
Caca masih mendesakkan Cita untuk membelikan pakaian ganti untuknya.
"Cit, tolong dong sebentar saja yaa, di depan ada yang jual pakaian souvenir, beli yang itu saja nggak apa-apa kok, pakai saja uang Kamu dulu, nanti Aku ganti semuanya," Caca memelas dengan suara pelannya, memegang lengan Cita. Menatap mata temannya itu dengan mata sedikit berbinar.
Cita tampak telah lemah karena kecewa melihat ulah Caca. Ini angin-anginnya bakalan ngerepotin berat nih.
Sementara Caca masih saja berseteru dengan waiter yang menabraknya dari belakang tadi. Menumpahkan lauk rendang ke bajunya. Hingga penuh minyak berwarna merah di tubuhnya yang membuatnya merasa sangat tidak nyaman. Iiiuuuhhh lengkeettt..
"Maafkan Saya Mbak, Saya tidak sengaja," ucap waiter yang berkebangsaan Indonesia itu.
"Duuhh Kamu gimana sih, jadi begini pakaian Saya?!" ucap Caca.
"Tapi tadi Mbaknya yang berjalan mundur Mbak, bagaimana Saya bisa menghindar, gaji Saya bisa dipotong seharga piring yang pecah ini dan Saya juga akan dikenakan denda karena kejadian ini," balas waiter muda itu lagi.
"Itu bukan urusan Saya yaa, Kamu tahu berapa harga baju Saya yang ketumpahan rendang tadi? Duuhh.. mana noda minyak kayak gitu susah hilangnya lagi di pakaian," Caca masih saja mengeluhkan soal bajunya yang kotor.
"Hhhhhh.." waiter itu tampak sangat lesu. Kecewa dengan perlakuan Caca.
Sementara Caca justru malah merasa menjadi korban.
Ditambah lagi tatapan mata para pengunjung restoran yang tertuju padanya, seakan Caca adalah tersangka kriminal yang tak terampunkan ulahnya.
Asiyah segera menghampiri mereka berdua. Memastikan apa yang sebenarnya terjadi.
"Assalamu'alaykum Mas, ada apa ini?" ucap Asiyah dengan ramahnya seraya tersenyum pada waiter itu.
"Wa'alaykumussalam Mbak, seperti yang Mbak lihat, Saya.." waiter itu terhenti dari ucapannya. Menundukkan kepalanya. Takut manajernya datang dan memarahinya.
"Ya sudah ya sudah, Mas tenang saja, nggak apa-apa nanti biar Saya yang membayar semuanya yaa, Mas hitung saja yaa," ucap Asiyah seraya tersenyum kepada waiter itu.
"Caca, ayoo minta maaf sama Mas nya," perintah Asiyah pada asisten cerobohnya itu.
Caca hanya diam. Berdiri. Gengsi.
"Ayoo Caca, nanti biar Saya yang belikan baju ganti untuk Kamu," ucap Asiyah dengan lembutnya seraya tersenyum menatap mata Caca.
"Hhmmm.. Cita, tolong belikan baju ganti untuk Caca yaa, beli di sekitar sini saja, biar cepat, kasian Caca," perintah Asiyah pada Cita.
"Baik Mbak," jawab Cita, menganggukkan kepalanya. Patuh.
"Pakai uang Saya yaa Cit, beli tiga yaa, untuk Kamu sama Yuna juga," sambung Asiyah lagi.
Memang sebagian uang Asiyah dipegang oleh Cita. Yaa untuk biaya-biaya operasional. Dan juga untuk hal-hal tak terduga seperti ini lah.
Cita segera pergi untuk membeli baju seperti yang diperintahkan oleh Asiyah.
__ADS_1
"Maaf yaa Mas, Saya tidak sengaja menabrak Masnya dari belakang," ucap Caca pelan pada waiter itu. Dengan wajah yang sedikit menunduk.
"Oo ya Mas, nanti sekalian sama uang denda yang Mas bicarakan tadi yaa, dihitung saja semuanya, nanti Saya bayar semuanya," sambung Asiyah dengan santunnya.
Asiyah begitu menghormati waiter itu. Asiyah memang perempuan yang berhati lembut. Asiyah adalah seorang perempuan yang memiliki empati yang tinggi. Asiyah paham betul bagaimana rasanya menjadi Mas waiter itu ketika sedang disibukkan mencari rezeki yang halal malah terzalimi oleh perbuatan orang lain.
"Iya Mbak, terima kasih banyak yaa," ucap waiter itu, mulai menampakkan senyumannya.
"Iya sama-sama, sudah nggak apa-apa, Kami permisi ke pendopo dulu ya Mas," ucap Asiyah dengan keramahannya menatap wajah Mas waiter itu.
"Iya Mbak, Saya juga mau membereskan ini dulu," jawab Mas waiter.
Asiyah dan Caca kembali menunggu di pendopo.
Dua puluh menit berlalu.
Cita datang membawakan tiga helai baju souvenir bergambarkan bunga sakura.
Sementara makanan baru saja dihidangkan di atas meja.
Caca segera pergi ke toilet membersihkan sebagian tubuhnya yang terkena bercak rendang tadi. Lalu mengganti pakaiannya.
"Di mana belinya Cit?" tanya Umi.
"Alhamdulillah, syukurlah, nggak apa-apa yaa, yang penting Caca bisa mengganti pakaiannya segera," sambung Umi dengan lembutnya. Caca dan Cita sudah seperti anak sendiri bagi Umi.
"Iya Mi," jawab Cita.
Sepuluh menit berlalu.
Caca telah selesai membersihkan pakaiannya.
Kembali ke pendopo.
Mereka melanjutkan makan siang yang sempat tertunda itu.
Seperti biasa Ali tampak paling lahap. Sementara Aisyah sepertinya memang terlahir sebagai perempuan yang teratur, bahkan dalam hal makan pun Aisyah sama halnya dengan Kak Asiyah dan Umi, begitu anggun tingkahnya.
Caca tampak sudah tenang. Cita dan Yuna juga tampak sangat menikmati makan siangnya.
"Maa syaa Allah, masakannya memang enak sekali yaa," seketika Asiyah memberikan penilaiannya pada makanan di restoran ini.
"Iya Mbak, Saya pikir juga begitu, tidak ada satu pun dari masakan ini yang cacat rasanya di lidah Saya," sambung Yuna, perempuan manis berkacamata itu.
"Lihat saja Ali tuh makannya, sampai sebegitunya, lahap benerrr," sambung Cita. Tertawa kecil.
__ADS_1
Serentak dengan yang lainnya. Ikut mentertawakan pelan, melihat tingkah anak gempal itu.
"Oo yaa, nanti habis ini gimana kalau kita foto-foto di patung replika Malin Kundang itu?" ajak Caca pada semuanya.
"Boleh boleh, ide bagus tuh," jawab Asiyah.
Yuna dan Cita menyetujui dengan senyumannya.
Makan siang ini pun tampak hampir selesai.
Mereka mulai membersihkan diri dari kotoran sisa-sisa makan siang.
Beberapa dari mereka mencari wastafel, mencuci tangan. Beberapa orang lagi pergi ke toilet untuk buang air.
Desas desus terdengar lumayan berisik dari arah pintu masuk ruangan para waiter. Ternyata perempuan pemilik restoran ini melakukan kunjungan mendadak.
Entahlah, momentnya sungguh sangat pas bagi Asiyah. Asiyah yang penasaran dengan situasi ini segera mendekati arah suara itu.
Terdengar pembahasan soal insiden yang menyangkut Caca dan waiter tadi.
Asiyah menunggu di depan pintu ruangan para waiter itu sambil seakan melihat-lihat ornamen yang tertempel di dinding sekitarnya.
Beberapa menit berlalu. Seorang perempuan muda tampak keluar dari ruangan itu. Berjalan melewati dirinya. Asiyah hanya mendelik.
Maa syaa Allah, ternyata perempuan itu jika dilihat secara langsung, sangat lah muda dan terlihat begitu cantik terawat. Asiyah melihatnya dari ujung kaki sampai ujung kepalanya, perempuan itu tidak mengenakkan hijab. Begitu mulus dan halus kulitnya.
"Nak.. sudah? Ayoo pulang, Ali sudah ngantuk kayaknya nih, kekenyangan kayaknya, sebentar lagi sholat zuhur juga," terdengar suara Umi seketika dari sisi belakangnya. Mengagetkan Asiyah, yang masih terpana dengan perempuan muda nan sukses itu.
"Eehh.. Iya iya Umi, ayoo," Asiyah masih melihat ke arah perempuan itu.
Tiba-tiba.
Gubraakkk.. gedebraakk..
Byaarrrr..
Suara berisik pecahan piring terdengar kembali, persis seperti beberapa waktu yang lalu, saat insiden Caca dan waiter itu terjadi.
Semua orang yang berada di restoran serentak seketika menoleh ke arah sumber suara itu.
Dan ternyataaaaaa..
Cacaaaaaaaaa!!!
Hal yang sama terulang lagi. Hhhhhh..
__ADS_1