
"Bismillahirrahmanirrahim, satuu, duaa, tigaa," ucap Asiyah. Mengambil posisi siap bersama Caca dan Cita.
Eeerrrggghhh.. eeerrrgghhh.. mereka bertiga mengerang. Dua kali, tiga kali dicoba. Langkah kaki mereka tak bergerak maju. Terus dicoba. Pantang menyerah.
"Alhamdulillah ya Allah," mereka mengucapkan rasa syukur itu secara bersamaan. Kompak betul ucapan itu. Sedikit keras volume suaranya terdengar di tengah hutan yang sepi. Akhirnya, Ban mobil itu dapat naik juga ke permukaan tanah yang rata pada hitungan ke empat. Langkah kaki mereka bergerak maju dengan cepatnya.
"Ayooo, sedikit lagi mobil ini akan kembali ke jalan," ucap Asiyah dengan intonasi perintahnya.
"Siaapp Mbak," jawab Caca.
Cita menganggukkan kepalanya.
"Bismillahirrahmanirrahim, satuu, duaa, tigaa," ucap Asiyah lagi. Memberikan aba-aba. Kali ini agak keras.
"Alhamdulillah......." mereka bertiga berucap lagi dengan kompaknya. Kali ini usaha mereka membuahkan hasil.
Kini mobil itu sudah berada pada lintasannya.
"Ayo kita istirahat lagi sebentar, lima menit cukup ya?! Setelah itu kita dorong lagi mobil ini sampai di simpang empat sana," ucap Asiyah lagi pada Caca dan Cita.
Caca dan Cita patuh.
Adegan dorong mendorong mobil itu berlangsung kurang lebih satu jam perjalanan. Ada pun mobil yang melewati mereka, hanya berlalu ngebut begitu saja tanpa memperdulikan keberadaan mereka.
Tidak apa-apa lah. Tidak ditolong oleh orang pun dalam satu jam ini, tak apa. Toh mereka bertiga masih dapat bertahan dalam kerasnya malam ini. Lelah? Pasti. Capai? Tentu Iya. Apalagi mereka bertiga memang habis pulang dari bekerja yang juga cukup menguras pikiran dan tenaga.
"Alhamdulillah, Caca, Cita, kita sudah dekat, sepertinya di sana ada rumah makan, ayo! sedikit lagi," ucap Asiyah.
"Mudah-mudahan di sana kita mendapatkan pertolongan ya Mbak, aamiin," ucap Caca.
"Yaa setidaknya kita berada di tempat yang ramai, aman untuk menunggu bantuan hingga matahari terbit, tidak seperti jalanan di depan hutan tadi, sepi sekali," sambung Asiyah.
__ADS_1
"Iya Mbak, apalagi kita bertiga perempuan semua takut juga yaa kalau dirampok atau dijahatin orang-orang nggak jelas gitu," sambung Cita.
Mereka masih mendorong mobil itu. Juga secara bergantian memegang kemudi mobil.
Beruntungnya mereka, alhamdulillah, ini adalah jalanan di tanah datar. Tidak bisa dibayangkan jika mereka harus mendorong mobil pada jalan perbukitan. Subhanallah, mungkin juga mereka tidak akan sanggup melakukan hal itu.
Ssshhhhttttt.. suara rem mobil yang dipaksakan berhenti. Menggema hebat. Sebuah mobil Jeep Rubicon berhenti tepat di depan mobil mereka. Dengan gaya yang sombong memotong jalan mereka. Mendadak.
Kebetulan saat itu adalah giliran Asiyah yang memegang kendali setir mobil. Astaghfirullah, betapa terkejutnya Asiyah, seketika Ia memberhentikan mobilnya.
Sementara Caca dan Cita juga tak kalah dalam kagetnya. Astaghfirullah, ada apa di depan, tanya mereka berdua dalam pikirannya.
Beberapa menit berlalu. Sepertinya mulai ada pergerakan dari dalam mobil itu. Pintu mobil itu pun terbuka. Yaaa, seorang lelaki turun dari mobil berwarna putih itu. Maa syaa Allah, seorang pria tampan. Sepertinya Asiyah mengenalinya.
Dhirgham. Tidak salah lagi. Mau apa Dia berbuat seakan pendekar penyelamat yang sedang menghadang. Asiyah tersadar setelah beberapa detik menatap pria itu.
Tentu saja, rasa lelah yang sangat hebat menjelang waktu subuh ini telah mengacaukan ingatan Asiyah, menghancurkan fokusnya. Wajar saja lah, tubuh itu pun sudah gemetar rasanya. Seperti mengalami tremor di seluruh tubuh. Astaghfirullah.
"Assalamu'alaykum Asiyah, ada apa? Apa yang sedang terjadi? Apa Kamu membutuhkan bantuan Saya?" tanya Dhirgham bertubi-tubi.
"Wa'alaykumussalam Dhirgham, mobil Saya mogok, qadarullah tengah malam tadi Saya menabrak pohon," jelas Asiyah dengan getar lelah pada bibirnya yang seakan cepat terbata-bata dalam berbicara. Asiyah tak dapat menyembunyikan rasa lelahnya, mau tumbang rasanya pijakan kakinya.
"Ya sudah, ya sudah, nanti saja dilanjutkan lagi ceritanya, tunggu sebentar," ucap Dhirgham. Seakan memahami kondisi Asiyah saat ini.
Dhirgham kembali ke mobilnya. Sepertinya mengambil tali tambang. Asiyah memperhatikan saja. Melihat apa yang akan dilakukan oleh pria ini.
Dhirgham mendekati mobil Asiyah lagi.
"Asiyah, asisten Kamu suruh masuk saja ke dalam mobil, biar Saya saja yang mengurus semuanya, akan Saya derek mobil Kamu menggunakan mobil Saya, in syaa Allah nanti kita akan sampai di bengkel mobil terdekat," jelas Dhirgham.
Dhirgham berbicara sambil mengikat-ngikat tali tambang itu. Sibuk sendiri. Dipelintirnya ke sana dan ke mari. Tanpa bantuan Asiyah dan dua asistennya.
__ADS_1
Asiyah hanya memperhatikannya dari balik kemudi mobil. Lalu tersentak dari lamunan kesimanya pada Dhirgham yang begitu telaten dan tampak hebat dengan gaya super heronya tepat di depan matanya.
"Astaghfirullah, hhhhh hampir lupa," ucap Asiyah kala teringat akan nasib Caca dan Cita yang masih berada di belakang mobil dengan posisi tubuh yang membungkuk, menekan mobil bagian belakang, masih sangat siap untuk mendorong mobil.
"Caca, Cita, ayokk masuk ke dalam mobil, ada Dhirgham yang akan menderek mobil kita, pria waktu itu," ucap Asiyah, pelan.
"Siapa Mbak?" tanya Caca, juga pelan suaranya.
"Pria koper," sambung Asiyah lagi. Seperti berbisik hebat.
Persimpangan jalan mungkin masih lumayan jauh. Juga nanti, dari persimpangan jalan itu, mereka harus terus melewati beberapa persimpangan lagi biar bisa sampai pada bengkel mobil terdekat.
Suasana di sekitar mereka masih saja sepi. Subuh belum juga datang. Pepohonan lebat masih menjadi saksi kerasnya usaha mereka malam ini. Termasuk menjadi saksi betapa hebatnya kedatangan Dhirgham yang hadir tanpa aba-aba lalu seakan menerobos rasa lelah di dalam badan Asiyah hingga menghancurkannya menjadi sebuah harapan penyelamatan.
Sungguh benar, bahkan nyamuk pun turut andil dalam terkamannya mengusik ketenangan Asiyah beserta kedua asistennya. Tak luput dari lengahannya, darah mereka telah habis dihisap oleh para vampire kecil itu, demi mengenyangkan perut-perut mereka.
"Ya Allah, gatal banget yaa," ucap Caca sambil menggaruk-garukkan kedua tangannya, lalu wajahnya. Gigitan nyamuk seakan menembus kain yang membalut tubuhnya.
Begitu juga dengan Cita. Sesekali sibuk mengibaskan pakaiannya. Menghalau hewan-hewan kecil yang sedari tadi membuat konvoian keramaian di sekitaran tubuhnya.
Yaa sama halnya dengan Asiyah.
Tiga puluh menit berlalu. Mereka bertiga telah duduk manis di dalam mobil. Dengan Asiyah yang tetap mengendalikan kemudinya.
Walaupun begitu, para nyamuk tetap saja melahap darah-darah mereka dengan seenaknya. Jelas lah, karena memang kaca jendela mobil itu tak mungkin ditutup, karena mesin mobil itu kan mati. Jadi, mereka tidak bisa menghidupkan AC. Bisa mati pengap mereka di dalam mobil, jika tanpa sirkulasi udara yang terbuka.
Mobil Dhirgham tiba-tiba berhenti. Ini persimpangan jalan yang pertama. Tempat yang direncanakan oleh Asiyah tadi untuk menunggu pertolongan bersama kedua asistennya. Yaa walaupun alhamdulillahnya, pertolongan itu Allah kirimkan lebih cepat dan lebih mudah dari perkiraannya.
Allah maha tahu atas segala sesuatu yang tersembunyi. Allah berikan jalan yang berbeda pada Asiyah. Allah gantikan rencana Asiyah dengan pertolongan yang Dia rancang. Allah kirimkan Dhirgham yang entah dari mana datangnya.
Yaa, ternyata persimpangan jalan itu sangatlah sepi. Bahkan lampu jalanan di sekitarnya pun mati. Juga rumah makan yang awalnya akan dijadikan tempat persinggahan sementara, ternyata sudah berubah menjadi gubuk papan reyot tak berpenghuni. Subhanallah, tidak dapat dibayangkan, jika mereka bertiga harus menunggu di tempat yang lebih menyeramkan dari pada tempat pemberhentian mereka yang sebelumnya. Asiyah dan kedua asistennya berucap syukur atas apa yang mereka dapatkan.
__ADS_1
Alhamdulillahilladzi bini'matihi tatimmusshalihat.