Asiyah Akhir Zaman

Asiyah Akhir Zaman
Pakaian Memalukan


__ADS_3

"Apakah Asiyah yakin Nak? Umi sudah curiga sejak kedatangan Umi kemarin. Gerak gerik suamimu sangat aneh, dan kalian berdua jelas terlihat seperti menutupi sesuatu dari Umi," ucap Umi. Berharap agar Asiyah segera menyudahi semuanya.


"Asiyah yakin Umi, tidak apa-apa, Asiyah ikhlas menjalaninya, tidak ada kata cerai bagi Asiyah Umi, selagi Asiyah masih diberi tempat tinggal untuk berteduh, makan yang enak, dan hal-hal lain yang menjadikan Asiyah masih bisa hidup dan beribadah kepada Allah, Asiyah rasa tidak ada salahnya jika Asiyah sedikit bersabar Umi," jelas Asiyah. Begitu tegarnya. Dengan menebar senyumannya yang manis itu.


"Hhhmm.. tapiii, tidak-tidak ini tidak bisa dibiarkan Nak, suamimu harus bertanggung jawab penuh atas kehidupan istrinya, Dia tidak bisa seenaknya memangkas nafkah untuk dirimu hanya untuk kesenangan ibunya," Umi kembali meyakinkan Asiyah, bahwa apa yang dilakukan suaminya itu adalah salah.


"Kamu tahu suamimu telah melakukan perbuatan dosa Nak? Ibunya menggunakan uang dari suamimu untuk berfoya-foya, bukan untuk kebutuhan pokoknya!! Sementara Asiyah sebagai istrinya diperlakukan tak selayaknya seperti ini, dengan penghasilan besar yang Ia dapatkan, ini sungguh tidak adil Nak..!!" sambung Umi lagi, dengan amarahnya.


"Sadarkah Asiyah, jika Kamu saat ini sedang diperdaya oleh suamimu dan keluarganya?"


Asiyah hanya diam mendengar hantaman pertanyaan dari Umi yang bertubi-tubi datang padanya.


"Umiii..." Asiyah mulai ingin berbicara lagi dengan nada sedihnya.


Umi menatap Asiyah dari kursinya. Ruang tamu pagi ini terlihat sangat mencekam dengan adanya pembicaraan antara mereka berdua. Sepinya seperti mendesak Asiyah untuk segera bertindak.


"Berjanjilah pada Asiyah Umi, biarkanlah Asiyah menyelesaikan semua permasalahan rumah tangga Asiyah sendiri, berjanjilah untuk tidak memberitahukan tentang semua aib suami Asiyah kepada siapapun," Asiyah memohon kepada Umi. Tatapan mata itu menyimpan berjuta harapan pada Umi. Suaranya begitu halus dan lembut meminta.


"Asiyah lah yang telah memulai pernikahan ini, Asiyah sendiri yang memilih Pak Sendi untuk menjadi suami Asiyah. Jadi biarlah Asiyah menjalaninya dengan segala bentuk ujian dari Allah, Asiyah yakin ini semua tidak akan berlangsung lama, tidak mungkin Allah menguji Asiyah di luar batas kemampuan Asiyah Umi," sambung Asiyah lagi. Terus mencoba meyakini Umi agar tidak mengkhawatirkan dirinya.


"Nakkkk..?? Sela Umi lagi. Mencoba menggoyahkan pendirian Asiyah.


"Umiii..... do'akan Asiyah yaa, do'akan Asiyah kuat dalam menjalani ujian ini, do'akan yang terbaik untuk Asiyah yaa," Asiyah tersenyum pada Umi yang duduk di sebelahnya. Dipeluknya Umi.


Umi hanya diam. Meneteskan air matanya diam-diam. Menyambut hangat pelukan anaknya itu.


"Oo yaa Umi, Asiyah mau lanjut ngerjain kerjaan rumah dulu yaa, " segera Asiyah melepaskan pelukannya di tubuh Umi. Secepat kilat Asiyah menunjukkan ekspresi riang gembira dalam melakukan semua pekerjaan rumah itu.


Umi menunggui Asiyah. Selama itu Umi ingin menemani Asiyah di rumahnya. Sejenak mengawasi. Ternyata tidak terlalu mengkhawatirkan dari yang Umi bayangkan sebelumnya. Hanya saja jelas terlihat dari pancaran mata Asiyah, bahwa anak perempuan sulungnya itu sedang pura-pura bahagia di hadapannya.


Waktu begitu cepat berlalu. Tengah hari akan segera datang. Umi segera pergi dari rumah Asiyah untuk menjemput Aisyah dan Ali pulang sekolah.


Sore ini Pak Sendi pulang lebih awal, dengan wajahnya yang pucat, menekan perutnya, jalannya tergopoh-gopoh masuk ke dalam rumah.

__ADS_1


Asiyah yang melihat keadaan suaminya itu, segera menopang tubuh Pak Sendi duduk di atas kursi santai ruang tengah rumahnya.


"Astaghfirullah Abang, ada apa dengan Abang? Abang sakit? Biar Asiyah antarkan Abang ke rumah sakit yaa?" ucap Asiyah seraya menyeret tubuh Pak Sendi duduk di atas kursi itu.


"Tidak Sayangg, tidak apa-apa, Abang tidak apa-apa?" ucap Pak Sendi, terbata-bata.


"Aaaawwww.. aaarrggghhh.. sakit sekali," menjerit seketika.


"Yaa sudah Abang, Asiyah siap-siap dulu ganti baju, kita langsung saja ke rumah sakit, Abang tunggu di sini sebentar yaa,"


Asiyah bergerak sigap menuju kamarnya. Berlarian. Grasak grusuk. Mengganti pakaiannya. Tak lupa membawa ponselnya. Dompet, meski tak ada uangnya, tak apa lah di bawa, mana tahu nanti identitasnya dibutuhkan.


Asiyah kembali turun ke bawah. Menopang Pak Sendi.


"Ayookk Sayang kita langsung ke mobil, kita pergi ke rumah sakit yang terdekat saja dari sini," ucap Asiyah. Tergopoh-gopoh menyeret Pak Sendi. Berat rasanya. Tapi Asiyah harus kuat, karena hanya Dia satu-satunya orang di rumah ini yang bisa menolong suaminya.


Pak Sendi telah berada di dalam mobil, Asiyah membaringkannya di kursi tengan mobil. Tak lupa sebuah bantal diselipkannya di bawah kepala suaminya, agar Pak Sendi merasa nyaman.


Pintu rumah telah dikunci. Bismillahirrahmanirrahim. Mobil melaju dengan kecepatan yang cukup, agar segera sampai di rumah sakit.


"Sabar Sayanggg,, tahann, sebentar lagi kita sampai, istighfar Sayangg, ucap nama Allah.." ucap Asiyah pada suaminya.


"Aarrghhh.. ddddiiiaaammm.. Aku lagi sakit Asiyah, sakiiiittttt!!!!! Aku tidak butuh nasehat dari Kamuu!!!!!! Aaadduuuhhh!!!!" ucap Pak Sendi begitu keras. Sekeras lolongan kesakitannya.


Bentakannya membuat Asiyah terdiam.


Betapa terkejutnya Asiyah. Di saat seperti ini, Pak Sendi malah membentaknya dengan kata-kata kasar seperti itu. Astaghfirullah.. Berilah suamiku hidayah ya Allah.. ucap Asiyah dalam hati.


Kini Asiyah hanya bisa diam mendengar teriakan Pak Sendi yang tak bisa tenang. Hingga sampai di rumah sakit.


Beruntung, Unit Gawat Darurat rumah sakit sedang sepi. Pak Sendi segera ditangani oleh petugas medis di sana.


Tiga puluh menit berlalu.

__ADS_1


Pak Sendi terbangun dari tidurnya. Masih di ruang Unit Gawat Darurat rumah sakit. Dilihatnya Asiyah yang tertidur berada di sisi kirinya. Merebahkan kepalanya di ranjang tempat Pak Sendi terbaring. Lemah.


Dokter masuk bersama perawat. Bagaimana keadaannya sekarang Pak? Masih terasa sakit perutnya?" tanya Pak Dokter. Setelah tadi dengam cekatan menangani Pak Sendi.


"Alhamdulillah Dok, sudah enak, tadi itu perih sekali perut Saya," jawab Pak Sendi. Lemah.


Pemeriksaan telah selesai. Alhamdulillah Pak Sendi sudah boleh pulang setelah cairan infusnya habis. Yaa untungnya Pak Sensi cepat ditangani tadi. Kalau tidak, bisa terjadi hal berbahaya kata Pak Dokter.


Penyakit lambung Pak Sendi ternyata sudah kronis. Akibat pola makannya yang berantakan. Ditambah beban pikiran yang membuat penyakit asam lambungnya gampang naik.


Tim medis itu pun pergi meninggalkan Asiyah dan Pak Sendi.


Sekejap Pak Sendi melihat Asiyah yang sedang berdiri di sebelahnya, melepaskan kepergian tim medis tadi.


Wajahnya menunjukkan kemarahan.


"Asiyah, kemarilah sebentar, Abang mau bicara," ucap Pak Sendi. Memanggil Asiyah. Rendah nadanya, namun menekan.


Asiyah menepi dengan cepat. Mendekati wajah suaminya. Asiyah duduk di kursi kecil sebelah ranjang itu.


"Apakah Asiyah sengaja mempermalukan Abang?" tanya Pak Sendi. Pelan.


"Maksud Abang?" Asiyah bingung dengan pertanyaan itu.


"Mengapa Kamu mengenakan pakaian seperti ini? Lusuh sekali!!" jelas Pak Sendi. Ketus.


Asiyah diam sejenak. Menahan sedihnya. Tiba-tiba air mata itu ingin jatuh lagi karena lisan Pak Sendi yang seenaknya bicara. Setelah lelah dan panik yang Ia rasakan hari ini.


"Ini lah pakaian yang Asiyah punya Abang, lagi pula Asiyah tadi buru-buru mengganti pakaian, Asiyah panik ingin segera menolong Abang, mana lah bisa Asiyah memilih pakaian untuk bergaya," jelas Asiyah. Berusaha tegar.


"Lupa kah Kamu Asiyah, Abang adalah seorang pemilik perusahaan besar, apa kata orang nanti jika ada yang melihat Kamu seperti ini??!! Dan seluruh media akan menulis berita dengan judul 'Asiyah Semakin Lusuh Setelah Menikah', itu yang Kamu mau kan??!!" Pak Sendi benar-benar marah.


"Maafkan Asiyah Abang, tapi dari mana kah Asiyah bisa mendapatkan uang untuk merawat diri Asiyah? Sementara.. aahh sudahlah, Asiyah lelah, Asiyah capek membahas persoalan uang seperti ini dengan Abang, dalam kondisi Asiyah tidak bekerja, Abang pikir saja sendiri, apakah uang itu jatuh dari langit begitu saja??" ucap Asiyah.

__ADS_1


Asiyah sungguh sangat kecewa. Ia segera pergi dengan langkah cepat meninggalkan Pak Sendi. Asiyah menenangkan diri di luar sejenak. Duduk di teras ruang UGD dalam lamunan yang mengeluarkan banyak tetesan air mata, pandangan itu lurus menghadap luar gedung.


__ADS_2