Asiyah Akhir Zaman

Asiyah Akhir Zaman
Cincin


__ADS_3

Takdir.. ini adalah takdir.


Tak terbesit sedikit pun dalam pikiran Asiyah untuk dipertemukan lagi dengan Pak Kani. Terakhir kali, Asiyah meninggalkan Pak Kani dalam keadaan menangis, berkaca-kaca kedua bola matanya saat ditolak cintanya oleh Asiyah. Namun kini, sesak rasanya. Asiyah takut sekali kejadian di masa lalu akan terulang kembali.


 


Kenapa yaa? Akhir-akhir ini Asiyah seperti melihat sosok Pak Kani berlalu lalang di kantornya. Ahh.. mungkin karena trauma, mungkin karena Asiyah terlalu khawatir akan kejadian dulu. Asiyah tidak mau lagi terlibat dalam kisah cinta Pak Kani lagi.


 


“Mmmmm.. Asiyah tolong kamu antar berkas ini pada Pak Kani ya, Dia menunggu di kantin, sekalian mintakan tanda tangannya..” perintah Pak Kasrun pada Asiyah pagi itu.


 


“Ya Allah.. astaghfirullah.. ternyata benar-nenar Pak Kani yang selalu Ku lihat itu, harus kah Aku berputar-putar pada lingkaran bayangan tentang Pak Kani terus menerus?” Asiyah berucap pelan.


Menaruh berkas-berkas itu di dadanya. Digenggamnya erat. Berdegup lagi jantung hatinya.


Seketika Asiyah mendapatakan ide. Asiyah pura-pura sakit perut. Harus segera ke toilet. Mendesak. Asiyah meminta tolong pada Rima untuk menggantikannya menemui Pak Kani. Tentu dengan senang hati Rima membantunya.


Rima tidak tega melihat raut wajah Asiyah yang pucat, sepertinya Asiyah benar-benar sedang sakit perut, pikir Rima.


Walau ternyata. Asiyah pucat karena ketakutan untuk bertemu dengan Pak Kani. Biarlah Rima mau berpikir apa tentangnya, yang jelas hari ini dapat terlewatkan dengan aman, alhamdulillah..


 


Satu pekan berlalu.


 


“Mmm.. Asiyah, nanti Kamu tolong temani Pak Kani untuk mengecek lokasi promo kita yaa, kebetulan Pak Kani punya rekomendasi lokasi yang bagus dan cocok untuk kita, Dia butuh Kamu untuk mempersiapkan semuanya, bantu Dia yaa..” perintah Pak Kasrun pagi itu.


 


“Nanti habis jam makan siang kamu langsung saja ke parkiran, Dia sama sopirnya menunggu di mobil,” sambung Pak Kasrun.


 


“Iya Pak,” jawab Asiyah setelah sekian menit kaget dengan perintah ini. Terdiam.


Lagi.. lagi-lagi Dia akan bersama dengan Pak Kani di dalam mobilnya, bertiga, yaa bertiga lagi dengan sopirnya. Ya Allah apa lagi yang akan terjadi ini. Kenapa harus Pak Kani? Kenapa harus Dia lagi, Dia lagi. Masih terbayang dalam


pikirannya waktu itu, istri Pak Kani yang berurai air mata di hadapannya memohon padanya, memelas dengan kepasrahannya akan kelembutan hati Asiyah untuk keluar dari lingkaran rumah tangganya.


 


Dengan mengumpulkan segenap keberanian Asiyah mencoba menjalankan tugasnya siang ini dengan baik. Kali ini tidak bisa digantikan oleh Rima, Rima sedang disibukkan dengan pekerjaannya, Rima tidak mungkin bisa membantunya.


 

__ADS_1


Di sepanjang perjalanan, di dalam mobil Pak Kani, mereka tidak membahas apapun. Tiba-tiba, “Apa kabar Asiyah? Kita bertemu lagi yaa.. hhhhh.. sepertinya takdir memang menginginkan kita berjumpa, bagaimana? Apa Kamu mau menjadi istri ke dua Saya?” ucap Pak kani, tanpa basa-basi.


Asiyah hanya diam. Menundukkan kepalanya di kursi belakang. Asiyah gugup sekali sebenarnya. Benarlah dugaannya sebelumnya, kejadian di masa lalu terulang lagi.


“Yaa Saya sudah tahu jawaban Kamu, tidak mungkin Kamu mau menikah dengan Saya dengan cara saya memintamu seperti..” Pak Kani senyum simpul. Melanjutkan ucapannya tadi pada Asiyah.


Asiyah tetap saja tidak memberikan respon apa pun.


 


Satu jam perjalanan. Mereka sampai di lokasi. Lumayan jauh memang dari kantor.


Pak Kani langsung mengajak Asiyah untuk berkeliling mengecek keadaan, kira-kira nanti mau diletakkan di mana banner promo dari perusahaan tempat Asiyah bekerja.


Ternyata memang tempat rekomendasi Pak Kani sangat strategis, sebuah restoran mewah dengan harga menu makanan yang cukup terjangkau, untuk kalangan menengah ke atas, yang benar-benar sangat ramai pengunjung.


Wooww.. Asiyah sempat mencicipi makanan di restoran itu, maa syaa Allah.. ternyata memang cita rasa masakannya lah yang menjadi magnet bagi para pelanggan. Wajar saja kalau restoran itu ramai sekali.


 


Hari ini mereka belum mengadakan pembicaraan dengan pemilik tempat. Hanya mengecek lokasi saja, kata Pak Kani begitu, nanti kalau kira-kira cocok baru lah nanti akan diadakan pertemuan.


 


“Mmm.. Asiyah, bisa tolong ambilkan tas Saya di dalam mobil?” ucap Pak Kani dengan gaya profesionalnya sambil mengambil gambar tiap sudut lokasi untuk dijadikan referensi yang akan diserahkan pada Pak Kasrun nanti via WA.


 


 


Sesampainya di mobil.. “Loh kok pintu mobilnya tidak terkunci? Ke mana Pak Sopir?” ucap Asiyah pelan. Merasa sedikit kaget, heran. Dicarinya di kursi depan mobil, tempat Pak Kani duduk tadi, ada. Tas itu ada di sana. Dibawanya segera pada Pak Kani.


 


Tiba-tiba..


 


“Toloongg.. tolonngg..” suara teriakan Pak Sopir mengacaukan aktivitas di restoran siang itu.


Pak Kani dan Asiyah segera menuju ke parkiran, menghampirinya.


 


“Ada apa ini?” tanya Pak Kani pada Pak Sopir.


 


“Cincin emas untuk istri Saya hilang Pak, Saya menaruhnya di sini tadi, cincin itu sangat berharga bagi Saya Pak, sekarang sirna sudah harapan Saya untuk memberikan kejutan pada istri Saya,” ucap Pak Sopir dengan gaya paniknya. Sedih sekali tampak guratan wajahnya. Kecewa.

__ADS_1


Pak Sopir berkali-kali menunjukkan tangannya pada box depan mobil, tempat di mana Ia meletakkan cincin itu.


Kerumunan orang telah tercipta. Mereka semua penasaran dengan apa yang terjadi.


 


“Siapa yang terakhir kali masuk ke mobil?” tanya Pak Kani tegas.


 


“Saya Pak, tetapi tadi memang Saya masuk ke mobil dalam keadaan mobil tidak terkunci dan Pak Sopir juga tidak ada,” jawab Asiyah segera.


 


“Baiklah.. kalau begitu, mari kita geledah tempat ini, dimulai dari mobil ini dan kemudian Kamu Asiyah, jika kita tidak menemukannya juga biar nanti cctv yang akan berbicara, siapa pun pelakunya akan ditindak tegas sesuai hukum yang berlaku di negara kita!” tegas Pak Kani lagi.


 


Pihak keamanan restoran segera mengambil langkah cepat. Mereka menggeledah mobil, tidak menemukannya. Mereka menggeledah Pak Sopir, mana tahu Pak Sopir sendirilah yang menyimpanny. Tetap tidak ada.


Kemudian giliran Asiyah yang digeledah.


“Ddddduuuarrr..”


Bak gunung meletus. Seperti badai menghampirinya, menggulung-gulungnya di dalam angin ****** beliung. Asiyah benar-benar syok..


“Tidak mungkin Pak.. Saya tidak mungkin mencuri, ini semua fitnah! Ini fitnah!”


Cincin itu ada di dalam tasnya.


 


“Ini sudah ada buktinya Asiyah! Mau mengelak ke mana lagi Kamu?! Kamu akan Saya laporkan ke kantor polisi, Kamu harus mempertanggungjawabkan semua ini! Saya juga akan melaporkan kejadian ini pada atasan Kamu di kantor agar Kamu dipecat! Saya tidak mungkin membiarkan seorang kriminal seperti Kamu berkeliaran tanpa membuatmu jera sebelumnya,” Pak Kani tampak sangat marah.


 


Asiyah menangis. Terus membantah tuduhan yang ditujukan padanya. Sepanjang perjalanan ke kantor Polisi hanya air mata yang terus mengalir.


Sudahlah percuma saja Asiyah mau berkata-kata, cincin itu benar-benar ditemukan di dalam tasnya. Tega sekali mereka yang memfitnah. Terbayang seketika wajah Umi dan adik kembarnya di rumah yang menunggunya pulang kerja dengan membawa kabar baik. Entah itu makanan kesukaan mereka atau cerita-cerita lucu tentang banyak hal yang membuat mereka semua tertawa.


Kini.. Asiyah harus bagaimana? Tidak mungkin


memberitahukan pada mereka kalau Asiyah kini akan dijebloskan ke dalam penjara karena kasus pencurian. Betapa sedihnya Ali dan Aisyah. Betapa malunya Umi.


Yaa.. Allah.. tolong Asiyah ya Allah..


 


Sesampainya di kantor polisi, Asiyah semakin kaget, ada banyak wartawan media yang telah menunggu untuk mendapatkan berita hangat. Ternyata kini Asiyah lah yang akan menjadi bahan berita kasus kriminal di surat kabar.

__ADS_1


Tidak butuh waktu lama, berita ini akan diterbitkan pekan depan, begitu Asiyah mengetahuinya dari desas desus mereka berbicara. Asiyah seketika menjadi terkenal. Terkenal sebagai gadis cantik pencuri.


Wajah cantiknya yang berbalut hijab tersebar di mana-mana. Semua mata yang melihat wajah cantiknya menyayangkan hal ini. Para pembaca tidak menyangka, begitu cantiknya Asiyah, mengapa bisa melakukan hal seperti ini? Mereka menerka-nerka.


__ADS_2