
Sejak awal bertemu Asiyah, sikap Pak Kani begitu menggodanya. Berkali-kali hingga saat ini berusaha mendekati Asiyah, menggunakan berbagai cara. Kini uang lagi yang ditawarkannya. Uang dan uang. Terang-terangan sekali tawarannya.
Tiga hari setelah pertemuan Asiyah dan istri Pak Kani waktu itu pun berlalu.
Malam Ahad ini Asiyah berada di rumah.
Tiba-tiba ponselnya berbunyi. Ada WA lagi dari nomor yang tidak dikenal. Asiyah lihat foto profilnya. Jelas sekali ini adalah foto Pak Kani beserta istri dan anak-anaknya.
“Assalamu’alaykum Asiyah.”
Asiyah hanya membacanya, dibiarkannya saja pesan itu.
“Maaf Asiyah, ini Bu Nuri, istrinya Pak Kani.”
Ohh ternyata istrinya Pak Kani. Tadinya, kalau Pak Kani yang mengirim pesan, Asiyah enggan membalasnya. Ada apa ya kira-kira? Asiyah segera membalasnya.
“Wa’alaykumussalam Bu Nuri, Iya Bu, ada apa Bu?”
“Ada hal penting yang mau Saya bicarakan sama Kamu, apa Kamu ada waktu besok siang?"
“Ada hal penting apa Bu, perihal apa ya?”
“Besok Saya jelaskan semuanya, kalau Kamu bisa, kita bertemu saat jam makan siang saja di cafe, sekalian kita makan siang, nanti biar Saya yang bayar semuanya."
Asiyah bingung. Penasaran juga. Ada hal apa yang sebenarnya ingin disampaikan oleh Bu Nuri. Sepertinya penting sekali. Mendesak. Apa ini ada hubungannya dengan Pak Kani?
“Iya Bu, in syaa Allah Saya bisa, besok kirimkan saja di mana lokasi pertemuan kita.”
“Baik Asiyah, terima kasih sebelumnya, Assalamu’alaykum.”
"Sama-sama Bu Nuri, Wa’alaykumussalam.”
Pukul satu siang.
Hari ini adalah hari yang sudah direncanakan pertemuannya oleh Bu Nuri dan Asiyah.
Duduk di hadapan Asiyah, Bu Nuri dan ketiga anaknya yang masih kecil. Mereka saling memperkenalkan diri.
__ADS_1
Anak pertama Bu Nuri sudah kelas lima SD, anak ke duanya kelas tiga SD dan anak ke tiganya masih duduk di bangku TK.
Sementara Asiyah, Bu Nuri sudah mengenalinya dari cerita Pak Kani. Kata Bu Nuri, suaminya sudah cerita banyak tentang Asiyah padanya.
Air mata Bu Nuri tiba-tiba saja keluar dari sudut matanya. Bu Nuri menangis. Tersedu-sedu. Sepertinya sudah tidak tahan lagi memendam sesuatu di dalam hatinya.
Bercerita tentang kondisi rumah tangganya. Kata Bu Nuri, Suaminya seringkali menduakan cintanya.
Terakhir, Pak Kani bermain hati dengan seorang gadis muda belia yang cantik rupanya. Perempuan itu sampai datang sendiri ke rumahnya hanya untuk menjelaskan hubungan antara dirinya dengan Pak Kani. Perempuan itu bersedia menjadi madunya Bu Nuri.
Kata perempuan itu Pak Kani sudah tidak menyukai Bu Nuri lagi karena Bu Nuri tidak bisa menjaga penampilannya. Bu Nuri sudah gendut badannya, Pak Kani ingin mencari perempuan yang bertubuh langsing saja seperti dirinya.
Berani sekali pacar suaminya itu datang menemuinya kemudian berbicara lancang padanya.
Tetapi kata Bu Nuri, Beberapa waktu yang lalu, Pak Kani pernah bilang kalau Ia sudah putus dengan perempuan itu. Bu Nuri merasa sangat lega.
Namun Bu Nuri mulai curiga saat pertama kali Asiyah datang ke rumahnya. Hingga pada akhirnya Bu Nuri mengetahui bahwa Pak Kani menyukai Asiyah. Bu Nuri mengetahui hal ini dari staf kantor suaminya.
Katanya sejak pertama melihat Asiyah, Pak Kani bergerak cepat meminta pada Tomi untuk mengenalkannya pada Asiyah dan meminta nomor ponsel Asiyah saat itu juga.
Bu Nuri memang mudah saja mendapatkan info yang aneh-aneh tentang suaminya, karena staf terdekat suaminya itu memang sudah dibayar oleh Bu Nuri untuk mengawasi suaminya. Kata staf suaminya itu, Pak Kani semakin yakin untuk memutuskan hubungan dengan pacarnya yang sebelumnya sejak bertemu dengan Asiyah.
Bergetar hati Bu Nuri mengetahui semua hal ini. Pantas saja waktu itu suaminya membawa Asiyah ke rumah hanya untuk mengenalkan Asiyah padanya. Berani sekali Pak Kani melakukan hal itu. Tampaknya kali ini Pak Kani benar-benar menyukai Asiyah. Berusaha pelan-pelan membawa Asiyah ke dalam rumah tangganya. Dan menceritakan banyak hal tentang Asiyah padanya berulang kali.
Kata Pak Kani, Asiyah berbeda dengan perempuan lain yang biasa didekatinya. Asiyah adalah perempuan sholeha. Berulangkali Pak Kani menggoda Asiyah tapi tidak mendapatkan respon apa pun. Pak Kani sepertinya benar-benar telah jatuh cinta pada Asiyah.
Malam ini Pak Kani tampak sangat lelah dengan pekerjaannya siang tadi. Bu Nuri hanya diam. Menatap Pak Kani selama sepuluh detik. Pak Kani berbicara sambil berbaring. Memejamkan matanya.
“Siapa perempuan itu Pa?” tanya Bu Nuri dengan lembutnya dan getaran suaranya.
“Perempuan sholeha yang cantik dan sederhana.” Pak Kani berucap perlahan.
“Apa Papa benar-benar sudah yakin ingin berpoligami?” tanya Bu Nuri. Pelan.
Dilihatnya suaminya sudah tertidur lelap di hadapannya.
Bu Nuri meneteskan air matanya.
Dari sanalah Bu Nuri paham, kalau Asiyah lah perempuan yang akan dinikahinya. Siapa lagi kalau bukan Asiyah? Satu-satunya perempuan yang sering diceritakannya pada Bu Nuri. Satu-satunya perempuan yang diajaknya ke rumah dan dikenalkannya dengan Bu Nuri hanyalah Asiyah.
__ADS_1
Bu Nuri pun tahu betul bahwa Asiyah memang seorang perempuan sholeha, perempuan baik-baik yang berparas cantik. Kali ini kecemburuan Bu Nuri melebihi rasa cemburunya pada perempuan-perempuan sebelumnya yang pernah menjadi duri dalam rumah tangganya.
Asiyah hanya diam saja. Memperhatikan Bu Nuri yang tampak sangat tertekan sekali dengan kelakuan suaminya.
Asiyah benar-benar merasa kasihan pada Bu Nuri. Bu Nuri terus meneteskan air matanya. Asiyah tidak bisa memberikan komentar apa-apa. Tidak ada celah bagi Asiyah untuk berbicara. Bu Nuri terus saja mencurahkan isi hatinya pada Asiyah.
Asiyah merasa bersalah dengan semua ini. Walaupun memang Asiyah sama sekali tidak berniat sedikit pun untuk menghancurkan rumah tangganya, apalagi untuk menjadi madunya. Dan hingga detik ini pun Asiyah tidak pernah
merespon sikap Pak Kani yang terus-terusan menggodanya.
Setelah menceritakan semua hal ini pada Asiyah, Bu Nuri tiba-tiba diam tanpa kata. Lima menit. Melamun. Sedang memikirkan sesuatu yang rumit lagi sepertinya. Menarik nafasnya panjang. Bu Nuri mencoba mengumpulkan tenaganya yang habis terkuras lewat air matanya tadi.
Mengumpulkan segenap perasaannya, mencoba memberanikan diri lagi untuk mengutarakan sesuatu pada Asiyah yang sedari tadi menatapnya dan memperhatikannya dengan rasa kepedulian. Penuh empati.
Tidak mau buang waktu lagi. Inilah saat yang tepat bagi Bu Nuri untuk meminta satu hal pada Asiyah. Hal yang sangat penting bagi kehidupan masa depannya beserta anak-anaknya kelak.
Sesuatu yang memang harus segera disampaikannya pada Asiyah. Sebelum semuanya terlanjur terjadi. Ada banyak ketakutan yang sedang dipikirkan oleh Bu Nuri.
“Ada satu hal yang Saya pinta dari Kamu Asiyah,” ucap Bu Nuri. Menatap Asiyah. Menatap ketiga anaknya, memeluk mereka sejenak.
Ketiga anaknya menyaksikan pembicaraan mereka dari tadi. Tegang. Walau mereka sebetulnya tidak paham betul atas apa yang sedang terjadi pada mamanya.
“Apa Bu?” Diam sejenak. Asiyah juga menatap Bu Nuri. Penuh Empati.
“Jika suami Saya masih saja menggoda Kamu, Kamu anggap saja Dia tidak ada. Jangan dimasukkan ke dalam hati. Pak Kani memang seperti itu, suka main perempuan di luar sana. Asiyah harus berhati-hati. Ini semua demi diri Asiyah sendiri dan keutuhan rumah tangga Saya.”
“Saya tahu Asiyah adalah perempuan yang sholeha, Saya percaya pada Kamu Asiyah,” sambung Bu Nuri.
Asiyah menggenggam tangan Bu Nuri yang terkepal rapat di atas meja.
“In syaa Allah Saya berjanji Bu,” ucap Asiyah tegas.
Asiyah dengan sangat senang hati menyanggupi permintaan Bu Nuri. Bahkan sebelum diminta pun
Asiyah sudah melakukannya.
Pak Kani bukanlah sebuah pilihan baginya. Dari awal memang Asiyah sama sekali tidak berniat untuk menjadi istri ke duanya Pak Kani. Hingga saat ini pun Asiyah tetap teguh pada pendiriannya.
Sebenarnya Bu Nuri ada rasa kasihan juga pada perempuan-perempuan yang sebelumnya dipermainkan oleh Pak Kani.
Bu Nuri pun sudah sangat lelah dengan tingkah suaminya.
Bagaimana kalau sampai ketiga anaknya menyadari tentang kelakuan bapaknya yang sangat brengsek. Betapa kecewanya mereka.
__ADS_1
Di mana panutan mereka? Sosok seorang bapak yang penuh dengan wibawa dan kehormatan.
Bagaimana jika suatu saat nanti anak-anaknya diperlakukan dengan perlakuan yang sama oleh lelaki yang sama perangainya seperti Pak Kani? Bu Nuri tidak mau membayangkannya.