
Tetesan air mata itu terus saja jatuh. Sulit dimengerti memang bagi Asiyah. Rencana apa yang telah Allah persiapkan untuk dirinya di depan sana. Hikmah apa yang sebenarnya sedang tersembunyi di balik ujian rumah tangganya ini. Asiyah tak hentinya berhusnudzon kepada Allah akan cerita akhir yang penuh hikmah.
Hatinya terus bertanya-tanya dalam kesakitan. Mengapa jodohnya adalah Pak Sendi yang dikirimkan oleh Allah? Mengapa bukan Ashar? Atau.. mengapa bukan lelaki lain yang lebih lembut hati dan perlakuannya terhadap istrinya.
Jauh sekali dari yang Asiyah bayangkan. Pak Sendi begitu buruk tabi'atnya. Semua ini terbuka setelah segala kekurangan Asiyah tampak ke permukaan. Mulai dari sulitnya Asiyah mendapatkan keturunan, hingga permasalahan ekonomi rumah tangga yang membelit mereka.
Mulailah Asiyah berpikir, jangan-jangan memang selama ini ketulusan menikahi Asiyah tidak lah pernah ada pada diri Pak Sendi.
Atau memang ini adalah saatnya Allah membuka kekurangan Pak Sendi di hadapan Asiyah, ketika Allah juga memberikan kelemahan kepada Asiyah? Sehingga akan tampak lah makna dari sebuah pernikahan. Mampukah kita untuk saling bertahan dan terus berjuang di dalam biduk yang tak sempurna ini. Yang butuh untuk saling menambal kekurangannya satu sama lain. Apakah kita mampu untuk ridho menjalaninya?
Terus berputar-putar pikiran Asiyah.
Hari ini Umi mendadak datang ke rumah Asiyah, sendirian. Aisyah dan Ali pergi ke sekolah.
Agaknya berbekal perasaan saat Ia datang siang itu. Naluri seorang Ibu tidak lah dapat diingkari. Perasaan itu sangat lah kuat.
Pagi-pagi sekali. Tepat satu jam setelah mengantarkan Aisyah dan Ali ke sekolah. Pukul 08.00 pagi.
"Assalamu'alaykum.." Berkali-kali ucapan salam itu diucapkan oleh Umi dari depan pintu.
Rumah Asiyah tampak sangat sepi. Padahal bel rumah juga sudah di bunyikan. Dan juga biasanya ada saja ART yang langsung membukakan pintu rumah untuk Umi.
"Wa'alaykumussalam.." Asiyah segera membukakan pintu rumah. Buru-buru. Berlarian dari kamarnya yang berada di lantai atas. Agak tersengal nafasnya.
Asiyah baru saja membereskan rumahnya yang berada di lantai atas. Secepat mungkin di singkirkannya kain lap yang menempel di pundaknya. Sapu dan kain pel yang berada di genggamannya juga segera di hempasnya ke belakang dapur. Tak lupa ember dan cairan pembersih lantainya.
"Lohh Nakk, kenapa Asiyah yang membukakan pintunya? Mbak-mbak pada ke mana? Sepi sekali rumah ini?" tanya Umi. Heran. Curiga.
"Hhmm.. Iya Mi, ituu.. ARTnya sudah nggak menginap lagi di rumah ini Mi, mereka semua kerjanya cuma di siang hari saja," jelas Asiyah. Gugup. Berusaha menyembunyikan keadaan yang sebenarnya.
Asiyah terdiam sejenak dalam lamunannya. Berdiri menatap kosong dinding rumahnya yang berada di belakang pundak Umi.
__ADS_1
Asiyah teringat akan sikap Pak Sendi beberapa hari yang lalu. Saat itu Pak Sendi sendiri lah yang memutuskan pekerjaan seluruh ARTnya di rumah. Dan digantikan oleh Asiyah. Walau Asiyah sebenarnya juga heran pada suaminya, karena mobil miliknya telah dijual untuk dibagi dua uangnya dengan Mama, untuk dibelikan dua buah mobil yang baru. Tetapi mengapa, pengeluaran keuangan untuk gaji ART tetap saja dipangkas?
Tapi ya sudah lah. Asiyah tidak ingin menyinggung perasaan suaminya dengan banyaknya pertanyaan tentang keuangan ini. Pak Sendi telah bekerja keras di luar sana demi menghidupi Mama dan adiknya, juga Asiyah. Asiyah lagi-lagi terus berusaha berpikiran positif. Ia akan terus menjalani rumah tangganya sesuai alurnya hingga batas kemampuannya berakhir.
"Loh, tapi kan ini masih pagi Nak? Cepat amat pulangnya mereka," tanya Umi lagi. Semakin Curiga.
Umi segera pergi ke dapur memeriksa keadaan. Mengetahui sepertinya memang ada sesuatu yang tidak beres dengan anaknya.
Dan ternyata apa yang di dapatkan oleh Umi? Piring kotor masih banyak yang belum tercuci. Pakaian kotor masih menumpuk di atas mesin cuci. Lauk pauk serta makanan lainnya belum juga tersedia. Bahkan rumah ini terlihat masih berantakan.
"Suamimu ke mana?" tanya Umi menatap Asiyah. Agak marah pandangannya.
"Sudah berangkat ke lokasi shooting tadi pagi Mi," Asiyah menyadari tatapan Umi itu. Asiyah tahu, Ia tak pernah dapat membohongi Umi, meskipun hanya sekedar menutupi keadaan seperti ini.
"Oohh bagus lah kalau begitu," jawab Umi.
Umi segera melangkahkan kakinya lagi. Berkeliling rumah. Didapatinya taman depan rumah juga belum dibereskan. "Astaghfirullah.." ucap Umi pelan. Dengan nada kesedihan penuh amarah.
Asiyah tak kuasa menahan Umi. Asiyah bingung harus berbuat apa. Ia berusaha menutupi aib suaminya, aib rumah tangganya. Tapi Umi lebih cepat bergerak dari perkiraannya.
Umi membuka pintu kamar Asiyah. Di lihatnya sekeliling. Semua baik-baik saja. Tampak bersih dan rapi. Beruntung Asiyah baru saja membereskannya.
Asiyah menghelas nafas. Lega.
Tiba-tiba mata Umi tertuju pada meja rias. "Astaghfirullah.." ucap Umi pelan. Kemudiam Umi segera beranjak ke kamar mandi. "Astaghfirullah.."
Dugaan Umi benar. Tak ada satu pun alat perawatan kecantikan untuk Asiyah di kamar ini. Hanya ada sabun, shampo dan, pasti gigi biasa untuk Asiyah. Pantaslah anak perempuan sulungnya ini terlihat sangat jauh dari sebelum Ia menikah.
Terakhir, sebelum keluar dari kamar itu, mata itu tertuju pada pakaian yang di kenakan oleh Asiyah. Subhanallah.. tak sepantasnya seorang istri pemilik sebuah manajemen artis yang sukses, berpenampilan seperti ini.
"Umi..? Umi mau ke mana lagi?" tanya Asiyah yang mengikuti Umi secepat kilat keluar dari kamarnya.
__ADS_1
Umi hanya diam. Melangkahkan kakinya dengan cepat. Secepat Ia mengusapkan air matanya yang menetes dipipi tua itu. Menuju garasi rumah.
Asiyah semakin gugup. Mobilnya tidak ada lagi di dalam garasi itu. Apa yang harus Ia katakan pada Umi tentang mobilnya?
Dan benarlah. Mobil Asiyah tidak ada di dalam garasi.
Ponsel Asiyah seketika berbunyi di dalam kantong bajunya.
Ternyata telepon dari Pak Sendi.
Asiyah berusaha berlari jauh dari hadapan Umi. Tak ingin pembicaraannya dengan Pak Sendi di dengar oleh Umi.
Secepat kilat pula Umi menahan Asiyah untuk tetap menelepon di sisi Umi. Di genggamnya lengan Asiyah, kuat.
"Loudspeakerkan telepon itu!!" Umi terlihat sangat marah.
Asiyah pucat. Takut semuanya semakin berantakan, jika Umi mengetahui semuanya.
"Assalamu'alaykum Abang.." gemetar suaranya mengangkat telepon itu.
"Wa'alaykumussalam Sayang, Sayangg mobil kamu sudah terjual, harganya tidak terlalu jauh turunnya, masih di angka 2 Milyar lebih sayang, teman Abang yang membelinya, Dia sangat senang sekali bisa memakai mobil bekas Kamu," jelas Pak Sendi tanpa jeda.
"Oo yaa makasih yaa Sayang sudah mengabulkan permintaanku untuk menjual mobil Kamu demi Mama, uangnya langsung di bagi dua saja sama Mama yaa Sayang, terus besok siang kita cari langsung dua buah mobil untuk Kamu dan Mama," sambung Pak Sendi lagi, dengan cepatnya mengungkapkan rasa terima kasihnya pada Asiyah. Ucapan itu sangat lah jelas.
Umi yang mendengar ucapan itu terlihat semakin kesal. "Tutup telepon itu?!" suruh Umi pada Asiyah, cepat.
Umi menarik ponsel Asiyah. Merebutnya. Terdengar suara Pak Sendi yang memanggil Asiyah pada telepon dalam genggaman tangan Umi, " Saayangg, halloo.. Sayangg, Kamu lagi ngapain?" segera Umi menutup telepon itu.
Asiyah tak kuasa menahan gerak Umi.
Tak disangka. Belum lah Umi bertanya tentang mobil Asiyah, ke mana perginya? Tapi jawaban itu malah datang sendiri padanya, langsung di hadapannya, melalui sumbernya.
__ADS_1