Asiyah Akhir Zaman

Asiyah Akhir Zaman
Kampung Sebelah


__ADS_3

Perkampungan sebelah tempat Umi mencari tiga asisten rumah tangga yang baru akan segera dikunjungi.


Sebagai penerus rencana kemarin malam yang sudah disepakati bersama Asiyah sebelumnya.


Tiga orang asisten rumah tangga yang akan membantu Umi dalam mempersiapkan segala macam keperluan rumah tangga. Mulai dari memasak, membersihkan rumah, hingga mencuci pakaian.


Ide Umi memang terbilang tepat, dengan memperkerjakan warga di sekitar tempat tinggalnya, yaa hitung-hitung berbagi rezeki dengan orang-orang terdekat dulu lah. Awalnya Umi berpikir untuk memperkerjakan orang yang masih ada hubungan kerabat dengannya saja, tetapi Umi teringat bahwa kerabatnya semua berada di kampung, dan memang tidak ada yang bisa menginap di rumahnya untuk bekerja membantu dirinya.


Rencananya jika sudah dapat nanti, mereka bertiga juga akan disertakan pada makan malam Rabu pekan depan itu. Biar sekalian perkenalan diri, saling bertatap muka untuk kali pertamanya pada saat itu.


Tapi Umi yakin, ketika Umi dan Asiyah sampai di kampung sebelah nanti, mereka akan langsung menemukan calon asisten rumah tangga yang cocok untuk mereka. Karena memang, warga kampung sebelah terkenal dengan perkampungan para asisten rumah tangga. Hampir seluruh warga mereka, ibu-ibu dan bapak-bapaknya, bekerja sebagai asisten rumah tangga dan juga sebagai supir pribadi.


Mereka terkenal tekun dan jujur dalam bekerja. Para anak gadis mereka juga sudah dibekali dengan kepandaian dalam mengurus keperluan rumah tangga, seperti memasak, mencuci, menyetrika pakaian, dan lainnya. Sama seperti anak laki-laki mereka, sejak dini telah dibekali dengan berbagai macam ilmu yang nantinya agar mereka siap bekerja di lapangan, seperti menyetir, berkebun, dan yang lainnya.


Hari berganti.


Matahari telah terbit. Aisyah dan Ali pun tengah belajar di sekolah mereka. Umi dan Asiyah akan pergi berdua mengunjungi kampung sebelah.


Perkampungan sebelah memang bukanlah perkampungan orang kaya. Bukan pula perkampungan kumuh seperti yang ada di film-film yang menggambarkan serakan sampah di setiap sudut tempatnya. Tapi kali ini, Umi dan Asiyah akan pergi ke sebuah kampung yang bersih. Namun memang rumah mereka merupakan bangunan semi permanen, yang dinding-dindingnya terbuat dari papan dan kayu, serta masih beratapkan daun rumbia.


"Umi jam berapa kita berangkat ke sana?" tanya Asiyah. Menghampiri Umi yang tampak sibuk dengan ponselnya, mengurusi barang-barang butik hijabnya yang baru saja masuk ke gudang.


"Sebentar yaa Nak," ucap Umi, menoleh pada Asiyah sejenak, sambil menghitung-hitung nominal angka yang digoreskannya pada buku agenda kecil itu.


Asiyah masih menunggu Umi di ruang tengah rumah mereka. Di sofa santai yang melingkar. Umi belum juga selesai dengan pekerjaannya.


Kebetulan juga hari ini, tidak ada jadwal shooting bagi Asiyah. Jadi bisa segera mencari calon asisten rumah tangga di kampung sebelah.


Sudah setengah jam Asiyah menunggu, namun belum juga ada tanda dari Umi untuk segera bersiap berangkat ke kampung sebelah.


"Alhamdulillah, selesai," ucap Umi pelan. Dilihatnya Asiyah di hadapannya yang terbaring lesu menunggunya.

__ADS_1


"Hehee.. Asiyah, ayokk Nak, kita siap-siap berangkat ke kampung sebelah," ucap Umi. Tertawa kecil melihat Asiyah yang sepertinya kecapaian menunggunya.


Asiyah berdiri. "Iya Umi, Asiyah ke kamar dulu ya ganti baju," ucap Asiyah, tampak lelah.


"Ayokk ayokk sana Nak," ucap Umi. Tersenyum melihat tingkah anak sulungnya itu.


Pukul 10.00 pagi.


Umi dan Asiyah memulai perjalanan mereka.


Tepat di depan gapura masuk perkampungan yang dituju.


Mobil tak dapat masuk ke dalam gang sempit itu. Gapuranya pun terlihat sangat sederhana dengan ukurannya yang pas-pasan untuk keluar masuk kendaraan roda dua.


Asiyah dan Umi turun dari mobil mewah mereka.


Berjalan kaki saja masuk ke dalam kampung itu.


"Assalamu'alaykum Bu," ucap Asiyah dan Umi ketika tak sengaja bertemu seorang ibu-ibu dalam perjalanan mereka, seraya menyatukan kedua telapak tangan mereka masing-masing sebagai isyarat salam santun yang mereka sampaikan. Diiringi dengan senyuman yang ramah.


"Maaf Bu, numpang tanya, rumah Pak RTnya dimana ya?" tanya Asiyah pada salah satu ibu-ibu yang ditemuinya itu. Kebetulan memang Ibu itu sedang menyapu halaman rumahnya yang sempit yanh sedang dilewati oleh Asiyah dan Umi.


"Wa'alaykumussalam, ini Asiyah, selebriti yang tinggal di kampung sebelah itu ya?" jawab Ibu itu, disambung dengan tanyanya. Sejenak berhenti dari ayunan sapu di tangannya.


"Hhmmm.. Ibu bisa saja, heheee," Asiyah tersenyum dengan rasa malunya yang menyipu.


"Ayokk Bu, Saya antarkan saja langsung ke rumah ketua RTnya," tawar Ibu itu dengan ramahnya.


"Oo yaa, boleh Bu, terima kasih banyak sebelumnya, maaf merepotkan," ucap Asiyah.


"Ngomong-ngomong ini Mbak Asiyah mau mencari asisten rumah tangga atau supir pribadi?" tanya Ibu itu sambil melangkahkan kakinya santai, berjalan menunjuki jalan rumah Pak RT kepada Asiyah dan Umi.

__ADS_1


"Asisten rumah tangga Bu, untuk bantu-bantu Umi dirumah, kasihan Umi mengerjakan semuanya sendirian," jawab Asiyah, tersenyum.


Umi tersenyum.


"Nah yang itu rumah Pak RTnya Mbak, langsung saja ditemui ya, kalau jam segini, Pak RT sedang ada di rumah, mudah-mudahan berjodoh untuk pertemuan hri ini ya Mbak, Bu," ucap Ibu itu pada Asiyah dan Umi, seraya menunjukkan ujung jarinya ke arah rumah papan dengan jarak tiga rumah dari hadapan mereka.


"Yang ada pohon mangga di depan rumahnya itu Bu?" tanya Asiyah.


Mereka berhenti dari langkah kakinya.


"Iya benar Mbak," jawab Ibu itu dengan senyum ramahnya.


"Oo iya Bu, nggak apa-apa kalau begitu kami diantar sampai di sini saja Bu, nanti kami jalan berdua saja ke sana," jelas Asiyah.


"Iya Mbak, Bu, nggak apa-apa yaa, Saya antar sampai di sini saja, Saya mau lanjut beres-beres rumah lagi, mau jualan kue juga Saya sebentar lagi," jelas Ibu itu.


"Iya nggak apa-apa Bu, makasih yaa," ucap Asiyah.


"Iya Mbak, Bu, Saya pamit dulu yaa, assalamu'alaykum," ucap Ibu itu.


"Wa'alaykumussalam," jawab Asiyah dan Umi dengan senyuman ramah mereka.


Asiyah dan Umi berjalan menuju rumah ketua RT.


Tak lama. Mereka sampai di depan sebuah gedung mini yang unik.


Rumah yang sangat bersih dan teduh dengan pohon mangga besar di depan rumahnya. Meskipun rumah ini lagi-lagi adalah bangunan semi permanen, tetapi terlihat sangat indah dengan tatanan papan sebagai dindingnya yang dicat berwarna coklat muda, serta kayu bulat sebagai tiangnya yang diberi cat kayu berwarna coklat tua, juga atap daun rumbia sebagai langit-langitnya.


Seperti rumah lain di kampung ini, yang memang bernilai murah dari segi harga materialnya, tetapi bernilai tinggi dari segi maknanya. Yaitu kesederhanaan yang indah dengan kebersihannya yang terjaga serta hubungan kekeluargaan mereka yang erat.


Asiyah dan Umi dibuat kagum dengan apa yang mereka lihat saat ini. Maa syaa Allah.

__ADS_1


__ADS_2