
Rasa penasaran itu semakin besar. Kala Asiyah membaca tiap berkas yang terselip di dalam map plastik itu.
Seketika secara keseluruhan, Asiyah mengenali pria itu lebih dalam melalui berkas-berkas formal dan juga ada beberapa berkas foto yang menjelaskan pergaulannya, yang kini tengah berada di tangan Asiyah.
"Caca, Cita, yang lain saja dulu dibereskan yaa, koper pria ini nanti biar Saya saja yang membereskannya, Saya masih mau membaca berkas pemilik koper ini sebentar, Saya mau mencari kontaknya atau alamat jelasnya, biar bisa dikembalikan koper ini kepada pemiliknya secepatnya, sekaligus mengambil koper Saya yang tertukar," jelas Asiyah.
"Ooh iya baik Mbak," jawab Caca.
Caca segera berpindah tempat, membereskan semua perlengkapan milik Asiyah. Mendorong koper kabin itu ke pinggir lemari.
Lumayan membutuhkan waktu yang lama juga untuk mengembalikan semua barang-barang Asiyah ke tempatnya masing-masing bagi Caca dan Cita. Termasuk barang-barang belanjaannya di Korea kemarin, seperti pakaian dan aksesoris yang nantinya akan dipergunakan oleh Asiyah sebagai kebutuhannya syuting, juga sebagai pakaiannya saat menghadiri acara-acara penting yang melibatkan banyak selebriti.
"Alhamdulillah, akhirnya selesai juga membereskan barang-barangnya Mbak Asiyah," ucap Caca.
Sementara Asiyah tengah berbaring di sofa santai yang bergelombang di kamarnya, empuk sekali rasanya jika beristirahat di atasnya. Masih meneliti isi dari berkas-berkas milik pria itu. Sebenarnya kontak sang pemilik koper telah ditemukannya sedari awal. Namun semakin dibacanya berkas-berkas itu, malah semakin membuat Asiyah tak dapat menghentikan telapak tangannya untuk membuka berkas yang baru, halaman demi halaman, lagi dan lagi.
Asiyah tahu dan sangat menyadari, apa yang dilakukannya kali ini tidaklah dapat dibenarkan, karena Ia telah terlalu jauh membaca berkas milik orang lain tanpa izin pemiliknya. Seharusnya, jika memang kontak dan alamat pemilik koper ini telah ditemukan, maka Asiyah harus segera menghentikan pergerakan tangannya untuk membuka berkas-berkas itu lagi.
Tetapi pikirannya terus berputar-putar tiap kali membuka lembar demi lembar berkas-berkas itu. Seperti menemukan hal-hal baru yang membuatnya seakan takjub akan pria pemilik koper ini.
Astaghfirullah, ucap Asiyah dalam hati. Namun dirinya tak kuasa menahan rasa penasaran ini.
Asiyah telah mengabaikan adab untuk tak lancang mengobrak-abrik hingga mengetahui banyak hal pribadi milik pria ini secara diam-diam, tanpa keridhoan hatinya.
"Sudah selesai Caca, Cita?" tanya Asiyah yang seketika merapikan kembali berkas-berkas itu ke dalam mapnya.
"Iya Mbak, alhamdulillah sudah beres semua, jadi gimana Mbak, kita bongkar sekarang oleh-olehnya? Sari, Tika dan Weni, sudah nungguin banget kayaknya tuh di bawah.
"Iya, iya, bongkar saja, kantong oleh-oleh di lantai bawah kan semuanya?" ucap Asiyah.
"Iya Mbak, semuanya sudah disusun di ruang tengah," jawab Caca.
__ADS_1
"Ayo langsung saja kita ke bawah," ajak Asiyah pada Caca dan Cita.
Mereka bertiga melangkah menuju tangga rumah yang mewah itu.
Sambil berjalan menelusuri tangga, Asiyah memerintahkan sesuatu pada Cita.
"Hhmm Cita, Alhamdulillah, Saya sudah mendapatkan kontak pemilik koper yang tertukar dengan koper Saya, kalau tidak salah memang ada seorang pria yang memiliki koper kabin sama persis dengan koper kabin milik Saya waktu di pesawat," Asiyah menghentikan ucapannya. Melihat anak tangga di bawahnya untuk diinjaknya, berhati-hati melangkah.
"Jangan-jangan benar-benar tertukar kopernya Mbak?" celetuk Caca.
"Yaa kemungkinan besar memang Dia lah pemilik koper itu. Jadi, waktu Saya hendak memasukkan koper Saya ke kabin pesawat, ada seorang pria yang menabrak Saya dari samping," sambung Asiyah, singkat. Memandang wajah Caca. Kemudian diam lagi. Menuruni anak tangga.
"Terus Mbak, bagaimana setelah itu?" tanya Cita. Tampak penasaran.
"Nah waktu itu koper Saya terjatuh dari kabin, lalu pria itu membantu Saya memasukkannya kembali ke dalam kabin, yaa mungkin pada saat itu koper kami tertukar. Saya yakin memang Dia lah orangnya, apalagi waktu Saya membuka berkas di dalam koper tadi, ada foto seorang lelaki yang wajahnya sangat mirip dengan wajah pria waktu di pesawat itu," jelas Asiyah panjang lebar pada Cita. Lalu memandang wajah Caca yang juga penasaran dengan cerita Asiyah.
Yaa, sedari tadi Caca ikut menyimak ucapan Asiyah, sambil berhati-hati menuruni anak tangganya.
"Jadi, tadi itu Mbak sudah menemukan kontak pria itu?" tanya Cita lagi.
"Iya Mbak, atau besok saja yaa Mbak, soalnya malam ini kita mau bongkar oleh-oleh dulu, kalau pagi mungkin lebih sopan, takutnya kalau malam-malam begini malah mengganggu," jelas Cita.
"Kalau menurut Aku, malahan harus secepatnya deh Cita di hubungi pria pemilik koper ini, soalnya Dia pasti cemas saat membongkar isi koper Mbak Asiyah, mana di dalam koper itu nggak ada petunjuk sama sekali tentang keberadaan Mbak Asiyah, yaa minimal kontak kita," jelas Caca.
"Iya, benar juga Kamu Ca, tumben deh pinter hehee," sambung Cita dengan candanya. Tertawa kecil.
"Astaghfirullah Cita, iihh Kamu iihh," ucap Caca spontan. Sedikit menggeplak lengan Cita yang berjalan di sebelahnya.
"Gimana Mbak, setuju nggak, kalau malam ini kita hubungi Dia?" tanya Cita pada Asiyah.
"Boleh Cit, ada benarnya juga kata Caca barusan," Asiyah tersenyum.
__ADS_1
"Caca? Cerdas," sambung Asiyah. Menatap wajah Caca. Memanggilnya lalu mengacungkan kedua jempolnya ke wajah Caca.
"Tuuhh, emang brilian sih Aku," ucap Caca pelan. Mengangkat bahunya. Tertawa kecil dengan candanya. Menutup mulutnya dengan telapak tangan.
Sampai di hadapan kumpulan oleh-oleh. Mereka bertiga mulai memisahkan setiap oleh-oleh itu.
"Sariiiiiii, Tikaaaaa, Weniiiiiiii, sini yookk, kita bagi-bagi oleh-oleh," teriak Asiyah.
Tiga asisten rumah tangga itu pun datang menghampiri.
"Ooh yaa, Pak Nomo mana? Tolong panggilkan sebentar yaa, bilang, Saya mau ngasih oleh-oleh, gitu yaa," ucap Asiyah pada ketiga asisten rumah tangganya itu.
"Baik Mbak," ucap Tika. Lalu berlalu memanggil Pak Nomo.
"Weni, tolong panggilkan Aisyah dan Ali yaa, Umi juga sekalian, ajakin kumpul di sini yaa," perintah Asiyah.
"Ooh yaa nanti oleh-oleh untuk yang lain langsung kalian bagikan saja yaa, nanti kalian atur saja sendiri, bagi-bagi tugas sendiri yaa, bagaimana caranya biar jadi lebih mudah," perintah Asiyah lagi.
"Baik Mbak," jawab Weni. Lalu berlalu, pergi memanggil Asiyah dan Ali, juga Umi.
Sari menyimak. Mengiyakan perintah Asiyah.
Sementara Caca dan Cita sibuk memisahkan oleh-oleh. Biar nanti warga di rumah Asiyah ini hanya tinggal mengambilnya saja. Tak perlu repot lagi memilah sendiri.
Milik Ali dan milik Aisyah. Yang akan mereka bagikan nanti untuk sahabatnya di sekolah.
Milik Caca dan Cita. Untuk orang-orang terdekat mereka.
Milik tiga asisten rumah tangga di rumah ini. Sari, Tika dan Weni.
Untuk Pak Nomo dan beberapa orang yang bekerja dirumah ini, seperti sekuriti, tukang kebun dan yang lainnya. Yang nantinya juga akan mereka bagikan untuk orang terdekat mereka, seperti istri atau anak mereka.
__ADS_1
Satu jam berlalu. Mereka telah lama berkumpul di ruang tengah itu. Mengambil jatah oleh-oleh mereka masing-masing.
Rasa bahagia dan senang terpancar dari wajah para pekerja di rumah Asiyah yang tidak ikut saat liburan. Ditambah lagi, mereka mendapatkan uang pengganti karena tidak diikutsertakan dalam perjalanan kali ini.