layaknya karyawan pada umumnya. Tidak ada lagi modus-modus kegenitan dari bos-bos kaya di sini. Asiyah bebas. Benar-benar merasa bebas.


Ini adalah perusahaan besar yang bergerak dibidang komunikasi. Asiyah sangat menyukai pekerjaannya saat ini. Di dalam perusahaan ini terdapat beberapa manajemen yang menggerakkannya. Setiap manajemen memiliki program kerjanya masing-masing. Memiliki program kerja yang berbeda-beda. Dengan jumlah staf yang juga berbeda. Mereka saling bersaing untuk memajukan perusahaan. Manajemen tempat Asiyah bekerja lumayan banyak stafnya.


Dalam satu ruangan besar ada lima staf kantor laki-laki dan tiga staf kantor perempuan, selebihnya sekitar dua puluh orang lagi adalah staf lapangan yang bekerja di luar kantor.


"Hallooo, Assalamu'alaykum," sapa Asiyah pada rekan kerjanya dalam satu ruangan. Mengacungkan tangannya sebagai tanda ucapan salam. Senyuman ramah dilemparkannya ke sana dan ke mari.


Lagi-lagi Asiyah terlihat menawan dengan pakaian sopannya yang tertutup. Ia berdiri di hadapan mereka dan menghampirinya satu persatu. Memperkenalkan dirinya, menjalin keakraban untuk pertama kalinya.


Perlahan Asiyah berjalan menuju ke meja kerjanya. Tatapan mata teman-teman barunya, menyambut kedatangan Asiyah ramah. Mereka tampak telah menerima kehadiran Asiyah.


"Asiyah, kenal kan namaku Rima," perempuan menarik yang meja kerjanya bersebelahan dengan meja kerjanya Asiyah. Mengulurkan tangannya lagi, setelah sebelumnya Rima sudah berjabat tangan tadi saat Asiyah menghampiri mereka satu persatu.


"Eehh, lupa.. sudah yaa tadi," ucap Rima. Tertawa pada Asiyah.


"Asiyah, nanti kalau ada apa-apa yang belum dimengerti, tanya aku saja yaa," Rima menawarkan diri, ramah sekali dengan senyumannya.


"Ssiiaapp Rim," Asiyah menunjukkan jari tangannya yang mengisyaratkan kata 'oke' pada Rima.


Hampir sama dengan pekerjaannya yang sebelumnya, tugas pokok Asiyah juga membuat laporan, tapi kali ini bukan laporan keuangan, tapi lebih kepada laporan data para pelanggan pengguna layanan komunikasi perusahaannya.


Istirahat makan siang ini, Rima mengajak Asiyah untuk berkeliling gedung biru ini. Rima ingin memperlihatkan seluk beluk kantor ini, sekaligus mengenalkan Asiyah dengan warga kantor, bahwa Asiyah adalah keluarga baru di kantor ini.


Hari ini adalah hari yang menyenangkan bagi Asiyah. Bisa mengenal orang-orang baru dan melihat-lihat tiap sudut gedung biru ini yang memang terlihat lebih rapi dan menarik dengan tiap tatanan dan dekorasi interior maupun eksteriornya.


Mempunyai teman baru seperti Rima yang begitu perhatian padanya, sama halnya seperti Maya dulu padanya, juga merupakan salah satu anugerah baginya.


Dengan pekerjaan baru ini, suasana baru, penghasilan yang baru, dan yang pasti suasana kantor yang lebih baik dari kantornya yang sebelumnya, Asiyah merasa lebih aman dari segi mental, terutama dari gangguan om-om genit.. duhh memang itu lah yang terpenting bagi Asiyah.

__ADS_1


 


 


__ADS_2