Asiyah Akhir Zaman

Asiyah Akhir Zaman
Perhatian Seorang Atasan


__ADS_3

Asiyah harus mengatur ulang jadwal perkuliahannya, kalau tidak, mana bisa Ia bekerja sambil melanjutkan kuliahnya. Bisa berbenturan semua jadwalnya nanti. Jadi, semuanya harus diatur ulang kembali.


Asiyah mengajukan perpindahan kelas kepada pihak kampus. Yang tadinya Ia berkuliah di kelas pagi, kini pindah ke perkuliahan malam saja. Capai sedikit, tidak apa-apalah, harus ditahan-tahan. Ini semua demi Umi, Abi dan adik-adik di rumah.


 


Senin pagi. Empat hari setelah pertemuan dengan Pak Tomi waktu itu. Asiyah sudah harus mulai bekerja di kantor barunya. Jadwal perkuliahan juga sudah diatur,


Alhamdulillah semua berjalan dengan mudah dan lancar.


Jadi nanti pulang kerja, Asiyah bisa langsung kuliah pada malam harinya ba’da maghrib. Gugup? pasti. Cemas? Iya juga.


Asiyah berusaha meyakinkan dirinya untuk berani. Oke.. pakaian sudah rapi, hijabnya tampak sempurna. Asiyah siap berangkat pagi ini.


Bismillah..


 


Ini adalah hari pertama Ia bekerja. Asiyah bekerja sebagai staf administrasi. Ada satu lagi staf administrasinya yang juga satu ruangan dengan Asiyah. Perempuan. Maya namanya. Selebihnya laki-laki, berbeda ruangan dengan mereka. Staf laki-laki yang lainnya adalah staf lapangan.


Ruangan kerja Asiyah berada tepat di sebelah ruangan Pak Tomi.


Di hari pertama ngantor, Asiyah banyak mendapatkan pengajaran dari Maya. Maya sangat baik pada Asiyah. Mengajarkan Asiyah dengan sabarnya mengenai apa saja pekerjaan yang harus Ia lakukan.


 


Pak Tomi juga perhatian pada Asiyah. Dari hari pertama Asiyah bekerja hingga beberapa bulan berlalu, Pak Tomi seringkali menghampiri Asiyah ke ruangannya. Memberikan perhatian padanya. Bertanya, apakah Asiyah sudah sholat? Apakah Asiyah sudah makan? Hal seperti ini terus saja dilakukan oleh Pak Tomi.


Mungkin ini adalah bagian dari pendekatan seorang atasan kepada bawahannya. Agar tercipta suasana kekeluargaan di dalam kantor, pikir Asiyah. Asiyah tentu sangat senang sekali diperlakukan baik seperti ini oleh atasannya sendiri.


 


Walaupun dari hati kecilnya, sebenarnya Asiyah sedikit heran, apa memang begini perhatian seorang atasan pada bawahannya? Sebaik ini? Asiyah tidak tahu, karena memang pengalaman bekerjanya baru pertama kali ini.


 


Kata Maya, Pak Tomi memang baik orangnya. Pak Tomi hanya butuh karyawan yang benar-benar ingin bekerja, bukan yang bisanya hanya menuntut gaji saja. Maklumlah, perusahaan Pak Tomi ini kan adalah perusahaan perseorangan jadi tidak menutup kemungkinan oleh orang-orang yang hanya menjadikan perusahaannya sebagai batu loncatan saja menjelang mendapatkan pekerjaan yang lebih baik.


Maya sendiri sudah bekerja selama lima tahun dengan Pak Tomi. Semua aman-aman saja. Gajinya lancar dibayarkan setiap bulannya. Pak Tomi juga royal dalam memberikan bonus pada karyawannya tiap kali proyek selesai dikerjakan.


Menurut karyawan di sini wajarlah jika perusahaan ini selalu bisa menyelesaikan proyeknya dengan sempurna, karena memang tidak ada pihak yang terdzalimi didalam perusahaan ini, pada setiap bagian pekerjaannya juga begitu, mereka jujur dalam berbisnis dengan rekanannya.


 


Dengar-dengar, Asiyah menggantikan karyawati yang lama. Karyawati yang lama tidak bekerja lagi, suaminya melarangnya bekerja setelah melahirkan anak pertama mereka.


Maa syaa Allah..


Alhamdulillah ini pas sekali. Waktunya tepat saat Asiyah membutuhkan pekerjaan. Benar-benar ini adalah rezeki dari Allah untuk menyelamatkan Asiyah, yaa.. untuk mengurangi beban keuangan keluarganya yang saat ini sedang berada pada titik terendahnya.


 


"Maya, Asiyah, siang ini kita makan siang di luar ya,” Pak Tomi tersenyum ramah pada mereka. Masuk ke ruangan mereka hanya untuk mengatakan itu saja.


 


“Iya Pak,” jawab Asiyah dan Maya.


Sudah biasa bagi mereka makan bersama di luar atau pun di dalam kantor, bersama staf kantor yang lainnya.


Biasalah, kegiatan seperti ini memang rutin dilakukan agar terjalin rasa kebersamaan yang lebih kental antar karyawan kantor dan juga atasan tentunya.


 

__ADS_1


Siang ini tampak berbeda dari sebelumnya, Pak Tomi mengajak Asiyah dan Maya satu mobil dengannya. Bertiga saja. Jelas mereka tidak bisa menolak. Apalagi Pak Tomi orang yang baik, tidak mungkinlah ada niat jahat dengan mereka.


Mereka juga perginya bertiga kan? Pikir Asiyah dan Maya. Berhusnudzon.


Walaupun memang biasanya mereka perginya naik mobil perusahaan, ada sopirnya, khusus karyawati mobilnya berbeda, jadi tidak campur baur dan dempet-dempetan dengan laki-laki di dalamnya.


Lagipula Asiyah adalah muslimah yang taat dalam beragama, mana mungkin Asiyah nyaman dengan kondisi seperti itu.


 


Sesampainya di restoran. Asiyah, Maya dan Pak Tomi bersiap untuk makan siang, bersama staf yang lain yang sudah sampai lebih dulu.


Makanan datang. Dihidangkan di hadapan mereka.


Pak Tomi yang tadinya duduk ditengah-tengah para staf laki-laki tiba-tiba saja berdiri, pergi ke toilet.


Lima menit berlalu. Pak Tomi kembali. Mencolek bahu salah satu karyawannya yang duduk di sebelah Asiyah. Pak Tomi memberi kode.


“Pindah,” ucap Pak Tomi pada staf laki-laki itu.


Staf itu pun kaget. Sigap pergi dari tempat duduknya. Mempersilahkan Pak Tomi duduk di kursinya.


Asiyah terkejut. Ada Pak Tomi di sebelahnya. Canggung sekali rasanya duduk di sebelah atasan. Asiyah berusaha bersikap biasa saja.


 


“Ayookk semua, makan.. makan..” ajak Pak Tomi pada semua staf nya.


Makanan sudah siap semua di hadapan mereka. Menanti untuk disantap saja.


Asiyah juga sudah lapar. Langsung saja menyantap makanannya. Sesuap dua suap, agak seret rasa tenggorokannya. Makannya agaknya terlalu cepat. Main telan saja. Mungkin karena terlalu gugup di sebelah Pak Tomi. Mencari-cari minumannya, tidak ada, kemana?


Pak Tomi memberikan minuman miliknya, mengulurkan segelas air putih pada Asiyah, seakan mengerti betul bahwa Asiyah sedang membutuhkan air, walau Asiyah


Pak Tomi menatap kedua bola mata Asiyah. Sekelebat. Seraya tersenyum.


Tatapan apa ini? Seperti tatapan seorang laki-laki pada kekasihnya, ahh mungkin ini hanya perasaanku saja. Asiyah menatap Pak Tomi, satu detik, kemudian memalingkan wajahnya. Tidak enak sekali rasanya meminum air putih milik Pak Tomi. Mau menolak, tapi tenggorokan ini sudah mendesak. Ya sudahlah, terima saja.


Meneguk air putih yang diberikan Pak Tomi. Asiyah merasa ada yang aneh. Tidak enak sama staf yang lainnya. Seperti ada hubungan spesial saja antara dirinya dan Pak Tomi.


Pak Tomi memesan kembali air putih untuk dirinya pada waiter. Pak Tomi melanjutkan makannya. Bersikap biasa saja. Mungkin Asiyah saja yang terlalu percaya diri, menganggap Pak Tomi memberikan perhatian yang lebih padanya.


 


Seperti biasanya. Sehabis makan siang di restoran, mereka akan mencari masjid untuk sholat bersama.


Asiyah dan Maya masih bersama Pak Tomi saat kembali ke kantor. Mereka bertiga lagi.


Asiyah masih duduk di bangku depan di sebelah Pak Tomi, sementara Maya duduk di belakang. Tidak ada sopir. Pak Tomi memang sudah biasa menyetir mobilnya sendiri.


“Sholat dimana kita Asiyah?” tanya Pak Tomi pada Asiyah. Penuh kelembutan.


Pak Tomi menatap Asiyah yang ada di sebelahnya. Menebar senyuman lagi, seraya menyetir. Seperti tidak memperdulikan Maya saja di belakang.


“Terserah Bapak saja, Saya dan Maya ikut saja,” jawab Asiyah.


 


Sesampainya di masjid, ternyata mereka hanya bertiga saja yang mampir. Rombongan staf kantor yang lainnya entah ke mana perginya.


Asiyah dan Maya kebingungan. Di mana yang lainnya?


“Ada apa?” tanya Pak Tomi pada Asiyah dan Maya.

__ADS_1


 


“Tidak ada apa-apa Pak, staf yang lain ke mana ya Pak? Apa tidak mengikuti kita tadi?” tanya Asiyah pada Pak Tomi.


 


“Mungkin mereka kehilangan jejak kita tadi waktu di perjalanan, biarlah, nanti juga bertemu  di kantor,” jawab Pak Tomi.


 


Asiyah dan Maya hanya diam, mengangguk saja.


Nurut saja dengan perkataan Pak Tomi.


Tidak biasanya seperti ini. Asiyah sedikit heran.


Mereka bertiga pun masuk ke dalam masjid untuk sholat dzuhur. Walaupun tidak berjamaah. Karena adzan dzuhur juga sudah lama berlalu di pertengahan waktu mereka makan siang tadi. Mereka sholat sendiri-sendiri saja.


 


Satu pekan berlalu setelah makan siang bersama para karyawan dan atasan kantor.


Seperti biasa, Asiyah akan keluar kantor untuk mengurus beberapa berkas administrasi. Pukul 13.00. Matahari sangat terik sekali di tengah hari ini.


Huhh.. subhanallah panas sekali. Gerah. Membakar kulit. Asiyah sudah siap hendak pergi. Sudah siap mengendarai motor kantor untuk perjalanannya siang ini.


Tiba-tiba, “Asiyah.. ini masih panas, nanti kamu sakit, tunggu teduh saja mataharinya ya, baru pergi,” Pak Tomi menghampiri Asiyah di parkiran.


Haahhh?! Apa ini. Kenapa tiba-tiba Pak Tomi jadi begini, terlalu baik kah? Atau.. Asiyah heran.


 


“Nanti hitam kulit Kamu, nanti saja, tidak apa-apa,” sambung Pak Tomi.


"Apa mau Saya antarkan saja?” tanya Pak Tomi lagi.


 


“Tidak usah Pak, nanti saja Saya perginya, tunggu sedikit teduh cuacanya."


Asiyah merasa sangat tidak enak dengan Pak Tomi. Pak Tomi terlalu baik padanya. Perhatiannya tampak berlebihan. Asiyah mulai merasakannya.


 


“Yaa sudah, Saya ke dalam dulu,” Pak Tomi pergi meninggalkannya di parkiran.


 


“Iya Pak,” Asiyah benar-benar bingung.


Sepertinya tadi Pak Tomi berbicara romantis penuh rayuan dari ponselnya, tadi Asiyah dengar seperti sedang merayu seorang perempuan. Ahh mungkin istrinya yang sedang dirayu. Tapi aneh saja rasanya, seperti seorang lelaki asing yang berbicara dengan seorang perempuan yang baru Ia kenal.


Hanya saja kenapa bisa Pak Tomi bersikap perhatian seperti ini pada Asiyah sementara beberapa menit yang lalu Ia merayu seorang perempuan. Apa kebaikan Pak Tomi pada semua orang memang begitu, nyaris sama perlakuannya terhadap seorang istri? Ahh lupakan sajalah. Bukan urusan Asiyah. Itu adalah ranah pribadinya Pak Tomi.


Yang terpenting, apapun yang Pak Tomi lakukan sama sekali tidak merugikan dirinya, ini sudah cukup untuk dijadikan alasan untuk tidak terlalu jauh ikut campur dalam urusannya. Cukup sebatas tahu saja. Dan kemudian melupakan apa yang didapatnya.


 


 


 


 

__ADS_1


 


__ADS_2