
Hijau sekali pagi ini. Dedaunan yang tumbuh terbentang di desa ini memancarkan kesegaran pandangan mata. Aromanya menyegarkan indera penciuman yang mengalir langsung ke dalam aliran darah. Dingiiiinnnnn.. seejjuuukkk..
Asiyah membentangkan kedua tangannya, "Alhamdulillah," ucap Asiyah tersenyum memejamkan matanya menghadap langit.
Berdiri di teras villa. Dengan piyama yang masih kusut di tubuhnya. Tak lupa memakai kerudung di kepalanya. Wajahnya mempesonakan senyum sumringah di bibirnya. Alisnya yang rapi. Kulitnya yang putih. Hari ini Asiyah tampak cantik sekali. Pancaran kebahagiaan yang keluar langsung dari dalam lubuk hatinya menjadikannya bak bidadari di pagi hari.
Sekelompok ibu-ibu melewati villa. Mereka mengayuh sepeda tuanya beramai-ramai. Mengenakan pakaian lusuh ala-ala petani yang hendak bekerja. Menggunakan topi melingkar. Melihat Asiyah, menyapa.
"Nggak jalan-jalan Mbak.." sapa ibu-ibu itu.
Mereka tampak akrab pada Asiyah. Sepertinya juga telah mengenal Asiyah. Wajarlah, Asiyah adalah seorang bintang yang terkenal, yang juga dikenal dengan keramahannya. Siapa yang tidak menyukainya.
"In syaa Allah Bu, masih pagi banget ini," jawab Asiyah dengan lemparan senyum cantiknya.
"Mau kemana Bu rame-rame gini?" sambung Asiyah.
"Biasa Mbak, mau ke kebun sayur, ada panen hari ini dari pagi, kalau Mbak Asiyah mau ikut, ayok nyusul aja nanti yaa."
"Waahh.. mau dehh Bu, nanti in syaa Allah Saya nyusul yaa," ucap Asiyah.
"Ya sudah kami duluan yaa Mbak , assalamu'alaykum.." mereka melambaikan tangan beramai-ramai dari kejauhan.
"Wa'alaykumussalam.." Asiyah membalas lambaian tangan itu, ramah.
Masih di teras villa, Mas Wedo juga melewati villa dengan sepedanya. Berhenti seketika melihat Asiyah. Turun dari sepedanya, berjalan lambat memapah sepedanya.
"Assalamu'alaykum Mbak Asiyah, selamat pagi, cerah sekali nampaknya wajah Mbak Asiyah pagi ini," Wedo menyapa dengan senyuman ramahnya.
"Wa'alaykumussalam Mas Wedo, alhamdulillah Mas sudah dari sananya wajah Saya cerah begini Mas, turunan ibu saya heheee," balas Asiyah dengan candanya.
"Bisa bercanda juga yaa Mbak hehee, ayok Mbak ke kebun, ada panen sayur di sana, ini Saya juga mau ke sana," ajak Mas Wedo.
"Iya Mas, ini rencananya juga mau ke sana."
"Nanti naik ojek motor aja Mbak, ditelpon saja mamang ojeknya biar nanti dijemput," jelas Wedo.
"Ada nomornya Mas? Saya boleh minta?" tanya Asiyah.
"Ada Mbak, Saya ada nomornya," jawab Wedo.
__ADS_1
"Saya ke sana ya Mas," Asiyah mengacungkan jari telunjuknya kearah Mas Wedo, memberi isyarat, bergegas keluar dari villa menghampiri Wedo, tak lupa ke kamarnya dulu mengambil ponselnya.
"Berapa nomornya Mas?" tanya Asiyah seketika berada didekat Wedo.
"081234567890.." ucap Wedo sambil melihat kontak mamang ojek di ponselnya.
Asiyah mengetik nomor itu dan menyimpannya di ponselnya. "Save, okee, selesai," ucap Asiyah.
"Ya sudah nanti telepon saja mamangnya yaa Mbak, Saya duluan ke kebunnya yaa, assalamu'alaykum," Mas Wedo pamit jalan duluan menuju kebun sayur.
Asiyah bergegas masuk ke dalam villa. Mempersiapkan segala keperluannya. Mendengar kata 'Panen' tadi, Asiyah sangat tertarik. Pasti banyak objek menarik nanti yang bisa Ia ambil gambarnya dan pasti sangat menyenangkan di sana.
Lima belas menit.
Hanya butuh waktu sesingkat itu bagi Asiyah untuk menyegerakan rasa penasarannya. Asiyah tak buang waktu lagi bergerak menuju lokasi panen sayur.
Seperti biasa, Asiyah harus memberitahukan dulu kepada salah satu asistennya akan rencananya.
Ttookkk.. ttookkk.. ttookkk.. suara ketukan pintu kamar dari gumpalan jari jemari Asiyah.
Caca membuka pintu kamarnya.
"Hhmm Ca, Saya mau pergi keliling desa dulu ya, ada panen sayur hari ini di kebun kata ibu-ibu petani di sini, nggak lama, nanti in syaa Allah pas jam makan siang Saya sudah ada di villa," jelas Asiyah.
"Oo iya Mbak, pakai apa Mbak mau ke sana?" tanya Caca lagi.
"Saya ke sana naik ojek motor," jawab Asiyah.
"Ada ojeknya Mbak?" tanya Caca lagi.
"Alhamdulillah ada, tadi Saya sudah dikasih sama Mas Wedo, orang kampung sini, nomor ponsel mamang ojeknya, tinggal telepon saja kata Dia, nanti juga datang mamang ojeknya menjemput ke villa," jelas Asiyah.
"Oohh, alhamdulillah, enak juga yaa Mbak, sudah kayak di kota saja, ada ojek onlinenya hehehee," Caca tertawa kecil.
"Yaa sudah ya, Saya mau menunggu ojeknya di teras villa saja, assalamu'alaykum," jelas Asiyah. Menuju teras villa. Memesan ojek motor. Dan menunggu.
Asiyah sudah berada di atas ojek motor.
Alhamdulillahnya kali ini Asiyah tidak berjalan kaki, ada ojek motor roda tiga yang bisa muat tempat duduknya sampai enam penumpang. Lumayan nyaman, dengan begitu juga Asiyah bisa menghemat tenaganya dan bisa dengan cepat sampai ke kebun.
__ADS_1
'Sssrrrrr.....' suara angin menghembuskan kerudungnya, mengibaskan pakaiannya dengan lembut.
Asiyah jadi teringat masa-masa waktu dirinya masih tinggal di kontrakan papan dulu. Ke mana-mana harus naik ojek. Asiyah tersenyum penuh rasa syukur dengan keadaannya saat ini. Alhamdulillah. Begitu hebatnya skenario Allah dalam kehidupannya, dalam sekejap Ia merasakan hidup dalam kesederhanaan, dan dalam sekejap pula Ia kembali hidup dalam limpahan kemewahan.
Aahh sudahlah, tak ada yang perlu disesali dari semua kejadian ini, semuanya hanya butuh rasa syukur. Dan ujian hidup kedepan, bisa jadi akan lebih rumit dari ujian di masa lalu, kita hanya butuh Allah untuk menghadapi semuanya, pikir Asiyah dalam hati.
Selama di perjalanan mamang ojek banyak bercerita.
Kata mamang ojek, kebun sayur di Desa Hijau ini hanya ada di satu tempat, khusus tanaman sayuran. Terbentang luas. Ada sayur singkong, sayur kacang panjang, tomat, cabai, sayur terong, mentimun dan masih banyak lagi. Jadi, Asiyah juga tidak perlu susah payah mencari di mana lokasi panennya, karena memang tempatnya di situ-situ saja.
Sepuluh menit berlalu di perjalanan.
Asiyah sampai di lokasi panen sayur.
Matahari sudah mulai terik.
"Assalamu'alaykum.. ibu-ibu, Asiyah mau gabung yaa, mau numpang ambil gambarnya, boleh yaa.." Asiyah menyapa dengan riangnya. Penuh semangat. Dengan kamera yang sudah siap bergelantungan di lehernya.
"Wa'alaykumussalam.. Mbak Asiyah, silahkan ayokkk, sudah ditunggu kedatangannya dari tadi lohh, mari-mari.."
Asiyah memulai aksinya.
'Cekrekkk.. cekrekkk.. cekrekkk..'
Kamera itu terus memotret.
Sampai pada fokus yang tak terduga sebelumnya. Dimas. Di ujung fokus kameranya tampak Dimas sedang berdiri memantau pekerjaan ibu-ibu di sana. Asiyah segera menghampiri.
"Assalamu'alaykum Dimas, di sini juga yaa? Ikut panen atau bagaimana?" tanya Asiyah.
"Wa'alaykumussalam, iya kebetulan sebagian kebun sayur di sini milik Aku, memantau saja."
"Wah.. lumayan juga ya Dim, punya villa dan kebun sayur heheee.." Asiyah memuji.
"Hhmmm.. alhamdulillah, dulunya milik Bapak, sama seperti villa, sepeninggal Bapak, semuanya diserahkan kepada Aku pengelolaannya, berhubung Aku anak tunggal," jelas Dimas.
"Oohh.. begitu, ya sudah lanjut yaa Dim, Aku juga mau lanjut keliling lokasi sayuran, assalamu'alaykum," Asiyah melangkahkan kakinya. Beranjak pergi meninggalkan Dimas.
"Wa'alaykumussalam," jawab Dimas dengan senyuman lembutnya menatap Asiyah yang telah berpaling darinya.
__ADS_1