
Mobil mewah itu masih melaju dengan kecepatan sedang di jalan raya menuju Mall. Asiyah mengemudikan mobilnya sendiri. Tersentak tubuhnya, seketika teringat bahwa ada satu lagi calon asisten pribadinya yang belum Dia hubungi.
"Astaghfirullah, ya Allah sampai lupa begini ngabarin calon asisten pribadiku yang satunya lagi, Caca," Asiyah tersentak seketika itu.
Rem mobil mendadak diinjaknya. Asiyah berhenti di pinggir jalan.
Dduuaarrrr.. bbrrukkkk..
Suara rengsek terdengar dari arah belakang mobil yang dikendarainya.
Asiyah melihat spionnya.
Ternyata di belakang mobilnya tadi, ada sepeda motor yang melaju. Abang penjual rujak buah keliling.
Motor abang rujak tak dapat menghindari mobil yang dikendarai Asiyah yang berada tepat di depannya.
Asiyah keluar dari mobilnya. Melihat keadaan di luar. Subhanallah, semuanya terlihat berantakan, diakibatkan kelalaian dirinya.
Bagian mobil belakang Asiyah bobrok. Sementara tabung kaca rujak yang dibawa abang-abang itu di atas motor, seketika terhempas ke aspal, seiring dengan terbaliknya motor abang rujak ke aspal. Berserakan buah-buahan kupas itu di jalanan, kuah rujaknya pun tampak segar menggoda mengalir di setiap serat jalanan.
Biar lambat asal selamat. Begitulah bunyi peribahasa yang sangat familiar di telinga masyarakat. Tampaknya juga sangat tepat ditujukan kepada Asiyah dan abang rujak saat ini.
Keterburu-buruan Asiyah dalam memberhentikan mobilnya, sungguhlah suatu sikap yang tidak tepat. Bukan kah seharusnya Asiyah masih bisa mendelik terlebih dahulu pada kecepatan mobilnya, serta pada setiap arah yang seharusnya sudah menjadi hal yang wajib dilakukan saat mengemudi? Tetapi Asiyah telah lalai melakukannya.
Sementara abang rujak mengendarai motornya dengan kecepatan penuh, tanpa memperhitungkan sebelumnya resiko yang akan terjadi. Berbagai macam kemungkinan buruk, termasuk hal yang menimpa dirinya saat ini.
"Astaghfirullah.. subhanallah.. Baanngg, maafin Saya Bangg, Saya akan ganti semuanya yaa," ucap Asiyah. Panik. Merasa sangat bersalah dengan hancurnya barang-barang milik abang rujak, setelah melihat keadaan yang terjadi secara keseluruhan.
Asiyah begitu menyadari kesalahannya.
Abang rujak itu masih terdiam. Syok. Selama beberapa menit. Melihat buah-buahan dagangannya berhamburan. Bensin motornya pun turut merembes di jalanan.
"Bang, Bang," Asiyah terus memanggil abg rujak itu.
Asiyah mendekatinya.
"Hallooo, Bang, assalamu'alaykum," ucap Asiyah, seraya menggerakkan telapak tangannya ke wajah abang rujak. Sekali. Dua kali. Mencoba menyadarkan pandangan kosong abang rujak.
"Baanngg, jangan khawatir yaa, akan Saya ganti semuanya, memang Saya yang salah, terlalu mendadak mengerem mobil tadi," jelas Asiyah.
Abang rujak itu masih diam tanpa sepatah kata pun. Sekarang tubuhnya mulai melakukan pergerakan. Abang rujak itu mulai membereskan barang-barangnya yang berserakan di jalan.
__ADS_1
Suasana sekitar menjadi ramai. Menyaksikan insiden memalukan yang dilakukan oleh Asiyah. Riuh gemuruh suara orang-orang yang lewat, membicarakan Asiyah, yaitu seorang selebriti terkenal telah lalai dalam berkendara.
Yaa begitulah hukum di di tengah-tengah masyarakat, cukup satu kali bagi seseorang melakukan kesalahan dalam hidupnya, maka seribu kebaikan yang telah diperbuatnya seketika akan sirna dari pandangan.
Penilaian manusia memang terkadang sangatlah tidak adil. Pemikiran subjektif yang dijadikan hasil dari sebuah penilaian terhadap seseorang dapat menghancurkan orang lain dengan sangat cepat. Membunuh karakter orang lain dengan jalan pikiran sendiri tanpa adanya pembuktian secara ilmiah berdasarkan fakta di lapangan.
Seseorang mendekati Asiyah. Laki-laki yang tak tahu berniat apa sebenarnya pada Asiyah. Dari tadi, sejak awal insiden memalukan ini terjadi, lelaki ini selalu saja memojokkan Asiyah.
"Kamu mabuk yaa?! Siang-siang begini kok malah buat ulah, pasti mabuk nih perempuan ibu-ibu bapak-bapak," seperti ingin memeras saja. Laki-laki ini seakan membuat suasana semakin panas. Seperti menghasut semua orang yang menyaksikan untuk tenggelam dalam stigma yang Ia ciptakan tentang Asiyah.
"Maaf yaa Pak, seumur hidup Saya, Saya tidak pernah menyentuh barang-barang seperti itu," ucap Asiyah dengan lantang kepada lelaki yang sama sekali tak Ia kenal itu, ketika mendengar namanya disebut dengan iringan opini yang sangat-sangat merugikan dirinya.
"Ya kalau Kamu memang betul tidak mabuk, yaa Kamu buktikan dong, sekarang juga Kamu harus bertanggung jawab," jelas lelaki itu dengan penekanan pada ucapannya.
Mencoba semakin memepetkan tubuhnya pada Asiyah, seperti ada hal yang bersifat pribadi yang hendak disampaikannya pada Asiyah.
Namun Asiyah segera menghindarinya.
"Sudah Mbak, Saya nggak apa-apa kok, hanya saja tadi Saya syok Mbak, makanya Saya sampai tidak bisa bersuara sedikit pun," abang rujak itu ternyata adalah orang yang sangat baik. Justri Dia lah yang menenangkan Asiyah di dalam kejadian ini. Dia mendekati Asiyah setelah selesai membereskan motor beserta dagangan rujaknya sendirian. Tak ada satu pun warga yang menyaksikan membantunya.
Pandangan Asiyah tertuju pada abang rujak. Memperhatikannya. Melupakan lelaki gila tadi yang hanya membuat suasana sekitar semakin gaduh, yang hanya menambah beban pikirannya saja, setelah rasa bersalah yang telah lebih dulu menghampiri dirinya.
"Nggak apa-apa Mbak, nggak ada yang luka, Saya sehat semua kok, hanya inilah, seperti yang Mbak lihat, semua barang dagangan Saya hancur semua, motor Saya pun menjadi ringsek," jelas abang rujak itu.
"Alhamdulillah kalau semua baik-baik saja Bang, iya Bang, Saya mengerti, Saya akan mengganti semua kerusakannya termasuk kerugian dagangan Abang, memang sudah lama Saya mencari sopir pribadi untuk mengantarkan Saya ke mana-mana, tapi belum juga ketemu dengan jodohnya," jelas Asiyah.
"Terima kasih banyak Mbak sebelumnya, tapi mobil Mbak juga ringsek akibat tabrakan dari motor Saya tadi," ucap Abang rujak itu, sepertinya mulai merasa bersalah.
"Mobil Saya nggak usah Abang pikirkan, yang penting sekarang bagaimana kondisi Abang, dan Abang bisa ikhlas memaafkan Saya," jelas Asiyah dengan bijaknya mengakui dan ingin memperbaiki kesalahannya.
"Sebenarnya Saya juga salah tadi Mbak, Saya mengendarai motor dalam keadaan melamun," diam sejenak, seperti ragu menceritakan sesuatu pada Asiyah.
"Istri Saya membutuhkan biaya untuk melahirkan dengan cara operasi sesar, tapi Saya bingung, tidak tahu mau mencari biayanya kemana, sementara penghasilan Saya berjualan rujak pas-pasan untuk makan dan membayar kontrakan saja Mbak," sambungnya. Tampak sangat berat ucapan abang rujak itu pada Asiyah.
Melihat perdamaian yang terjadi di antara keduanya, para warga yang berkerumun menyaksikan mereka dan sempat termakan omongan lelaki provokator tadi, kini telah pergi meninggalkan tempat kejadian itu. Mereka kembali melanjutkan aktivitas masing-masing tanpa reaksi apapun.
"Hhmmm.." Asiyah sejenak berpikir. Diam.
"Apa Abang bisa menyetir mobil?" tanya Asiyah.
"Alhamdulillah bisa Mbak," jawab abang rujak itu, masih tampak lesu.
__ADS_1
"Ada SIM?" tanya Asiyah lagi.
"Alhamdulillah, SIM kendaraan Saya lengkap Mbak, soalnya di kantor yang lama sebelum Saya di PHK dari perusahaan dan berjualan rujak, Saya bekerja sebagai sopir di kantor itu Mbak, mendistribusikan barang,"
"Maa syaa Allah, alhamdulillah, pas sekali kalau begitu Bang, apa Abang mau bekerja dengan Saya? Menjadi sopir pribadi Saya?" antusias. Asiyah memberikan penawaran.
Masih berdiri di pinggir jalan. Suasana tampak mulai mencair antara Asiyah dan abang rujak itu. Ditambah lagi penawaran Asiyah tentang sebuah pekerjaan pada abang rujak. Tentu membuat abang rujak itu semakin penasaran. Apalagi abang rujak itu pun tahu berapa upah yang dibayarkan oleh Asiyah kepada para pekerjanya.
Asiyah adalah selebriti terkenal yang berpendapatan tinggi dan terkenal loyal pada para pekerjanya. Siapa yang tidak tahu tentang hal ini. Seketika harapan mulai terbangun pada diri abang rujak akan kemudahan istrinya nanti pada saat melahirkan anak pertamanya.
"Hhmmm.. maaf sebelumnya Bang, Saya memang sedang terburu-buru, boleh Saya minta nomor handphone Abang?" tanya Asiyah.
"Boleh Mbak, 08..........." sesegera mungkin abang rujak itu memberikan nomor ponselnya.
Tetttt.. tteeett.. teettt.. bunyi tombol ponsel Asiyah mencatat nomor ponsel abang rujak itu.
"Hhmmm.. apa Abang bisa sebutkan nomor rekening yang Abang punya? Akan Saya transfer sekarang juga, semua biaya kerusakan yang sudah Saya ciptakan ini," jelas Asiyah.
"Bisa Mbak, ada Saya simpan di handphone, sebentar," ucap abang rujak, cepat.
"56789.............." abang rujak menyebutkan nomor rekeningnya.
"Okeee.. Saya kirim sekarang juga yaa Bang," ucap Asiyah.
Cclliinnggg.. Bunyi notifikasi mobile banking Asiyah.
"Bank Nusantara atas nama Nomo Sudiro yaa Bang? Benar?" tanya Asiyah.
"Iya benar Mbak, nama Saya Nomo."
"Okee sudah Saya transfer yaa Bang," Asiyah memperlihatkan bukti transaksinya pada abang rujak itu.
Betapa kagetnya Nomo, uang yang ditransfer oleh Asiyah jauh melebihi kerugian yang dialaminya.
"Maa syaa Allah Mbak, kebanyakan ini."
"Sudah Bang, nggak apa-apa, ambil saja, Saya buru-buruk, sekali lagi Saya mohon maaf yaa Bang, nanti Saya hubungi kembali untuk membicarakan soal pekerjaan yang Saya tawarkan tadi," ucap Asiyah
"Kalau begitu Saya permisi dulu ya Bang, assalamu'alaykum," sambung Asiyah yang kemudian berlalu mengambil langkah cepat menuju ke mobilnya.
"Wa'alaykumussalam, hati-hati Mbak," Nomo melambaikan tangannya pada Asiyah yang telah berlalu meninggalkannya.
__ADS_1