Asiyah Akhir Zaman

Asiyah Akhir Zaman
Tragedi Kuah Rendang


__ADS_3

Berdiri di depan restoran.


Mereka berjejer memandangi gedung makan dua lantai yang berlapiskan kaca bening yang tebal itu. Cukup luas tempatnya.


Tampak jelas kemilau cahaya berwarna kuning dari sisi luar restoran. Banyak lampu-lampu yang berbentuk bunga sakura di dalamnya yang memancarkan sinar berwarna kuning orange. Mewah sekali, maa syaa Allah.


Ini adalah restoran ke dua masakan Indonesia yang akan mereka masuki di negara Korea Selatan ini.


Asiyah dan Umi membaca tulisan di depan restoran itu. "Masakan Indonesia Terlengkap dan Ternikmat," dalam dua bahasa, yaitu bahasa Indonesia dan bahasa Korea.


Sementara Aisyah dengan tas kecil Mickey Mouse di punggungnya mengepal tangan kiri Umi dan Ali juga mengepal tangan kanan Umi dengan tas kecil Ultraman di punggungnya.


Caca sibuk memotret sekeliling mereka dengan kamera andalannya, juga dengan tas kecil milik Asiyah yang dibawanya ke mana-mana.


Cita bersikap santai. Ia membawakan tas milik Caca, kali ini mereka berdua tidak serepot biasanya. Barang bawakan Cita dan Caca disatukan saja, biar tidak terlalu banyak barang yang digandengnya ke mana-mana.


"Bismillah yaa Mi, kita coba makanan di sini, mudah-mudahan masakannya enak," ucap Asiyah pada Umi.


"Iya Nak, in syaa Allah enak, apa pun makanannya in syaa Allah enak, yang penting bersih dan sehat yaa Nak, iyaa kan Aisyah, Ali.." jawab Umi seraya mengajarkan kedua anak kembarnya untuk mensyukuri apa pun makanan yang mereka dapati.


Langkah kaki mereka satu persatu mulai menapakkan jejaknya di pintu masuk restoran.


Selangkah, dua langkah, tiga langkah.


"Bagus banget ya Allah," seketika Cita memasuki ruang tengah restoran dan berucap spontan kala menatap ke sekeliling desain interior restoran ini.


"Setuju nih Cit, iya bagus bangettt yaa, maa syaa Allah, berasa di dalam gedung apa gitu, berkilau banget lampu bunga sakuranya, mana besar-besar banget lagi kelopak bunganya," sambung Caca mengucapkan apa yang Ia pikirkan tentang ruang makan ini.


Cekreekkk.. cekreekkk.. kamera Caca tak hentinya menjepret keindahan yang ditemuinya.


Layaknya Caca, Asiyah juga tak mau kalah sejak awal liburan di sini. Kamera Asiyah seperti tak mengenal lelah dalam menjalankan tugasnya memuaskan hasrat tuannya. Kamera itu pun bak telah menemukan tempat ternyamannya pada bagian tubuh perempuan berparas teduh itu, yaitu bergelantungan di leher Asiyah.

__ADS_1


Kemewahan yang disuguhkan pun tampak tak melupakan tanah kelahiran sang pemilik, Provinsi Sumatera Barat. Yaitu yang biasa mereka sebut orang Minangkabau.


Desain interior restoran dirancang sedemikian rupa dengan menyatukan dua budaya. Budaya negara Indonesia dan budaya negara Korea.


Banyak ornamen yang menggambarkan kota kelahiran sang pemilik restoran. Jam Gadang. Rumah Gadang. Bahkan Patung Malin Kundang yang memiliki cerita kontroversial hingga saat ini pun terpajang indah dalam bentuk replika di sebuah ruangan kecil yang berpagarkan kaca tebal yang bening. Sehingga ke indahannya dapat tetap terjaga di dalamnya.


Yaa bagi siapa saja yang mau berpose dengan patung itu secara eksklusif tentu akan dikenakan biaya masuk sesuai dengan peraturan yang ada di restoran. Hitung-hitung untuk biaya perawatan lah.


"Umi, Asiyah penasaran banget deh Mi, sama perempuan hebat yang punya restoran ini, kalau nggak salah waktu itu Asiyah pernah baca profilnya di internet, sama pernah juga Asiyah nontonin acara wawancaranya gitu tentang Dia di youtube Mi," ucap Asiyah seraya menengokkan arah pandangan matanya, mencari meja makan yang kosong dan ternyaman untuk mereka tempati.


"Maa syaa Allah, jadi yang punya restoran ini seorang perempuan Nak," Umi terkejut dibalik kekagumannya.


Asiyah mengedipkan kedua matanya pada Umi, menganggukkan kepalanya, mengiyakan pertanyaan Umi barusan.


"Mbak di sana ada tempat kosong, di sudut sana, yang lesehan," ucap Cita seketika memberikan masukan pada Asiyah seraya menunjukkan ujung jari lentiknya.


"Gimana Mi, bagus kan di sana?" sambung Cita bertanya pada Umi.


"Iya iya bagus juga itu Nak, ayok ayok," jawab Umi seraya menganggukkan kepalanya.


Asiyah, Cita, Umi, Ali dan Aisyah telah duduk rapi di meja lesehan itu. Tak ketinggalan seorang wanita penerjemah bahasa itu, bernama Yuna.


Meja lesehan itu diletakkan di dalam sebuah pendopo seperti pondok-pondok kecil. Di sekeliling pondok itu terdapat replika bambu-bambu hijau yang terbuat dari bahan plastik. Dinding pondok yang didesain seperti jeruji penjara namun berbentuk persegi yang diberi cat minyak berwarna kuning tua.


Dengan lampu yang redup berwarna orange keemasan, suasana remang-remang yang hangat tercipta senada dengan lantai duduknya yang dibuat seperti layaknya rumput hijau, yaa tentunya terbuat dari plastik juga. Nyatanya memang terlihat lebih natural. Cukup satu meja panjang berukuran kira-kira satu setengah meter saja yang terdapat di dalam pendopo itu.


Pendopo yang sengaja dibuat terpisah jauh letaknya dari kursi restoran yang biasa. Memang didesain spesial untuk mereka-mereka yang spesial. Misalnya untuk acara keluarga, agar moment kumpul-kumpul lebih santai. Atau untuk acara lainnya agar rasa kekeluargaan bisa lebih terasa saat berada di dalam restoran ini.


Sementara mereka semua telah berada di pendopo hangat itu. Seperti ada yang kurang dalam pandangan mata Cita. Hingga akhirnya Ia menyadari bahwa rekan kerjanya yang satu itu telah menghilang dari sisinya. Caca, Caca di mana?


Ceekkrekk.. cekreekkk..

__ADS_1


Di tengah-tengah restoran mewah itu Caca tampak sangat asik memotret segala macam ornamen dua budaya yang terdapat di setiap sudut dindingnya. Saking asiknya Ia sampai lupa dengan teman-teman yang lainnya.


Memegang kamera di tangannya. Tiap sorotan matanya masih tertuju pada titik fokus kamera. Mengeker setiap objek menarik yang dilihatnya. Melangkahkan kakinya kebelakang. Caca berjalan mundur perlahan. Satu langkah, dua langkah, tiga langkah.


Caca membalikkan badannya dengan cepat.


Byaaarrrrr...


Plentangggg.. plenttiiinngggg..


Gubraakkk.. gedebraakk..


Seketika pakaiannya dipenuhi dengan kuah gulai beku berwarna coklat tua. Kuah rendang yang kental dan berminyak kemerahan.


Piring keramik itu seketika terjatuh dan pecah. Lantai mewah itu pun mencicipi rasa kuah rendang yang mengalir di atasnya. Hhhhmmm.. licin sekali.


"Astaghfirullah.. ya Allah, " ucap Caca, seraya melihat ke arah bawah tubuhnya. Subhanallah kotor sekali. Dipenuhi Kuah rendang yang berminyak. Uupss, ternyata tak hanya kuahnya saja, ada daging sapi rendangnya yang tersangkut di sela-sela kerudungnya di bagian dada.


Caca melihat ke sekelilingnya. Seketika tersadar bahwa Ia telah sendirian. Ke mana teman-temannya?


Ternyata suara berisik yang timbul dari hempasan piring rendang tadi telah memancing perhatian semua orang yang berada di dalam restoran. Termasuk perhatian Asiyah dan yang lainnya di pendopo lesehan.


"Nah, itu Caca.. ada apa yaa di sana? Berisik sekali kayaknya?" ucap Cita pada Asiyah dan yang lainnya.


Cita melambaikan tangannya pada Caca yang tampak clingak clinguk mencari keberadaan teman-temannya.


"Tolongin doonngg," Caca berdiri terdiam pada pijakan kakinya. Memanggil Cita dengan isyarat bibirnya. Tidak mau berteriak, karena hanya akan menambah rasa malunya saja setelah berlumuran lauk daging itu.


Cita segera menghampiri Caca. Berjalan menuruni tangga pendopo. Seperti telah mengerti apa yang sedang terjadi pada diri temannya itu. Pasti telah terjadi sesuatu yang tidak beres lagi nih, pikir Cita.


Berdiri di sebelah Caca. "Subhanallah Caca, Kamu lagi ngapain sih? Nggak puas apa mandi pakai sabun mandi? Mesti mandi pakai rendang juga? Yaa ampuunn, malu-maluin deh, mana nggak ada baju ganti lagi kan," ucap Cita pelan. Beruntun. Heran sekali dengan ulah temannya itu.

__ADS_1


"Ya sudah sih yaa Cit, temannya lagi kena musibah juga, beliin baju ganti dong sebentar, pleaseee," ucap Caca, sedikit merasa kesal dengan ucapan Cita.


Cita menatap Caca dari ujung kaki sampai ujung kepala. Masih merasa heran. Terdiam. Lalu menggeleng-gelengkan kepalanya.


__ADS_2