
"Alhamdulillah Ali, akhirnya Kamu pulang juga, maafkan Kakak yaa, besok Kakak belikan ice cream yaa untuk Ali saat pulang sekolah," ucap Aisyah saat memeluk Ali. Lembut. Serak suaranya karena menangis.
Sungguh Aisyah sangat merasa bersalah pada Ali. Walaupun memang mereka berdua adalah kembar, tapi sifat dan karakter mereka berdua sangatlah berbeda. Aisyah lebih terlihat memahami keadaan, sementara Ali kentara sekali jiwa kanak-kanaknya.
"Yaa sudah, yaa sudah, Aisyah, yang terpentingkan sekarang Ali nggak apa-apa kan Nak, Aisyah nggak perlu sedih lagi yaa," ucap Umi pada Aisyah lembut. Berbicara di antara kedua anak kembarnya itu.
Ali memeluk Aisyah kembali.
"Iya, nggak apa-apa kok Kak, ini Ali habis makan ice cream rasa cokelat, buaaannyaakk sekali, tadi Ali dibelikan oleh om-om ganteng saat pulang sekolah," jelas Ali.
Aisyah melepaskan pelukannya pada Ali. Perlahan.
"Ali, lain kali jangan mau diajak sama orang yang nggak di kenal yaa Nak, yaa walaupun nanti ada orang yang kenal ngajakin Ali pergi, Ali tetap nggak boleh pergi tanpa izin dari Umi, tanpa izin dari Kak Asiyah, yaa Nak," jelas Umi, menasehati Ali dengan penuh kelembutan. Umi menatap wajah Ali. Dilihatnya anak laki-laki satu-satunya itu begitu polos.
"Kita tidak tahu niat orang-orang ngajakin Ali pergi, entah mereka berniat jahat, atau pun baik, kita tidak tahu Nak, kalau ada yang maksa, Ali minta pertolongan pada orang-orang di sekitar Ali yaa, teriak saja yang kencang yaa Nak," sambung Umi. Umi memberikan senyuman keibuannya pada Ali. Agar Ali cepat memahami. Agar Ali tidak merasa tertekan.
"Iya Umi, Ali janji, tidak akan mengulanginya lagi, Ali tahu, Umi, Kak Asiyah dan juga Kak Aisyah pasti cemas dengan kepergian Ali tadi, Ali minta maaf yaa," Ali tertunduk. Kini rasa bersalah itu pun tampaknya mulai muncul dari dalam hati Ali.
Apalagi setelah melihat Kak Asiyah yang sedari tadi memandanginya.
Asiyah memandangi sosok adik laki-laki gempalnya yang berkopiah putih itu. Berseragam sekolah seperti seragam sekolah anak-anak di sekolah Islam Swasta pada umumnya.
Perasaan Asiyah terasa seperti gado-gado saat melihat kemunculan Ali secara tiba-tiba. Antara bersyukur Ali sudah pulang, panik yang masih tersisa dan juga rasa geli karena betapa lucunya Ali dengan seragam putih penuh noda ice cream berwarna cokelat. Pasti Ali menyantap ice creamnya dengan sangat lahap.
Sepertinya lelaki yang membawa Ali pergi tadi adalah laki-laki yang baik, penyuka anak-anak. Yaa bagaimana tidak, Ali adalah seorang anak yang gampang kesal terhadap sesuatu, tetapi laki-laki itu bisa membuat Ali nyaman dengannya. Pikir Asiyah, yang mulai melayang-layang ke mana-mana.
"Ali tahu siapa om-om itu?" sela Kak Asiyah cepat pada Ali saat Ali melihat wajahnya.
__ADS_1
"Ali sepertinya pernah melihatnya Kak, tapi Ali lupa, oo iya Kak, katanya, Dia temannya Kak Asiyah," jelas Ali.
"Siapa? Teman Kakak? Laki-laki? Sepertinya Kakak tidak memiliki teman dekat seorang laki-laki, apalagi yang sampai berani mengajak Ali jalan-jalan seperti ini, sampai menjemput Ali ke sekolah lagi," jelas Asiyah. Bingung.
"Jadi siapa yaa?" Ali heran. Terdiam. Melihat wajah Umi, Kak Asiyah dan Kak Aisyah secara bergantian. Bertanya di dalam hatinya.
Pembicaraan ini pun berlalu. Semuanya sudah tenang. Aisyah tak menangis lagi. Ali merasa lega karena telah memakan ice cream yang banyak. Umi pun tak mau ambil pusing dengan kejadian ini, biarlah yang terjadi kali ini menjadi pembelajaran saja untuk Ali, begitu pikir Umi.
Sementara Asiyah. Masih berpikir tentang siapa lelaki yang mengaku menjadi temannya kepada Ali? Lancang sekali caranya dengan menipu anak kecil seperti ini.
Seperti bermain kucing-kucingan saja rasanya. Kali ini Asiyah harus berjalan meraba-raba di dalam kebutaannya dalam menerka siapa dalangnya.
Entah cinta yang menerornya, atau kah sebenarnya hanya lah wujud dari sebuah emosi yang belum jelas arahnya.
Malam ini, terasa sangat sunyi. Asiyah istirahat dari lelahnya bekerja. Pulang cepat kali ini. Tidak mau ke mana-mana. Langsung saja pulang ke rumah.
"Hhhhhhh.. Subhanallah, lelah sekali rasanya," ucap Asiyah, seraya merebahkan tubuhnya di atas kasur empuk kamarnya.
Berbaring telentang. Tangannya tersusun rapi di atas badannya. Matanya menatap langit-langit kamarnya. Asiyah termenung.
"Ya Allah, apa mungkin ini semua adalah sinyal-sinyal pertanda dariMu, bahwa sudah saatnya dan seharusnya hamba untuk segera menikah? Apa ini semua merupakan penggerak diri hamba agar segera mencari pasangan hidup? Atauu.." Asiyah berbicara pelan.
Entah apa ini. Tiba-tiba saja keluar dari mulutnya pertanyaan-pertanyaan ini ?
"Astaghfirullah, usiaku memang sudah tak muda lagi, seharusnya Aku sadar akan hal ini, memang sudah saatnya untukku mencari pasangan hidup, lagipula semua kebutuhan Umi dan adik-adikku sudah Aku persiapkan, Umi juga sudah memiliki beberapa usaha yang terbilang maju," Asiyah diam sejenak di tengah ******* bisikan pada dirinya sendiri.
"Ya Allah, Aku harus memulainya lagi, proses ta'aruf," Sambung Asiyah. Sepertinya penuh dengan kekecewaan kali ini.
__ADS_1
Tiba-tiba Asiyah bangkit dari pembaringannya. Ia duduk. Tangannya memegang pinggiran kasur. Kakinya menjuntai ke lantai. "Tapiiii, siapa lelaki yang menerorku selama ini? Aku masih sangat penasaran dengan sosoknya."
Sambil mengganti pakaiannya Asiyah tetap saja berpikir.
Beberapa menit berlalu. Air rendaman di bathtub telah siap. Yaa saat baru masuk kamar tadi Asiyah sendirilah yang menyiapkan semuanya. Asiyah hendak mandi berendam air hangat di kamar mandi. Ini memang sudah menjadi kebiasaan Asiyah saat pulang ke rumah, setelah sekian lama berlelah-lelahan bekerja di luar rumah.
Memasuki kamar mandinya.
Handuk kimono itu disangkutkan di gantungan pakaian sebelah pintu. Asiyah melepaskan pakaiannya.
Air ini terasa begitu hangat. Dengan taburan garam mandi, juga dengan campuran bubuk mandi susu, agar kulit Asiyah semakin putih dan bersih. Jelas merileksasikan tubuhnya dengan sedikit aroma air mawar yang ditumpahkan ke dalam bathup sebelumnya.
Hhhhhhh.. Asiyah menghela nafasnya. Kini Asiyah tengah berada dalam perendaman tubuhnya.
Tentu tidak ada yang melihat tubuh cantik Asiyah ketika tak berbusana. Tak terkecuali jin sekalipun. Bagaimana tidak, ketika hendak melepaskan pakaiannya, juga saat melangkahkan kaki kirinya ke dalam kamar mandi, tidak lupa rutinitas wajib menyebut nama Allah selalu dilakukannya, juga beserta do'a-do'a singkat yang dipelajarinya.
Dari berbagai ustadz dan ustadzah lah Asiyah banyak mengetahui tentang hal-hal yang menerangkan hadits tentang perintah berdo'a kepada Allah agar tubuhnya tidak dapat terlihat oleh pandangan mata jin, serta hikmah-hikmah yang terkandung di dalam hadits tersebut.
Wajahnya menghadap ke langit-langit kamar mandi. Asiyah kembali merenung.
"Aku tidak akan pernah menikah jika hanya berdiam diri seperti ini, bukan pacaran, mungkin kali ini Aku akan mencari seorang wasilah yang terpercaya untuk mencarikanku pendamping hidup."
Asiyah diam.
"Tapiiiii, siapa lelaki itu?"
"Aahhhh sudahlah.. lupakan saja," sambung Asiyah cepat. Memutuskan tali pikirannya tentang lelaki misterius itu seketika.
__ADS_1
Sepertinya Asiyah tidak ingin terlalu keras menyita pikirannya akan hal-hal yang memang sulit Ia mengerti. Sebuah teka-teki yang membuatnya pusing.