
Ada apalagi ribut-ribut di depan kantor? Riuh. Padahal masih pagi, sudah ada saja masalah sepertinya.
Asiyah dan Maya keluar ruangan untuk memeriksa keadaan. Berlarian seorang laki-laki di hadapannya.
Siapa? Asiyah dan Maya terkejut.
Heran. Ada apa?
Laki-laki hitam gendut itu bersembunyi di ruangan Pak Tomi.
Ada seorang staf laki-laki yang diperintahkannya untuk berjaga-jaga di depan ruangan Pak Tomi.
“Kamu tunggu di sini ya, jangan biarkan Dia masuk, bilang saja Saya tidak ada, usir saja langsung kalau Dia datang,” perintah laki-laki itu.
Asiyah dan Maya sedikit gemetar. Mereka kembali masuk keruangan kerjanya. Mengambil posisi di kursi kerja masing-masing.
“Ada apa yaa May?” tanya Asiyah.
“Nggak tahu juga, kan kita sama-sama baru ngelihat tadi, gimana sih?” Maya mengangkat kedua alisnya.
“Iya juga ya May, kan kita baru tahunya barengan tadi.”
“Ahh nanti juga ada cerita jelasnya dari staf laki-laki, tunggu sajalah,” ucap Maya.
“Benar, benar, kan budaya ngegosip di kantor kita kental sekali ya May.” Asiyah sedikit tertawa.
Terdengar lagi oleh Asiyah dan Maya. Suara beberapa orang perempuan yang berlarian ke dalam gedung kantor. Cukup lama suara teriakan para perempuan itu. Caci maki terlontar dari mulut mereka.
Kali ini Asiyah dan Maya tidak keluar ruangan. Biarlah, nunggu cerita sajalah dari staf kantor yang lain. Pasti heboh. Nanti juga pasti dapat ceritanya kok. Tidak mau
terkena imbas permasalahannya. Mengerikan.
Pukul 01.00 siang.
Sepertinya kantor sudah tenang.
Tidak ada suara-suara teriakan lagi. Sudah tidak ada suara gaduh orang-orang yang berlarian.
Pak Tomi menelepon Asiyah, menyuruh Asiyah untuk mengambil berkas di ruangannya.
Asiyah sigap langsung kesana. Melaksanakan perintah Pak Tomi.
Membuka pintu ruangan Pak Tomi. Masuk ke ruangan itu. Ada laki-laki gendut hitam yang berlarian tadi.
“Oo yaa Asiyah, kenalkan ini Pak Bardun, rekan bisnis Saya,” ucap Pak Tomi.
Ia menatap Asiyah. Tidak berkedip matanya.
Pak Bardun duduk di sofanya Pak Tomi. Di sebelah meja kerjanya Pak Tomi. Lelah sekali nampaknya Pak Bardun. Duduknya selonjoran di atas sofa. Membuka pakaiannya. Sepertinya kepanasan. Padahalkan AC di ruangan Pak Tomi menyala.
Sungguh tidak sopan menurut Asiyah. Lancang sekali bertemu dirinya di ruang kantor tanpa baju di tubuhnya.
“Ohh iya Pak,” Asiyah tersenyum melihat Pak Bardun. Tidak menjabat tangannya.
__ADS_1
Bukan mahramnya kata Asiyah, Asiyah sering bilang begitu.
Memang Asiyah berasal dari keluarga yang cukup taat dalam beragama. Abi pernah bilang, hidup di dunia ini hanya sementara, jadi kita harus tahu semua batasannya dalam menjalani kehidupan.
Umi juga cukup taat dalam beragama, Umi dan anak-anak perempuannya harus mengenakan hijab syar’i dalam kesehariannya, karena panasnya memakai hijab syar’i didunia ini tidak sebanding dengan panasnya api neraka di akhirat nanti, panas memakai hijab kan cuma sebentar, cuma saat bertemu orang-orang yang
tidak boleh melihat aurat kita saja, tapi kalau panas api neraka bisa beribu-ribu tahun lamanya. Itu yang sering Umi ingatkan pada Asiyah dan Aisyah.
Tidak heranlah, jika sampai saat ini Asiyah belum pernah mengenal apa yang namanya pacaran, kata Abi dan Umi itu ‘HARAM’.
Pak Bardun menatap Asiyah, sepanjang Asiyah berada di ruangan Pak Tomi sampai Asiyah selesai dengan urusannya dan keluar dari ruangan itu.
Hingga sore harinya, Pak Bardun masih saja berada di kantor. Padahal Pak Tomi sudah pulang sejak jam 03.15 siang tadi.
Okee.. ini sudah jam 05.00 sore, waktunya Asiyah dan Maya pulang. Jam kerja sudah berakhir dan pekerjaan bisa dilanjutkan besok, tidak ada kerjaan yang harus diselesaikan mendesak sore ini.
Saat Asiyah dan Maya keluar ruangan, tepat di depan pintu, Pak Bardun tiba-tiba menghampiri Asiyah.
“Sebentar-sebentar, Asiyah, tunggu sebentar,” Pak Bardun menyetop Asiyah dari langkah kakinya. Sigap.
“Iya ada apa Pak?” tanya Asiyah. Menoleh.
“Saya bisa mintak nomor WA Kamu? Mana tahu nanti Saya bisa minta bantuan Kamu kalau ada urusan kantor dengan Pak Tomi. Tenang saja, nanti Saya berikan komisi.” Pak Bardun tersenyum ramah.
“Oh iya, sebentar Pak,” Asiyah memberikan nomor WAnya pada Pak Bardun. Membalas senyumannya. Sopan.
“Tidak ada, terima kasih yaa,” ucap Pak Bardun.
“Sama-sama Pak, Saya pulang duluan yaa Pak, assalamu’alaykum.”
Asiyah pamit pulang, diikuti Maya berjalan di sampingnya yang juga pamit pulang setelah menunggu urusan Asiyah dan Pak Bardun selesai.
“Ngapain sih?” tanya Maya pada Asiyah.
“Nggak tahu tuh, minta nomor WA Aku, katanya sih untuk jaga-jaga kalau ada urusan kantor yang membutuhkan bantuan Aku, mau dikasih komisi juga sih katanya.”
Asiyah menaikkan pundaknya. Sedikit heran.
“Duhh.. duuhh.. ini bukan urusan kantor deh menurut Aku, biasaaaa.. ini namanya godaan om-om, lagi, Kamu lihat saja nanti.. Aku yakin 1000%, hati-hati lohh..”
Maya meledek Asiyah. Tertawa terbahak-bahak. Mencolek-colek pinggang Asiyah sepanjang perjalanan hingga sampai di parkiran kantor.
Asiyah kegelian dengan ulah Maya. “Geliii gelii May, sudah dongg, Kamu tuh yaa,” Asiyah membalas kelakuan Maya, mencolek-colek pinggangnya.
“Iya.. iya.. ampuunn,” ucap Maya yang merasa geli.
Tapi Asiyah tampaknya tidak perduli dengan apa yang dilakukan Pak Bardun tadi. Asiyah tampak lelah, Ia hanya menunjukkan wajah lelahnya setelah seharian bekerja.
__ADS_1
Beberapa hari berlalu setelah pertemuan pertama
kali dengan Pak Bardun siang itu.
Staf laki-laki di kantor mulai membicarakan aksi kejar-kejaran yang melibatkan Pak Bardun waktu itu.
Dugaan Asiyah dan Maya sebelumnya benar. Seperti biasa, mereka mulai bergosip.
“Sudah Ku bilang, Istri pertamanya sudah tahu, makanya kemarin jadi ngamuk begitu,” ucap Acen. Berdebat. Mengeraskan nada suaranya di kantin depan kantor siang itu. Menggebrekkan tangannya di meja kantin di hadapannya.
Semua kaget.
Para staf penggosip itu duduk saling berhadapan.
Gosip penting ini.
“Istri keduanya juga yang salah, kenapa harus mengaku sebagai istri ke dua Pak Bardun saat ditanya sama anak gadisnya Pak Bardun,” sambung Didin cepat. Staf kantor yang juga makan siang di kantin itu.
“Menurut penuturan istri ke duanya Pak Bardun, Ia sama sekali tidak tahu kalau yang bertanya padanya waktu itu adalah anak dan istri pertamanya Pak Bardun, begitu Bang,” jawab Batok. Staf kantor yang sama-sama suka bergosip di kantin. Membantah ucapan Didin barusan. Sedikit membela istri ke duanya Pak Bardun. Tidak terima dengan statement Didin.
“Aku sudah bilang sebelumnya sama Bardun itu, janganlah bermain api seperti ini, atau pilihlah salah satu, Dia itu belum mampu menjalankan poligami, tapi malah sok-sokan lagaknya, untung tidak mati tuh istri ke duanya dihajar istri pertama dan anak-anaknya kemarin,” sambung Acen.
“Biasalah bang, sudah tidak tahan lagi nafsunya, hahaaa” sambung Darto tertawa. Staf lain yang juga sedang makan di kantin itu.
Begitulah rapat gosip para staf siang ini di kantin.
Sampai juga akhirnya cerita itu pada telinga Asiyah dan Maya.
Ternyata waktu itu Pak Bardun sedang berlari untuk bersembunyi dari kejaran istri pertama dan dua orang anak perempuannya.
Hah?! Maksudnya istri pertama?
Ada berapa orang istri Pak Bardun?
Jadi ceritanya, Istri pertama dan anak-anak perempuannya Pak Bardun waktu itu ngamuk-ngamuk karena mengetahui pernikahan ke dua Pak Bardun, mereka tidak terima Pak Bardun menikah secara diam-diam.
Anak perempuannya membawa gunting di tangannya.
Ternyata mereka dari rumah istri ke dua Pak Bardun.
Habislah rambut di kepala istri ke duanya Pak Bardun digunting oleh anak-anak gadisnya yang sudah duduk di bangku kuliah itu. Sementara istri pertamanya memegangi tubuh madunya dengan segenap amarah.
Istri ke dua Pak Bardun mengadu lah pada suaminya.
Pak Bardun tidak berani pulang ke rumah waktu itu, Pak Bardun kabur dan bersembunyi di kantornya Pak Tomi.
Istrinya mendapat kabar di mana posisi Pak Bardun dari orang bayarannya, itulah pada akhirnya mereka ke kantor Pak Tomi menyambanginya dengan banyaknya cacian, berteriak-teriak pada Pak Bardun. Amarahnya benar-benar meledak. Sudah tidak dapat lagi menahan sesak yang berkumpul di dada.
Walaupun pada akhirnya mereka juga tidak bertemu, dihalang-halangi oleh staf dengan berbumbui kebohongan.
Mereka pergi dengan kekesalan. Pak Bardun memilih menghindar saja, sampai suasana kembali tenang. Sampai amarah istri pertamanya meredam. Barulah Ia akan menjelaskan semuanya.
__ADS_1