Asiyah Akhir Zaman

Asiyah Akhir Zaman
Jalan Setapak


__ADS_3

Pagi ini Asiyah keluar villa lebih pagi. Subuh tepatnya. Langit Desa masih tampak sangat gelap. Burung-burung masih tidur. Ayam-ayam juga masih terlelap. Tak terkecuali para asisten dan sopir Asiyah, mereka masih terbuai di dalam mimpi masing-masing.


Cita dan Caca nama asisten Asiyah. Sementara Pak Sopir bernama Nomo. Cita dan Caca berusia 22 dan 25 tahun. Sementara Pak Nomo berusia 36 tahun. Mereka sudah seperti saudara bagi Asiyah. Ke mana pun Asiyah pergi, mereka selalu ikut. Yaa walaupun juga Pak Nomo tidak menyetir di Desa Hijau ini, Pak Nomo hanya menemani mereka saja di sini.


"Ca, Caca.." Asiyah mengetuk pintu kamar Caca dan Cita. Tidak ada jawaban.


"Cita.. Cita.. Saya mau ke langgar nih, kalian mau ikut nggak?" berulang kali Asiyah membangunkan mereka, tetap tidak ada jawaban.


Sepertinya Caca dan Cita memang masih tidur dengan pulas. Sebelumnya memang Asiyah belum memberitahukan pada mereka akan rencananya untuk sholat subuh di oanggar desa. Lima belas menit lagi adzan subuh akan berkumandang. Asiyah memutuskan untuk pergi sendiri saja.


Kemarin Asiyah melihat ada sebuah langgar di dekat villa, kata warga Desa Hijau, langgar ini adalah satu-satunya tempat ibadah di desa ini. Wedo juga bilang begitu.


Yaa memang penduduk Desa Hijau seluruhnya adalah muslim. Asiyah jadi penasaran dengan aktivitas masyarakat di Desa ini dikala subuh, kata salah satu warga desa, aktivitas langgar saat subuh begitu menakjubkan, penduduknya berbondong-bondong untuk sholat disana untuk menghidupkan langgar di tengah gelapnya hari sebelum terbitnya fajar.


Pelan-pelan langkah kaki Asiyah. Dengan mukena yang sudah dikenakkan, wudhu pun sudah menyirami bagian tubuhnya. Tak lupa Ia membawa senter dan kameranya. Ponsel? Harus tetap dibawa, takutnya ada hal penting yang harus dibicarakan segera.


Di tengah perjalanan, tiba-tiba terdengar suara adzan berkumandang.


"Allahu akbar.......... Allahu akbar........."


Merdu sekali, maa syaa Allah.. Siapa yang mengumandang adzan itu? Asiyah penasaran. Sejenak terhenti langkah kakinya, menghayati lantunan suci itu.


Seketika tersadar. Asiyah segera mempercepat langkah kakinya menuju langgar. Langkah kaki Asiyah pun diiringi oleh orang-orang yang hendak sholat subuh di langgar itu.


Ternyata benar-benar ramai, seperti yang diceritakan juga oleh Wedo sebelumnya. Tidak seperti yang dibayangkan oleh Asiyah, langgar kecil yang sepi dari aktivitas keagamaan.


"Assalamu'alaykum Mbak Asiyah, mariii.. mau ke langgar kan? Bareng ya," sapa ibu-ibu yang menghampirinya, yang juga sejalan ingin pergi ke langgar.


"Eehh.. wa'alaykumussalam, iya Bu mari, sampai kaget Saya, hehee," Asiyah mengelus dadanya, terperanjat dengan sapaan ibu-ibu tadi.


Mereka berjalan beriringan menuju langgar.


"Ramai juga yaa Bu yang sholat subuh di langgar," ucap Asiyah.

__ADS_1


"Iya begitulah Mbak Asiyah, di desa ini para orang tua sejak dulu memang sudah menanamkan nilai-nilai agama kepada anak-anak mereka, hingga kini turun temurun."


"Maa syaa Allah, jadi tidak heran yaa Bu, kalau langgar selalu penuh di kala waktu sholat tiba, tak terkecuali sholat subuh," sambung Asiyah.


"Iya Mbak, bahkan kegiatan kajian pun rutin dilakukan di langgar ini."


"Ayo Mbak, langgarnya sudah kelihatan itu." Ibu itu menunjukkan jarinya ke arah langgar yang tak jauh lagi dari pandangannya.


Kini Asiyah menyaksikannya sendiri, antusiasme masyarakat terhadap kegiatan di langgar yang cukup besar ini memang benar terbukti.


"Assalamu'alaykum.. mariii.." ucap Asiyah, menyapa ibu-ibu yang lalu lalang melewatinya saat hendak keluar langgar ketika sholat subuh berjamaah usai. Menjabati tangan mereka satu persatu.


"Assalamu'alaykum, mari Mbak Asiyah, duluan yaa.." ibu-ibu itu menyapa Asiyah, merangkul dan bersalaman dengannya.


Asiyah kembali ke villa. Jalan santai saja. Asiyah tidak sendiri, banyak ibu-ibu yang berjalan bersamanya. Mereka mengenali Asiyah, bintang terkenal yang sering muncul di TV.


Selepas sholat subuh, Asiyah mulai melangkahkan kakinya lagi. Berpetualang lagi di Desa Hijau ini. Melepaskan rasa penat di dada sekaligus melepas rasa penasarannya akan keunikan desa ini.


Kemarin Asiyah melihat ada jalan setapak di dekat sungai. Rasa penasaran itu muncul seketika di dalam pikiran Asiyah, tentang ke mana arah jalan setapak itu akan membawanya. Apa ada air terjun di ujung sana? Atau ada pemukiman warga?


Menit demi menit berlalu sejak Asiyah memulai langkah kakinya dari villa tadi. Kini Asiyah berada tepat di hadapan ujung jalan setapak itu. Bismillahirrahmanirrahiim. Diikutinya arah jalan setapak itu. Ditelusurinya pelan-pelan dan berhati-hati.


Lima menit berlalu lagi.


Asiyah tak kunjung sampai pada apa yang dicarinya. Jalan ini tak kunjung putus, ujungnya tak menampakkan diri, jalannya tak bertepi. Asiyah berhenti dari perjalanannya. Dilihatnya di sekelilingnya.


"Sssrreekk.. sssrreekk.." suara langkah kaki.


Ada yang berjalan di dekatnya. Sepertinya semakin mendekatinya.


Asiyah menatap langit. Dilihatnya lagi di sekelilingnya.


Kemudian Asiyah mulai menyadari satu hal, Ia sedang berada di tempat sepi, jauh dari pemukiman penduduk dan Ia sedang sendirian. Astaghfirullah, Asiyah mengucap dalam hati.

__ADS_1


"Assalamu'alaykum.. Mbak, ada yang bisa Saya bantu?"


Suara itu mengagetkan Asiyah.


Lelaki itu datang dari arah belakangnya.


"Astaghfirullah.. Mas Wedo," seketika Asiyah membalikkan badannya.


"Hehehehee.. iya Mbak, kebetulan Saya mau ke pondoknya Pak Dimas, melewati jalan setapak ini, jalan setapak ini memang dibuat menuju pondoknya Pak Dimas," jelas Wedo.


"Oohh begitu, Saya penasaran soalnya sama jalan setapak ini, makanya pagi-pagi sekali Saya ke sini lagi Mas selepas sholat subuh di langgar tadi," jelas Asiyah.


"Yaa nggak apa-apa Mbak, toh Desa ini aman kok dari orang-orang jahat, hewan buas juga tidak ada di sekitar sini, Desa ini memang dibentuk sebagai Desa wisata, jadi setiap sudutnya sudah dipersiapkan dengan matang Mbak," jelas Wedo lagi.


"Ayok mbak ikut Saya ke dalam, ke pondok milik Pak Dimas, sekalian nanti Saya kenalkan sama Pak Dimas," ajak Mas Wedo.


"Alhamdulillah.. beruntung sekali Saya ya Mas, ayokkk Mas dengan senang hati," senyum senang Asiyah menerima ajakan itu.


Lima menit berlalu.


Ternyata butuh waktu sepuluh menit saja untuk sampai ke pondok milik Pak Dimas di ujung jalan setapak ini.


Jalan yang dilewati juga bersih.


"Maa syaa Allah.." Asiyah kembali dibuat kagum seketika melihat pondok milik Pak Dimas di hadapannya. Pondok papan yang dibuat tinggi, berlantaikan panggung. Tradisional sekali. Rapi. Di sekeliling pondok itu ditata sedemikian rupa. Bunga-bunga dan tanaman-tanaman hijau juga menambah keindahan pondok itu. Seperti rumah-rumah antik zaman dulu yang telah dilakukan penghijauan sehingga menjadi tampak sangat asri.


"Assalamu'alaykum Pak Dimas, pagi ini Saya membawa tamu kita yang menginap di villa Bapak, Asiyah namanya," ucap Wedo seketika melihat Pak Dimas turun dari tangga pondoknya.


"Wa'alaykumussalam.."


"Mbak Asiyah, silahkan-silahkan kalau mau melihat di sekeliling, foto-foto juga boleh, santai saja yaa," ucap Pak Dimas.


Asiyah terkejut melihat Pak Dimas, Pak Dimas terlihat sangat muda. Wajahnya bersih penuh pesona. Tampak sholeh dengan balutan baju koko dan kain sarungnya, tak ketinggalan kopiah hitam yang melekat di kepalanya, maa syaa Allah.

__ADS_1


"Iya Pak, terimakasih," Asiyah mulai mengelilingi pondok.


__ADS_2