
Pertemuan pertama ini sungguh sangat mendebarkan bagi Asiyah. Mencoba memberanikan diri. Nekat saja. Toh ini kan anaknya Pak Kasrun. Pak Kasrun orang yang baik. Anaknya juga in syaa Allah baik. Lagi pula ini bukan pertemuan empat mata, berdua-duaan saja bersama Ashar, ada Pak Kasrun yang mendampingi. Jadi, selain bisa menghindari maksiat juga Asiyah bisa meminimalisir rasa gugupnya.
Asiyah.
Seorang gadis yang tidak pernah menjalin hubungan dengan lelaki yang bukan mahramnya sebelumnya, yaa yang sering disebut oleh anak pada zamannya dengan sebutan pacaran. Asiyah begitu murni. Ia begitu menjaga dirinya dari hal-hal yang dapat menjerumuskan dirinya sendiri ke dalam kesesatan. Ta'aruf pun baru kali ini akan dicobanya di usianya yang cukup, dan dalam kemapanan ilmu tentunya.
Ashar.
Lelaki tampan yang rapi itu kini sudah duduk di hadapannya. Mereka makan siang bertiga bersama Pak Kasrun di sebuah cafe dekat kantor Asiyah.
Pak Kasrun sudah menceritakan banyak hal tentang Asiyah pada Ashar. Begitu pula Asiyah, Pak Kasrun juga sudah menceritakan tentang Ashar pada Asiyah sebelumnya. Yaa
sebenarnya mereka sudah sedikit saling mengenal satu sama lain melalui Pak Kasrun. Jadi saat ini hanya tinggal tatap mukanya saja.
Jantung berdegup kencang. "Dag.. dig.. dag.. dig.." Asiyah benar-benar tak dapat menolak rasa gugupnya.
Siang ini Asiyah memang berpenampilan berbeda.
Tak seperti biasanya. Kali ini Asiyah memakai selendang kepunyaan Umi yang terbaik di lemari.
Kemarin malam Asiyah sudah mengobrak abrik lemari Umi. Mencari selendang terbaik untuk dipakai hari ini.
Sejak keputusan pertemuan dengan Ashar pada Pak Kasrun kemarin, Asiyah tak henti berdo'a setelah sholatnya perihal perjodohan ini saja. Setelah menunaikan sholat dhuha di kantornya tadi pagi pun, itu saja do'a yang dipanjatkannya kepada Allah. Agar Allah memberikan kelancaran pada ikhtiarnya kali ini.
Setidaknya walaupun pada akhirnya bukanlah pada Ashar dirinya berlabuh, Asiyah akan tenang dan ridho dengan keputusan Allah.
Menuju kursi yang telah di booking sebelumnya oleh Pak Kasrun.
Ternyata Ashar telah terlebih dahulu sampai di tempat makannya. Wajah Ashar benar-benar teduh. Aura kesholehan terpancar betul dari wajahnya. Ashar duduk dengan rapi di kursinya. Diam. Mengecek-ngecek ponselnya. Menunggu pertemuannya dengan Asiyah.
Bukan hanya Asiyah yang tampak gugup. Tetapi Ashar tak kalah dalam menunjukkan gelagat anehnya. Kakinya bergoyang-goyang naik dan turun. Antara tak sabar bertemu dengan Asiyah atau ingin lari saja rasanya yaaa? Sehingga kakinya tampaknya sudah mengambil start duluan untuk pemanasan melaju. Heeheee..
Mengapa langkah kaki ini terasa sangat jauh, pikir Asiyah. Duuhhh.. merepotkan sekali rasanya berjalan dari pintu masuk cafe ini menuju kursi itu. Perjalanan yang hanya sejengkal terasa sangat melelahkan di kala gugup seperti ini.
Pak Kasrun berjalan beriringan di samping Asiyah. Tersenyum melihat tingkah dua anak manusia yang polos ini. Yang satu adalah anak kandungnya dan yang satu lagi adalah calon anak menantunya.
Perjalanan yang singkat namun terasa sangat panjang itu akhirnya berhenti juga.
Pak Kasrun mengambil posisi duduk di sebelah Ashar tepat di hadapan Asiyah.
Mungkin ini yang dinamakan jatuh cinta pada pandangan pertama. Asiyah dan Ashar tampak malu-malu saat kali pertama bertemu.
__ADS_1
Masih senyum-senyum Pak Kasrun melihat situasi ini.
“Jadi kita mau makan apa ini?!” Pak Kasrun mengagetkan keduanya. Sedikit membentak. Sengaja sekali karena sudah tiga menit mereka duduk bertiga tanpa kata.
Asiyah dan Ashar pun hanya senyum-senyum saja kerjaannya.
Pipi Asiyah tampak memerah.
Ashar pun tampak kaku duduk di kursinya.
“Ohh iya Pa, sebentar,” Ashar kaget. Langsung membuka buku menu. Memilih makanan. Begitu juga dengan Asiyah.
Mereka hanya sedikit bicara siang ini. Mungkin hanya di awal ini. Belum terbiasa.
Asiyah memilih beberapa menu makanan dan minuman, begitu pula dengan Ashar dan Pak Kasrun.
Memanggil waiter. Mereka memesan makanan.
Beberapa menit kemudian pesanan mereka datang. Setelah sebelumnya menunggu makanan dan minuman datang dalam keadaan kaku. Bingung mau bicara apa antara Ashar dan Asiyah.
Sementara Pak Kasrun dengan sengaja mengerjai mereka, Ia membiarkan situasi ini tampak lucu, tanpa ada sepatah kata.
Di tengah-tengah makan siang mereka, tiba-tiba ada hal yang mengganjal di pikiran Asiyah. Sepertinya, Asiyah pernah melihat Ashar sebelumnya. Apa mungkin Ashar adalah laki-laki yang sama yang memberikan selendangnya di pasar waktu itu?
“Oo yaa Mas Ashar, apa sebelumnya kita pernah bertemu?” tanya Asiyah spontan saja. Ingin segera menghilangkan rasa penasarannya.
“Yaa.. Mas rasa juga begitu Asiyah,” jawab Ashar tersenyum.
“Apa Mas adalah laki-laki yang memberikan selendang Asiyah waktu di pasar siang itu?” tanya Asiyah lagi.
“Sepertinya begitu,” ucap Ashar seraya tersenyum lagi.
__ADS_1
Asiyah tertawa kecil. Ternyata Mas Ashar sudah terlebih dulu menyadari tentang pertemuan pertama mereka dulu. Beberapa pekan yang lalu, pada siang Ahad. Hanya saja Mas Ashar pura-pura tidak tahu atau memang tidak ingin membahasnya. Dan ternyata ini adalah pertemuan ke dua mereka.
“Maa syaa Allah, jadi kalian sudah pernah bertemu sebelumnya..” ucap Pak Kasrun. Pak Kasrun menyelesaikan tegukan minumnya.
Asiyah dan Ashar senyum-senyum malu.
"Jangan-jangan kalian memang berjodoh yaa? Ternyata Allah telah mempertemukan kalian terlebih dahulu," ucap Pak Kasrun senang.
Makan siang selesai.
Mereka hanya sedikit bicara siang ini. Yaa lebih ke tatap mukanya saja kali ini.
Waktu pertemuan siang ini juga terasa sangat singkat. Mereka harus kembali ke kantor masing-masing.
Sesampainya di kantor, Pak Kasrun sesekali melihat ke arah Asiyah.
Mendekati Asiyah. “Bagaimana Asiyah? Apa Kamu suka dengan Ashar?” tanya Pak Kasrun.
Asiyah hanya senyum-senyum.
"Biasanya kalau anak perempuan itu senyum-senyum kalau ditanya, itu pertanda 'iya', bukan begitu Asiyah?" tanya Pak Kasrun.
"Kalau Kamu setuju, Saya akan segera menemui ibumu untuk mengatur semuanya." Sambung Pak Kasrun.
Asiyah senyum-senyum lagi.
Pak Kasrun mendapati sinyal persetujuan dari Asiyah. Satu pekan lagi in syaa Allah Pak Kasrun dan keluarganya akan menemui Umi.
Asiyah pun akan segera mengabarkan Umi tentang kabar baik ini. Asiyah berharap Umi pun akan memberikan restunya pada perjodohan ini. Memang sebelumnya Asiyah belum mengatakan tentang hal ini pada Umi sebelumnya.
__ADS_1
Lalu bagaimana dengan Ashar? Apa Dia setuju dengan perjodohan ini?
Ternyata sesaat setelah pertemuan tadi, Ashar mengirimkan pesan WA pada ayahnya, Pak Kasrun. Kata Ashar, Ia sangat menyukai Asiyah. Ashar sangat ridho jika kelak Asiyah yang akan menemani hidupnya hingga akhir hayat sebagai istrinya. Ashar meminta agar pernikahan ini jangan ditunda-tunda lagi. Persiapkan sebaik-baiknya tanpa menyusahkan Asiyah, karena Ashar sangat mengerti dengan kondisi Asiyah dan keluarganya saat ini.