
Bersama Pak Nomo. Asiyah, Caca dan Cita meluncur menuju rumah pria pemilik koper itu.
Mudah-mudahan alamat yang dituju kali ini benar alamat rumahnya pria itu. Asiyah dan yang lainnya berharap seperti itu.
Cita menyetel alamat pria pemilik koper itu melalui maps ponselnya.
"Pak, habis persimpangan depan, belok ke kiri yaa," ucap Cita. Menginstruksikan arah jalan kepada Pak Nomo.
"Baik Mbak," jawab Pak Nomo.
Sudah setengah jam perjalanan tetapi alamat pria itu belum juga ketemu.
"Loh kok buntu? Tembok loh ini," ucap Asiyah, heran.
"Iya ya, kok tembok Pak? Padahal sudah sesuai loh ini dengan mapsnya," sambung Caca. Yang sedari tadi juga ikut menyimak arahan maps yang dipegang oleh Cita.
"Coba mundur lagi Pak, kita coba tanya sama abang-abang ojek yang mangkal dipersimpangan tadi," perintah Asiyah pada Pak Nomo.
"Baik Mbak," ucap Pak Nomo. Memutarkan setir mobilnya.
Perjalanan berlalu sepersekian detik. Pangkalan ojek telah terlihat di depan mata.
"Kanan depan yaa Pak," ucap Cita.
Pak Nomo menghidupkan lampu sennya ke arah kanan, mereka berhenti di persimpangan itu. Tepat di depan pangkalan ojek yang beratapkan seng dan bertiangkan kayu dengan dinding yang terbuka tanpa sekeping papan.
Pak Nomo turun dari mobil. Membawa ponsel milik Cita, untuk memperlihatkan alamat jelas yang tertera pada maps ponselnya.
"Permisi Bang, assalamu'alaykum, mau numpang tanya, ada yang tahu alamat ini nggak ya?" ucap Pak Nomo pada salah satu abang ojek itu.
"Yaa, wa'alaykumussalam, coba Saya lihat Pak," ucap abang ojek.
Pak Nomo memperlihatkan alamat itu pada abang ojek. Berdiri dengan sedikit membungkuk pada abang ojek yang sedang duduk santai menunggu penumpang di pangkalan mereka.
"Ohh ini masuknya dari lorong ke dua sebelah sana Pak, bukan lorong pertama, kalau Bapak masuknya di lorong pertama, nanti ketemunya jalan buntu Pak," jelas abang ojek dengan isyarat tangannya yang memberikan pengarahan pada Pak Nomo agar diterima dengan tepat penjelasannya.
"Iya iya Bang, soalnya tadi Saya masuknya ke dalam lorong pertama, ketemunya memang tembok besar, ternyata jalannya buntu, astaghfirullah," jelas Pak Nomo.
"Yaa begitulah kalau penunjuk jalan kita cuma bermodalkan maps Pak, sering sekali dibikin salah jalan kita, ada yang sampai nyebur ke sungai dibuatnya, hehee," abang ojek itu tertawa kecil.
"Iya benar Bang," jawab Pak Nomo dengan balasan tawa kecilnya.
"Ya sudah kalau begitu, terima kasih banyak yaa Bang, Saya buru-buru soalnya, terima kasih banyak sekali lagi, permisi, assalamu'alaykum," ucap Pak Nomo kemudian berlalu meninggalkan pangkalan ojek itu.
"Sama-sama, wa'alaykumussalam," ucap abang ojek, sedikit berteriak.
Perjalanan dimulai lagi, kali ini sepertinya akan lebih mudah, karena petunjuk arahnya sudah cukup jelas.
"Sepertinya ini deh Pak," ucap Cita.
"Iya Saya rasa juga begitu Cita, langsung saja kita turun," ucap Asiyah.
__ADS_1
Mereka menuruni mobil. Kini tepat di hadapan mereka sebuah rumah yang cukup besar. Berpagarkan tinggi.
Ttiinngg noonngg.. ttiinngg noonng.. suara bell rumah yang dipencet oleh Caca.
Seorang perempuan paruh baya keluar dari pintu pagar.
"Maaf, nyari siapa yaa?" tanya perempuan itu.
"Kami mencari Bapak..?" ucapan Caca terhenti.
"Bapak Dhirgham," sambung Asiyah cepat.
"Iya Bapak Dhirgham," ucap ulang oleh Caca.
"Ohh Bapak Dhirgham, sebentar yaa Saya ke dalam dulu, maaf yaa sebelumnya, ini dengan siapa? Biar Saya sampaikan dulu pada Tuan," perempuan itu berpenampilan layaknya seorang asisten rumah tangga di rumah besar ini. Ia kembali masuk ke dalam rumah.
"Bilang saja Asiyah mencarinya, ingin menukar koper yang tertukar saat di pesawat," ucap Asiyah.
"Ooh iya baik Non," ucap perempuan itu. Lalu masuk kembali ke dalam pagar. Menutup kembali pagarnya.
Asiyah dan yang lainnya menunggu di depan pagar rumah yang tinggi itu.
Beberapa menit kemudian. Asisten rumah tangga itu kembali keluar.
"Silahkan masuk Non, Tuan ada di dalam, silahkan menunggu di dalam saja, akan Saya panggilkan dulu," ucap perempuan itu. Mempersilahkan Asiyah dan yang lainnya masuk ke dalam pagar. Kemudian menutup pagar itu kembali, menguncinya, rapat.
Asiyah, Caca, Cita dan Pak Nomo berjalan menuju teras rumah pria koper itu. Ternyata pekarangan rumahnya cukup luas juga. Disekelilingnya terdapat taman yang tertata rapi, dengan sentuhan modern.
Asiyah yang melihatnya seorang diri dalam jerit tangisnya, lalu menangkapnya.
Balita perempuan itu menurut saja. Asiyah menatap wajahnya, tampak teduh. Seperti sosok yang pernah Ia kenal sebelumnya, tapi siapa yaa? Asiyah lalu menggendongnya. Rasa sayang itu muncul seketika. Diayunkannya anak perempuan itu di dalam gendongannya.
"Huuss.. hhuusss.. Sayang, kenapa menangis? Bonekanya lucu yaa? Boneka apa ini namanya?" ucap Asiyah pada Balita perempuan itu. Lembut.
Balita itu diam dari tangisnya. Dilihatnya Asiyah. "Boneka beruang," ucap balita perempuan itu dengan ucapan cadelnya. Sepertinya Ia juga menyukai Asiyah. Tampak nyaman di dalam gendongan Asiyah.
"Maryam.. Maryam.." tersengal-sengal. Seorang pria keluar dari pintu rumah. Mengejar balita itu.
Tiba di hadapan Asiyah yang sedang asik mengayunkan balita perempuan itu di dalam gendongannya. Pria itu langsung mengambil alih menggendong.
"Maryam, Nak, ayo kita pulang Nak, besok kita main ke sini lagi yaa Nak, kita pamit dulu sama Om Dhirgham di dalam yaa Nak," ucap lelaki itu tanpa menengok wajah Asiyah.
Asiyah pun tak sedikit pun menengok wajah abinya Maryam itu. Asiyah terlalu fokus melihat wajah Maryam.
"Maaf yaa Mbak, anak Saya memang begini, setiap diajak pulang selalu menjerit menangis, tidak mau pulang katanya, tidak mau berpisah dari tantenya," jelas pria itu seraya tersenyum. Lelah wajahnya mengejar anaknya itu.
Dari kejauhan, di depan pintu rumah, keluar sesosok pria yang mirip sekali dengan pria yang menabrak Asiyah waktu di pesawat itu, "Eehh.. Mbak Asiyah, apa kabar Mbak? Silahkan masuk Mbak, Saya memang sudah lama menunggu kedatangan Mbak di rumah Saya," sapa Dhirgham.
"Alhamdulillah, assalamu'alaykum Pak.." Asiyah bingung ingin memanggilnya dengan sapaan apa.
Asiyah meninggalkan Maryam dan Abinya, menuju pria koper itu. Tanpa menoleh sedikit pun kepada abinya Maryam.
__ADS_1
"Panggil Dhirgham saja Mbak," sambung Dhirgham cepat. seketika berada di hadapannya.
"Ya sudah kalau begitu panggil Saya Asiyah saja," sambung Asiyah lagi.
Dhirgham tersenyum. Begitu pula dengan Asiyah.
"Ooh jadi ini pria koper itu, ganteng banget yaa Cit," ucap Caca seraya menatap wajah Dhirgham yang berada di dekatnya.
"Hhuusss.." Cita menyenggol bahu Caca, mengisyaratkan agar Caca segera menghentikan ocehannya.
"Pria koper? Maksudnya?" tanya Dhirgham, sedikit bingung.
"Nggak, gini loh Dhirgham, tujuan Saya kemari mau menukar koper kita yang tertukar waktu di pesawat tempo hari," jelas Asiyah.
"Ooh iya Asiyah, masuk saja dulu, biar Saya ambilkan koper itu di dalam sebentar," Dhirgham mempersilahkan mereka menunggu di dalam rumahnya saja.
"Nggak usah, nggak usah Dhirgham, kami buru-buru, kami menunggu di sini saja, kopernya milik Kamu juga sudah kami siapkan," jelas Asiyah.
"Pak Nomo?" Asiyah memberi kode pada Pak Nomo yang sedari tadi membawakan koper kabin milik Dhirgham untuk ditukarkan.
Pak Nomo memberikan koper itu pada Dhirgham, segera.
"Boleh dicek dulu isinya, oohh yaa Saya minta maaf sebelumnya karena telah membaca berkas-berkas milik Kamu yang ada di dalam koper ini," ucap Asiyah.
"Nggak apa-apa Asiyah, Saya percaya kok, lagian di dalam sini nggak ada barang-barang berharga, soal berkas-berkas itu juga nggak apa-apa, santai saja," jelas Dhirgham.
"Saya ambil koper Kamu dulu yaa sebentar," ucap Dhirgham.
"Iya silahkan," jawab Asiyah.
Beberapa menit kemudian.
Dhirgham membawakan koper milik Asiyah.
"Silahkan kalau mau dicek dulu isi kopernya," ucap Dhirgham pada Asiyah. Tersenyum ramah.
"Sama, nggak usah dicek juga Dhirgham, Saya percaya," balas Asiyah. Tersenyum ramah.
"Ooh yaa anak kecil tadi itu siapa yaa? Lucu banget maa syaa Allah," tanya Asiyah pada Dhirgham.
"Anak perempuan tadi namanya Maryam, Dia kalau main ke sini memang susah sekali abinya mengajak Dia pulang, karena Ibunya baru saja meninggal tiga bulan yang lalu dan memang adik ibunya itu sekaligus juga adik Saya, beliau sangat mirip wajahnya dengan ibunya Maryam, karakternya pun juga sama," jelas Dhirgham.
"Innalillahi wa inna ilaihi raji'un," ucap Asiyah dan yang lainnya.
"Kasihan Saya sama abinya, kasihan Saya sama Ashar.." ucap Dhirgham.
"Ashar?" tanya Asiyah. Terkejut. Nama yang sama dengan seseorang yang hampir saja menikahinya dulu. Apa Ashar yang dimaksud adalah.......??
Abinya Maryam menghampiri Dhirgham untuk pamit pulang kepada Dhirgham. Dengan Maryam yang masih di dalam gendongannya.
Asiyah benar-benar terkejut dengan apa yang dilihatnya. Di hadapannya. Permainan takdir apa lagi ini? Asiyah sungguh bertanya-tanya di dalam hatinya.
__ADS_1
"Ashar.." ucap Asiyah pelan. Dengan mata yang menatap tajam ke arah abinya Maryam.