
“Umi.. menurut Umi bagaimana? Umi setujukan?” tanya Asiyah dengan suara yang sedikit pelan.
Asiyah sudah tidak sabar lagi ingin mengabarkan tentang rencana pernikahannya pada Umi. Pulang kantor tadi Asiyah langsung saja mencari Umi dan segera menceritakan semuanya.
Sungguh di luar dugaan Asiyah sebelumnya. Tidak terpikirkan oleh Asiyah sebelumnya tentang kondisi mental Umi. Umi ternyata belum siap melepas Asiyah. Baru saja ditinggal Abi, Asiyah sudah mau menikah, pergi meninggalkan dirinya dan adik kembarnya.
“Umi? Umi setujukan?” tanya Asiyah lagi. Umi masih saja diam.
“Apa tidak bisa ditunda saja dulu pernikahan Kamu? Umi belum siap melepaskan Kamu, bagaimana nanti dengan Umi, jika.....”
“Jika apa Umi? Asiyah sudah saatnya menikah, Asiyah sudah bekerja dan bulan depan Asiyah akan wisuda, apalagi yang harus Asiyah tunggu?” Asiyah bingung. Asiyah menatap wajah Umi.
"Apa Kamu tidak menyayangi Umi Asiyah?” tanya Umi ketus.
“Tentu Asiyah sangat menyanyangi Umi, Asiyah tidak akan melupakan Umi setelah menikah, Asiyah akan tetap membiayai Ali dan Aisyah sekolah, Umi jangan takut, lagi pula Ashar adalah laki-laki yang baik, Ashar dan keluarganya bisa menerima keadaan kita Umi,” Asiyah berusaha meyakinkan Umi dengan keputusannya.
“Umi tahu, Asiyah lelah digoda oleh banyaknya lelaki di luar sana? Asiyah harus segera menikah untuk menjaga diri Asiyah dari fitnah ini Umi, mengertilah Umi, Asiyah mohon..” Asiyah memegang kaki Umi. Berlutut. Berkaca-kaca kedua bola mata Asiyah.
Umi hanya diam terpaku duduk di kursi ruang tamu itu.
Umi tidak kuat mendengar permohonan Asiyah.
Umi masuk ke dalam kamarnya. Entahlah, Umi tak tahan menahan tangisnya yang perlahan keluar dari sudut matanya.
Seperti semasa hidup Abi dulu, Umi tetaplah pribadi yang rapuh, walau sebenarnya Umi tahu betul bahwa pernikahan ini adalah hal yang baik bagi Asiyah, terlebih pernikahan ini adalah sebuah ibadah, menyempurnakan separuh agama anaknya. Umi paham betul. Tapi tetaplah Umi hanyalah manusia biasa yang memiliki kekurangan pada dirinya.
Masih dalam posisinya berlutut pada Umi tadi. Asiyah akhirnya menangis juga. Merebahkan kepalanya di kursi.
__ADS_1
Keesokan harinya, hingga Asiyah masuk kerja, Umi belum juga memberikan jawabannya. Umi seakan ingin melupakannya. Seolah tak pernah ada pembicaraan tentang pernikahan ini sebelumnya.
Ini sudah hari kelima. Sepertinya, Umi betul-betul belum ikhlas melepaskan Asiyah. Tidak ada tanda-tanda persetujuan dari Umi tentang permintaan Asiyah. Tiap kali
Asiyah ingin memulai pertanyaannya pada Umi tentang pernikahannya, Umi selalu menghindar.
“Mmmm.. Umi, bagaimana tentang pernik....” belum selesai ucapan Asiyah pada makan malam itu.
Umi segera memotong ucapan Asiyah, “Ali, Aisyah, ayo cepat habiskan makanannya, bantu Umi mengemas kerupuk,” Umi menghindari pembahasan apapun yang berkaitan dengan pernikahan Asiyah. Umi benar-benar tidak ingin mendengarnya.
“Kenapa tidak besok saja Umi, Ali capek nih.. uuhh,” Ali mengernyitkan dahinya. Memukulkan sendoknya kepiring, sekali.
Aisyah menurut saja. Tak ada gerutuan ataupun ucapan yang keluar dari bibirnya. Dilihatnya wajah Kak Asiyah, penuh kekecewaan. Dilihatnya lagi wajah Umi, tampak dongkol. Sepertinya mereka sedang memendam sesuatu. Aisyah sedikit mengerti dengan situasi ini. Walaupun Aisyah tidak tahu sebenarnya apa yang terjadi diantara mereka. Aisyah kecil memang sangat peka.
Sepertinya.. Asiyah tidak bisa memaksa Umi. Yang dibutuhkannya adalah restu dari Umi, keikhlasan hatinya, bukan keterpaksaan. Asiyah harus segera mengambil tindakan. Impiannya untuk segera menikah harus dikuburnya dalam-dalam.
berkehendak, apapun rintangannya Asiyah akan tetap menikah. Semoga Allah selalu melindungi Asiyah dari banyaknya gangguan pria-pria genit di luar sana.
Asiyah harus segera mengabarkan keputusannya pada Pak Kasrun. Asiyah harus segera membatalkan semuanya sebelum terlambat. Kasihan nanti keluarga Pak Kasrun kalau tiba-tiba datang ke rumah, malah tidak disambut oleh Umi.
Siang ini, saat jam istirahat kerja, Asiyah menghampiri Pak Kasrun. Dengan penuh rasa tidak enak, Asiyah berjalan lambat menuju meja kerja Pak Kasrun. Wajahnya tampak pucat. Bagaimana caranya mengutarakan maksud isi hatinya? Asiyah bingung mau mulai dari mana. Sekelebat terlintas di pikirannya wajah Ashar, astaghfirullah.. tidak.. tidak.. Aku tidak bisa memaksakan kehendakku. Umi. Umi lebih penting untuk saat ini.
“Mmmm.. Pak, ada yang mau Saya bicarakan, penting,” Asiyah berucap pelan, menatap Pak Kasrun, meyakinkannya.
“Mari.. kita bicarakan di kantin saja,” Pak Kasrun menangkap gelagat Asiyah yang tidak seperti biasanya. Asiyah tampak lain, sepertinya sedang memendam kesedihan.
Asiyah dan Pak Kasrun berjalan beriringan menuju kantin.
__ADS_1
Kali ini mereka tidak memesan makanan sama sekali.
Asiyah tidak selera makan siang ini. Sudah habis terkuras selera makannya dengan banyaknya pikiran tentang persoalan pernikahan yang tidak mendapatkan restu dari Umi.
Pak Kasrun tampak mengerti sekali, Ia pun sama sekali tidak memesan apapun.
Kini mereka duduk berhadapan di kursi kantin.
Pak Kasrun melihat wajah Asiyah.
Asiyah menunduk saja.
Terbata-bata Asiyah memulai pembicaraannya.
“Saya.. “ menetes air mata Asiyah. Tidak dapat dikendalikannya air mata itu. Entahlah.. kesedihan ini memuncak karena apa sebenarnya.
Apa karena Asiyah terlanjur jatuh cinta pada Ashar? Atau karena Asiyah batal melindungi dirinya dari fitnah dengan pernikahan? Atau karena Asiyah sebenarnya takut mengecewakan Pak Kasrun yang sudah sangat baik padanya? “Saya.. mohon maaf Pak,” Asiyah menyelesaikan ucapannya.
Pak Kasrun heran, menatap Asiyah. “Apa yang sebenarnya terjadi Asiyah? Apa ada hubungannya dengan Ashar?”
“Tidak Pak, tidak ada sama sekali.. Ashar adalah pria yang baik, tapi..” Asiyah diam sejenak.
“Tapi Saya belum mendapatkan restu dari Umi untuk menikah dalam waktu dekat ini, Umi belum siap melepaskan Saya..” Asiyah berucap lirih.
“Baiklah.. Saya mengerti Asiyah, Saya tidak akan memaksa Kamu, biarlah takdir yang akan menjawab semuanya nanti, Saya berterima kasih sama Kamu, karena Kamu sudah mau
mengatakan ini dengan jujur pada Saya, tidak apa-apa, Saya akan sampaikan hal ini pada Ashar,” jelas Pak Kasrun dengan kebijaksanaannya.
Jadi hal ini yang membuat Asiyah salah tingkah dari tadi padanya, pikir Pak Kasrun. Pak Kasrun tidak tega melihat sikap Asiyah. Pak Kasrun tahu betul siapa Asiyah. Asiyah adalah anak yang baik, Dia tidak mungkin berbohong padanya.
Hari demi hari berlalu. Pekan demi pekan pun pergi. Asiyah telah lulus dari perkuliahannya. Alhamdulillah.
__ADS_1
Kini, Asiyah hanya fokus pada pekerjaan kantor dan urusan keluarganya di rumah. Asiyah bersabar dalam ketaatannya. Mungkin suatu saat Asiyah akan menikah juga. In syaa Allah suatu saat. Tidak sekarang. Tunggu Umi benar-benar ikhlas melepaskannya.