Asiyah Akhir Zaman

Asiyah Akhir Zaman
Hadiah Putih


__ADS_3

“Iya Mi, jadi Mami maunya yang mana?”


 


“Yang putih saja Pi, Mami sudah bosan banget ni sama yang silver ini.”


 


“Tapi modelnya mau yang mana Mi? Apa disamakan saja seperti yang silver ini Mi?”


 


“Iya Pi, samakan saja, Mami cuma bosan dengan warnanya saja Pi.”


 


“Ya sudah nanti Papi tukar ya Mi, Mami jangan lupa makan yaa, Assalamu’alaykum,” Pak Tomi menutup pembicaraannya dengan Bu Wela melalui telepon siang itu.


 


Hari ini Bu Wela main ke kantor dengan kedua anaknya. Memakai warna pakaian yang senada. Bu Wela tampak cantik sekali. Kedua anaknya juga terlihat oke. Sepertinya Bu Wela sedang bahagia. Melemparkan senyuman saja dari tadi ke setiap staf yang dilewatinya. Cerah sekali tampak wajah Bu Wela.


 


Apa Bu Wela sudah melupakan semua kegalauannya tentang Pak Tomi yang ingin berpoligami?


Siang ini Bu Wela membawa rantang makan siang untuk suaminya. Tumben sekali Bu Wela memasak untuk Pak Tomi. Karena dari cerita orang-orang kan, katanya Bu Wela itu malas sekali kalau disuruh memasak. Ada sesuatu sepertinya yang terjadi pada Bu Wela. Pada rumah tangganya juga. Bu Wela tampaknya benar-benar bahagia.


 


Di dalam ruangan Pak Tomi pada saat jam makan siang. Bu Wela menata makanan yang dibawanya tadi. Mereka bersiap untuk makan siang.


 


“Mami masakin Papi ikan asin peda, sambal terasi, semuanya Mami masakin untuk Papi,” Bu Wela tersenyum pada Pak Tomi. Ada juga ayam goreng, ikan panggang, cah kangkung, tahu goreng dan tempe goreng yang dikeluarkan Bu Wela dari dalam tantang itu.


 


“Wah makasih yaa Mi, Mami tumben deh masak begini, bawain ke kantor Papi lagi.”


 


“Iya dong Pi, sekali-sekali, Papi pasti kangen dengan masakan enak Mami, heheee,” Bu Wela tersenyum.


Mereka menyantap makan siang bersama. Bersama sepasang anak mereka juga tentunya. Kalau sudah begini memang benar-benar tampak seperti keluarga yang sangat harmonis. Rasanya tidak mungkin jika Pak Tomi ingin menikah lagi. Dan juga Bu Wela persis sekali seperti cerita istri sholeha di sinetron religi.


 


Ke esokan harinya, masih di kantin yang sama, di depan kantor. Drama baru di mulai lagi oleh Acen. Senjata apalagi kali ini.


 


“Enak sekali ya jadi istrinya Pak Tomi, semua permintaannya dituruti. Bu Wela mau minta si putih lagi sama Pak Tomi, ya disanggupi oleh Pak Tomi.” Acen berucap santai. Membicarakan tentang kehidupan Pak Tomi.


 


“Berarti Pak Tomi orangnya memang nggak pelit sama keluarganya ya, pasti Bu Wela bahagia banget tuh,” sambung Asiyah.


 


Acen melihat Asiyah. Benarlah, tembakan itu disiapkannya lagi untuk menggempur hati dan pikiran Asiyah.

__ADS_1


“Makanya Kamu menikah saja dengan Pak Tomi, nanti semua kemauan Kamu juga akan diberi, kalau iya nanti habis makan siang ini, langsung akan Saya sampaikan pada Pak Tomi,” rayu Acen. Berbisik.


Tembakan Acen tepat sasaran. Pancingannya pada Asiyah nyambung sekali ke arah pembicaraannya.


 


Asiyah terhenti lagi dari makannya. Melihat Acen di hadapannya.


 


Asiyah hanya diam. Tidak mau menanggapi lagi. Dikasih imbalan apa sih si Acen oleh Pak Tomi untuk merayu Asiyah? Getol sekali. Tidak ada capek-capeknya merayu Asiyah. Apa tidak ada perempuan lain yang disukai Pak Tomi untuk dinikahi selain dirinya? Huuhh..


 


Asiyah sempat mengira bahwa Pak Tomi tidak akan memberikan madu pada Bu Wela karena kemesraan mereka yang tampak jelas akhir-akhir ini. Para staf juga membicarakan hal ini.


Tetapi mengapa masih saja Acen merayunya untuk mau menikah dengan Pak Tomi? Asiyah tidak habis pikir.


 


Berlalu lagi pembicaraan dengan Acen siang itu di kantin.


 


Pak Tomi mengirimkan video berdurasi satu menit pada Asiyah. Tiba-tiba saja. Di pagi hari. Saat jam kerja kantor. Sebelum mereka sibuk mengerjakan semua aktivitas kerja.


Video tentang poligami. Lagi-lagi tentang hal itu saja. Asiyah membuka isi video itu. Tidak berkomentar apapun. Asiyah tidak membalasnya. Asiyah mulai berani bersikap acuh dengan rayuan Pak Tomi.


 


“Maaf Mi, Papi nggak jadi jemput yaa, Mami pesan Taxi saja, Papi ada urusan mendadak siang ini.”


 


 


“Ya sudah yaa sayang, Papi mau lanjut lagi ni, maaf ya Mi,” Pak Tomi mengakhiri teleponnya dengan Bu Wela.


Terdengar pembicaraan mereka oleh Asiyah. Pak Tomi menelepon dengan suara yang lantang di depan ruangan Asiyah.


 


Dua puluh menit berlalu. Bu Wela sampai di kantor dengan menggunakan Taxi. Bu Wela masuk ke ruangan Pak Tomi. Beristirahat di sana. Ruangan Pak Tomi sedang kosong.


 


Berpapasan dengan Asiyah, “Oo ya Asiyah, Bu Wela sudah datang?” tanya Pak Tomi.


 


“Sudah Pak, sedang menunggu di ruangan Bapak.”


 


“Oh iya, Dia habis dari salon itu, perawatan tubuh,” Pak Tomi menatap Asiyah dengan tatapan penuh rasa.


 


“Besok kalau Asiyah sudah menjadi istri Saya, Asiyah juga akan melakukan perawatan tubuh rutin, biar makin cantik,” sambung Pak Tomi.


 

__ADS_1


Asiyah hanya tersenyum. Tidak mau memberikan komentar apapun. Asiyah segera pergi dari hadapan Pak Tomi.


Duhh.. Pak Tomi benar-benar yaa, rayuannya ada di mana-mana dan bisa kapan saja tembakannya.


 


Satu pekan berlalu.


 


“Tiinnn..tiiinnn..” suara klakson mobil masuk ke halaman gedung kantor.


 


Mobil siapa? Tidak pernah sebelumnya datang ke sini. Warnanya putih. Mengkilat sekali. Sepertinya mobil baru.


Turun dari mobil putih itu. Seorang perempuan berkulit putih dengan style kerudung yang dililitkan di lehernya ala-ala model hijabers. Bu Wela. Perempuan itu adalah Bu Wela. Seperti masih gadis saja Bu Wela.


Acen menghampiri Bu Wela. “Waahhh.. si putih sudah datang Bu, kapan datangnya?”


 


“Kemarin sore, biasaa dipitain sama Bapak, ditaruh di halaman rumah.”


 


“Ciiee.. sore-sore dapat surprise dari Bapak yaa Bu,” Acen menggoda.


 


“Hehehee.. biasalah Cen, O yaa Bapak mana?”


 


“Ada di dalam Bu.”


 


“Ohh ya sudah, Saya langsung masuk ke dalam saja yaa,” ucap Bu Wela pada Acen. Acen memberikan hormat pada Bu Wela. Meletakkan telapak tangannya pada dahinya. Bercanda.


 


Mengurus berkas-berkas administrasi kantor. Siang itu Asiyah keluar kantor lagi. Dilihatnya mobil putih mengkilat parkir di halaman kantor. Maa syaa Allah cantik sekali mobil ini.


 


Acen menghampiri Asiyah.


“Bagus yaa mobilnya.. si putih..” Acen tersenyum. Menggoda Asiyah.


“Hadiah dari Pak Tomi untuk Bu Wela, Asiyah mau?” sambung Acen. Acen berbisik pada Asiyah. Lagi.


 


“Hhhhhh..” Asiyah menarik nafasnya. Pergi meninggalkan Acen. Ada-ada saja Acen. Tidak ada bosan-bosannya.


 


Ohh ternyata ini si putih yang dikatakan Acen kemarin. Pantas saja Bu Wela akhir-akhir ini tampak senang sekali. Ternyata Bu Wela mendapatkan hadiah besar dari Pak Tomi. Mobil impiannya, berwarna putih.


Pak Tomi memang paling tahu caranya menyenangkan hati Bu Wela. Memperlakukan Bu Wela layaknya ratu. Walaupun pada kenyataannya memang Pak Tomi masih saja melirik perempuan lain di luar sana.

__ADS_1


__ADS_2